Kapan Nikah?

Kapan Nikah?
33# Bukan halusinasi


__ADS_3

"Ma, Pa, Raline mau cerai"


Ucap Raline saat ia sedang sarapan bersama kedua orangtuanya.


Papa dan Mamanya Raline pun tersentak mendengar ucapan Raline.


"Apa Papa tidak salah dengar?"


Ucap Papanya Raline.


"Tidak Pa"


Jawab Raline singkat. Kedua orangtuanya pun meletakan sendok mereka di atas piring dan saling berpandangan.


"Kalian ada masalah apa?"


Tanya Mamanya Raline dengan wajah yang terlihat sangat kecewa.


"Tidak cocok"


Jawab Raline, menahan tangisnya.


"Kamu sedang tidak bercanda kan?"


Tanya Mamanya Raline lagi. Raline hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan.


"Ya ampun Line.."


Papanya Raline mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, lalu lelaki paruh baya itu menatap Raline dengan seksama.


"Semua pernikahan itu tidak ada yang cocok, pernikahan kalian baru seumur jagung. Itu bukan alasan..!"


Ucap Mamanya Raline. Raline hanya terdiam seribu bahasa.


"Apa Fandy selingkuh? sehingga kamu tidak bisa memaafkan nya?"


Tanya Papanya Raline. Raline menggelengkan kepalanya lagi.


"Tidak cocok dari segi mananya? Jangan main-main Raline kamu baru saja menikah dengan Fandy..! kalau kamu bercerai apa kata semua orang..!!!"


Ucap Mamanya Raline dengan wajah yang cemas.


"Mama kenapa sih...! Apa-apa semua apa kata orang..! Begini apa kata orang..!!! Gak nikah-nikah apa kata orang? Cerai apa kata orang? Tidak hamil-hamil apa kata orang..!!!!! Semua apa kata orang..!! Apa Mama lebih mementingkan apa kata orang lain dari pada perasaan Raline..!!!! Pernah tidak Mama berpikir bila Raline stress di tanya kapan nikah? kapan punya anak? dan lain-lain..!!! Raline jenuh dan muak dengan semua nya..!!!"


Raline memukul meja dan beranjak dari kursinya.


"Bila memang Raline selalu membuat Mama dan Papa malu, Raline siap angkat kaki dari rumah ini..!"


Ujar Raline, lalu ia meninggalkan ruang makan dan pergi menuju kantornya.


Mama dan Papanya Raline hanya bisa saling menatap dengan perasaan yang kacau balau. Mereka benar-benar tidak menyangka, selama ini mereka melihat Raline dan Fandy baik-baik saja dan terlihat layak nya seperti pengantin baru yang sangat mesra. Tetapi mengapa mereka akan bercerai? Kabar ini membuat hati kedua orangtuanya Raline menjadi terluka.


Raline membanting pintu mobilnya saat iya tiba di halaman parkir kantornya. Tiba-tiba perasaan sedih, gundah dan kehilangan menghampiri dirinya saat ia melintasi ruang tunggu di lobby kantor nya. Raline masih terbayang sosok Fandy yang sedang duduk menunggu dirinya beberapa minggu yang lalu. Hati nya terasa sangat sakit dan sedih bercampur menjadi satu.


Raline paham ini semua bukan salah Fandy. Takdir lah yang memisahkan mereka berdua. Raline menahan tangisnya hingga ia sampai di meja kantornya. Ia mulai menangis dalam diam, Sinta yang melihat Raline menangis hanya mampu merangkul Raline.


Sinta sudah mendapatkan kabar bila Raline akan bercerai, karena surat dari pengadilan di kirim ke kantor mereka. Mau tidak mau, Raline bercerita kepada Sinta. Gadis itu terus menguatkan Raline.

__ADS_1


"Sepertinya gue pergi saja dari kota ini Sin"


Ucap Raline dengan air mata yang meleleh di pipinya.


"Mbak, lu jangan gitu dong"


Sinta mengusap lembut punggung Raline.


"Gue gak sanggup Sin"


Ucap Raline dengan suara yang bergetar. Terlihat sekali bila Raline sedang merasa tertekan. Sinta tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya memeluk Raline, berharap Sahabatnya itu kuat menjalani cobaan yang sedang Raline hadapi.


"Putusan cerai minggu depan Sin. Gue sengaja tidak pernah datang ke sidang kami, begitupun Fandy. Kita sama-sama tidak kuat menghadapi kenyataan"


Ucap Raline masih dengan air matanya yang membanjiri kedua pipinya. Sinta hanya menghela napasnya dengan berat, lalu memeluk Raline dengan erat.


"Gue yakin lu kuat mbak, lu hebat"


Bisik Sinta. Raline mengusap air matanya lalu menatap Sinta dengan sendu.


"Terimakasih suportnya ya Sin"


Ucap Raline. Sinta hanya mengangguk dan kembali memeluk Raline.


*


Fandy yang sedang berada di kantornya hanya termenung menatap Foto-foto Raline di ponselnya. Ia begitu rindu dengan Raline. Tetapi Raline tidak ingin bertemu dengan nya. Berkali-kali Fandy mencoba menghubungi Raline, tetapi pesan dan panggilan nya tidak sekalipun Raline tanggapi.


Hari ini, rasa rindu itu pun semakin memuncak. Fandy tidak dapat menahan nya lagi. Ia pun memutuskan untuk menemui Raline di kantor tempat Raline bekerja. Fandy menyambar kunci mobilnya dan lalu pergi meninggalkan kantor.


Tanya Sinta yang sudah bersiap-siap untuk pulang.


"Lembur"


Jawab Raline singkat.


"Mbak, dugem yuk..!"


Ucap Sinta sambil tersenyum menggoda, Raline hanya melirik Sinta dengan malas.


"Tobat gue"


Ucap Raline, acuh.


"Yah.. kan.. "


Dengan malas Sinta menatap wajah Raline yang murung.


"Ya sudah, gue pulang dulu"


Sinta menepuk pundak Raline lalu gadis itu pun beranjak pergi meninggalkan ruangan mereka. Kini tinggallah Raline sendiri di ruangan itu. Ia pun mencoba mencari kesibukan dengan mengerjakan pekerjaan nya.


Satu jam kemudian, Raline mulai bosan. Ia pun mulai membereskan mejanya dan berniat untuk pulang. Raline mengambil tas nya dan melangkah menuju lift.


Raline kembali melewati ruang tunggu saat dirinya baru saja keluar dari lift. Lagi-lagi Raline melihat bayangan Fandy yang duduk menunggu dirinya di sana.


"Duh, gue halusinasi melihat Fandy lagi"

__ADS_1


Gumam Raline sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Come on Raline..! move on..!"


Bisik Raline, ia mencoba untuk menguatkan hatinya.


Ia melihat bayangan Fandy berdiri dan tersenyum saat melihat dirinya. Raline mencoba untuk tidak melihat bayangan lelaki itu. Ia merasa mulai frustasi dengan bayangan-bayangan Fandy yang muncul sesuka hati di hadapannya.


"Sudah pulang? aku menunggumu dari tadi. Aku tidak ingin mengganggu mu, maka aku putuskan untuk menunggumu saja sampai kamu pulang"


Ucap Fandy saat Raline mencoba melewati dirinya.


Raline menghentikan langkahnya dan menatap Fandy dengan seksama. Lalu Raline mengeryitkan dahinya dan menghampiri Fandy dengan perlahan.


"Bayangan kok bisa ngomong sih..! duh parah banget gue..!"


Raline memukul pelan kening nya tepat di hadapan Fandy.


Fandy tertawa melihat sikap Raline yang lucu di matanya.


"Aku rindu"


Ucap Fandy, menatap wajah Raline dengan penuh kerinduan.


"Aduh.. halusinasi ku parah..! aku harus bertemu dengan dokter..!"


Ucap Raline, lalu ia beranjak dari hadapan Fandy dan pergi menuju pintu keluar lobby. Dengan cepat, Fandy menahan lengan Raline.


"Sayang, ini aku"


Ucap Fandy. Raline terkejut dan kembali menatap wajah Fandy dengan seksama.


"Kamu bukan bayangan?"


Wajah Raline terlihat begitu lucu saat ia tidak percaya bila Fandy yang berdiri di hadapannya adalah Fandy yang sebenarnya.


Fandy hanya mengangguk dan membelai lembut rambut Raline. Raline masih terpana melihat Fandy, lalu lambat laun ia pun mulai menangis dan memeluk Fandy dengan erat.


"Aku kira aku sedang berhalusinasi"


Ucap Raline saat berada di pelukan Fandy.


"Aku rindu, aku tak kuat menahan nya. Maafkan aku bila kamu tidak suka aku menemui mu"


Ucap Fandy dengan berbisik di telinga Raline. Raline tidak mampu berkata-kata, ia hanya menangis dan memukul pelan dada Fandy dengan kepalan tangan berkali-kali.


Raline rindu, tetapi ia tidak tahu bagaimana mengungkapkan nya. Tangisannya, tidak akan pernah berbohong. Ia ingin sekali Fandy selalu berada di dekatnya.


"Aku ingin jalan-jalan dengan mu, sekali ini saja"


Ucap Fandy lirih. Raline menatap wajah lelaki itu dengan genangan air mata nya. Lalu ia mengangguk dengan pasti.


"Ayo kita jalan-jalan"


Ucap Raline dengan bersemangat.


Fandy merangkul Raline keluar dari kantornya. Lalu ia membawa Raline kemana saja roda mobilnya akan membawa mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2