Kapan Nikah?

Kapan Nikah?
45# Mau mu apa?


__ADS_3

Asisten Fandy duduk di samping Orangtua Raline. Lalu tersenyum kepada kedua orang tua itu.


"Mau kemana Pak, Bu?"


Tanya asisten Fandy.


"Ini mau ketemu anak saya di Kanada. Adik mau kemana?"


Tanya Papanya Raline dengan ramah kepada orang asing yang duduk di sampingnya.


"Saya juga mau ke Kanada Pak"


Ucap asisten Fandy, berbohong.


"Oh..berarti pesawat yang sama ya"


Ucap Papanya Raline sambil tersenyum.


"Iya Pak"


Ucap asisten Fandy sambil membalas senyuman Papanya Raline.


"Kanada nya di mana Pak?"


"Quebec"


Ucap Papanya Raline dengan bersemangat.


"Wah... Quebec indah Pak, anak nya tinggal disana?"


"Iya anak saya perempuan, dia kuliah disana"


"Hebat"


Ucap asisten Fandy, Papanya Raline pun tersenyum bangga.


"Ini dalam rangka main-main saja ya Pak? atau mau stay di sana?"


Tanya asisten Fandy lagi.


"Mau menemani anak saya, bulan depan ia melahirkan"


Asisten Fandy terdiam sesaat, lalu ia tersenyum kepada Papanya Raline.


"Oh dapat orang sana ya Pak"


Tanya nya, ingin tahu lebih banyak lagi.


"Tidak, orang kita kok"


Ucap Papanya Raline sambil tersenyum ragu.


"Oh baik pak, maaf banyak bertanya. Saya mau membeli kopi dulu ya"


Ucap asisten Fandy, lalu Papanya Raline hanya tersenyum kepada anak muda itu. Asisten Fandy beranjak dari duduk nya dan dengan tergesa-gesa ia kembali ke longue tempat Fandy menunggunya.


"Bagaimana?"


Tanya Fandy saat asisten nya baru saja tiba.


"Begini Boss, orang tua nyonya Raline akan ke Kanada"


Ucap asisten Fandy sambil mengatur napasnya yang tersengal-sengal.


"Kanada? Raline tinggal di Kanada?"


Tanya Fandy dengan antusias.


"Betul Pak, nyonya tinggal di sana dan berkuliah di Quebec"


Ucap asisten Fandy.


"Dapat kamu Raline"


Ucap Fandy sambil tersenyum.

__ADS_1


"Tetapi Boss"


"Tetapi apa?"


Tanya Fandy dengan tatapan serius nya.


"Nyonya sedang hamil dan bulan depan mau melahirkan"


Degggg..!!!


"Apa..!!"


Ucap Fandy dengan tak percaya.


"Iya Boss, Papanya nyonya sendiri yang mengatakan nya"


Fandy terdiam. Ia tak habis pikir bila Raline sedang hamil.


"Anak siapa yang sedang Raline kandung? Apa dia sudah menikah lagi?"


Tanya Fandy kepada asisten nya.


"Katanya suami nya orang Indonesia bukan orang Kanada"


Ucap asisten Fandy.


"Sebentar, kamu bilang dia akan melahirkan bulan depan?"


Tanya Fandy sambil terus berpikir.


"Betul Boss"


Jawab asisten nya.


Fandy mulai menghitung perpisahan nya dengan Raline. Tiba-tiba saja matanya terbelalak menatap asisten nya.


"Itu anak ku..!! aku yakin itu..!!!"


Ucap nya, Fandy terlihat sangat panik.


"Mengapa Raline menutupi kehamilan nya..!"


"Tidak bisa di biarkan, aku akan ke Kanada hari ini juga..!"


Ucap nya lagi.


"Tapi Boss"


"Tidak ada tapi-tapi..! ini menyangkut buah hati ku..! Sekarang juga belikan aku tiket ke Kanada"


Perintah Fandy kepada sekretaris nya.


"I.. iya Boss"


Ucap sekretaris nya, lalu gadis itu membuka laptopnya dan mencari tiket ke Kanada untuk hari ini.


"Tidak ada untuk hari ini Boss, tetapi dari Tokyo ada. Lebih baik Boss pergi ke Tokyo dulu dan dari Tokyo langsung ke Kanada"


Saran sekertaris Fandy. Fandy terduduk lemas. Ia menggigit pelan sudut bibirnya.


"Iya Boss lebih baik hadirkan seminar dulu baru Boss menyusul"


Ucap asisten Fandy. Fandy tampak sangat gelisah. Ia tidak habis pikir mengapa Raline menyembunyikan kehamilan terhadap dirinya. Fandy mengepalkan kedua tangan nya. Lalu ia meminta sekretaris nya untuk mencari lagi tiket ke Kanada.


Tetapi sekretaris Fandy tetap tidak mendapatkan tiket penerbangan untuk hari ini. Nomor penerbangan Fandy pun di sebutkan lewat pengeras suara. Tandanya mereka harus segera memasuki pesawat terbang mereka.


Fandy harus bersabar, ia pun berangkat ke Tokyo terlebih dahulu, setelah itu ia akan menyusul Raline ke Kanada.


"Mau mu apa?"


Tanya Carolina kepada lelaki yang lebih muda lima tahun dari nya itu.


"Aku?"


Tanya lelaki itu sambil tersenyum sinis.

__ADS_1


"Ya kamu, terus siapa..!"


Bentak Carolina. Lelaki itu pun tertawa terbahak-bahak. Lalu membelai lembut perut Carolina yang membuncit.


"Aku mau kamu dan anak kita"


Ucap lelaki itu. Carolina menepis tangan Alex dengan kasar, lalu menatap lelaki itu penuh dengan kebencian.


"Perjanjian kita tidak seperti ini Alex..! kamu aku bayar, dan setelah itu kita selesai"


Ucap Carolina dengan emosi.


"Aku akan mengembalikan duit mu, tetapi izinkan aku bersama mu dan anak kita"


Ucap Alex mencoba meyakinkan Carolina.


"Jangan mimpi kamu Alex, aku tidak mencintaimu. Kita hanya tidur dan semua selesai. Ingat perjanjian kita..!"


Ucap Carolina, lalu wanita itu beranjak dari duduk nya dan pergi meninggalkan Alex. Dengan cepat Alex menahan, tangan Carolina. Lalu memeluk tubuh Carolina.


"Carolina, aku benar-benar jatuh cinta kepadamu. Awalnya aku memang mencari keuntungan dari mu, tetapi aku sadari aku jatuh cinta kepadamu. Ini anak ku, dan aku ingin kita bersama"


Ucap Alex , dengan tatapan memohon.


"Ini bukan anak mu Lex..! Ini anak suami ku"


Ucap Carolina dengan tegas. Alex pun tertawa terbahak-bahak.


"Car, Car... anak suami mu bagaimana? setelah malam itu kamu bercerita, kalian tidak pernah ada hubungan lagi. Karena kamu haid dan selama hampir dua bulan kita berhubungan Car...! So? anak Fandy? Kamu mabuk Car?"


Ucap Alex sambil tertawa terbahak-bahak.


PLAKKKKK..!


"Pelan kan suaramu..!"


Ucap Carolina. Alex menatap Carolina dengan kesal, lalu ia mencium bibir Carolina dengan rakus nya.


"Humppppppp...."


Carolina tidak bisa melepas ciuman dari lelaki itu. Alex mendekap Carolina dengan erat di sebuah taman yang sepi itu.


Alex melepaskan ciumannya lalu menatap Carolina dengan mata yang penuh emosi.


"Aku akan membuat mu tercampak dari sana, bila kamu tidak mengakui ini adalah anak kita"


Ucap Alex, lalu lelaki itu beranjak dari hadapan Carolina. Jantung Carolina berdegup kencang, ia sangat takut sekali bila Alex benar-benar membuka mulut nya kepada Fandy dan keluarganya.


"Apa yang harus aku lakukan untuk mu?"


Ucap Carolina kepada Alex. Alex pun menghentikan langkahnya, lalu menoleh kebelakang menatap Carolina.


"Aku ingin kita tetap berhubungan, terserah kamu masih bersama atau tidak dengan nya. Yang jelas, aku tetap ingin merasakan menjadi kekasih mu dan Ayah dari anak kita"


Ucap Alex sambil menatap Carolina dengan tatapan memohon. Carolina terdiam, lalu ia mencoba tersenyum kepada Alex.


"Ba.. baik lah, asal kamu tidak membuka fakta semua nya kepada Fandy dan keluarganya"


Ucap Carolina. Alex tersenyum sumringah, lalu ia kembali menghampiri Carolina.


"Kamu harus punya waktu untuk ku dan jangan pernah berusaha menghindari ku"


Ucap Alex. Carolina mengangguk dengan ragu. Ia merasa dirinya sangat bodoh karena sudah mempunyai urusan dengan lelaki di depan nya itu.


Alex adalah kenalan Carolina di salah satu club malam saat dirinya frustasi karena menghadapi sikap Fandy yang berubah terhadap dirinya. Awalnya mereka hanya bermesraan saat clubing, tanpa ada ikatan perasaan diantara keduanya. Carolina pun sering kali bercerita tentang Fandy kepada Alex.


Tetapi saat Caroline menikah, dan harus segera memberi keturunan untuk memenuhi keinginan Mommy. Carolina pun gelap mata, ia meminta Alex membantu nya dengan imbalan sejumlah uang tunai yang Carolina janjikan.


Awalnya, Alex merasa senang-senang saja tanpa beban apa pun. Selain dirinya mendapatkan uang dua ratus juta dari Carolina, ia pun dapat menikmati tubuh Carolina.


Tetapi ia salah, setelah mereka berhubungan satu setengah bulan lamanya. Alex pun jatuh cinta kepada Carolina. Terlebih saat wanita itu berhasil mengandung buah hati nya.


Sikap Carolina yang menghindari nya selama berbulan-bulan lamanya dan rasa rindunya kepada Carolina membuat lelaki itu nekad untuk mengusik Carolina. Uang dua ratus juta di tangannya kini tidak ada harganya lagi.


Alex hanya ingin memiliki Carolina dan anak nya yang di kandung wanita itu. Alex tidak lagi berpikir ia sedang berurusan dengan siapa saat ini. Yang jelas, obsesinya kepada Carolina mengalahkan segala hal.

__ADS_1


"Aku akan menyingkirkan mu cepat atau lambat"


Gumam Carolina di dalam hati nya saat Alex memeluk tubuhnya.


__ADS_2