
"Selamat sore nyonya Carolina."
Sapa Asisten Fandy kepada Carolina, saat Carolina sedang menikmati segelas teh sore nya di kebun belakang rumah Fandy.
"Kamu, bagai mana? sudah kamu transfer?"
Tanya Carolina, ia melirik sekilas asisten Fandy. Lalu ia membuang pandangannya dengan angkuh nya.
Asisten Fandy tersenyum sinis, melihat sikap Carolina kepadanya.
"Kedatangan saya kesini, atas perintah Boss Fandy. Beliau ingin saya menarik semua kartu kredit dan ATM yang telah beliau berikan kepada nyonya"
Ucap Asisten Fandy. Carolina menoleh kepada lelaki itu, lalu ia menata nya dengan tatapan tak percaya.
"Apa yang kamu bicarakan? Fandy menyuruh kamu menarik semua kartu-kartu nya?"
Tanya Carolina, tak percaya.
"Iya nyonya"
Jawab asisten Fandy. Carolina pun tertawa terbahak-bahak.
"Fandy menyuruhmu melakukan itu kepadaku? Apa dia sudah gila? apa dia tidak memikirkan anaknya?"
Ucap Carolina.
"Betul Nyonya Boss menyuruh saya untuk menarik semua kartu-kartunya."
"Kamu jangan bercanda..!"
Ucap Carolina dengan mimik wajah yang serius.
"Saya sedang tidak bercanda Nyonya"
Ucap asisten Fandy, tak kalah serius.
"Apa Fandy sudah gila? Mengapa ia lakukan itu kepadaku..!"
Ucap Carolina lagi.
"Saya tidak banyak waktu nyonya, saya ke sini hanya untuk kartu-kartu itu"
Tegas asisten Fandy.
"Saya tidak ingin memberikannya, lebih baik kamu pulang"
Ucap Carolina.
"Bila anda tidak ingin menyerahkannya, terpaksa saya memaksanya nyonya."
Ucap asisten Fandy, lalu ia memanggil dua bodyguard yang datang bersamanya untuk memaksa Carolina untuk menyerahkan kartu-kartu itu.
"Maaf Nyonya, kami terpaksa memaksa. Di mana anda taruh kartu kartu itu?"
Ucap dua bodyguard, sambil mencengkram kedua lengan Carolina
"Apa-apaan ini, lepaskan saya..! saya tidak akan memberikannya kepada kalian..!"
Ucap Carolina, sambil memberontak dan melepaskan dirinya dari cengkraman para bodyguard.
"Cari di lemari kamar..!"
Perintah asisten Fandy.
Carolina pun diseret menuju kamar nya. Setibanya mereka di kamar, para bodyguard pun membongkar lemari Carolina serta mengecek laci-laci yang berada di dalam kamar tersebut.
Salah seorang bodyguard menemukan dompet Carolina yang tergeletak di dalam meja nakas. Para bodyguard itupun mengambil beberapa kartu yang yang telah Fandy berikan kepada Carolina.
"Jangan diambil..! Aku mohon jangan diambil..!"
__ADS_1
Ucap Carolina.
"Maafkan kami Nyonya, kami hanya menjalankan tugas."
Ucap asisten Fandy, setelah apa yang mereka inginkan di dapati, merekapun pergi meninggalkan Carolina. Panik dan kesal menjadi satu di benak Carolina. Ia tidak tahu akan melakukan apa. Sementara ponsel Carolina terus berdering, panggilan masuk dari Alex dia abaikan.
Alex yang sedang menunggu transferan uang dari Carolina pun terus menelpon wanita itu. Alex merasa geram karena panggilan teleponnya diabaikan.
"Kamu ingin bermain-main denganku ya Carolina..! Kamu harus di berikan pelajaran..!"
Gumam lelaki itu.
...
Pagi ini, Fandy dan Raline sedang berbelanja kebutuhan bayi mereka yang akan lahir beberapa minggu lagi. Raline tampak bersemangat memilih baju-baju kecil yang berbahan lembut untuk bayi.
Fandy hanya tersenyum melihat Raline yang begitu antusias saat memilih baju baju untuk anak mereka.
"Ini bagus sayang..!"
Ucap Raline sambil memamerkan sleep wear untuk bayi yang bermotif beruang. Fandy hanya mengangguk sambil mengangkat kedua jempolnya.
"Ih, kamu tidak bersemangat ya"
Ucap Raline, sambil cemberut.
"Bu, bukan sayang. Aku bersemangat kok."
Ucap Fandy. Semenjak hamil, Raline memang lebih sensitif di bandingkan dahulu sebelum hamil. Fandy paham akan hal itu, karena Fandy sering membaca tentang kehamilan belakang ini.
"Ya, terus kenapa tidak ikut memilih..?"
Ucap Raline, sambil menghentakkan kakinya. Fandy pun tertawa geli melihat tingkah istrinya. Lalu ia memeluk Raline dengan erat.
"Bumil yang cantik, aku melihat kamu sangat bersemangat saja aku sudah bahagia. Sekarang, kamu belanja apa saja yang kamu suka. Aku tinggal bilang Ok"
Bisik Fandy. Raline pun tersenyum licik.
Tanya Raline sambil menatap Fandy dengan menyipitkan matanya. Fandy mengangguk sambil mengangkat kedua alis nya.
"Asikkkkkk serbuuuuuu...!"
Teriak Raline, lalu ia menyambar baju-baju bayi yang berada di sana.
Setelah beberapa menit kemudian, Fandy menepuk keras dahinya saat melihat tumpukan baju di trolly belanja Raline. Ia menatap Raline dengan tatapan tak percaya.
Sedangkan Raline menatap Fandy sambil mengedip-ngedipkan matanya dengan manja. Dengan tabah, Fandy pun mengeluarkan kartu debit nya dan menyerahkan nya kepada kasir, saat semua belanjaan Raline baru saja selesai di hitung.
Fandy keluar dari toko perlengkapan bayi dengan wajah yang lesu serta belasan papper bag besar ditangannya. Sedangkan Raline hanya melenggang dengan santai saat keluar dari toko tersebut.
Fandy menghela napas panjang, lalu ia menghembuskan nya dengan perlahan.
"Gak bisa salah bicara kalau sama wanita, apa lagi itu istri sendiri."
Ucap Fandy sambil menggelengkan kepalanya.
"Semangat Papa Junior, kamu pasti bisa membawa kantung belanjaan itu menuju mobil"
Ucap Raline sambil tertawa geli.
"Kamu tuh ngerjain aku ya...! Awas kamu..!"
Fandy setengah berlari mengejar Raline yang sudah beberapa meter di depan nya. Raline tertawa terbahak-bahak melihat suami nya yang susah payah membawa kantung-kantung belanja tersebut.
Malam itu seperti biasa Raline, Fandy dan kedua orangtua Raline makan malam bersama di apartemen mereka.
Tidak seperti biasanya, Raline terlihat sedikit kelelahan karena sejak dari tadi pagi ia dan Fandy berbelanja kebutuhan bayi mereka.
Raline duduk dengan gelisah, sesekali ia menepuk pelan punggungnya dan bahunya.
__ADS_1
"Are you ok?"
Tanya Fandy dengan khawatir. Raline hanya mengangguk pelan. dengan sigap Fandy memijat bahu dan punggung Raline.
"Kamu kecapekan Raline, Mama sudah bilang jangan ke mana-mana dulu. Biar Mama saja yang berbelanja bersama Fandy."
Ucap Mamanya Raline.
"Justru kebahagiaan orang hamil, berbelanja baju-baju bayinya Ma."
Ucap Raline. Mama hanya menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Raline.
"Sudah makan dulu nanti mau tidur aku pijat."
Ucap Fandy. Mama dan Papanya Raline tersenyum bangga melihat sikap menantunya terhadap anak mereka.
Setelah makan malam, Fandy mengantar Raline menuju kamarnya. Setelah sampai di kamar, Raline merebahkan dirinya di atas ranjang. Dengan sigap Fandy memijat telapak kaki Raline dengan penuh kasih sayang.
Raline merasa sangat bahagia dengan segala yang di lakukan Fandy untuk dirinya. Raline menatap wajah suami nya yang sedang konsentrasi memijat telapak kakinya.
"Kamu terlihat lebih tampan sekarang."
Ucap Raline. Fandy pun tersenyum lalu mengecup bibir Raline dengan mesra.
"Sebentar lagi ada yang lebih tampan dari pada aku."
Ucap Fandy sambil melirik perut Raline. Raline pun tertawa lalu mengusap perutnya dengan lembut.
"Duggg...!"
Raline meringis saat merasakan Junior yang menyundul kebawah perut nya.
"Kenapa?"
Tanya Fandy khawatir.
"Junior sepertinya menyundul kebawah."
Ucap Raline sambil meringis.
"Sakit ya..?"
Ucap Fandy, lalu ia membantu Raline untuk duduk di atas ranjang.
"Kok perut ku semakin sakit ya Fan..!"
"Kamu tidak apa-apa kan sayang?"
Byurrrrr...!
Air ketuban membasahi ranjang mereka.
"Fan...sepertinya aku akan melahirkan..!"
Raline menatap Fandy dengan tatapan yang serius.
"HAH..!!!!!!"
Fandy pun mulai panik, begitu juga Raline yang langsung beranjak dari ranjang.
"Tolonggg... tolongg.. tolonggg...!"
Teriak Fandy dengan panik.
Raline pun terdiam melihat Fandy yang sedang panik. Fandy pun menghampiri Raline yang sedang terdiam mematung menatap dirinya. Lalu Fandy membopong tubuh Raline keluar dari kamarnya. Raline pun tertawa terbahak-bahak, sambil menahan rasa mulas di perut nya.
"Sayang kenapa tertawa?"
Tanya Fandy, ia pun menghentikan langkahnya dan menatap Raline dengan seksama.
__ADS_1
"Kamu lebay..!"
Ucap Raline, lalu ia kembali tertawa saat melihat ekspresi Fandy yang semakin lucu di matanya.