Kapan Nikah?

Kapan Nikah?
27# Ceraikan Raline..!


__ADS_3

Carolina berjalan menuju ruang kerja Fandy di rumah. Lalu dengan perlahan ia pun menyelinap masuk kedalam ruangan itu, lalu menguncinya.


Carolina pun bergegas menuju meja kerja Fandy dan mencari berkas-berkas di dalam laci meja. Carolina membaca satu persatu berkas yang berada di dalam laci, hingga ia menemukan Apa yang sedang ia cari.


"Bingo"


Ucapnya lalu tersenyum licik.


Carolina membawa berkas itu, lalu ia keluar dari ruangan kerja Fandy. Gadis itu setengah berlari menuju ke kamar. Setelah ia berada di dalam kamar, Carolina pun memfoto dan menyembunyikan berkas tersebut di dalam tasnya.


"Sebenarnya aku pulang ke Indonesia karena tidak ada harapan lagi karirku di sana. Sialnya karirku hancur setelah Fandy menikah, memang Ini semua salahku yang telah mengusulkan untuk ia menikahi wanita yang tak dikenalnya. Dan kini aku kembali dan aku tidak bisa menerima perubahan sikap Fandy. Fandy harus menjadi milikku lagi, dan aku akan menikahi Fandy dan hidup bahagia bersama dia"


Gumam nya.


....


Fandy yang sedang di kantor, melirik ponselnya yang berdering beberapa kali


Ia pun meraih ponselnya dan melihat ke layar ponsel.


"Daddy?"


Gumamnya, lalu ia mengangkat panggilan telepon dari ayahnya itu.


"Halo"


Sapa nya.


"Fandy kamu dimana?"


Terdengar suara Daddy begitu marah.


"Ya Dad.. Fandy lagi di kantor, ada apa?"


"Saya sedang berada di rumah mu, sekarang juga kamu pulang..!"


Perintah Daddy, lalu lelaki paruh baya itu mengakhiri panggilannya. Fandy terdiam dan berpikir sedang apa Ayah nya di rumah nya. Tanpa pikir panjang lagi, ia pun langsung menyambar kunci mobilnya dan pulang.


Fandy memberikan kunci mobilnya kepada asisten nya. Lalu ia melangkah masuk kedalam rumah. Ia terkejut melihat, Daddy, Mommy , Carolina dan Raline yang sedang menunggunya.


Fandy melihat Raline menunduk kan kepalanya dan terlihat gelisah. Sedangkan Carolina terlihat tersenyum menyambutnya pulang.


"Ada apa ini?"


Tanya Fandy dengan wajah yang khawatir. Ia merasa keadaan sedang tidak baik-baik saja. Daddy nya yang sedang duduk di kursi roda menatap Fandy dengan tajam.

__ADS_1


"Bisa kah kau menjelaskan siapa wanita ini..!"


Daddy menunjuk Carolina, Suara Daddy pun terdengar meninggi hingga napasnya sesak.


"Apa yang kamu lakukan?"


Fandy menatap Carolina dengan tajam. Carolina pun hanya menanggapi pertanyaan Fandy dengan senyuman.


"Jawab pertanyaan Daddy..!!"


Bentak Daddy, Fandy pun terdiam. Ia tidak tahu akan mulainya dari mana.


"Jawab..!!!!"


Desak Daddy, lelaki paruh baya itu pun mulai meremas dadanya.


"Daddy.. tenang.."


Ucap Mommy sambil menggenggam tangan Daddy dengan erat.


"Apa yang kau perbuat Fandy..! apakah benar yang di katakan wanita ini?"


Fandy menghela napasnya dalam-dalam, lalu ia melirik Raline yang sedang duduk dengan gemetar.


"Tidak ada yang harus di jelaskan"


"Apa benar kamu menikah dengan Raline dengan perjanjian? apakah benar kamu dan Raline tidak menikah sungguh-sungguh..? Jawab..!!!!"


Daddy terlihat begitu emosi.


Fandy menggenggam erat tangan Raline, Raline pun langsung menatap Fandy. Raline merasa Randy hanya bersandiwara agar di depan orang tua Fandy, pernikahan mereka itu nyata.


Carolina menjadi geram melihat sikap Andi kepada Raline, ia begitu cemburu dan ingin segera mengakhiri pernikahan Fandy dan Raline.


"Saya adalah kekasih Fandy yang asli, dan gadis ini hanya istri pura-puranya Fandy. Mereka menikah dengan perjanjian, karena Waktu itu saya ya belum bisa pulang ke Indonesia. Dan sekarang saya sudah pulang, saya ingin menikah dengan Fandy"


Ucap Carolina. Fandy pun menatap Carolina dengan sinis.


"Apa benar gadis ini katakan Fandy? Jawab dengan jujur ucap daddy!!!"


"Karena Fandy terus didesak untuk menikah, akhirnya ia menyewa istri pura-pura untuk dinikahinya dan saya mengizinkannya. Tetapi kini Saya menyesal, saya siap menjadi istrinya Fandy."


sambung Carolina lagi.


"Saya bertanya kepada anak saya, bukan kepadamu!"

__ADS_1


Daddy membentak Carolina. Gadis itu pun terdiam, lalu ia pun menjadi salah tingkah.


"Itu tidak benar Dad, Aku benar-benar mencintai istriku"


Ucap Fandy, sambil menatap Raline.


Raline membalas tatapan Fandy, ia mencari kesungguhan dimata lelaki itu. Jantungnya pun berdebar kencang, ia benar-benar tidak bisa membaca, apakah ucapan Fandy itu benar atau tidak.


Mendengar ucapan Fandy, Carolina pun mulai terbakar cemburu. Tanpa membuang waktu, Carolina pun mengeluarkan surat perjanjian yang telah ditandatangani oleh Fandy dan Raline sebelum pernikahan mereka terjadi.


"Sudahlah sayang, kamu tidak bisa mengelak lagi. Akhiri pernikahan kamu dengan Raline dan menikahlah denganku. Aku menyesal karena telah menyuruhmu menikahi gadis yang tidak kamu kenal tanpa rasa cinta, tetapi sekarang aku sudah kembali dan ingin hidup bersamamu selamanya"


Ucap Carolina, sambil membanting surat perjanjian itu di atas meja.


Fandy terperangah saat melihat surat perjanjian itu ada di tangan Carolina. Fandy menatap Carolina dengan kesal, lalu ia beranjak dari duduknya dan meraih surat perjanjian itu lalu merobeknya menjadi dua bagian.


"Sekarang sudah tidak ada surat perjanjian lagi, berarti Raline tetap menjadi istriku yang sah..!"


Ucap Fandy. Semua orang pun terperangah melihat sikap Fandy.


"Berarti secara tidak langsung kamu mengakui bahwa kamu hanya berpura-pura menikahi Raline, tidakkah kau tahu bahwa orangtuamu ini sangat menginginkan penerus?


Kami sangat menginginkan cucu..! Pernikahan bukan permainan Fandy..! Sekarang kamu ceraikan dia, lalu menikahlah dengan pacarmu yang asli tidakkah kau berpikir bahwa umur kami tidak lama lagi?


Pantas saja Raline tidak kunjung hamil, ternyata semua ini palsu..!"


Ujar Mommy, sambil menatap Raline dengan sinis. Fandy pun tertunduk, lalu ia memijat kepalanya yang mulai terasa pusing.


Raline hanya mampu menundukkan pandangannya, ia sangat merasa bersalah dengan apa yang terjadi. Dan Raline pun tidak bisa membayangkan sikap apa yang akan ia terima dari keluarganya setelah mengetahui semua ini hanya kepalsuan dan ia akan segera bercerai dari Fandy.


"kalau mom dan Dad menginginkan cucu, aku dan Raline bisa memberikannya..!"


Ucap Fandy.


"Kebohongan apalagi yang akan kamu berikan kepada kami? Harapan apalagi yang akan kau berikan kepada kami? Kami ingin kamu menikah dengan sungguh-sungguh bukan main-main seperti ini..!


Kami tidak percaya selama gadis itu adalah Raline karena kalian berdua telah membohongi kami..! Sekarang, bila kau ingin mengabdi kepada orangtuamu ini. Nikahilah gadis yang memang memiliki hubungan dengan mu bukan orang yang kau sendiri pun tidak mengenalnya..!"


Ujar Daddy.


Fandy langsung berdiri dari duduknya, ia pun ingin kembali mengatakan apa yang ada dipikirannya. Dan mencoba memberikan pengertian kepada orangtuanya bahwa dirinya memang telah jatuh cinta kepada Raline, dan itu semua bukan main-main apalagi kepura-puraan. Tetapi tiba-tiba saja Raline ikut berdiri dan mencegah Fandy untuk berbicara lagi.


"Sudahlah berhentilah berpura-pura mencintaiku, nyatanya aku hanyalah istri pura-pura mu. Kita sudah cukup bersalah karena membohongi orangtua kita. Kita hanya saling membantu, bila saatnya berakhir, akhirilah. Aku siap untuk segera bercerai denganmu, aku tidak butuh kau bela, yang terpenting adalah orang tuamu. Menikahlah dengan gadis yang kau cintai ucap Raline.


Gadis itu pun meninggalkan ruangan itu. Fandy mencoba mencegahnya, tetapi Raline mengabaikan Fandy. Carolina terlihat sangat puas dengan kata-kata yang Raline ucapkan. Ia tersenyum penuh dengan kemenangan. Bersama Fandy hanya tinggal selangkah lagi. Usahanya benar-benar tidak sia-sia.

__ADS_1


Tiba-tiba saja, Daddy mulai sesak napas. Ia terus memegangi dadanya, dan tak lama kemudian Daddy pun tak sadarkan diri.


Semua pun panik, Fandy dan beberapa bodyguard langsung membopong tubuh Daddy dan membawanya masuk ke dalam mobil, dan langsung membawa lelaki paruh baya itu ke rumah sakit terdekat.


__ADS_2