
Fandy membanting pintu mobilnya saat ia baru saja sampai dirumah. Caroline pun turun dari mobil dengan emosi. Sepanjang perjalanan pulang mereka bertengkar karena Carolina selalu membahas Raline. Fandy pun merasa jenuh dengan omelan-omelan Carolina yang membosankan.
"Ada apa ini?"
Mommy yang saat itu sedang menyirami tanaman angrek yang baru saja ia beli, bingung melihat sikap Fandy yang terlihat sedang bertengkar dengan Carolina.
Tanpa menyapa mertua nya, Carolina berlalu begitu saja masuk kedalam rumah mengikuti Fandy.
"Fan...!"
Panggil Carolina dengan emosi nya.
"Aku belum selesai bicara...!"
Ucap Carolina lagi. Fandy membalikkan badannya dan menatap Carolina dengan sinis.
"Kamu minta di nikahi kan? sekarang aku sudah menikahi kamu..! lalu mau apa lagi!"
Ucap Fandy sambil menunjuk wajah cantik Carolina.
"Nikah? ini namanya bukan menikah..! kamu tidak sekali pun menyentuh ku Fandy..! Berbeda dengan dulu waktu kita pacaran..! kamu selalu menyentuh ku..!"
Ucap Carolina. Suara nya yang lantang mengundang Mommy nya Fandy menghampiri mereka yang sedang bersitegang di ruang keluarga.
"Kamu tidak menyentuh Carolina?"
Tanya Mommy dengan wajah yang terkejut. Tiba-tiba saja suasana menjadi lebih tegang. Fandy menjadi salah tingkah saat Mommy ikut kedalam pembahasan mereka.
"Jawab Fandy..!"
Ucap Mommy.
"Aku sudah bilang, aku tidak ingin menikah dengannya..!"
Ucap Fandy.
"Pelankan suaramu, nanti Daddy mu mendengar!"
Mommy terlihat mulai panik. Fandy pun terdiam mematung, lalu ia menundukkan wajah nya.
"Ingat Fandy, kamu sudah berjanji kepada Mommy. Bahwa kamu menikah dengan Carolina dan memberikan Mommy seorang cucu..!"
Ucap Mommy. Fandy hanya mampu terdiam tanpa sepatah kata pun.
"Aku sudah tidak mencintai Carolina, aku ingin istriku kembali..!"
Ucap Fandy.
"Jangan ngawur kamu Fandy..!! Kamu sudah menikah dengan Carolina, mau tidak mau kamu harus memperlakukan dia dengan baik..! camkan itu..!!"
Ucap Mommy.
__ADS_1
"Arghhhhhh...!"
Fandy pun pergi meninggalkan ruang keluarga dan masuk kedalam kamarnya. Sedangkan Carolina terduduk lemas di sofa ruang keluarga. Ia mulai menangis agar dapat perhatian dari mertuanya.
"Bagaimana ini Mommy, aku sudah tidak tahan lagi"
Ucap Carolina.
"Kamu bersabar ya, pasti ada jalan nya. Fandy pasti akan mencintaimu lagi"
Mommy berusaha menenangkan Carolina. Lalu Carolina pun menangis di pelukan Mommy.
"Arghhhhhh..!!!!!!!"
Fandy menendang pintu kamarnya dengan emosi. Lalu ia menuju ranjang nya dan duduk di pinggir ranjang.
"Kenapa jadi begini sih..!!"
Ucapnya. Ia kembali terbayang wajah Raline saat mereka bertemu di toko mantel. Fandy tidak kuasa menahan kesedihan dan kerinduan nya kepada Raline. Ia mulai merasa frustasi, dengan apa yang saat ini ia jalankan.
"Andai Daddy tidak sakit, aku pasti tidak akan pernah melepaskan kamu Line"
Gumam Fandy. Ia pun membuka galeri ponsel nya dan kembali menatap senyuman Raline di dalam foto. Fandy mulai menangis, entah mengapa rasa cinta nya semakin besar saat mereka berdua berpisah. Sampai Fandy begitu cengeng gara-gara wanita yang baru saja mengisi hidup nya.
.....
Dengan ragu Raline menyerahkan tabung berisi urine miliknya kepada dokter. Dokter itu menyambut tabung itu dan menaruhnya di atas meja. rain duduk di depan dokter menatap cemas ke arah alat pendeteksi kehamilan yang berada di tangan dokter.
Raline pun menahan nafasnya saat melihat garis dua muncul di tubuh alat tersebut.
"Saya hamil dok?"
Tanya Raline.
"Disini ada garis dua yang menandakan bahwa ibu Raline saat ini sedang mengandung"
Ucap dokter itu sambil tersenyum kepada Raline.
Dada Raline terasa sesak, ia langsung memegang perutnya yang masih terlihat rata. Nafasnya mulai memburu dirinya terlihat sangat panik.
"Selamat ya Ibu Raline"
Ucap dokter itu dengan wajah yang terlihat sumringah.
"Saya hamil?"
Ucap Raline lagi, Ia masih tidak percaya dengan kenyataan yang baru saja ia dengar.
"Iya ibu, menurut perhitungan saya, kehamilan Ibu Raline memasuki usia enam minggu. Saya harap Ibu segera menemui dokter kandungan"
Ucap dokter itu. Raline hanya mengangguk pasrah. Raline tidak tahu perasaannya saat ini. Satu sisi ia merasa sangat senang dengan kabar kehamilannya. Satu sisi yang lain ia menjadi bingung karena ia akan pindah ke Kanada dan yang paling membuatnya panik adalah sekarang ia bukanlah istrinya Fandy lagi.
__ADS_1
Raline pulang dengan perasaan yang sangat kacau. Ia langsung menuju kamarnya tanpa ikut makan malam bersama kedua orangtuanya. Kedua orangtua Raline cukup bingung melihat sikap Raline pada malam ini.
"Raline Kenapa lagi Ma?"
Tanya Papanya Raline.
"Mana Mama tahu Pa, dia kan baru pulang"
Ucap Mamanya Raline.
"Ya sudahlah, biarkan saja dulu. Mungkin Raline masih merasa kecewa dengan hidupnya saat ini"
Sambung Mamanya Raline lagi.
Raline terduduk lesu di pinggir ranjangnya. Raline bingung harus bagaimana. Apakah ia mengatakan kehamilannya kepada Fandy atau ia merahasiakan kehamilannya saja. Raline mulai menangis, hatinya terasa teriris.
Andai saja ia mengetahui kehamilannya sebelum pernikahan Fandy dengan Carolina, mungkin ia akan mengatakannya kepada Fandy Bahwa saat ini, ada calon anak mereka di dalam rahimnya. Tetapi keadaan sungguh kejam baginya, saat ini Fandy sudah menikah dengan Carolina. Dan ia tidak mungkin mengganggu pernikahan Fandy dan Carolina.
Raline meringkuk di atas ranjangnya, ia mengusap lembut perut nya. Ia sedih memikirkan nasib calon bayinya, harus nya saat ini dirinya dan Fandy masih bersama. Dan ia yakin betul bila Fandy akan bahagia dengan kehamilan dirinya.
Tetapi, kini ia harus melewatkan semuanya sendirian.
Raline pun menangis hingga pagi menjelang.
...
"Hari apa kamu berangkat ke Kanada?"
Tanya Mamanya Raline saat mereka sarapan bersama.
"Lusa"
Ucap Raline tanpa menatap Mamanya.
"Kamu sedang ada masalah nak?"
Tanya Mamanya Raline. Raline pun menaruh sendok nya di atas piring, dan menatap wajah Mamanya dengan sendu.
"Ma, doakan yang terbaik untuk Raline ya"
Ucap Raline, matanya mulai memerah menahan tangis. Mamanya Raline menyentuh punggung tangan Raline dengan lembut.
"Mama selalu mendoakan yang terbaik untuk mu nak, apa pun itu"
Ucap Mamanya Raline sambil berusaha tersenyum tegar di depan anak satu-satunya itu.
"Terimakasih ya Ma"
Ucap Raline, ia pun berusaha tersenyum kepada Mamanya. Mamanya Raline hanya mengangguk lalu melanjutkan sarapannya. Raline hanya termenung lalu ia mengusap lembut perut nya.
Ada alasan nya mengapa Raline tidak mengatakan dengan jujur tentang kehamilan dirinya kepada kedua orangtuanya. Raline hanya takut dirinya di larang untuk pergi ke Kanada. Sedangkan Raline memang ingin pergi kesana. Karena selain dia mendambakan kuliah di sana, ia juga tidak ingin Fandy tau tentang kehamilan nya.
__ADS_1
Raline bertekad untuk menyembunyikan kehamilan nya saat ini. Dan ia pun siap dengan segala konsekuensi yang ada di depan nya nanti. Raline kembali melanjutkan sarapan nya tanpa berkata apa-apa lagi dengan kedua orang tuanya.