
"Kamu ada dimana?" Dengan emosi Fandy bertanya lewat sambungan telepon kepada Raline yang sedang menyetir mobil menuju rumah nya.
"Menuju rumah." Jawab Raline sambil mengenakan headset nya.
"Keterlaluan banget sih, main tinggal-tinggalin orang begitu saja." Ucap Fandy, dengan nada kesal yang terdengar dari ujung sana.
"Kamu yang keterlaluan, masih sempat-sempatnya tidur, saat aku lagi nyobain gaun pengantin. Sudah ini gak cocok, itu gak cocok di mata mu..! Mau nya apa sih..!" Ucap Raline, tak kalah kesal.
"Oh, jadi balas dendam? Awas saja kamu ya..!" Ancam Fandy, lalu ia mengakhiri sambungan telepon nya dengan kesal.
Raline menatap ponselnya lalu mencebikkan bibir nya.
"Berani nya mengancam dasar calon suami gak ada akhlak..!" Umpat nya, kesal. Lalu menaruh ponsel nya di dashboard mobil nya.
Fandy menyerahkan kartu debid nya untuk membayar tagihan gaun pengantin yang di pilih oleh Raline. Lalu ia pergi meninggalkan boutique tersebut sambil sesekali mengumpat kesal.
....
Raline sedang tergolek di ranjang nya sambil mendengarkan musik melalui headset di telinga nya. Gadis itu sibuk membolak-balikan berkas yang ia pelajari untuk membuat laporan yang akan ia serahkan lusa, kepada Om Putro. Om, sekaligus atasan nya.
"Non, ada calon suami nya tuh di bawah." Bik Paijem menepuk lembut pundak Raline yang tidak mendengar panggilan nya yang sudah sejak tadi dari depan pintu.
Raline terkejut melihat kehadiran Bik Paijem di samping nya.
"Hah..?" Raline melepaskan headset dari kuping nya, lalu menatap Bik Paijem dengan seksama.
"Ada calon suami nya non Raline di bawahhhh.." Ucap Bik Paijem lagi.
"HAH...!" Kali ini Raline bukan tidak mendengar kata-kata Bik Paijem, tetapi ia terkejut saat mendengar calon suami nya sedang menunggu nya di bawah.
"ADA CALON SUAMI NYA NON DI BAWAHHHHH..!" Bik Paijem kembali berteriak agar Raline mendengar dengan jelas.
"Iya tahu, Raline dengar Bik. Tapi ngapain dia datang? Aduhhhhhh...!"
Ucap Raline dengan panik.
"Lah, calon suami datang bukan nya senang malah panik. Gimana sih non?"
Bik Paijem menatap Raline dengan wajah yang bingung.
"Arghhhh..! ya sudah sana buatin dia minum Bik. Nanti aku menyusul kebawah."
Bik Paijem mengangguk, lalu ia meninggalkan Raline yang sedang panik di atas ranjang nya.
Tidak lama kemudian, Raline turun dengan piyama nya. Dengan rambut acak-acakan dan sesekali menguap agar terlihat seperti orang yang baru saja terbangun dari tidur nya.
Raline menuruni anak tangga dengan malas dan melihat Fandy sedang asik berbincang dengan Papa nya.
__ADS_1
Raline pun langsung bergabung dengan mereka dan duduk di samping Papa nya.
"Ih, kamu kok tidak begini? ini calon suami mu loh. Ganti baju nya sana..!"
Ucap Papa nya Raline sambil melirik Fandy dengan wajah yang malu.
"Biarin aja sih Pa, besok-besok juga dia terbiasa lihat Raline begini." Ucap Raline cuek, sambil meminum teh yang di suguhkan Bik Paijem untuk Fandy.
"Raline, itu untuk Fandy..!!! sana cuci muka dulu biar kamu sadar..!!!"
Papa nya semakin merasa malu kepada Fandy, karena tingkah anak gadis nya.
"Tidak apa-apa kok Om, kami terbiasa minum satu gelas bersama." Ucap Fandy sambil tersenyum manis.
"Uhukkkkk...Uhukkk..!"
Raline tersedak saat mendengar ucapan Fandy. Papa nya Raline hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak dan calon menantu nya itu.
"Ya sudah, Om tinggal dulu ya." Ucap Papa nya Raline sambil beranjak dari duduk nya.
"Terimakasih Om." Fandy Tersenyum puas, penuh kemenangan sambil melirik Raline.
Setelah Papa nya masuk kedalam kamar, Raline pun langsung menarik lengan Fandy dan mengajak nya duduk di teras rumah.
"Ngapain kesini..!" Ucap Raline dengan gemas kepada lelaki itu.
"Ngapelin calon istri." Jawab Fandy dengan wajah nya yang jahil.
"Jadi nikah gak nih?" Tanya Fandy dengan ekspresi wajah datar nya.
"Gak usah..!" Sahut Raline, lalu gadis itu membuang tatapannya dari wajah Fandy.
"Mau di tuntut atas pelanggaran perjanjian?" Dengan santai, Fandy memasukan kedua tangan nya kedalam saku celana nya dan menatap Raline dengan tatapan yang menantang.
Raline pun langsung ciut nyali saat mendengar ancaman Fandy.
"Kenapa sih? mau apa kesini? buruannn bilang!!" Ucap Raline setengah berbisik kepada Fandy. Fandy Tersenyum kecil saat melihat Raline yang panik.
"Kenapa tadi kamu ninggalin aku? kayak orang b*go aku tidur di sofa, terus di bangunin sama pelayan. Hilang harga diri aku tau..!" Fandy menatap Raline dengan kesal.
Raline memutar kedua bola matanya dengan malas, lalu menghela napas nya dengan bosan.
"Harga diriku juga hancur saat kamu kerjain. Ini enggak, itu enggak eh malah tidur. Siapa yang gak kesal..!" Raline menantang tatapan Fandy.
Fandy tertawa kecil saat mendengar penjelasan Raline.
"Ayo ikut aku ke mobil" Fandy menarik lengan Raline dengan kasar.
__ADS_1
"Ih...! apaan sih. Lepasin gak..!" Raline berusaha melepaskan lengan nya dari cengkeraman tangan Fandy.
"Kamu mau nyulik aku ya? aku teriak nih, biar kamu di gebukin orang." Ancam Raline.
Fandy membuka pintu mobil nya sambil menatap gadis itu dengan kesal.
"Untung calon istri, kalo tidak sudah aku sentil kamu..!" Ucap nya sambil mengambil sesuatu dari dalam mobil.
"Nih, gaun mu. Nih, sepatu nya dan ini semua perlengkapan nya..! Bawa sana masuk! Masih untung di bawain. Malah menuduh mau menculik pula. Sudah, aku pulang kalo begitu."
Fandy masuk kedalam mobil nya tanpa memperdulikan Raline yang kewalahan membawa tumpukan keperluan pernikahan nya di dekapan nya.
Raline menatap kosong saat mobil lelaki itu pergi dari pekarangan rumah nya. Ia mengumpat kesal melihat kelakuan Fandy yang mulai menyebalkan. Lalu ia berteriak memanggil Bik Paijem untuk membantu dirinya membawa barang-barang yang berada di dekapannya.
....
Fandy tertawa geli, saat mengingat ekpresi wajah Raline yang tak percaya saat dirinya menumpukan barang bawaan nya di dekapan Raline.
"Sukurin, berani-beraninya ngerjain seorang Fandy Rusdiono" Gumam nya sambil tersenyum jahil.
Entah mengapa, Fandy merasa senang saat gadis itu panik atau cemberut, bahkan dirinya merasa bahagia saat membuat gadis itu kesal.
"Dia sangat cocok menjadi teman serumah, Sepertinya akan seru, bila lagi pusing begini lalu mengerjainya" Ucap Fandy sambil tersenyum geli.
Fandy tersenyum-senyum sendiri saat mengendarai mobil nya menuju rumah.
Ia merasa tidak sabar, suasana dirumah nya akan menjadi lebih bewarna karena kehadiran Raline.
Fandy juga membayangkan, tidak akan ada lagi hari-hari sepi bila Raline sudah tinggal bersama dirinya.
Selama ini ia selalu merasa sepi di dalam rumah yang sangat besar itu.
Sedangkan Carolina, kekasihnya. Belum juga dapat kembali dan tinggal di Indonesia.
Carolina adalah seorang model internasional.
Wanita berdarah Prancis dan Indonesia itu cukup sukses dalam karir nya. Hal itu yang membuat Carolina malas untuk menikah. Karena baginya, menikah hanya membatasi dirinya dalam berkarir.
Carolina tidak sanggup membayangkan apa bila dirinya hamil dan harus menjadi ibu rumah tangga. Maka ia harus mengakhiri karir nya yang sedang meroket.
Tetapi, Carolina tidak ingin kehilangan Fandy. Carolina sangat mencintai Fandy. Tetapi, karena tuntutan orang tua Fandy yang selalu mendesak Fandy untuk segera menikah, terlebih karena Daddy yang sudah sakit-sakitan, apa boleh buat?.
Atas kesepakatan bersama, Carolina terpaksa memberi ide gila kepada Fandy. Untuk menikah kontrak dengan seorang wanita, Lalu bercerai saat perusahaan sudah di tangan Fandy. Atau bila papa nya Fandy meninggal dunia.
Tentu saja dengan perjanjian wanita yang di nikahi Fandy tidak menyentuh kekasih nya itu, dan tidak menuntut apa-apa dari Fandy.
Pertemuan tak sengaja itu membuat Fandy memutuskan memilih Raline sebagai istri sementara nya. Karena Fandy melihat Raline juga sedang membutuh kan pertolongan demi menghindari pertanyaan "Kapan Nikah?"
__ADS_1
Seperti yang tertulis di perjanjian, saling menguntungkan dan saling membantu.
itu misi utama nya menikahi Raline.