Kapan Nikah?

Kapan Nikah?
21# Carolina


__ADS_3

"Mbak Line...lu bengong aja.. kenapa sih?"


Sinta yang dari tadi memperhatikan Raline termenung di mejanya, penasaran dengan sikap Raline yang sering termenung selama di kantor.


"Eh, enggak kok"


Sahut Raline lalu ia kembali sibuk dengan laptopnya.


"Pasti ada masalah sama suami lu ya mbak?"


Sinta mencoba menerka-nerka.


"Sotoy ah..."


Raline menoleh kepada Sinta sejenak lalu kembali sibuk dengan laptopnya.


"Lu berubah mbak, gak biasanya lu seperti ini mbak"


Sinta menggeser kursinya hingga kemeja Raline.


"Lu cerita aja sama gue"


Ucap Sinta lagi, Raline pun menatap Sinta dengan seksama.


"Sin.. Roy sudah kembali, cuma......


"Cuma apa mbak?"


Tanya Sinta penasaran.


"Dia mau nikah"


Lanjut Raline.


"Hahhhhhh.... gila ya... di tunggu lama, pulang-pulang malah mau nikah sama orang lain..!"


Ucap Sinta, kesal.


"Trus, lu ketemuan sama dia?"


"Iya"


Jawab Raline singkat.


"Ya ampun mbak..."


"Dia ajak gue ketemuan tapi malah ngasih undangan pernikahan"


Ucap Raline tertunduk sedih.


"Ya sudah sih mbak, lu kan juga sudah menikah"


Ujar Sinta.


"Kalau gue nikah beneran mah gak masalah, ini gue nikah bohongan"


"Iya sih.... "


Sinta mengusap punggung Raline untuk menyampaikan simpatinya.


"Mbak.. mending party yuk..."


Ajak Sinta dengan bersemangat. Raline hanya menghela napasnya lalu menatap Sinta dengan mengangkat kedua alisnya.


"Gak deh, gue udah tobat"


Jawab Raline. Sinta pun terperangah tak percaya.


"Jangan bilang lu sekarang merasa jadi istri beneran mbak"


Sinta menatap Raline dengan curiga. Sedangkan Raline mengabaikan Sinta.


"Ah... gak asik lu sekarang"

__ADS_1


Sinta cemberut lalu kembali ke mejanya.


...


Raline baru saja sampai di rumah, ia langsung di sambut oleh Fatma yang memang khusus melayani Raline sejak Raline menjadi nyonya Fandy.


"Tuanmu mana Fatma?"


Tanya Raline sambil memberikan tasnya kepada Fatma.


"Ng... anu.. ada nyonya"


Jawab Fatma terbata.


"Dimana?"


Tanya Raline lagi.


"Anu nyonya di.... di...


"Kamu itu kenapa?"


Tanya Raline tak sabar.


"Gak apa-apa nyonya"


Fatma meremas-remas ujung bajunya.


Sedangkan Raline mencoba mencerna sikap Fatma yang tidak seperti biasanya.


"Fatma... Tuan di mana?"


Raline mengulangi pertanyaannya dan menatap gadis itu dengan seksama. Fatma pun langsung menundukkan kepalanya.


"Fatma.." Desak Raline.


"Tuan ada di ruang kerjanya nyonya"


"Gitu dong... di tanyain jawabnya yang jelas, kamu itu kenapa sih? hmmmm... apa tuan sedang bersama seorang wanita hingga kamu terlihat takut sekali mengatakannya?"


"Fatma, Apa benar tuan sedang bersama seorang gadis?"


Tanya Raline. Fatma terus menundukkan kepalanya lalu akhirnya Ia mengangguk pelan.


"Apa kamu mengenal wanita itu?"


Tanya Raline lagi.


"Tidak Nyonya, tetapi tuan memanggilnya dengan sebutan honey"


Raline pun terdiam ketika mendengar apa yang dikatakan Fatma.


"Apakah wanita itu Carolina?"


Gumam Raline.


Entah mengapa perasaannya mulai tidak tenang, tanpa berpikir panjang ia pergi ke ruang kerja Fandy.


Raline sangat penasaran dengan apa yang Fandy dan Carolina lakukan berdua di ruang kerja Fandy. dengan tergesa-gesa ia melangkahkan kakinya hingga sampailah Ia di depan ruang kerja Fandy.


Dengan cepat Raline pun membuka pintu ruang kerja Fandy. Ia memergoki Carolina yang sedang duduk di pangkuan Fandy, wanita itu sedang mencium bibir Fandi dengan mesra.


Melihat kehadiran Raline, Carolina pun langsung melepaskan ciumannya dari bibir Fandy. Wanita itu menatap Raline dengan saksama, sedangkan Fandy mulai salah tingkah.


"Honey, Apakah dia istri pura-pura mu?"


Tanya Carolina yang masih duduk di pangkuan Fandy. Fandy pun menatap Raline dengan sorot mata yang merasa bersalah.


"I...i..iya"


Sahut Fandy dengan terbata.


"Oh ini orangnya.."

__ADS_1


Carolina tersenyum, lalu beranjak dari pangkuan Fandi. Ia menghampiri Raline lalu menyapanya.


"Hai perkenalkan, saya Carolina. saya adalah kekasih Fandy, dan saya adalah orang yang menyuruh Fandy untuk menikahi kamu"


Carolina mengulurkan tangan kanannya kehadapan Raline. Raline menatap wanita itu sejenak, lalu ia menjabat tangan Carolina.


"Saya Raline"


Ucapnya pelan.


"Nice to meet you"


Ucap Carolina sambil tersenyum sambil memperhatikan Raline dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Cantik juga"


Ucap Carolina, lalu ia kembali menghampiri Fandi dan merangkul lelaki itu dengan mesra.


"Well Raline, bila kamu punya keperluan dengan Fandy, aku harap kamu kembali lagi nanti. Aku baru saja tiba, dan aku ingin menghabiskan waktuku bersama kekasihku. So, aku harap kamu mengerti. Kamu bisa tinggalkan kami berdua ya.."


Ucap Carolina dengan tersenyum, Raline hanya bisa mengangguk dan keluar dari ruangan itu, lalu menutup pintu rapat-rapat.


Dari balik pintu, wajah Raline pun berubah kecewa. Dadanya sesak dan hatinya tak karuan. Entah mengapa ia merasa sakit saat mereka melihat Carolina mencumbu Fandy.


Tetapi Raline cukup tahu diri, Ia bukanlah siapa-siapa. Ia hanya istri pura-pura Fandi, Ia adalah orang yang yang telah dibantu oleh Fandy dan membantu Fandy. Raline menghela menghela nafasnya dalam-dalam lalu melangkah Kembali menuju kamarnya.


flashback on


Carolina melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah Fandy, dirinya disambut oleh Fatma.


"Maaf Nyonya, Nyonya siapa ya?"


Tanya Fatma kepada Carolina. Carolina menatap gadis pelayan itu dengan seksama.


"Kamu pasti pelayan baru ya? Saya Carolina kekasih Tuan Fandi apakah Tuan Fandy ada di rumah?"


Fatma tersentak saat mengetahui wanita itu adalah kekasih tuannya.


"Oh jadi ini Carolina"


Gumam Fatma.


"A...a... ada Nyonya di ruang kerja Tuan"


Jawab Fatma dengan terbata-bata. Carolina tersenyum dan mengangguk, lalu ia melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Fandy.


Tanpa mengetuk pintu, Carolina masuk ke dalam ruang kerja Fandi. Fandi pun terkejut saat melihat kehadiran Carolina.


"Carolina..!"


Seru Fandy. Ia tidak percaya Carolina sudah berada di rumahnya.


"Hi honey... how are you? i miss you so much.."


Ucap Carolina dengan mata berbinar-binar, lalu ia menghampiri Fandy dan duduk di pangkuan lelaki itu.


"Ka..ka.. kamu kok sudah ada di sini? Sejak kapan kamu pulang ke Indonesia?"


Tanya Fandy dan menatap wanita itu dengan tidak percaya.


"Aku baru saja landing dan langsung ke rumahmu aku sangat rindu dengan kamu, Kamu rindu nggak sama aku?"


Tanya Carolina sambil memeluk Fandy dengan erat.


"I...iya aku rindu, tetapi aku terkejut mengapa kamu tidak mengabariku sebelumnya?"


Tanya Fandy lagi dan dengan ragu ia membalas pelukan Carolina.


"Aku hanya ingin memberimu surprise, kebetulan aku sedang tidak ada event jadi aku memutuskan untuk kembali ke Indonesia beberapa hari demi hanya ingin bertemu denganmu"


Ucap Carolina lalu wanita itu mencium bibir Fandy dengan lembut. Entah mengapa Fandy merasa takut bila Raline melihat Carolina. Benar saja, sesaat kemudian Raline muncul dari balik pintu ruang kerjanya dan memergoki dirinya sedang berciuman dengan Carolina.


Ia melihat ekspresi wajah Raline terkejut saat melihat Carolina sedang dipangkuannya dan mencium dirinya. Tetapi sesaat kemudian, ia melihat ekspresi Raline kembali biasa saja. Saat itu juga ia yakin bahwa Raline tidak memiliki perasaan kepadanya.

__ADS_1


Ada perasaan kecewa di hati Fandy mengapa Raline tidak cemburu kepadanya. Tetapi Fandy mencoba menerima sikap Raline, ternyata Raline memang benar-benar memegang teguh isi dari surat perjanjian pernikahan mereka dan hanya menganggap dirinya sebatas suami pura-pura.


__ADS_2