Kapan Nikah?

Kapan Nikah?
40# Mabuk


__ADS_3

Fandy pergi ke club dimana ia dulu pertama kali bertemu dengan Raline. Ia memesan banyak minuman untuk dirinya sendiri. Di hiruk pikuk nya musik dan teriakan para penikmat dunia malam, Fandy menangisi kepergian Raline. Ia mengoceh tidak karu-karuan. Yang membuat semua orang terganggu karenanya.


Karena Fandy adalah member VIP, Fandy tidak mendapatkan perlakuan kasar, justru ia di pesankan taxi untuk pulang kerumahnya. Tiba dirumah ia di sambut oleh Carolina, istrinya. Carolina dan para bodyguard di rumah Fandy membantu Fandy untuk di pindahkan dari taxi ke kamarnya.


Carolina melepaskan sepatu Fandy dan membuka kemeja yang penuh dengan noda muntah yang berasal dari isi perut Fandy. Fandy membuka matanya dan memandang Carolina dengan tatapan mabuk nya.


"Raline"


Ucap nya. Carolina tersenyum kecut, ia tidak menghiraukan ucapan Fandy lalu ia terus membersihkan tubuh Fandy. Carolina membuka celana Fandy an hendak menggantikan nya dengan celana bersih milik Fandy.


Tiba-tiba saja tangan Carolina di tarik oleh Fandy, sehingga tubuh Carolina menimpa tubuh Fandy. Fandy membelai lembut rambut Carolina, lalu lelaki itu mengecup lembut bibir Carolina. Carolina berusaha melepaskan dirinya dari Fandy. Carolina tahu betul bila Fandy mencumbu nya karena membayangkan Raline.


Tetapi, lama-lama Carolina berpikir. Inilah kesempatan dirinya untuk hamil anak dari Fandy. Ia pun menyambut perlakuan mesra Fandy kepadanya. Hingga akhirnya mereka pun melakukannya malam itu.


Carolina tersenyum puas saat Fandy tertidur lelap disampingnya. Carolina pun berharap, ia dapat hamil setelah ini. Ia tidak ingin kehilangan Fandy. Cara satu-satunya untuk mengikat Fandy adalah dengan memberikan Fandy keturunan dari nya.


Pagi itu Fandy membuka kedua matanya dengan perlahan. Kepalanya terasa begitu pusing, ia berusaha bangkit dari tidurnya. Saat tangan nya menyentuh Carolina yang tidur di sebelahnya, ia pun baru menyadari bahwa semalam ia terlah meniduri Carolina.


Fandy menatap wajah Carolina yang tertidur pulas di samping dirinya. Ia pun mulai merasa bodoh dan merasa telah mengkhianati Raline. Fandy beranjak dari ranjangnya lalu pergi untuk membersihkan dirinya.


Carolina terbangun dari tidurnya saat mendengar gemercik air yang berasal dari kamar mandi di kamar Fandy. Ia pun tersenyum saat mengetahui Fandy sudah bangun dan ia pun segera mengenakan piyama nya. Ia duduk di atas ranjang menunggu lelaki itu selesai membersihkan dirinya.


Fandy keluar dari kamar mandi lalu menatap Carolina yang tersenyum kepadanya.


"Kamu semalam hebat sekali sayang"


Ucap Carolina, kata-kata wanita itu membuat Fandy merasa muak dan kesal.


"Anggap saja tidak terjadi apa-apa semalam"


Ucap Fandy sambil mengenakan kemeja nya.


"Tidak bisa, aku berharap aku akan segera hamil"


Ucap Carolina penuh dengan kemenangan. Fandy menatap Carolina dengan tatapan muak.


"Jangan terlalu berharap..! aku tidak menginginkan anak darimu"

__ADS_1


Ucap Fandy dengan ketus.


"Kita lihat saja bulan depan"


Ucap Carolina, merasa puas. Lalu wanita itu beranjak dari ranjang dan pergi membersihkan dirinya. Fandy terduduk lemas di ranjang nya, ia mulai merasa bodoh.


"Mengapa semalam aku begitu bodoh"


Ucap nya sambil terus memukul kepalanya.


"Semalam aku merasa meniduri Raline..! bukan kau Carolina..!"


Ucap Fandy saat Carolina baru saja keluar dari kamar mandi. Carolina menatap Fandy dengan tenang, ia pun mengenakan gaun nya lalu ia tersenyum kepada Fandy.


"Terserah kamu membayangkan dirinya atau tidak. Yang jelas semalam kamu tidur bersama ku, istri sah mu"


Ucap Carolina sambil mengenakan anting-anting nya.


Fandy beranjak dari ranjang nya dengan kesal. ia pun meninggalkan kamar nya dan pergi menuju mobil nya.


Memang, Fandy dan Carolina sudah terbiasa melakukan hubungan jauh sebelum mereka menikah. Tetapi semenjak hadirnya Raline di hidupnya, Fandy sudah berjanji, tubuhnya hanya untu Raline satu-satunya. Tetapi karena kebodohannya semalam, semua terjadi di luar kontrol dirinya.


Fandy memukul kemudi mobil nya berkali-kali. Ia pun mulai menangisi kebodohan nya.


...


Raline baru saja tiba di apartemen nya setelah penerbangan yang sangat melelahkan. Ia pun merebahkan dirinya di atas ranjang. Raline membelai lembut perut nya, lalu ia menyapa calon buah hatinya itu.


"Hai sayang, kita sudah sampai di rumah baru. Mama harap kamu bisa bertahan dan tumbuh dengan baik. Maafkan Mama ya, sudah membawa mu pergi jauh dari Papa Fandy. Semoga kelak kamu akan mengerti alasan Mama nak"


Ucap Raline. Air mata meleleh dari sudut matanya yang indah. Raline pun memejamkan matanya, lalu ia tertidur karena capai.


..


Sejak saat itu, Hidup Fandy berantakan. hampir setiap malam ia mabuk-mabukan di ruang kerja nya di rumah. Setiap ia mabuk ia selalu mengunci dirinya dari dalam. Agar Carolina tidak mengambil kesempatan apa pun dari dirinya.


Perasaan nya telah habis dengan Carolina. Tetapi, kejadian dirinya tidur bersama dengan Carolina beberapa hari yang lalu membuat Fandy semakin frustasi.

__ADS_1


Carolina pun semakin merasa kesepian. Ia terus mondar-mandir ke ruang kerja Fandy untuk menyuruh lelaki itu membukakan pintu untuk nya. Fandy tetap bergeming, ia mengabaikan panggilan-panggilan dari siapa pun yang mengetuk ruang kerjanya.


Mommy dan Daddy sudah kembali ke Bali. Maka dari itu Fandy leluasa untuk bertingkah semaunya terhadap Carolina. Bila ada orangtuanya, sudah di pastikan Fandy tidak bisa bersikap seperti itu terhadap Carolina atau di rumahnya sendiri.


Orangtua Fandy begitu mengontrol kehidupan Fandy sejak ia kecil. Fandy tidak boleh mengambil keputusan atas kebahagiaan nya sendiri. Dengan alasan, orangtuanya lah yang berhak atas dirinya. Bahkan sampai ia sudah sedewasa ini.


Hal itu tidak terlepas dari kenyataan bahwa Fandy adalah anak dan pewaris satu-satunya di keluarganya. Diam-diam hal itu membuat ia tertekan sejak kecil. Hanya bersama Raline lah dirinya bisa dan mampu menjadi dirinya yang asli.


Dirinya yang Happy, kekanak-kanakan, hidup seperti layak nya orang biasa-biasa saja. Dan bercanda tanpa harus menjaga wibawa sebagai seorang pewaris keluarga terhormat.


Bersama Raline ia menemukan dirinya sendiri. Hanya Raline yang mampu membuat nya bahagia.


"Dimana kamu sekarang sayang"


Ucap Fandy dengan lirih.


"Aku mencintaimu, aku membutuhkan dirimu..!"


Fandy terus mengoceh dalam mabuk nya.


"Kembaliiiii... kembaliiii Raline..!"


"Aku tidak bisa hidup tanpa mu..!!!"


"Aku hanya mencintai kamu..!"


"Kembali lah sayang...!"


Ocehan-ocehan Fandy terdengar begitu jelas dari luar pintu ruang kerjanya. Carolina menyenderkan tubuh nya di daun pintu ruang kerja Fandy.


"Kamu tidak akan pernah bersama dengan nya lagi Fan...!"


Gumam Carolina dengan dada yang sesak menahan rasa cemburu dan kecewanya.


"Apa pun akan aku lakukan, agar kau tetap bersama dengan ku"


Gumam nya lagi.

__ADS_1


__ADS_2