Kapan Nikah?

Kapan Nikah?
25# Bergelut dengan pikiranku sendiri


__ADS_3

Fandy baru saja sampai di kantor Raline, ia meraih sebotol parfum dari laci mobilnya lalu menyemprotkan ke tubuhnya. Tak lupa ia melirik berkaca di spion tengah mobilnya.


"Ganteng banget ya gue"


Ucapnya sambil tersenyum sendiri.


Fandy menghubungi Raline dari ponselnya. Berkali-kali ia mencoba menghubungi Raline, tetapi tidak kunjung di jawab oleh Raline.


"Kemana sih bini gue?"


Gumamnya.


Raline yang baru saja kembali dari toilet dengan gontai berjalan menuju mejanya.


"Mbak, ponsel lu dari tadi berdering mulu. coba di cek deh"


Kata Sinta.


Sinta melihat mata Raline yang sembab. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain mendoakan yang terbaik untuk Raline saat ini. Sebenarnya ia tidak setuju dengan ide Raline yang memutuskan menikah pura-pura dengan lelaki yang tak di kenal sahabatnya itu. Tetapi ia pun paham kenapa Raline sampai melakukan hal itu.


Di usia tiga puluh tahun dan masih single bagi wanita di Negeri ini, sungguh berat.


Ucapan orang pasti membebani pikiran dan membuat sakit hati. Jangankan Raline, Sinta saja yang masih berusia dua puluh lima tahun sudah menghadapi banyak pertanyaan dari kanan dan kirinya tentang kapan ia akan menikah. Dan ia pun muak dengan pertanyaan-pertanyaan itu.


Raline meraih ponselnya yang terletak di atas meja kerjanya. Ia pun mengecek panggilan yang tak terjawab. Ia membesarkan kedua bola matanya saat melihat nama Fandy tertera di layar ponselnya.


"Fandy?"


Gumamnya. Ia pun langsung berprasangka buruk terhadap lelaki itu. Apakah lelaki itu akan menceraikan dirinya saat ini juga?


Ponsel Raline kembali berdering. Fandy kembali menghubunginya tetapi ia tidak berani mengangkat telepon dari lelaki itu.


"Please jangan sekarang"


Gumamnya sedih.


"Kemana sih dia?"


Gumam Fandy.


Lalu Fandy memutuskan untuk turun dari mobilnya dan beranjak masuk ke dalam kantor Raline.


"Selamat siang ada yang bisa saya bantu?"


Tanya wanita dari balik meja resepsionis.


"Saya ingin bertemu dengan Ibu Raline, Apakah dia ada?"


Tanya Fandy.


Wanita itu pun terpesona memandangi wajah tampan Fandy, sampai ia tidak mendengarkan pertanyaan dari Fandy.


"Mbak.."


Sapa Fandy sambil melambaikan tangannya di depan wajah wanita resepsionis itu.


"Eh, iya Mas. Kenapa?"


Tanya wanita itu lagi.


"Saya mau bertemu dengan Ibu Raline, apakah dia ada?"


Fandy mengulangi pertanyaannya dengan malas.


"Oh Sebentar ya Mas, saya telepon kemejanya dulu"


Ucap wanita resepsionis itu.


Kringggg.... kringggg...!


Pesawat telepon di meja Raline berdering, dengan malas Raline mengangkat panggilan itu.


"Ya..."


Sapa Raline.


"Mbak Raline ada yang mencari"


Ucap resepsionis.


"Siapa mbak?"


Tanya Raline penasaran.


"Eh iya, sebentar ya, saya lupa nanya namanya"

__ADS_1


Ucap wanita itu lalu menempelkan gagang telepon itu di pundaknya.


"Mas, maaf.. Namanya siapa ya?"


Tanya wanita itu.


"Bilang saja suaminya datang"


Ucap Fandy sambil tersenyum.


"Suami...!"


Wanita itu menatap Fandi sambil mengernyitkan dahinya. Orang-orang di kantor tidak mengetahui bahwa Raline sudah menikah, maka dari itu resepsionis itu terkejut saat mendengar Fandy adalah suaminya Raline.


"mbak Raline, katanya suaminya..!"


Ucap resepsionis itu.


"Hahhhh...!"


Raline terkejut, lalu dengan cepat ia mengembalikan gagang telepon itu kembali ke tempatnya. Lalu dengan tergesa-gesa Ia turun menuju lobby.


"Mau kemana lu mbak..!"


Tanya Sinta. Tetapi Raline sudah menghilang di dari lorong ruangan itu.


Dengan panik Raline memencet tombol lift, saat pintu lift terbuka tanpa membuang waktu ia langsung memencet tombol menuju lobby.


"Apa yang dilakukan sih di kantor gue"


Batin Raline. Dirinya gelisah saat lift menuju ke bawah.


Pintu lift pun terbuka saat tiba di lobby. Raline langsung berlari menuju meja resepsionis.


"Mbak...!!! mana manusianya?"


Tanya Raline kepada resepsionis dengan nafas tersengal-sengal.


"Tuh..!"


Resepsionis itu menunjuk Fandy yang sedang duduk di sofa tunggu. Jantung Raline berdetak kencang saat melihat wajah lelaki yang menikahinya tiga bulan yang lalu. Dengan perlahan ia pun menghampiri lelaki itu.


Fandy tersenyum melihat kehadiran Raline, ia menatap Raline penuh dengan kerinduan. Ingin sekali ia berlari menghampiri gadis itu, dan memeluknya dengan erat. Lalu mengatakan "Aku rindu".


"Ha...hai"


Sapa Raline, grogi.


"Hai"


Sapa Fandy juga.


Raline pun duduk di sofa tunggu sambil terus memandangi Fandy. Ia tak percaya lelaki itu ternyata sudah berada di kantornya.


"Ada apa kesini?"


Ucap Raline, kikuk.


"Main saja, kalau bisa aku mau ajak kamu keluar"


Ucap Fandy.


Raline pun terpaku. Pikirannya tentang Fandy yang akan menceraikan nya pun langsung menyelimuti otaknya.


Raline menghela napasnya perlahan.


"Aku gak bisa, aku lagi kerja"


Jawab Raline dengan wajah yang murung.


"Kalau begitu aku tunggu disini saja ya, sampai kamu pulang kerja "


Deggggg...!!!!!


Jantung Raline semakin berdebar tidak karuan.


"Masih lama, lebih baik kamu kembali ke kantormu saja ya"


"Aku tunggu saja, sekarang silahkan kembali ke ruangan mu ya.."


Ucap Fandy, sambil mengambil sebuah majalah untuk menemaninya menunggu Raline. Raline menggelengkan kepalanya saat mengetahui Fandy ternyata sangat keras kepala.


"Ya sudah, selamat menunggu kalau begitu"


Ucap Raline, lalu ia beranjak dari sofa dan bergegas menuju lift untuk kembali ke ruangannya.

__ADS_1


"Oke..."


Sahut Fandy tanpa menoleh kepada Raline. Ia mulai sibuk membuka lembar demi lembar dari majalah yang ia pegang.


Raline kembali menghela napasnya dengan kesal.


Satu jam berlalu, Raline mulai gelisah di depan monitor laptopnya.


"Sttt... yang nyari lu siapa tadi?"


Tanya Sinta sambil setengah berbisik kepada Raline.


"Laki gue"


Ucap Raline dengan malas.


"Hah...? yang mana sih orangnya..? penasaran gue.. dimana dia sekarang..?"


Tanya Sinta dengan antusias.


"Ada noh di lobby"


Sahut Raline.


"gue kebawah ah....."


Sinta langsung bergegas menuju lobby.


Raline hanya mencebikkan bibirnya saat melihat Sinta yang bergegas menuju lift.


Beberapa menit kemudian Sinta kembali ke ruangan mereka.


"Mbaaaakkkkk.... parah lu mbak...!"


Ucap Sinta sambil meletakan tangan nya diatas dadanya.


"Apaan?"


Sahut Raline dengan malas.


"Itu laki lu.. astaga mbakkk... dia punya kembaran gak? atau kloningan gitu? gantengnya... aduh.., pantesan aja lu jadi suka sama dia..!"


"Omongan lu kaga di ayak..!"


Ucap Raline kesal. Sinta hanya tertawa lalu menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya bahwa Raline mendapatkan lelaki seperti Fandy.


"Mbak... kasihan loh dia nungguin elu sampai mengantuk, udah lu izin aja... buruan sana pulang..!"


Raline terdiam saat mendengan Fandy menunggu dirinya sampai mengantuk.


Ia pun memejamkan matanya lalu menghela napas dengan berat.


"Ya sudah, gue pulang"


Ucap Raline sambil membereskan mejanya. Sebelum Raline menuju ke lobby, ia ke ruangan Om nya terlebih dahulu untuk meminta izin bahwa dirinya pulang lebih awal. Setelah mendapatkan izin, ia pun menuju lift dan turun ke bawah.


Di dalam lift, Raline mempersiapkan dan menguatkan dirinya sendiri. Bila hari ini, Fandy akan mengatakan tentang perceraian kepadanya.


Pintu lift pun terbuka. Raline sudah siap dengan apa yang akan terjadi beberapa jam kedepan. Dengan mantap, ia berjalan menuju sofa tunggu.


Dari kejauhan, Fandy sudah tersenyum melihat Raline. Jantung Raline mulai berdetak tak normal, dengkulnya terasa lemas, bibirnya bergetar.


"Bila ini senyum terakhir yang kau berikan kepadaku saat aku masih menyandang status istrimu, senyum ini akan ku kenang selamanya"


Bisik Raline di dalam hati.


"Sudah pulang?"


Tanya Fandy.


"Sudah"


Sahut Raline.


"Pulang atau izin?"


Tanya Fandy dengan senyuman jahilnya. Pipi Raline pun memerah saat mengetahui bila Fandy tahu bahwa dirinya meminta izin untuk pulang lebih awal demi Fandy.


"Ayo... "


Fandy mengulurkan tangannya untuk di Raline menggandeng tangannya. Raline menatap tangan lelaki itu dengan tatapan kosong. Hatinya mulai menangis, begitu juga air mata yang sudah mulai mengembang di pelupuk matanya.


"Aku malu. ini kantor"


Ucap Raline, lalu ia berjalan mendahului Fandy menuju parkiran. Diam-diam ia pun mengusap air matanya yang sudah mulai menetes di pipinya.

__ADS_1


__ADS_2