Kapan Nikah?

Kapan Nikah?
37# Pikiran ku bukan urusan mu..!


__ADS_3

Dua minggu lamanya Raline mempersiapkan kebutuhan nya untuk pindah ke Kanada. Ia pun sudah resign dari kantor om nya. Tiket sudah di tangan, hari ini Raline berbelanja kebutuhan dan pakaian untuk ia bawa ke Kanada.


Raline Berjalan-jalan di salah satu Mall, ia sedang memilih-milih mantel yang akan ia beli untuk di Kanada.


Tidak sengaja ia bertemu dengan Fandy dan Carolina yang juga sedang memilih mantel untuk Carolina.


Awalnya Raline tidak sadar bila Fandy dan Carolina berada di toko yang sama. Saat ia sedang memilih salah satu mantel, ia pun mengambil mantel yang sama dengan Carolina.


Carolina menatap Raline dengan tatapan sinis nya.


"Kamu?"


Carolina mengakat kedua alis nya saat Raline terperangah menatap dirinya.


Raline hanya tersenyum ragu kepada Carolina. Tiba-tiba saja Fandy muncul dari belakang Carolina dan menatap Raline dengan wajah yang terkejut.


"Line"


Ucap Fandy saat melihat Raline di hadapannya.


"Kita pindah toko saja"


Ucap Carolina sambil menarik lengan Fandy untuk mengikuti langkahnya.


Dengan cepat Fandy melepaskan lengan nya dari tangan Carolina. Fandy menatap Raline dengan perasaan yang bercampur aduk tak menentu.


"Kamu ngapain beli mantel? kamu mau kemana?"


Tanya Fandy kepada Raline.


"A... a.. aku.."


"Sudah ayo..!"


Carolina kembali menarik lengan Fandy. Hingga Fandy sedikit menjauh dari Raline.


"Tidak usah, biar aku saja yang pergi"


Ucap Raline, lalu ia melangkah keluar dari toko itu.


"Line.. tunggu..!"


Fandy meraih lengan Raline hingga Raline menghentikan langkahnya.


"Kamu mau kemana? kenapa ponsel mu mati? kamu ganti nomor? berikan aku nomor mu"


Ucap Fandy. Raline hanya bisa menatap wajah lelaki yang sangat ia rindukan itu. Ingin sekali ia memeluk tubuh Fandy erat-erat dan mengucapkan salam perpisahan. Tetapi ia tidak mampu karena memeluk lelaki itu hanya membuat dirinya semakin tidak bisa melupakan Fandy.


"Aku tidak kemana-mana"


Ucap Raline dengan ragu.


"Terus beli mantel untuk apa?"

__ADS_1


Tanya Fandy sambil memegangi kedua pundak Raline.


"Fan, lepaskan tangan mu. Hargai istri mu"


Ucap Raline. Fandy terdiam, dan perlahan ia melepaskan kedua tangannya dari pundak Raline.


"Maaf aku permisi dulu"


Ucap Raline, lalu ia meninggalkan toko itu begitu saja.


"Kamu masih memikirkan dia?"


Ucap Carolina. Fandy hanya termenung melihat punggung Raline yang semakin menjauh dari pandangannya.


"Jawab Fandy..!"


Ucap Carolina lagi. Fandy menghela nafasnya dengan berat, lalu menatap Carolina dengan sinis.


"Pikiranku itu bukan urusanmu"


Ucap Fandy kepada Carolina. Carolina terdiam dan menatap Fandy dengan tak percaya.


"Sudah, kamu mau yang mana? Biar biar segera dibayar"


Ucap Fandy, ia membalas tatapan Carolina dengan tatapan yang muak.


"Aku tidak jadi belanja aku mau pulang saja..!"


Ucap Carolina, Carolina pun pergi meninggalkan toko itu. Dengan kesal pandi mengikuti langkah kaki Carolina. Mereka berbelanja bersama karena saat ini Mommy nya Fandy sedang berada di rumah mereka. Mereka berakting seakan-akan rumah tangga mereka baik-baik saja, demi menjaga kesehatan Daddy dan Mommy.


Carolina sadar, perasaan Fandy kepada Raline tidak mungkin bisa secepat itu berlalu. Tetapi ia menaruh harapan bila suatu saat cinta Fandy akan kembali bersemi untuknya.


Sudah tiga minggu pernikahan mereka, tetapi tidak sekalipun Fandy menyentuh dirinya. Segala macam upaya telah Carolina lakukan. Tetapi Fandy tetap teguh pendiriannya untuk tidak menyentuh Carolina sama sekali.


Hal itu tentu saja membuat Carolina merasa Raline lah penyebab sikap Fandy berubah kepada dirinya. Tetapi Carolina juga merasa bersalah dan menyesal, karena dirinya lah yang telah meminta Fandy untuk menikahi Raline sebelumnya.


Carolina awalnya cukup percaya diri. Ia merasa Fandy tidak akan pernah jatuh cinta kepada wanita lain selain dirinya. Tetapi ia salah, dengan cepat Raline mampu membuat Fandy jatuh cinta. Dan Carolina merasa sangat menyesal memilih Raline menjadi istri sementara Fandy.


Tetapi itu semua sudah terjadi. Kini Carolina harus berjuang mengembalikan perasaan Fandy kepada dirinya, entah sampai kapan.


.....


Raline menaruh paper bag belanjaannya ke dalam bagasi. Saat ia Ingin menutup bagasinya, Ia pun merasa pusing. Dengan cepat Raline jongkok di belakang mobilnya, dan mencoba untuk mengembalikan kesadarannya yang hilang beberapa detik yang lalu.


"Duh aku kenapa ya?"


Gumam Raline dalam hati.


"Mbak baik-baik saja?"


Sapa seorang petugas parkir yang sedang berada di sana.


"Saya baik-baik saja Mas"

__ADS_1


Jawab Raline sambil memegangi kepalanya yang terasa sangat berat.


"Tapi mbaknya terlihat pucat, saya rasa Mbak tidak baik-baik saja. Apa butuh bantuan Mbak?"


Tanya petugas parkir itu lagi. Raline menatap petugas parkir itu dengan nanar, pandangannya semakin buram. Lalu terasa gelap dan Raline pun tidak sadarkan diri.


"Mbak.. Mbak... Mbak.. sadar Mbak..!"


Ucap petugas parkir itu, sambil mengguncang tubuh Raline dengan pelan. Petugas itu pun memanggil teman-temannya untuk membantu memindahkan Raline kedalam pos jaga mereka.


Beberapa orang yang mengambil minyak kayu putih untuk dioleskan di bawah hidung Raline agar mengembalikan kesadaran Raline.


Lima belas menit kemudian, Raline membuka kedua matanya pandangannya masih nanar. Ia berusaha untuk duduk diatas sofa yang saat ini dia tiduri.


"Mbak tidak apa-apa? saya antarkan ke dokter ya"


Tanya petugas parkir dengan khawatir.


Raline merasa dirinya tidak baik-baik saja, Ia pun mengangguk menyetujui untuk diantar ke dokter saat itu juga.


Petugas parkir itu pun dengan sigap mengambilkan kursi roda dan mengantarkan Raline ke lantai bawah Mall tersebut, di mana disitu ada dokter yang membuka praktek.


Sesampainya di bawah, Raline langsung ditangani oleh dokter tersebut. Setelah dicek kondisinya Raline pun dibiarkan beristirahat di atas ranjang periksa.


"Tekanan darahnya sangat rendah, mungkin belakangan ini Ibu Raline tidak memperhatikan asupan ya?"


Tanya dokter itu.


"Iya dok belakangan ini saya agak susah makan"


Jawab Raline.


"Apa yang Ibu rasa? mual atau Tidak selera makan?"


"Saya mual dok sehingga saya jadi tidak selera makan"


Ucap Raline sambil berusaha duduk di atas ranjang periksa.


"Kapan Ibu terakhir kali menstruasi?"


Pertanyaan dokter itu membuat Raline terdiam. Ia mulai menghitung kapan terakhir kali ia mendapatkan menstruasi. Raline pun terbelalak, ia baru saja sadar bila bulan ini ia sudah terlambat haid selama dua minggu.


"Sa... saya haid terakhir kali hampir dua bulan yang lalu dok"


Ucap Raline dengan bibir yang bergetar.


"Sekarang, saya periksa urin nya ya Bu, saya curiga Ibu sedang mengandung. Apa Ibu memakai alat kontrasepsi saat berhubungan?"


Tanya dokter itu lagi. Napas Raline terasa sesak, ia menggelengkan kepalanya. Dokter itu pun tersenyum dan menyerahkan tabung kecil untuk menampung urine Raline.


"Silahkan Ibu ke toilet dulu, tampung urine nya di sini ya Bu"


Ucap dokter itu. Dengan ragu, Raline menerima tabung kecil itu dan beranjak dari ranjang ke toilet ruangan tersebut.

__ADS_1


Tangan Raline gemetar saat ia membuka pintu toilet, lalu ia masuk kedalam toilet dengan ragu. Ia benar-benar lupa bahwa ia sudah terlambat haid. Dan ia baru saja teringat bila saat malam dirinya tidur dengan Fandy tanpa pengaman apa pun.


Raline mulai risau, ia pun merasa bingung akan berbuat apa bila ternyata dirinya benar-benar sedang mengandung anak dari Fandy.


__ADS_2