Kapan Nikah?

Kapan Nikah?
35# Pernikahan Fandy dan Carolina


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu. Hari ini adalah hari pernikahan Fandy dengan Carolina. Carolina terlihat sangat cantik dengan gaun pengantinnya, sedangkan Fandi masih terduduk lesu di pinggir ranjangnya.


Fandy menatap foto Raline yang ada di dalam ponselnya. Ia tersenyum saat melihat senyuman Raline di dalam foto-foto yang berada ada di ponselnya.


Ting..!


"Satu pesan diterima"


Begitu bunyi notifikasi dari ponsel Fandy. Lelaki itu pun membuka pesan yang baru saja ia terima.


Raline


Fandy tertegun saat ia membaca nama pengirim pesan yang baru saja ia terima. Lalu Fandy membaca pesan dari mantan istrinya yang sangat ia cintai itu.


"Dear Fandy, selamat menempuh hidup baru. Semoga kebahagiaan selalu menyelimuti kalian berdua.


Semoga kelak kalian akan mendapatkan keturunan yang terbaik dan membanggakan.


Berbahagialah dengan rencana Tuhan ini, aku pun akan berbahagia untukmu. Salam untuk Carolina semoga pernikahan kalian selalu diberi kelancaran dan kebahagiaan lahir dan batin.


Amin


-Raline-


Air mata menetes di pipi Fandy. Ia tidak sanggup untuk membalas pesan dari Raline. Dia hanya menangis di tepi ranjangnya, hingga suara ketukan pintu kamarnya menghentikan tangisan Fandy.


Ia beranjak dari ranjangnya, lalu memakai jas dan pergi untuk menemui penghulu yang akan mengesahkan pernikahannya dengan Carolina.


Carolina berjalan menuju meja tempat ijab kabul akan dilaksanakan, di sana sudah ada Fandy yang sedang duduk menghadap penghulu. Dengan tersenyum Carolina menyapa para tamu undangan dan lalu duduk disamping Fandy.


Fandy mengucapkan Ijab kabul dengan mantap. Dalam hitungan detik, mereka pun sudah sah menjadi suami istri. Semua orang berdo'a atas kebahagiaan mereka, sedangkan Fandy tidak bisa mengusir Raline dari pikirannya.


Daddy dan Mommy tersenyum bahagia. Mereka mencium kedua mempelai yang terlihat tidak kompak merasakan kebahagiaan. Tidak ada senyuman dari bibir Fandy.


Acara pernikahan hanya dihadiri oleh keluarga dan beberapa kerabat serta sahabat. Semua orang mengucapkan selamat kepada Fandy dan Carolina. Fandy hanya menyambutnya dengan wajah yang datar. Sangat berbeda dengan Carolina yang terus tersenyum sepanjang acara.


..


Malam ini Raline duduk sendirian, dengan semangkuk bakso dihadapannya. keramaian kini tidak lagi membuat Raline merasa senang. Melodi yang keluar dari biola usang para musisi jalanan pun kini tidak menarik perhatiannya.


"Biasanya sama Masnya mbak, sekarang kok sendirian?"


Tanya tukang bakso yang menandai Raline dan Fandy karena sudah beberapa kali makan di lapak nya.

__ADS_1


Raline hanya tersenyum Ia tidak mampu menjawab pertanyaan yang di lontarkan tukang bakso langganan dirinya dan Fandy.


Di otaknya saat ini hanya Fandy dan Fandy. Sedang apa Fandy sekarang? Apakah Fandi akan bahagia? Apakah Fandi akan tidur dengan Carolina? Apakah dirinya mampu untuk melewati ini semua? Apakah Fandy akan melupakannya secepatnya?


Raline pun meninggalkan semangkuk bakso yang belum ia cicipi sedikitpun. Setelah membayar, Raline pun berjalan menyusuri pedagang kaki lima yang ramai di pasar malam tersebut.


Kota tua, tempat wisata yang paling digemari oleh Raline saat dirinya bersama Fandy.


Hujan pun turun dengan derasnya membasahi bumi dengan tiba-tiba. Raline pun berteduh di tempat di mana ia dan Fandy saat itu berteduh dari hujan. Baju Raline pun basah, Raline mulai kedinginan.


Mungkin saat itu ada Fandy yang menghangatkan tubuhnya. Tetapi saat ini, ia sendirian tanpa Fandy disisinya. Hujan semakin deras, Raline pun tidak mampu menahan air matanya yang mengalir deras seperti air yang tumpah dari langit.


Raline tidak memperdulikan tatapan orang-orang yang ikut berteduh di samping dirinya. Raline terus menangis hingga tubuhnya terguncang antara kedinginan dan menahan rasa sakit di dadanya.


"Fandy.. Fandy. Fandy.."


Bisik Raline lirih di dalam benaknya.


...


Carolina tersenyum bahagia, saat acara baru saja selesai. Ia dan Fandy masuk kedalam kamar sebuah hotel yang terbaik di kota itu.


Setelah di dalam kamar, Fandy tidak sekalipun melihat wajah Carolina. sedangkan Carolina berjalan menghampiri Fandy yang sedang duduk diatas sofa kamar hotel tersebut.


Ucap Carolina, sambil menyentuh pundak Fandy dengan lembut.


"Ya, Terus kenapa?"


Tanya Fandy, acuh.


"Ayo kita kasih Mommy dan Daddy cucu"


Ucap Carolina dengan mata yang berbinar.


Fandy menyingkirkan tangan Carolina dari bahunya, Ia pun beranjak dari duduknya. Lalu ia membuka jas dan kemejanya. Carolina pun tersenyum dengan manja. Dibenaknya, ia merasa menang karena malam ini adalah malam di mana ia memiliki Fandy secara sah dan utuh.


"Sayang tolong bantu aku buka gaun ini dong"


Ucap Carolina dengan manja kepada Fandy.


"Buka saja sendiri"


Ucap Fandy. Lelaki itu pun menggunakan kaosnya dan pergi dari kamar hotel tersebut.

__ADS_1


Carolina hanya terperangah menatap kepergian Fandy. Ia tidak menyangka, bila Fandy begitu ketus kepada dirinya. Carolina pun mengepalkan kedua tangannya, lalu ia terduduk di atas ranjang sendirian.


Malam pertama yang Carolina impikan, tidak seperti apa yang ia bayangkan.


Carolina pun mengerti mengapa Fandy bersikap seperti itu kepada dirinya.


"Ini semua pasti gara-gara Raline..!"


Gumam nya.


...


Fandy berjalan menuju parkiran dan memasuki mobilnya. Lalu dengan cepat lelaki itu menjalankan mobilnya entah kemana. Tetapi, saat mobilnya harus berhenti di lampu merah. Terpaan air hujan yang membasahi kaca mobilnya, mengingatkan dirinya kepada Raline.


Tanpa membuang-buang waktu, Fandy membelokkan kemudinya ke arah Kota tua. Hujan sama dengan Raline, hal itu tidak mampu lepas dari ingatannya.


Fansy teringat dimana pertama kali Raline menyambut ciumannya. Di mana saat Raline mengatakan dirinya juga mencintai Fandy.


Fandy memarkirkan Mobilnya di tepi jalan. Dia pun berlari menuju bangunan tua di mana tempat dirinya dan Raline waktu itu berteduh dari derasnya hujan seperti malam ini.


Fandy menghentikan langkah kakinya tepat di gedung tua tempat dimana kenangan dirinya dan Raline terukir. Fandy menatap kosong ke arah gedung itu. Di sana tidak ada Raline, hatinya pun terasa sedikit kecewa. Lalu ia pun ikut berteduh bersama dengan orang-orang yang sedang berteduh di sana.


"Aku pikir kamu sedang berada di sini saat ini, tetapi ternyata tidak"


Gumam Fandy, senyum nya pun tersungging di bibirnya yang gemetar menahan dingin. Ia menertawai harapannya yang begitu besar, bila Raline berada di sana.


Ternyata hanya angan-angan nya saja, di sana tidak ada Raline, dan tidak mungkin Raline ke Kota Tua sendirian menyusuri kenangan mereka. Fandy pun tetap disana menunggu hujan reda.


....


Raline mengendarai mobilnya menuju rumah. Hembusan angin dari AC mobilnya membuat dirinya semakin kedinginan. Bibirnya pun mulai membiru, tetapi Raline tetap berusaha konsentrasi untuk selamat sampai tiba di rumah.


Setibanya dirumah, Raline langsung mengganti bajunya yang basah dengan pakaian kering yang baru saja ia ambil dari lemarinya. Lalu yang meringkuk di atas ranjangnya dengan selimut tebal yang membungkus tubuhnya.


Tiba-tiba saja Raline merasa tidak enak badan, kepalanya pusing dan tubuhnya terus menggigil. Raline pun demam, sepanjang malam ya terus menggigil dan mengigau.


Mamanya Raline menunggu Raline semalaman suntuk sambil mengompres dahi Raline. Mamanya tahu saat ini Raline sangat frustasi dengan perceraian nya. Mama Raline pun menangis dalam diam nya.


Sebagai seorang Ibu, Mamanya Raline orang pertama yang terluka atas perceraian anak nya. Apa lagi Mamanya Raline dapat membaca dari wajah Raline, bahwa perceraian yang terjadi bukan karena ketidak cocokan. Melainkan ada ego yang lain yang membuat perceraian ini harus terjadi.


Tetapi sebagai orang tua, Mamanya Raline biasa apa? Karena Raline pun sudah mantap untuk bercerai. Ia pun tidak bisa mencegah itu semua.


"Cepat sembuh anak ku sayang"

__ADS_1


Bisik Mamanya Raline saat ia membelai lembut rambut putri satu-satunya itu.


__ADS_2