Kapan Nikah?

Kapan Nikah?
57# Terusir


__ADS_3

"Selamat siang saya Alex kekasih Carolina."


Ucap Alex kepada semua orang yang sedang berada di ruang tamu tersebut.


"Bicara apa kamu..!"


Bentak Carolina kepada Alex. Alex menatap Carolina dengan tajam lalu ia menatap Fandy.


"Lanjutkan..!"


Ucap Fandy. Alex pun mengangguk dengan ragu.


"Hampir sembilan bulan yang lalu, kami bertemu di club malam. Awalnya hubungan kami hanya sebatas teman biasa. Tetapi, satu bulan kemudian Carolina menghubungi saya. Ia mengajak saya untuk bertemu di apartemen saya."


"Hentikan omong kosongmu..!"


Ucap Carolina.


"Saya tidak sedang berbicara bohong."


Alex menantang tatapan Carolina. wanita itupun gemetar dan mulai gelisah.


"Akhirnya saya menyetujui untuk bertemu di apartemen saya, saat itu Carolina datang sendirian ke apartemen saya. Di sanalah semua dimulai."


"Carolina menceritakan semua rencana jahatnya. Carolina juga menceritakan bahwa suaminya tidak ingin menyentuh dirinya. Segala cara sudah ia lakukan tetapi suaminya tetap menolak, hingga suatu saat mereka berhubungan karena suaminya mabuk. Carolina berharap dirinya segera hamil, karena dengan kehamilan lah iya mampu mempertahankan rumah tangganya dan tidak terusir dari rumah ini."


Kedua orangtua Fandy menatap Carolina. Carolina pun mulai salah tingkah.


"Mommy, Daddy, ini semua fitnah..!"


Ucap Carolina dengan wajah yang panik.


"Bila ini fitnah sebaiknya kamu tenang saja, dengarkan dulu ia berbicara."


Ucap Daddy. Carolina pun terdiam dan menuruti ucapan Daddy.


"Silakan dilanjutkan."


Ucap Daddy kepada Alex. Alex mengangguk pelan, lalu ia kembali bercerita.


"Tetapi sangat disayangkan satu minggu kemudian Carolina mendapatkan menstruasi. Carolina sangat kecewa sehingga ia mempunyai rencana untuk dihamili oleh ku."


Carolina tersentak menatap Alex.


"Tutup mulutmu Alex..!"


Ucap Carolina.


"Diam kamu..!"


Bentak Fandy.


"Dari pembicaraan kami di apartemen saya, bisa disimpulkan bahwa Carolina meminta saya untuk menghamilinya dengan imbalan uang sebesar dua ratus juta rupiah. Dengan perjanjian bila ia hamil saya tidak mengusik dirinya."


"Awalnya saya setuju, selain saya tergiur oleh tubuh indahnya. Saya juga mendapatkan uang dengan instan. Lalu kami pun melakukannya beberapa kali dalam beberapa minggu. Tetapi kebersamaan kami dalam satu bulan setengah itu, membuat saya jatuh cinta kepadanya dan saya ingin memiliki bayi itu."


Carolina beranjak dari duduknya lalu ia menunjuk dengan tangan kirinya.


"Kamu jangan ngada-ngada ya..! kamu sudah mempermalukan saya dan mencemarkan nama baik saya..!"


Ucap Carolina.


"Ayo kita tes DNA ucap Alex, Aku yakin seribu persen bahwa itu adalah anakku..!"


"Diam..!"


Teriakan Mommy membuat satu ruangan itu terdiam.

__ADS_1


"Heh..! kamu..! Apa kamu punya bukti?"


Ucap Mommy kepada Alex.


"Saya punya bukti setiap saya berhubungan dengan wanita, saya pasti merekamnya diam-diam."


Ucap Alex dengan senyuman yang tersungging di sudut bibirnya. Carolina terduduk lemas saat mendengar ucapan Alex yang merekam hubungan intim mereka.


Alex mengeluarkan ponselnya lalu ia mencari video dirinya dan Carolina.


"Kamu mengaku atau video ini akan diputar."


Ucap Alex, sambil memamerkan sampul video dirinya dan Carolina. Carolina mulai menangis lalu ia bersujud di bawah kaki Mommy.


"Mom Maafkan Carolina Mom."


Ucap Carolina sambil menangis tersedu-sedu.


"Jadi benar anak yang kamu kandung itu bukanlah anak Fandy?"


Tanya Mommy kepada Carolina. Carolina pun mengangguk pelan sambil mengusap air matanya.


"Biadab kamu kamu sudah menipu aku dan anakku..!"


Ucap Mommy dengan amarah nya.


"Maafkan aku Mom, Aku melakukan ini semua demi Fandy."


Ucap Carolina.


"Demi Fandy katamu..? ini semua namanya kamu menjebak anakku dan membohongi kami semua..! Bereskan barang-barangmu dan kamu pergi dari sini dasar mur*han..!"


Hardik Mommy.


"Mom maafkan aku Mom.."


"Daddy maafkan aku, Aku tidak ingin berpisah dari Fandy."


Ucap Carolina, memelas.


Daddy menahan sesak di dadanya. Lalu ia menatap Carolina dengan perasaan yang sangat membenci wanita itu.


"Usir dia..!"


Ucap Daddy kepada para bodyguard nya.


"Siap Boss..!"


Sahut para bodyguard Daddy.


"Fatma bereskan baju-bajunya..!"


Perintah Fandy kepada Fatma yang sedang berdiri di samping kursi roda Daddy. Dengan tersenyum Fatma pun beranjak ke kamar Carolina.


Fatma sangat puas melihat Carolina diusir dari rumah itu. Selama ini perlakuan Carolina sangat buruk kepadanya, sehingga ia memendam rasa kesal kepada wanita itu.


Fatma mengeluarkan semua baju-baju Carolina dan mengemasnya ke dalam koper milik wanita itu. Sedangkan para bodyguard menyeret Carolina menuju pintu gerbang rumah itu.


Carolina berteriak-teriak meminta pertolongan Fandy. Tetapi, Fandy tidak bergeming. Alex menyusul Carolina ke depan gerbang rumah Fandy. Sedangkan Fatma yang baru saja selesai mengemasi barang Carolina membawa koper wanita itu menuju pintu gerbang.


"Bagaimana bisa ia melakukan ini semua kepada kamu dan kami."


Ucap Mommy sambil menangis.


"Kami sudah terlanjur senang akan memiliki cucu, tetapi ternyata itu bukan anakmu."


Ucap Daddy dengan geram.

__ADS_1


"Sebenarnya, Mommy dan Daddy sudah mempunyai seorang cucu dari ku dan Raline."


Ucap Fandy. Mommy dan Daddy terperangah mendengar kata-kata Fandy.


"Kamu masih berhubungan dengan wanita itu?"


Tanya Mommy kepada Fandy.


"Mom.. Aku benar-benar mencintai dia Dia adalah wanita baik-baik. Awalnya pernikahan aku dengannya hanya kontrak saja. Tapi sifat dan sikap nya membuatku jatuh cinta kepada Raline."


Ucap Fandy.


"Tidak ada perempuan baik-baik yang ingin diajak menikah kontrak."


Ucap Mommy dengan ego nya.


"Aku mendapatkan yang masih suci Mom. Aku bersumpah akulah yang pertama baginya."


Ucap Fandy. Mommy menatap Fandy dengan seksama, mencoba mencari kejujuran dimata anak nya.


Daddy menghela napasnya dengan berat, lalu menatap Fandy dengan ragu.


"Kamu bilang tadi, kamu sudah memiliki anak dari nya Bagaimana bisa?"


Tanya Daddy.


"Saat kami dipaksa bercerai, saat itulah Raline baru menyadari dirinya sedang mengandung anakku. Tetapi apa mau dikata? perceraian sudah terjadi dan aku sudah menikah dengan Carolina."


"Awalnya aku pun tak tahu, Raline menyembunyikan kehamilannya dariku karena ia tidak ingin merusak rumah tangga aku dengan Carolina. Lalu Raline sengaja mengambil kuliah di luar Negeri. Ia mengandung sendirian disana tanpa seorang suami. Apakah setelah Mommy dan Daddy mengetahui semua ini tega melihat penderitaan dia?"


Mommy dan Daddy terdiam mendengar cerita Fandy.


"Aku sudah rujuk dengan Raline tiga minggu yang lalu di Kanada. dan satu minggu yang lalu, bayi kami lahir. Kini Aku adalah seorang ayah, Mommy dan Daddy ini adalah seorang Opa dan Oma."


Ucap Fandy. Mommy menatap Daddy lalu mereka berdua menatap Fandy.


"Kamu sedang tidak bercanda kan?"


Tanya Mommy.


"Tidak."


Ucap Fandy. lalu ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto Rafa kepada kedua orangtuanya.


Mommy meraih ponsel Fandy dan menatap foto bayi mungil di layar ponsel Fandy. Lalu menunjukan nya kepada Daddy.


"Namanya Rafa, ia bayi laki-laki."


Ucap Fandy. Mommy menatap Fandy dengan tatapan penuh penyesalan. Lalu ia kembali menatap foto berapa Junior di layar ponsel Fandy.


"Dia mirip sekali dengan kamu waktu bayi."


Ucap Mommy sambil menangis penuh penyesalan.


"Tolong segera urus perjalanan kami semua menuju Kanada."


Perintah Daddy kepada Asisten Fandy. Asisten Fandy tersenyum dan mengangguk. Lalu bergegas meninggalkan rumah itu untuk menjalankan tugas nya.


Mommy masih menangis sesenggukan sambil menatap wajah Rafa di ponsel Fandy. Fandy mendekati Mommy lalu memeluk wanita yang telah melahirkan nya itu.


"Fandy dan Raline sudah memaafkan Mommy."


Ucap Fandy. Mommy pun menangis haru di pelukan anak satu-satunya itu.


"Terimakasih."


Ucap Mommy dengan haru.

__ADS_1


__ADS_2