Kapan Nikah?

Kapan Nikah?
34# Cerai


__ADS_3

Fandy menghentikan mobilnya di Kota tua. Tempat dimana mereka biasa berdua ke pasar malam dan makan bakso bersama.


"Ngapain ke sini?"


Tanya Raline kepada Fandy.


"Hanya tempat ini yang mengingatkan aku tentang dirimu dan aku ingin disaat terakhir kita ini, kita kembali mengukir kenangan di sini. Turun yuk..!"


Ucap Fandy. Raline hanya mengangguk dan tersenyum. Fandy membukakan pintu mobilnya untuk Raline. Fandy berpose seakan-akan ia menyambut seorang ratu yang akan keluar dari kereta kencana.


Raline tersenyum melihat tingkah Fandy. Dengan ragu ia menyambut tangan Fandy dan turun dari mobil lelaki itu.


"Makan bakso yuk"


Ajak Fandy. Raline hanya mengangguk, lalu menyambut tangan Fandy dan berjalan bergandengan di tengah keramaian di Kota tua.


Mereka makan bakso bersama, jalan-jalan ke pasar malam dan menikmati alunan musik dari biola tua para musisi jalanan.


Mereka mengulangi kenangan-kenangan yang mengingatkan mereka tentang kebahagiaan. Tidak banyak kenangan antara Raline dan Fandi. Tetapi, satu saja kenangan begitu berarti saat ini sebelum perpisahan benar-benar terjadi.


Mereka terlihat bahagia malam itu. Tetapi, tidak bisa mereka pungkiri kesedihan pun ada di sana. Jauh di lubuk hati mereka masing-masing.


Fandy merangkul pinggang Raline saat mereka sedang berada di keramaian. Lalu Fandy pun berbisik di telinga Raline.


"Mungkin setiap aku rindu padamu, aku akan datang ke sini menghabiskan waktu hanya untuk mengenang dirimu"


Raline menatap mata lelaki itu yang mulai basah oleh genangan air mata. Lalu Raline tersenyum kecut, ternyata perpisahan begitu sulit daripada mulai mencintai seseorang. Perasaan yang tertinggal akan menyakiti hati yang ditinggal. Perasaan kosong akan terus menyelimuti hati yang kosong karena kepergian seseorang yang dicintai.


Raline berusaha tegar lalu tersenyum. Raline menggenggam kedua tangan Fandy, lalu mencium kedua pipi lelaki itu.


"Aku hanya singgah sebentar Fandy, jangan pernah mengenang ku lagi. Life must go on, mau tidak mau hidup terus berjalan kita hanya menjalankan peran kita masing-masing ucap Raline"


Fandy menatap Raline dengan kecewa, air matanya pun menetes di pipi. Fandy sadar, perpisahan tidak akan terjadi apabila ia tetap mempertahankan Raline. Tetapi, kebaikan hati wanita itu membuat ia menyerah. Bahwa ada yang lebih penting dari sekedar cinta, yaitu orangtua.


Fandy membelai lembut wajah Raline, ia menatap wajah wanita yang ia cintai itu dengan sepuas-puasnya. Lalu ia menundukkan pandangannya.


"Bagaimana caranya agar aku bisa melupakan kamu?"


Tanya Fandy, masih dengan menatap wajah Raline di tengah keramaian.


"Anggap kita tidak pernah bertemu"


Ucap Raline sambil tersenyum. Fandy pun tertawa, lalu mengecup kening Raline dengan lembut.


"Jangan meminta yang impossible kepadaku"

__ADS_1


Ucap Fandy, lalu ia menggandeng tangan Raline menuju mobilnya. Raline mengikuti langkah lelaki itu dengan hati yang teriris. Ingin rasanya Raline menghentikan waktu, tetapi itu tidak mungkin.


Waktu akan terus bergerak. Apa yang telah kita lewati saat ini, akan menjadi kenangan sampai kita menutup mata di kemudian hari. Itulah mengapa, banyak orang yang terjebak dalam kenangan kenangan yang telah berlalu.


Walaupun hidup dan cerita baru akan kita mulai. Tetapi, ingatan dan kenangan tidak akan pernah musnah di dalam pikiran dan hati kita semua.


Fandy mengantarkan Raline sampai di depan rumah Raline. Lelaki itu menatap wajah Raline dengan lekat-lekat. Fandy memeluk Raline dengan erat, Mereka berdua pun menangis. Fandy mengecup lembut bibir Raline, lalu mengecup lembut kedua mata Raline.


"Semoga kita masih berjodoh di kemudian hari"


Ucap Fandy kepada Raline. Raline hanya tersenyum lalu membuka pintu mobil Fandy. Raline pun turun dan melambaikan tangannya kearah Fandy lalu Raline membuka pagar rumahnya dan Ia pun menghilang dari pandangan Fandy saat Raline menutup pagar itu kembali.


Fandy terdiam di balik kemudinya, ia menghapus air mata lalu kembali mengendarai mobilnya menuju pulang.


*


Satu minggu berlalu, sejak terakhir kali Fandy dan Raline bertemu. Hari ini, masing-masing dari mereka sudah menerima surat perceraian.


Fandy termenung di kursi kantornya. Ia menatap kosong surat perceraian dirinya dan Raline. Ia pun menangis tersedu-sedu, ia menyesali mengapa harus ada perjanjian di antara dirinya dan Raline. Sehingga hal itu menjadikan bukti untuk Carolina memisahkan dirinya dan Raline.


Fandy pun bertekad, ia tidak akan memberikan Carolina kebahagiaan sedikitpun di dalam pernikahan mereka kelak. Kini ia hanya ingin memanfaatkan Carolina untuk membuat Daddy nya bertahan hidup dan sehat.


Begitupun Raline yang sedang menangis di dalam kamarnya dengan surat cerai di tangannya. Kini ia menerima akibatnya, karena sudah mempermainkan pernikahan. Andai pertemuannya dengan Fandy tidak seperti ini, mungkin hubungan mereka pun tidak akan berakhir seperti ini.


Raline menangis menyesali dan meratapi perasaan kecewanya. Raline pun bertekad, ia tidak akan pernah menikah lagi setelah ini. Terlalu berat baginya untuk mengawali cinta yang baru dan terlalu berat baginya untuk melupakan yang telah berlalu.


Pagi itu, ia sudah siap untuk berangkat ke kantornya. Raline pun turun menuju ruang makan, seperti biasa ia dan kedua orangtuanya sarapan bersama.


Sejak terakhir kali Raline mengatakan protesnya kepada mamanya, Sejak saat itu juga hubungan mereka menjadi berjarak. Raline lebih banyak diam saat makan bersama, begitupun kedua orang tuanya yang tidak ingin menyinggung perasaan Raline lagi.


Setelah selesai sarapan, Raline pun beranjak menuju ke kantornya. Setelah sampai di kantornya Raline pun memarkirkan mobilnya, lalu ia turun dari mobil dengan membawa tas dan beberapa map di jinjingannya.


Raline masuk ke dalam gedung kantornya. Kini, setiap ia masuk kedalam lobby kantornya. Raline selalu melirik ke arah sofa yang pernah diduduki oleh Fandy. Ia tersenyum seakan akan tersenyum kepada Fandy. Hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini, setelah perpisahan dan kenangan harus ia pikul sendirian.


..


Dari luar kantor Raline, Fandy memperhatikan Raline yang baru saja tiba di kantornya. Ia menatap wanita itu penuh dengan kerinduan, lalu ia tersenyum dan menangis.


Melihat Raline secara diam-diam kini menjadi rutinitas Fandy saat ia akan berangkat menuju kantornya. Melihat Raline setiap hari, membuat perasaan Fandy menjadi tenang dalam menghadapi setiap masalah yang ia hadapi saat ini.


"Maafkan Aku"


Ucapnya. Lalu Fandy kembali mengendarai mobilnya menuju kantornya.


Minggu depan adalah hari pernikahannya dengan Carolina. Fandy tidak ingin mengurus segala hal yang menyangkut tentang pernikahannya dengan Carolina. Ia menyerahkan semuanya kepada Carolina dan Mommy nya.

__ADS_1


Fandy tidak ingin mengambil pusing, yang perlu ia lakukan hanya menikah dan menjalani hidup seperti biasanya.


...


"Lagi ngapain lu Mbak?"


Tanya Sinta kepada Raline yang sedang sibuk di depan laptopnya.


"Eh tumben lu pagi-pagi sudah sampai kantor"


Raline pun tersenyum kepada Sinta.


"Iya mbak, tumben tumben nya jalanan tidak macet"


Ujar Sinta, sambil menaruh tas di atas meja kerjanya.


"Lu ngapain Mbak?"


Tanya Sinta lagi.


"Oh, gue lagi nyari beasiswa S2 nih"


Jawab Raline, tanpa menoleh kepada Sinta. Sinta pun menghampiri Raline dan ikut melihat web yang sedang dibaca oleh Raline.


"Luar Negeri Mbak? serius lu?"


Tanya Sinta lagi. Raline hanya mengangguk sambil terus membaca dengan serius halaman web yang tertera di layar laptopnya.


"Kenapa gitu luar Negeri?"


Tanya Sinta lagi.


"Ck.. Lu bawel banget deh gue lagi konsentrasi nih"


Jawab Raline sambil menatap Sinta dengan wajah yang sebal.


"Sensian lu sekarang Mbak, mau gue buatin kopi enggak? gue pengen buat kopi nih, sekalian"


Ucap Sinta.


"Boleh"


Sahut Raline sambil melemparkan senyum manisnya kepada Sinta. Sinta hanya mencebikkan bibirnya kepada Raline, sehingga membuat Raline tertawa geli.


Lalu Raline kembali tenggelam dalam pencarian beasiswa untuk dirinya sendiri. Ia terus berselancar di dunia maya mencari info-info yang ia butuhkan.

__ADS_1


Tekad Raline sudah bulat, ia ingin kuliah di luar Negeri untuk melupakan kenangan nya bersama Fandy.


__ADS_2