Kapan Nikah?

Kapan Nikah?
51# Sah..!


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Fandy terbangun dari tidur nya di sofa ruang tamu apartemen Raline. Ia melirik jam di dinding ruang tamu tersebut. Raline baru saja selesai mandi, ia menuju dapur untuk membuat segelas susu Ibu hamil dan memakan buah-buahan yang rutin ia konsumsi semenjak dirinya hamil.


Raline melirik Fandy yang memandang Raline yang sedang berjalan melintasi ruang tamu.


"Sudah bangun?"


Sapa Raline saat melihat Fandy duduk di sofa sambil menatap dirinya. Fandy hanya mengangguk lalu tersenyum kepada Raline yang sedang mengenakan daster batik. Fandy memperhatikan bentuk tubuh Raline yang terlihat lebih berisi dari pada sebelumnya.


"Kenapa?"


Tanya Raline sambil, melihat penampilan dirinya di pantulan cermin yang terletak di dekat ruang tamu.


"Aku gemuk ya? Kamu pasti sedang berpikir aku lebih gemuk dari biasanya"


Ucap Raline sambil cemberut. Fandy pun tertawa geli, lalu ia menghampiri Raline dan memeluk tubuh Raline dari belakang.


"Walaupun ndut, tapi tetap sexy kok"


Fandy mengecup leher belakang Raline.


Jantung Raline berdegup kencang, sudah lama ia tidak mendapatkan perlakuan seperti itu dari Fandy.


"A..aku mau membuat susu dulu ya"


Ucap Raline terbata-bata, lalu ia mencoba melepaskan dirinya dari pelukan Fandy.


"Biar aku saja yang membuatkan susu untuk mu. Kamu duduk saja di atas sofa"


Fandy menuntun Raline menuju sofa, lalu menyuruh Raline untuk duduk santai di atas sofa. Raline pun menuruti ucapan Fandy, ia menatap lelaki itu dengan tatapan haru. Sudah lama sekali ia ingin di perlakukan seperti itu saat mengandung. Baru kali ini keinginan nya tercapai.


Raline tersenyum tipis, ia menyembunyikan perasaan senang nya agar tidak terlihat oleh Fandy. Lelaki itu mengangkat kedua kaki Raline ke atas sofa, lalu ia menyelimuti kaki Ibu dari calon anak nya tersebut, dengan selimut flanel yang menemani nya tidur di sofa tadi malam.


"Terimakasih"


Ucap Raline, malu-malu. Fandy tersenyum lalu ia mengecup kening Raline dengan hangat.


"Aku buatkan susu dulu ya"


Ucap Fandy. Lalu lelaki itu berjalan menuju dapur. Fandy membaca petunjuk yang tertera di kotak susu, lalu ia membuatkan susu untuk Raline dengan mengikuti petunjuk yang tertera di kotak susu tersebut.


beberapa menit kemudian, Fandy datang dengan membawa segelas susu dan buah-buahan yang sudah ia potong kecil-kecil untuk di berikan kepada Raline. Raline tersenyum saat ia di layani oleh Fandy dengan baik.


"Suami siaga ya."

__ADS_1


Ucap Raline menggoda Fandy. Fandy hanya tersenyum lalu mengambil potongan buah dengan garpu, lalu ia menyuapi Raline hingga potongan buah-buahan itu habis.


Setelah itu, Fandy membereskan piring dan gelas susu bekas Raline lalu ia membawanya ke wastafel. Tanpa enggan, Fandy mencuci piring dan gelas tersebut lalu mengeringkan nya dan meletakan nya kembali ke dalam lemari piring.


Setelah semuanya selasai, Fandy duduk di samping Raline yang terus menatap dirinya.


"Kenapa?"


Tanya Fandy sambil mengangkat kedua alis nya. Ia tidak mengerti mengapa Raline terus menatap dirinya. Raline tersenyum bangga melihat sikap Fandy yang seperti itu, lalu ia mendekati Fandy dan mengecup pipi Fandy. Fandy menyentuh pipi nya yang baru saja di kecup oleh Raline.


"Asik...pagi-pagi sudah dapat ciuman."


Ucap lelaki itu, ia menatap Raline sambil tersenyum sumringah.


"Terimakasih ya Papanya Junior."


Ucap Raline, ia pun mengalungkan kedua tangannya di leher Fandy.


Fandy menatap Raline dengan seksama, lalu ia perlahan mendekatkan bibir nya ke bibir Raline.


Jantung Raline berdetak lebih kencang saat ia menyadari bahwa Fandy ingin mencium bibirnya. Tetapi ia tidak kuasa untuk menolak ciuman lelaki itu. Raline pun memejamkan matanya, lalu ia bersiap-siap menyambut sentuhan bibir hangat Fandy.


"Ehemmmmm...!"


"Nanti siang kalian sudah sah kembali menjadi suami istri. Jangan main sosor saja"


Ucap Papanya Raline, sambil berlalu menuju dapur. Fandy dan Raline pun menjadi salah tingkah. Fandy beranjak dari duduk nya lalu ia pergi ke kamar mandi. Raline pura-pura menonton televisi, ia tidak berani melirik Papanya yang sedang menatap dirinya dari dapur.


Siang itu mereka berangkat ke Islamic Center di kota itu. Fandy dan Raline pun rujuk di saksikan dan di bimbing oleh pemuka agama di sana. Saat itu juga, Raline dan Fandy kembali menjadi suami istri yang sah di mata agama.


Fandy tersenyum bahagia menatap Raline. Begitupun Raline yang merasa sangat bersyukur bisa kembali bersama Fandy. Setelah itu, mereka berfoto-foto bersama di sana. Lalu mereka kembali pulang ke apartemen Raline.


Sesampainya di apartemen, Raline meminta izin kepada orangtuanya karena ia ingin mengantarkan Fandy kembali ke hotel untuk mengemasi barang-barang Fandy yang masih tertinggal disana.


Setelah itu, mereka pun berangkat menuju hotel Fandy.


"Line, aku pikir apartemen mu terlalu kecil bila aku ikut pindah di sana. Bagaimana aku sewakan apartemen yang dekat dengan kampus mu, tetapi yang lebih luas?"


Raline mengeryitkan dahinya menatap Fandy.


"Bayangkan kalau Junior lahir. Eh, Junior laki-laki atau perempuan? Sudah USG kan? apa kata dokter? kamu sudah control lagi belum? kalau belum aku akan mengantarmu, sekalian aku ingin melihat junior di layar USG"


Raline menghela nafas sambil menatap Fandy dengan malas.

__ADS_1


"Kok gak di jawab?"


Tanya Fandy saat melihat ekspresi istrinya yang terlihat malas.


"Aku harus menjawab yang mana dahulu? aku saja lupa apa saja pertanyaan mu tadi, karena saking banyaknya"


Ucap Raline, sambil mencebikkan bibirnya. Fandy tertawa lalu memeluk Raline dengan erat.


"Maaf ya, aku terlalu bersemangat."


Ucap Fandy sambil mengusap-usap punggung Raline dengan lembut dan penuh kasih.


"Iya, aku mau pindah. Junior itu baby boy. Aku control dua hari lagi"


Raline menjawab pertanyaan-pertanyaan Fandy.


"Baby boy?"


Raline mengangguk-angguk sambil tersenyum menatap Fandy.


"Yessssss...!"


Ucap Fandy dengan mata yang berbinar-binar.


"Hai jagoan..! Papa di sini, kamu siap untuk bermain bola dengan Papa?"


Ucap Fandy sambil menciumi perut buncit Raline. Raline memutar kedua bola matanya dengan malas saat melihat Fandy yang sangat bersemangat menciumi perutnya.


kurang lebih satu jam kemudian, mereka tiba di hotel tempat Fandy menginap di malam sebelum pertemuan nya dengan Raline. Mereka menuju ke lantai dua dimana kamar Fandy berada.


Fandy terus menggenggam tangan Raline dengan erat, seakan ia ingin memberitahukan kepada dunia bahwa Raline adalah milik nya seorang.


Mereka pun tiba di kamar hotel tersebut, lalu Fandy membuka pintu kamarnya dan mengajak Raline untuk masuk kedalam kamar.


Fandy langsung mengemasi barang-barangnya dan memasukkan nya kembali ke dalam koper milik nya.


Raline duduk di tepi ranjang memperhatikan Fandy yang baru saja selesai mengemasi barang-barang nya. Fandy menghampiri Raline setelah semuanya selesai. Ia pun ikut duduk di tepi ranjang di samping Raline.


Mereka berdua saling diam. Lalu beberapa menit kemudian mereka memberanikan diri untuk saling bertatapan mata. Lama-lama Fandy dan Raline pun tertawa.


"Iya kita nginap di sini dulu semalam"


Ucap Fandy kepada Raline. Raline tertawa bahagia lalu memeluk Fandy dengan erat. Malam itu adalah malam pertama part dua bagi mereka.

__ADS_1


Hayo reader.. jangan senyum-senyum sendiri.. :D


__ADS_2