Kapan Nikah?

Kapan Nikah?
32# Perpisahan


__ADS_3

"Line"


Fandy menyapa Raline yang sedang meringkuk di atas ranjang. Mendengar suara Fandy, Raline pun beranjak duduk dan menghapus air matanya lalu ia tersenyum menatap Fandy.


"Ya"


Jawab Raline dengan suara yang serak.


"Kamu tidak apa-apa? kok menangis?"


Tanya Fandy, lalu lelaki itu pun duduk di samping Raline.


"Tidak apa-apa, kepala ku hanya sedikit pusing"


Ucap Raline, lalu pura-pura memijat kepalanya yang tidak pusing. Fandy hanya terdiam di samping Raline.


"Bagaimana keadaan Daddy?"


Tanya Raline dengan suara yang tercekat.


"Tadi sempat anfal, tetapi kini sudah normal kembali"


Kata Fandy, lalu lelaki itu menatap Raline dengan lekat.


"Syukurlah"


Ucap Raline, lalu ia menunduk kan Wajahnya.


"Line, aku cinta kamu Line"


Fandy menggenggam tangan Raline dengan erat, Raline hanya mengangguk pelan tanpa berani menatap wajah Fandy.


"Line, lihat aku Line"


Ucap Fandy, lalu lelaki itu meraih dagu Raline dengan jari telunjuknya. Kini Raline menatap wajah tampan suaminya itu. Sekuat tenaga Raline menahan tangis nya agar tidak pecah di hadapan Fandy.


"Line, aku sangat mencintai kamu. Tetapi.....


"Turuti orang tua mu, jangan pikirkan aku Fan"


Potong Raline, Fandy pun menatap kedua mata Raline yang terlihat sedikit membengkak karena menangis. Lalu lelaki itu menghela napasnya dengan berat.


"Aku tidak mau menceraikan kamu"


Ucap Fandy dengan tegas.


"Ceraikan saja tidak apa-apa"

__ADS_1


Ucap Raline dengan suara yang tercekat, kini air matanya terlihat mulai mengambang.


"Tidak, tetapi izinkan aku menikahi Carolina hanya demi sandiwara di depan Daddy"


Raline melepaskan pandangannya dari wajah Fandy, ada rasa sakit yang luar biasa menyelimuti hatinya.


"Line, aku gak bisa lepasin kamu Line. Aku cinta sama kamu Line..!"


Fandy mulai menangis di hadapan Raline. Air mata pun mulai menetes di pipi Raline.


"Mau bagaimana Fan? Semua ini harus terjadi, aku ikhlas melepaskan kamu. Tidak mungkin Mommy bisa kamu bohongi, dengan tidak menceraikan aku Fan"


Raline mencoba memberikan Fandy pengertian.


"Line..aku harus bagaimana?"


Tanya Fandy, lelaki itu pun menangis di pangkuan Raline hingga tubuh nya terguncang karena tangisannya.


Raline memejamkan kedua matanya, lalu ia pun memeluk Fandy.


"Fan, ikuti kemauan orang tua mu. Ada kebaikan disana, berikan orang tua mu cucu yang cantik dan tampan seperti dirimu. Agar mereka bahagia Fan. Kebahagiaan orang tua itu nomor satu, jangan kamu bantah lagi. Aku akan mengalah, kita bukan menyerah. Bila takdir akan menyatukan kita lagi, kita pasti akan bersatu Fan..!"


Ucap Raline sambil menangis tersedu-sedu. Tak ada yang mampu Fandy katakan lagi, lelaki itu memeluk erat tubuh Raline dan menangis di pelukan Raline.


Cukup lama mereka berdua saling bertangisan. Tidak ada pilihan bagi mereka lagi, perpisahan lah jalan satu-satunya yang akan mereka hadapi.


Mereka pun melakukan nya lagi pada malam ini. Mereka melepaskan emosi, rasa sedih dan kesal di hati dengan melakukan hubungan di atas ranjang.


Mereka melakukan itu sambil menangis menahan sesak di dada mereka. Seakan tak ingin berpisah, Fandy memeluk erat Raline saat ia berada di atas tubuh Raline. Rasa itu pun berakhir saat ia menjatuhkan tubuhnya di samping Raline.


Fandy mengusap air mata Raline yang masih meleleh di sudut mata indah nya.


"Maafkan aku"


Ucap Fandy kepada Raline. Raline hanya tersenyum dan menyentuh wajah Fandy dengan lembut.


"Ingat lah, aku mencintaimu. Walaupun takdir tidak berpihak kepada kita. Dan aku juga akan berdoa untuk mu. Semoga kelak, rumah tangga mu dan Carolina bahagia"


Raline mencoba tersenyum, tetapi ia tidak mampu. Tangisannya pun kembali memecah keheningan malam.


Pagi menjelang, Fandy dengan malas beranjak dari ranjang. Ia pun membersihkan dirinya lalu bersiap-siap untuk pergi. Raline hanya menatap nya dengan perasaan sedih yang luar biasa.


Fandy menghampiri Raline yang masih berada di atas ranjang. Ia memeluk erat tubuh Raline dan mencium kening Raline. Raline menerimanya dengan pasrah dengan memejamkan kedua matanya.


"Semoga kita masih berjodoh"


Ucap Fandy, lalu ia beranjak dari duduk nya dan pergi meninggalkan rumah Raline. Raline pun menangis tersedu-sedu di atas ranjang.

__ADS_1


Hati nya hancur berkeping-keping. Ia baru saja mencintai suami nya dengan setulus hatinya. Tetapi kini, ia harus terpaksa melepaskan lelaki yang ia cintai itu.


*


"Halo, Mommy.. aku sudah mengatakan kepada Raline, bila aku akan menceraikan dirinya. Aku harap Mommy dan Daddy bahagia dengan kehancuran ku"


Ucap Fandy kepada Mommy dari ponselnya. Lalu ia mematikan sambungan telepon itu. Fandy mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, menuju rumahnya.


"Hai sayang, kamu sudah di tunggu pengacara loh itu, untuk menandatangani perceraian kamu dan Raline"


Ucap Carolina dengan tersenyum manis. Fandy yang baru saja tiba dirumah nya, hanya melewati Carolina tanpa sepatah katapun. Ia menuju ruang tamu dan menyapa pengacara Daddy yang bertugas mengurus perceraian nya dengan Raline.


"Saya tidak punya banyak waktu, dan tidak usah menjelaskan apa-apa lagi kepada saya. Mana yang harus saya tanda tangani? berikan kepada saya..!"


Ucap Fandy dengan ketus.


"Ba... Baik Mas Fandy"


Ucap pengacara itu, lalu ia mengeluarkan beberapa lembar surat penyataan untuk Fandy tandatangani. Lalu menyodorkan nya kehadapan Fandy.


Fandy merampas dengan kertas-kertas itu dengan kasar. Lalu ia tandatangani tanpa membacanya terlebih dahulu.


Carolina pun tersenyum saat melihat Fandy menandatangani surat-surat itu. Lalu ia pun duduk di sebelah Fandy dan merangkul kekasihnya itu.


"Terimakasih ya honey"


Ucap Carolina dengan manja. Fandy tidak menanggapi Carolina, ia hanya terdiam membisu.


Pengacara itu pun berpamitan kepada Fandy dan Carolina. Ia akan segera mengurus perceraian Fandy dan Raline. Seperti permintaan Mommy dan Daddy, pengacara itu harus mengurus secepatnya dan meminta surat cerai segera keluar untuk mengurus pernikahan Fandy dan Carolina.


Fandy melepaskan rangkulan tangan Carolina dari pundak nya. Lalu ia beranjak dari duduk nya dan pergi menuju kamar. Carolina pun hanya tersenyum tipis saat menerima perlakuan Fandy yang begitu acuh kepadanya.


"No problem honey, karena sebentar lagi kamu akan menjadi milik ku seutuhnya"


Ucap Carolina dengan penuh kebahagiaan.


Fandy menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Ia pun mulai teringat kembali Senyum, tawa, dan tangisan Raline. Ia pun mulai merindukan sosok wanita yang sangat ia cintai itu.


Kenyamanan, maka tumbuhlah cinta. Mungkin itu kata yang tepat untuk Fandy. Ia sungguh nyaman dan merasa menjadi diri sendiri saat bersama dengan Raline, istrinya.


Kini, ia harus melepaskan kenyamanan itu. Mencoba melupakan segala kenangan yang terukir bersama Raline. Dan terpaksa memulai hidup baru dengan Carolina


Fandy pernah menyangka dirinya sangat mencintai Carolina. Tetapi ternyata ia salah, ia memang pernah mencintai Carolina. Tetapi jenuh dan sikap Carolina yang selalu mengatur nya dan selalu mengendalikan hidup nya membuat Fandy lelah.


Terakhir kali ia memenuhi keinginan Carolina adalah menikahi wanita lain yang tidak ia kenal. Dan ternyata, wanita itu mampu membuat ia merasa nyaman dan jatuh cinta. Wanita itu adalah Raline, istri yang harus ia relakan. Istri yang harus ia ceraikan.


"Line, sampai kapanpun aku tetap mencintaimu. Maafkan aku, maafkan keadaan, maafkan takdir ini, dan maafkan waktu yang telanjur kita sia-siakan saat kita bersama"

__ADS_1


Gumam Fandy. Ia pun menangis tersedu-sedu di atas ranjangnya.


__ADS_2