
"Ting...ting...ting..!"
Beberapa pesan bergambar baru saja Fandy terima. Ia mengambil ponselnya dari saku jas nya. Lalu Ia mematikan dan kembali mengantongi ponselnya. Fandy sedang berada di dalam acara seminar yang sedang ia hadiri di Tokyo. Karena itu ia mengabaikan pesan yang baru saja ia terima.
Sepanjang acara, Fandy tidak dapat berkonsentrasi memikirkan kehamilan Raline. Ia tidak sabar untuk mencari tahu dan segera terbang ke Kanada.
"Apa sudah dapat penerbangan ke Kanada?"
Tanya Fandy kepada sekretaris nya saat mereka break makan siang.
"Sudah Pak, saya mengambil penerbangan lusa"
Ucap sekretaris nya. Fandy mengangguk-angguk lalu kembali menyantap makan siang nya. Ia pun teringat akan pesan yang belum sempat ia baca. Fandy pun menyalakan ponselnya, lalu melihat pesan yang ia terima.
Fandy mengerutkan keningnya saat melihat pesan dari orang suruhannya yang mengirimkan beberapa foto kepadanya. Lalu dengan cepat, Fandy mendownload foto-foto tersebut.
Fandy mengigit bibirnya dan mengepalkan tangannya saat melihat Foto Carolina sedang berciuman dengan seorang lelaki. Fandy mencoba memperbesar foto-foto tersebut. Lalu ia pun terbelalak saat menyadari lelaki yang sedang bersama Carolina.
"Oh, jadi begitu cara main nya"
Gumam Fandy. Fandy mengetik pesan untuk membalas pesan dari orang suruhannya.
"Pantau terus, dan kirim terus bukti kepada saya"
Lalu ia mengirim pesan kepada orang suruhannya.
"Baik Boss, serahkan kepada saya"
Balas orang suruhannya.
Fandy menutup layar ponselnya. Lalu ia kembali melahap makan siang nya sebelum seminar kembali di mulai.
"Ma... Pa...!"
Raline memeluk erat kedua orangtuanya. Mamanya Raline menangis di pelukan Raline saat melihat Raline menyambut kedatangan nya.
Papanya Raline terpaku saat melihat perut buncit Raline. Sebagai orangtua, hatinya pilu melihat nasib anak satu-satunya itu. Papanya Raline menahan tangis melihat Raline, ia berusaha tegar agar anak nya tidak ikut terpuruk.
"Bagaimana keadaan mu?"
Tanya Papanya Raline dengan terbata.
"Baik Pa"
Jawab Raline sambil mencoba tersenyum kepada Papanya. Papanya Raline membelai lembut rambut Raline. Lalu ia kembali memeluk putri nya.
"Papa sayang sama Raline"
Hanya itu yang mampu terucap dari bibir lelaki paruh baya itu. Mamanya Raline membelai lembut perut buncit Raline.
"Dia sehat?"
Tanya Mamanya Raline.
"Sehat Ma, dan aktif"
Ucap Raline menahan tangisnya.
"Syukurlah"
Ucap Mamanya Raline. Lalu mereka pergi menuju apartemen Raline.
Sesampainya di apartemen Raline, Mamanya Raline mengeluarkan buah tangan untuk Raline. Dengan antusias Raline ikut membongkar koper Mamanya. Ia pun tersenyum bahagia menerima makanan-makanan khas Indonesia yang di bawa oleh Mamanya.
"Terimakasih ya Ma, Raline kepengen banget makan ini"
Raline memeluk keripik singkong balado yang Mamanya bawakan untuk dirinya.
Mamanya hanya tersenyum lalu mengangguk.
"Bagaimana kuliah mu?"
__ADS_1
Tanya Papanya Raline.
"Lancar"
Jawab Raline sambil tersenyum.
"Syukurlah"
Lalu mereka bertiga terdiam.
"Kita makan malam di luar ya"
Raline berusaha memecah keheningan di antara mereka. Mama dan Papanya hanya mengangguk tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Malam itu mereka bertiga akan makan malam di restoran. Raline terlihat sudah begitu susah berjalan karena ukuran perut nya yang membesar. Mamanya Raline menuntun Raline dengan sabar.
"Raline bisa sendiri kok Ma"
Ucap Raline, mencoba membuat Mamanya lebih tenang.
"Sudah jangan seperti itu"
Ucap Mamanya Raline. Raline hanya tersenyum dan mengikuti langkah Mamanya menuju meja kosong di dekat jendela. Mereka memesan beberapa menu untuk di santap bersama.
"Fandy belum tahu kan ma?"
Ucap Raline dengan suara yang tercekat.
"Belum"
Jawab Mamanya. Raline hanya mengangguk lalu kembali melahap makanan nya.
"Apa tidak lebih baik dia mengetahui nya?"
Tanya Papanya Raline.
"Jangan Pa, dia sudah mempunyai istri"
"Tetapi dia Ayah kandung dari cucuku"
Ucap Papanya Raline. Raline pun hanya bisa terdiam.
"Menurut Mama, dia berhak tahu Line, walaupun dia sudah menikah dengan wanita lain, tetapi menyembunyikan status anak mu itu tidak baik"
Ucap Mamanya Raline. Raline menaruh garpu nya di atas piring. Lalu ia menatap kedua orangtuanya.
"Ma, Pa, ada masa nya dia akan tahu"
Raline mencoba meyakinkan kedua orangtuanya. Mama dan Papanya Raline tidak bisa berkata apa-apa lagi. Raline memang anak yang keras kepala dan berprinsip kuat. Mereka pun tidak bisa melakukan apa-apa lagi untuk membujuk Raline.
"Shhh..."
Raline meringis kesakitan.
"Kenapa?"
Tanya Mamanya Raline lalu menghampiri Raline dengan cepat.
"Kontraksi palsu Ma"
Ucap Raline sambil mengusap-usap perutnya.
"Oh, Mama kira kenapa"
Ucap Mamanya Raline, wanita paruh baya itu pun kembali ke kursinya.
"Kamu kuat tidak? kalau tidak kita bungkus bawa pulang"
Ucap Papanya Raline. Raline pun tertawa terbahak-bahak mendengar Papanya yang akan membungkus makanan setelah makanan di hidangkan.
"Kenapa tertawa?"
__ADS_1
Tanya Papanya Raline.
"Papa lucu, udah kayak di warteg Pa"
Ucap Raline masih dengan tertawa terbahak-bahak. Mamanya Raline pun memukul lengan suami nya.
"Papa ini, malu-maluin aja sih"
Ucap Mamanya Raline sambil menahan tawanya. Papanya Raline hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil nyengir menatap anak dan istrinya. Mereka bertiga pun akhirnya tertawa terbahak-bahak. Raline merasa bahagia sekali malam itu.
...
Alex memeluk erat tubuh Carolina di atas ranjang nya. Malam itu Carolina menginap di apartemen ayah dari bayi nya itu. Mereka baru saja selesai bercinta. Alex tersenyum puas dan menciumi leher Carolina dari belakang.
Carolina hanya bisa terdiam pasrah dengan segala perlakuan Alex kepadanya. Untuk sementara waktu ia harus terima dengan apa pun kemauan Alex. Sebelum ia melancarkan rencananya terhadap Alex.
"Sayang, kamu sedang apa di dalam?"
Alex mengusap lembut perut Carolina. Bayi di dalam kandungan Carolina pun menyambut tangan Alex dengan menendang lembut tangan Ayah nya.
"Hei.. dia bergerak..!"
Ucap Alex dengan antusias. Carolina hanya tersenyum kecut melihat Alex yang sedang tersenyum bahagia.
"Dia pasti tampan seperti ku"
Ucap Alex lagi. Carolina menatap Alex dengan wajah yang masam.
"Kenapa?"
Tanya Alex saat melihat wajah masam Carolina.
"Tidak apa-apa"
Ucap Carolina, dengan ketus.
"Kamu tidak suka aku membelainya?"
Tanya Alex lagi.
"Kamu cerewet sekali..!"
Carolina menepis tangan Alex lalu ia berusaha untuk duduk di atas ranjang.
"Kamu tidak bisa memperlakukan Ayah bayi mu seperti ini sayang"
Ucap Alex sambil menyentuh tubuh Carolina dengan lembut.
"Apaan sih..! sudah, tadi aku sudah melakukan nya dengan mu, sekarang antarkan aku pulang..!"
Ucap Carolina.
"Pulang? katanya mau menginap disini?"
"Tidak jadi"
Ucap Carolina lalu ia beranjak ke kamar mandi dengan tergesa-gesa.
"Carolina... sayang..!!! Kamu tidak akan bisa lepas dari ku sayang..!"
Ucap Alex, lalu lelaki itu tertawa terbahak-bahak.
Alex meraih botol minuman nya lalu menenggak habis sisa minuman keras yang berada di botol tersebut.
Carolina duduk di atas closet, sambil mengumpat tingkah Alex. Ia tidak pernah membayangkan ia akan terjebak dengan permainan yang ia ciptakan sendiri. Carolina mulai menyesali keputusan nya untuk di hamili oleh Alex.
Carolina memukul kepalanya beberapa kali untuk menyangat kan betapa bodoh nya dirinya. Carolina mulai menangis, ia begitu takut bila Alex menghancurkan apa yang sudah ia raih saat ini.
Ia begitu mencintai Fandy dan ingin selamanya bersama lelaki itu. Tetapi, karena obsesi nya ia terjebak dengan permainan dan lelaki yang salah.
"Apa yang harus aku lakukan"
__ADS_1
gumam nya sambil menangis.