Kapan Nikah?

Kapan Nikah?
29# Yes, I Love U


__ADS_3

Tok Tok Tok..!


Terdengar seseorang mengetuk pintu kamar Raline. Raline yang sedang membenamkan wajahnya di atas bantal pun menoleh ke pintu.


"Boleh Mama masuk Line?"


Tanya mamanya Raline dari ambang pintu kamar. Raline hanya mengangguk lalu duduk di atas ranjangnya. Mamanya menghampiri Raline, lalu ikut duduk di atas ranjang.


"Kamu ini kenapa sih? Apa kamu sedang bertengkar dengan Fandy?"


Tanya mamanya Raline.


"Ah enggak kok Ma Raline hanya ingin beristirahat di sini"


Ucap Raline berbohong.


"Kamu tidak sedang berbohong kan?"


Tanya mamanya Raline lagi.


Wanita paruh baya itu tidak mempercayai ucapan anaknya. Sebagai orang tua yang telah mengarungi mahligai rumah tangga selama puluhan tahun, pasti ia sangat paham dengan masalah-masalah yang terjadi di dalam rumah tangga.


"Nggak kok Ma"


Ucap Raline lagi.


Sebenarnya, Raline tidak ingin berbohong. Saat ini ia sangat membutuhkan tempat berbagi, tetapi ia tak sanggup untuk mengatakan yang sejujurnya kepada mamanya. Karena ia tahu betul, kebohongan yang ia buat sangat fatal dan belum tentu orang tuanya dapat menerima kenyataan ini.


"Pasti kamu sedang bertengkar, ayo jujur pada Mama"


Raline tersenyum kecut, wanita yang telah melahirkannya itu tidak akan pernah dapat ia bohongi.


"Hanya masalah kecil saja kok Ma"


Jawab Raline sambil menundukkan wajahnya.


Mama Raline pun tersenyum sambil menyentuh lembut punggung tangan anak satu-satunya itu.


"Line bertengkar dalam rumah tangga itu biasa, dulu Mama sama Papamu waktu awal-awal menikah juga seperti itu. Ada banyak perbedaan yang kita temukan setelah kita mengarungi rumah tangga, terlihatnya memang berumah tangga itu asik. Tetapi, itu terlihat dari luar. Sedangkan dalam tubuh rumah tangga itu sendiri banyak hal-hal baru yang kita temui dari pasangan kita. Yang membuat kita bertahan atau rumah tangga bertahan hanya sikap saling menghargai dan memaklumi serta keinginan ingin mempertahankan rumah tangga.


Dan sekarang Mama tanya, masalahmu apa?"


Ujar mamanya Raline.


Raline pun menatap mamanya dengan genangan air mata di pelupuk matanya.


"Bicaralah nak, ceritakan kepada Mama"


Ucap Mamanya Raline lagi.


Raline sudah tak sanggup lagi, akhirnya air mata pun terjatuh di pipinya. Ia menangis tersedu-sedu dihadapan Mamanya.


Dengan penuh kasih sayang Mamanya Raline langsung memeluk putrinya, dengan harapan pelukannya itu dapat menguatkan hati sang putri.

__ADS_1


"Ya sudah, bila kamu belum mau bercerita tidak apa-apa. Harapan Mama kamu bisa melewati apapun masalah dalam rumah tanggamu"


Ucap nama Raline sambil mengusap lembut rambut putrinya.


..


Sudah tiga hari Raline menginap di rumah orang tuanya. Malam ini, Fandy datang mengunjungi Raline. Fandy tidak bisa menahan perasaannya, ia ingin segera bertemu dengan Raline dan memastikan sekali lagi bahwa Raline memang benar-benar tidak mempunyai perasaan kepadanya.


Fandy disambut oleh kedua orang tua Raline, Mamanya Raline pun mempersilahkan menantunya itu untuk langsung saja menemui Raline di kamarnya.


Tok Tok Tok..!


Fandy mengetuk pintu kamar Raline, dengan perlahan ia membuka pintu kamar tersebut.


"Aduh Mama, Raline udah bilang, Raline nanti makannya. Enggak mau sekarang Ma..."


Ucap Raline, yang sedang rebahan memunggungi pintu, tanpa melihat siapa yang datang. Tiga hari ini, Raline memang tidak selera makan. Sehari satu kali, itupun sudah lumayan. Selebihnya ia tidak tidak mengisi perutnya.


Seharian Raline hanya bermalas-malasan di atas ranjang, tanpa melakukan apapun. Gairah hidupnya seakan sudah tidak ada. Saat ini ia hanya ingin mencari kenyamanan untuk dirinya sendiri, dengan menyendiri di dalam kamarnya.


"Aku suapin mau?"


Ucap Fandy.


Raline terhenyak setelah mendengar suara Fandy di belakangnya. Raline menoleh dan menatap lelaki yang sedang berdiri di dekat ranjangnya sambil menatap dirinya yang terlihat berantakan. Lalu, Raline pun beranjak duduk di atas ranjang.


"Kamu? ngapain kamu di sini?"


Tanya Raline.


Fandy langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang, tepat di samping Raline. Lalu ia memejamkan kedua matanya dan tersenyum.


"Hmmmmm.... nyaman sekali di sini"


Ucapnya.


Raline tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya mampu memandangi lelaki yang telah membuat tiga hari di dalam hidupnya terasa seperti tidak punya gairah. Perasaan rindu, cinta, sedih, serta ingin memeluk Fandy, begitu bergelora menguasai pikirannya.


"Ada apa kesini?" Tanya Raline lagi.


Aku datang menemui istriku kok.., Kenapa harus dipertanyakan?"


Tanya Fandy, masih dengan mata terpejam.


Raline menjadi salah tingkah saat mendengar jawaban dari Fandy. Satu sisi, ia sangat bahagia Fandy datang menemuinya. Satu sisi lagi, iya takut apabila keluarga Fandy mengetahui Fandy sedang berada di rumahnya.


"Bagaimana keadaan Daddy?"


Tanya Raline, mencoba untuk mencari tahu keadaan mertuanya.


"Membaik kok"


Jawab Fandy dengan suara tercekat.

__ADS_1


"Syukurlah"


Ucap Raline lalu ia terdiam.


Fandy membuka kedua matanya, lalu ikut duduk disamping Raline ia menatap lekat-lekat wajah istrinya itu. Ia tidak datang untuk membahas tentang keluarganya atau perceraian. Ia hanya ingin dekat dengan Raline dan melihat senyuman yang ia rindukan selama tiga hari ini.


"Jalan-jalan yuk"


"Jalan-jalan? mau ke mana?"


Tanya Raline.


"Ke pasar malam, atau kemana saja yang kamu mau. Atau naik roller coaster lagi?"


Candanya.


"Apaan sih..! nggak lihat kemarin aku sampai muntah-muntah? lagi pula sudah tutup kali..!"


Ucap Raline.


Fandy tersenyum menatap Raline. Ekspresi wajah Raline yang seperti itulah yang ia rindukan. Wanita yang selalu membuatnya tersenyum dengan kesederhanaannya, humor nya, dan sikapnya. Lalu dia menyentuh pipi Raline dengan ujung jari telunjuknya.


"I Miss You" Ucap lelaki itu.


Jantung Raline berdegup begitu kencang, ia membalas tatapan Fandy. ia tidak tahu akan berkata apa kepada lelaki itu. Fandy mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Raline, dengan perlahan ia mencoba untuk mencium gadis itu.


"Aku ganti baju dulu ya"


Ucap Raline, lalu gadis itu beranjak dari ranjangnya dan memilih baju di lemarinya. Fandy menghela nafas nya lalu tersenyum kecil.


"Ok" Ucap Fandy.


Malam itu, Fandy kembali mengajak Raline ke Kota tua. Mereka kembali menyusuri pasar malam yang ramai itu, mereka kembali menikmati semangkuk bakso di tempat yang sama. Lalu, mereka berdiri di depan musisi jalanan yang sama.


Tiba-tiba hujan turun dengan deras. Raline dan Fandy pun berlarian menuju bangunan tua untuk berteduh. Baju mereka berdua basah kuyup, Fandi yang berdiri di samping Raline, melirik gadis itu yang sedang menahan rasa dingin. lalu Fandy melingkar kan tangan nya di pinggang Raline.


Raline salah tingkah saat Fandy memeluk tubuhnya yang basah. kehangatan mulai menjalar di tubuh mereka berdua. Fandy dan Raline saling berpandangan, perlahan Fandy mendekatkan bibirnya ke bibir Raline.


Raline seperti terhipnotis, ia tidak mampu untuk menolak ciuman dari lelaki itu. Suasana yang sepi, gemercik air hujan yang turun membasahi bumi, bau khas tanah yang basah, serta penerangan lampu jalanan yang temaram membuat suasana semakin romantis.


Raline menyambut kecupan yang mendarat di bibirnya, Fandy pun mulai mengecup bibir Raline dengan lembut dan membelai lidah Raline dengan lidahnya.


Hujan dan rembulan yang tertutup awan gelap itu pun menjadi saksi, dua insan tidak dapat menyembunyikan perasaan cinta. Raline memejamkan matanya dan menikmati setiap belaian lembut lidah Fandy di bibirnya.


Raline pun mulai menangis, begitupun Fandy. Mereka berdua menangis, entah untuk apa mereka menangis. Fandy mengakhiri ciumannya dan menempelkan dahinya ke kening Raline.


"Aku tidak bisa membohongi perasaanku kepadamu Fandy..! Aku cinta kamu"


Ucap Raline.


"Aku tahu"


Jawab Fandy, lalu ia kembali memeluk Raline dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2