
Cinta, bagaikan air hujan yang membasahi gurun yang kering.
Meresap hingga kesela-sela lapisan pasir di gurun itu.
Tetapi bila cinta pergi, gurun tetap lah gurun. Kering, gersang bahkan akan lebih terasa panas di siang hari dan sangatlah dingin di malam hari.
Raline memejamkan matanya sesaat saat dirinya baru saja membuka mata di pagi hari ini. Matanya terasa berkunang-kunang saat ia berusaha untuk bangun dari pembaringan nya.
"Kamu sudah bangun?"
Mamanya Raline yang baru saja datang membawa semangkuk sup untuk Raline menyapa Raline yang masih tergolek lemas di atas ranjang.
"Ma.."
Sapa Raline, lalu ia tersenyum tipis.
"Bagaimana keadaan mu"
Mamanya Raline menghampiri Raline dan menempelkan punggung tangan nya di dahi Raline.
"Aku baik-baik saja Ma"
Jawab Raline, lalu ia berusaha duduk di atas ranjang.
"Ya sudah makan dulu ya"
Mamanya Raline menyendokan nasi dan sup buatan nya untuk Raline. Raline tersenyum dan menyambut suapan dari Mamanya.
"Ma, Raline mau pergi ke Kanada"
Ucap Raline.
"Kanada? untuk apa?"
Tanya Mamanya Raline sambil menatap Raline.
"Raline mau kuliah di sana ma, mau lanjut ke S2"
Ucap Raline. Mamanya Raline mengeryitkan dahinya, lalu ia membelai lembut rambut Raline.
"Kamu tidak sedang menghindari masalah kan?"
Tanya Mamanya Raline. Raline tersenyum kecut, ia menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Raline memang ingin kuliah lagi. Raline ingin hidup yang lebih baik lagi"
Ucap Raline lalu ia meraih segelas air putih di samping ranjangnya, dan meneguk nya hingga habis setengah gelas.
"Bila itu keinginan kamu, Mama hanya bisa suport kamu Line"
Mamanya Raline menatap Raline dengan mata yang berkaca-kaca.
"Terimakasih Ma"
Ucap Raline lalu ia memeluk erat tubuh Mamanya.
"Apa kamu sudah daftar kuliah disana?"
"Raline sedang menunggu jawaban email dari universitas di sana, semoga di terima"
__ADS_1
Ucap Raline sambil tersenyum tipis. Mamanya Raline hanya menghela napasnya dengan perlahan dan membalas senyuman Raline.
"Mama minta maaf"
"Untuk apa Ma?"
Tanya Raline sambil menatap wajah Mamanya dengan seksama.
"Mama minta maaf karena ikut-ikutan panik dan membully kamu karena kamu terlambat menikah"
Bulir air mata mulai terjun bebas di pipi Mamanya Raline. Raline terdiam dan menundukkan pandangannya.
"Mama sudah terlalu banyak bersalah kepadamu Line. Tidak sepantasnya Mama selalu mempertanyakan kamu kapan menikah? Maafkan Mama yang terlalu panik akan masa depanmu. Ternyata Mama salah, menikah bukanlah patokan seseorang untuk bahagia atau hal yang yang terlalu dipertanyakan. Bila saatnya, kamu bertemu dengan orang yang terbaik didalam hidupmu dan kamu bahagia itulah poin yang terpenting untuk Mama"
Ucap mamanya Raline. Raline pun tidak bisa membendung air matanya. Tidak ada kata-kata yang terucap lagi, Ibu dan anak itu larut dalam tangisan mereka.
..
Fandy melirik arlojinya, jarum sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Tidak biasanya Raline datang terlambat, tetapi kali ini sepertinya Raline tidak masuk kerja.
Fandy yang setiap hari memantau Raline di depan kantor wanita itu pun bertanya-tanya. Kemana Raline? Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia sedang sakit? Apakah dia sudah berhenti bekerja dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepala Fandy.
Fandy meraih ponselnya dan memberanikan diri untuk menghubungi Raline. Akan tetapi panggilan telepon dari dirinya tidak pernah diangkat lagi oleh Raline belakangan ini. Ia terdiam membisu dan menenggelamkan wajahnya di atas kemudian mobilnya.
Lalu ia memutuskan untuk mengirim pesan untuk Raline.
"Semoga kamu baik-baik saja. Jangan lupa makan, jaga kesehatan dan ingat, aku merindukan kamu"
Lalu Fandy mengemudikan mobilnya menuju kantor.
...
Raline membuka SIM card ponsel nya lalu mematahkan SIM card tersebut. dan membuang nya ke tempat sampah.
Raline tidak ingin menjadi orang kedua dalam pernikahan lelaki yang sangat ia cintai itu. Raline cukup sadar diri, ia kini bukan lah siapa-siapa bagi Fandy. Ia hanya seorang mantan istri bohongan Fandy, yang kini menjalani hidup layak nya tidak ada kejadian apa-apa antara dirinya dan Fandy.
Raline kembali merebahkan dirinya di atas ranjang. Dan menghapus semua foto-foto Fandy dan dirinya yang ada di ponsel miliknya.
"Selamat tinggal masa lalu"
Gumam nya.
Raline harus move on demi dirinya dan keluarganya. Kegagalan bukan lah akhir dari dunia Raline. Ia sudah pernah gagal dalam percintaan. Kini, kegagalan itu bukan lah hal yang baru baginya. Tidak ada yang harus ia sesali, yang terbaik adalah hidup tetap berjalan dan harus di jalani.
..
Seminggu telah berlalu, Raline yang sedang asik di depan laptop nya mendapat notifikasi yang baru saja masuk ke email nya.
Raline membaca isi email tersebut, lalu ia terbelalak tak percaya.
"Yesssssssssssss....!!!!!!!!"
Seru nya hingga dirinya melompat-lompat kegirangan.
"Kenapa lu mbak?"
Tanya Sinta yang bingung melihat tingkah laku Raline.
"Gue di terima kuliah di Kanada Sin...!!!!"
__ADS_1
Ucap Raline sambil berjingkrak-jingkrak kegirangan.
"Seriusss lu mbak?"
Tanya Sinta tak percaya.
"Iya....! lu baca sendiri deh..!"
Raline mengangkat laptopnya dan menaruh nya di atas meja Sinta.
Sinta mencoba membaca isi email itu dengan teliti. Lalu ia pun menatap Raline tak percaya.
"Mbak... lu ke Kanada?"
"Iya.."
Jawab Raline dengan rona wajah yang berbinar-binar.
"Gokil lu mbak... jangan berangkat..!"
Ucap Sinta sambil menjauhkan laptop Raline dari dirinya.
"Loh kenapa?"
Seketika raut wajah Raline berubah murung menatap sahabatnya itu.
"Gue gak punya teman lagi. Nanti gue sama siapa..?"
Sinta menahan tangis nya. Raline menatap Sinta dengan seksama.
"Lu nangis?"
Tanya Raline sambil mendekatkan wajah nya ke depan wajah Sinta.
"Gak"
Jawab Sinta singkat sambil memalingkan wajahnya.
"Nangis?"
Tanya Raline lagi sambil menahan tawanya.
"Gue bilang enggak...!!!!"
Jawab Sinta dengan kesal.
"Ya ampun... sini sini peluk"
Raline memeluk tubuh Sinta yang diam mematung di atas kursinya.
"Gue cuma sebentar kok Sin, setelah lulus S2 gue bakal balik lagi ke Indonesia, gue janji"
Ucap Raline lalu menatap Sinta dengan seksama. Sinta tidak dapat membendung rasa sedih dan kehilangan nya. Ia membalas pelukan Raline dengan erat.
"Lu baik-baik disana, jangan lupa makan. Jaga kesehatan dan please jangan lupain gue. Kalau ada waktu main ke Indonesia, dan kalau gue ada uang gue main kesana boleh ya"
Ucap Sinta dengan air mata yang berjatuhan di pipinya.
"Gue janji"
__ADS_1
Ucap Raline. Mereka pun saling bertangisan di ruang kerja mereka.