
"Ini semua gara-gara kamu dasar lelaki tak tahu diuntung..!"
Hardik Karolina kepada Alex.
"Sekarang kamu menjadi milikku dan aku mendapatkan uang dari Fandy."
Ucap Alex sambil tersenyum licik.
"Oh, jadi semua ini karena uang?"
Carolina menatap Alex dengan tak percaya.
"Tidak juga, ini Semua aku lakukan hanya ingin mendapatkan kamu dan bayi kita secara utuh."
Ucap Alex.
"badjingan kamu Alex..!"
Carolina memukuli dada Alex dengan membabi buta.
Fatma menghampiri Carolina yang sedang bertengkar dengan Alex di depan gerbang rumah Fandy. Lalu Fatma melempar koper milik Carolina kedekat kaki wanita itu.
"Ambil koper mu, dan pergilah dari sini."
Ucap Fatma. Carolina terkejut melihat sikap Fatma yang begitu menganggap nya rendah.
"Heh, pembantu kurang ajar..! berani-beraninya kamu..!"
Ucap Carolina dengan penuh emosi kepada Fatma. Fatma tersenyum sinis menatap Carolina.
"Lebih baik saya yang seorang pembantu, daripada orang seperti anda yang hamil dengan lelaki selain suaminya. NYONYA CAROLINA."
Fatma meledek Carolina.
"Kurang ajar..!"
Carolina menghampiri Fatma berniat untuk memberi gadis itu pelajaran.
"Tutup dan kunci gerbangnya, ini perintah tuan Fandy."
Ucap Fatma kepada satpam yang menjaga pintu gerbang. Satpam itu pun menutup pintu gerbang dengan segera lalu menguncinya.
Karena merasa sangat sakit hati lalu ia menendang-nendang pagar rumah Fandy.
"Tega kalian semuanya..! Aku membenci kalian semuanya..! Kalian tidak punya hati..! Lihat saja nanti aku akan membalaskan dendam ini."
Carolina pun menangis bertekuk lutut di depan gerbang. Hidupnya terasa hancur, iya sangat menyesali segala perbuatannya. Dan kini ia harus terjebak dengan lelaki bernama Alex. Ia tidak bisa membayangkan hidupnya bersama Alex akan bagaimana, yang jelas Alex bukanlah pria baik-baik dan tidak kaya raya seperti Fandy.
"Ayo kita pulang."
Ucap Alex sambil membantu Carolina untuk berdiri.
"Lepaskan tanganmu dari tubuhku, aku membenci kamu..!"
Bentak Carolina.
"Carolina saat ini kamu tidak mempunyai pilihan. Mau tidak mau, kamu harus ikut denganku. Karena kamu sedang mengandung anak ku."
Ucap Alex.
"Ini bukan anakmu..! Ini anak Fandy..!"
Ucap Carolina dengan sinis. Alex pun tertawa mendengar ucapan Carolina.
"Ikut aku, atau kamu hidup di jalanan."
Ucap Alex sambil menatap Carolina dengan tajam. Carolina terdiam mendengar ucapan Alex, lalu ia pun mengalah untuk mengikuti Alex pulang ke apartemennya.
...
Dua minggu berlalu, Hari ini Daddy, Mommy dan Fandy berangkat menuju Kanada. Mereka mengambil penerbangan paling awal. Mommy dan Daddy terlihat grogi karena ingin bertemu dengan cucu pertama mereka.
Setelah hampir tiga puluh jam mereka di udara, akhir nya mereka pun mendarat di Kanada. Fandy memesan taxi untuk membawa mereka menuju apartemen Raline.
Rafa terus menangis di buaian Raline. Raline pun di buat bingung oleh Rafa yang rewel seharian ini.
"Ma, Rafa kenapa ya."
Tanya Raline kepada Mamanya.
__ADS_1
"Mungkin Rafa kangen sama Papanya."
Ucap Mamanya Raline sambil mengambil Rafa dari gendongan Raline.
"Dari kemarin Fandy tidak menghubungi ku."
Ucap Raline dengan wajah yang bersedih. Maman hanya menatap Raline tanpa berbicara apapun.
Ting.. tong..ting..tong..!
Bell berbunyi, Raline pun menatap Mamanya dengan seksama.
"Mama memesan fast food?"
Tanya Raline kepada Mamanya.
"Enggak tuh, coba lihat sana."
Ucap Mamanya Raline. Dengan malas, Raline pun beranjak menuju pintu apartemen nya. Lalu ia mengintip dari lubang intip apartemen nya. Ia pun melihat Fandy sedang berdiri di depan pintu.
"Fandy...!"
Seru Raline. Lalu ia membuka pintu apartemennya. Raline pun terkejut saat melihat kedua orang tua Fandy disana.
"Mo.. Mommy, Daddy..?"
Raline menatap Mommy dan Daddy dengan tak percaya.
"Raline.. maafkan Mommy dan Daddy.."
Mommy menangis memeluk Raline. Raline pun terdiam saat Mommy memeluk dirinya. Dengan ragu, Raline membalas pelukan Mommy.
"Maafkan kami, maafkan kami yang telah membuat mu dan cucu kami menderita."
Ucap Mommy dengan penuh penyesalan. Raline menatap Fandy yang berdiri di samping Daddy. Lalu Raline menatap Daddy yang terlihat merasa bersalah kepada Raline.
"Tidak perlu meminta maaf Mom, Dad. Raline sudah melupakan semua yang terjadi."
Ucap Raline. Mommy melepaskan pelukannya, dan menatap Raline dengan seksama.
"Kamu sungguh murah hati, kami menyesal baru menyadari nya."
"Ayo masuk Mom, Dad."
Raline mempersilahkan kedua orangtua Fandy untuk masuk ke apartemen nya.
"Siapa Line..?"
Tanya Mamanya Raline sambil menghampiri pintu depan. Mamanya Raline terkejut dengan kehadiran orang tua Fandy. Lalu Mamanya Raline berusaha tersenyum ramah melihat mertua anak nya tersebut.
"Bu.. maafkan saya."
Ucap Mommy kepada Mamanya Raline.
"Sudahlah Bu, kami sudah memaafkan semua yang terjadi. Yang terpenting saat ini, Raline dan Fandy sudah bersatu kembali."
Ucap Mamanya Raline. Mommy dan Daddy tampak menjadi sangat malu. Terlebih kepada kedua orang tua Raline.
Orang tua mana yang mau anak nya di perlakukan seperti ia memperlakukan Raline selama ini. Tetapi Raline dan keluarga nya memang sangat baik. Mereka tidak mau mengungkit yang telah berlalu.
"I..i..ini Rafa?"
Tanya Mommy sambil melihat Rafa yang sedang berada di dekapan Mamanya Raline. Mamanya Raline tersenyum dan mengangguk lalu menyerahkan Rafa kepada Mommy.
Dengan haru Mommy menyambut Rabah dari tangan Mamanya Raline.
"Rafa cucuku."
Ucap Mommy dengan suara yang tercekat.
"Ini Oma datang nak, Maafkan Oma ya nak. Oma sudah jahat kepadamu."
Mommy menangis tersedu-sedu dan memeluk Rafa. Lalu Mommy menyerahkan Rafa kepada Daddy. Daddy terlihat sangat menyesal, lalu ia memeluk dan mencium Rafa. Daddy pun menangis haru karena ia masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan cucunya.
"Terimakasih."
Ucap Daddy, sambil menatap Raline dan kedua orangtuanya. Raline dan kedua orang tuanya hanya tersenyum ikhlas.
Brottttt...!
__ADS_1
"Hei... Kamu BAB nak? di gendong Oma kok malah BAB?"
Ucap Mommy sambil tersenyum menatap Rafa.
"Ekkkkkkk... Oeeeee..Oeeee..!"
Rafa pun mulai menangis.
Suasana haru berakhir tawa dari dua keluarga tersebut. Kehadiran Rafa adalah keajaiban. Bila Rafa tidak ada di antara Raline dan Fandy. Mungkin saja mereka tidak akan pernah bersatu kembali.
Malam menjelang, Mommy dan Daddy terpaksa harus memesan hotel yang terdekat dari apartemen Raline untuk beristirahat. Setelah mengantarkan Mommy dan Daddy ke hotel, Fandy langsung pulang ke apartemen.
Rafa baru saja tertidur dan di taruh di box nya. Dengan perlahan Fandy membuka pintu kamar Raline, dan menatap Raline yang sedang terbaring di atas ranjang.
Fandy tersenyum kepada Raline, dan menutup pintu dengan perlahan. Fandy merebahkan dirinya di sebelah Raline. Lalu ia mengecup kening istrinya.
"Terimakasih atas kebaikan hati mu."
Ucap Fandy sambil menatap kedua mata indah Raline. Raline tersenyum lalu mencium bibir Fandy.
"Tidak perlu berterimakasih. Yang lalu biarlah berlalu, kini kebahagiaan menghampiri kita berdua. Untuk apa membahas masa lalu?"
Ucap Raline. Fandy terharu dengan ucapan Raline, lalu ia memeluk Raline dengan erat.
"Aku mencintaimu, aku tidak salah memilih kamu."
Ucap Fandy, lalu ia mengecup puncak kepala Raline.
"Bagaimana Carolina?"
Tanya Raline, sambil menatap Fandy yang sedang memeluknya.
"Pengacara ku sedang mengurus nya, kamu jangan khawatir ya."
Ucap Fandy. Raline mengangguk dan menenggelamkan wajah nya di dada Fandy.
"Berapa hari lagi sih?"
Tanya Fandy.
"Apanya?"
Tanya Raline sambil menatap Fandy dengan tak mengerti.
"Hukuman karena sudah membuat mu melahirkan berakhir."
"Hukuman apa?"
"Itu loh, nifas."
Ucap Fandy sambil tersenyum malu-malu. Raline pun tertawa terbahak-bahak.
"Kok jadi hukuman sih namanya."
Ucap Raline sambil kembali tertawa terbahak-bahak. Fandy cemberut manja menatap Raline.
"Ih kamu mah begitu."
Ucap Fandy sambil menahan tawanya.
"Oeeeee...Oeeeee...Oeeee..!"
Rafa terbangun karena terkejut mendengar tawa keras Raline. Raline pun tersadar karena sudah membuat tidur bayi nya terganggu.
"Dari pada kamu memikirkan kapan hukuman mu berakhir, lebih baik sekarang kita gantian menimang Rafa agar ia kembali tidur."
Ucap Raline sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Fandy. Fandy terbengong-bengong menatap Raline.
Tangisan Rafa pun semakin kencang, dengan cepat Fandy meraih Rafa dari box nya lalu menimang-nimang Rafa.
"Aku tidur cantik dulu ya suami ku. Muachhhh... semangat sayang."
Ucap Raline lalu ia merebahkan dirinya di atas ranjang dan mulai memejamkan matanya.
"Nak, lihat deh Mama mu itu. dia suka mengerjai Papa."
Ucap Fandy kepada Rafa. Rafa pun tersenyum dalam buaian Fandy.
"Yah.. dia mirip Mamanya. Jahil.. ngerjain Papa."
__ADS_1
Ucap Fandy menatap Rafa dengan gemas.