
Satu minggu setelah kelahiran Rafa Junior. Fandy meminta izin kepada Raline untuk pulang ke Indonesia. Untuk mengurus Carolina dan ia pun berniat untuk memberitahukan kepada Mamanya tentang kelahiran Rafa Junior. Dengan berat hati, Raline melepaskan kepergian Fandy.
Mama dan Papa Raline masih berada di sana. Oleh karena itu, Fandy tidak begitu khawatir saat meninggalkan Raline dan Rafa. Fandy mengambil penerbangan awal menuju Indonesia. Ia sudah tak sabar untuk menceraikan Carolina.
Hampir tiga puluh jam kemudian, akhirnya Fandy mendarat di Jakarta. Ia dijemput oleh asistennya di bandara.
"Selamat datang Boss, Selamat atas kelahiran anaknya."
Ucap asisten Fandy.
"Terimakasih."
Ucap Fandy sambil tersenyum sumringah.
"Kita mau ke mana dulu Boss?"
Tanya asisten Fandy.
"Antarkan saya ke hotel, saya ingin menangkap basah Carolina. Jangan sampai ia tahu saya sudah kembali ke Indonesia."
Ucap Fandy.
"Siap Boss."
Mereka pun langsung meninggalkan bandara menuju hotel yang tak jauh dari kantor Fandy.
Satu setengah jam kemudian, mereka pun sudah tiba di hotel. Asisten Fandy membooking satu kamar mewah untuk Fandy tempati beberapa malam.
Fandy pun beristirahat dan menyuruh asistennya untuk kembali ke kantor.
Fandy terus memantau Carolina lewat mata-mata yang iya sewa. Sudah beberapa hari, Carolina tidak pergi bersama Alex seperti biasanya. Carolina sangat takut bila bertemu dengan Alex. Karena uang yang sudah Ia janjikan belum juga ia transfer. sedangkan Alex terus-menerus meneror Carolina, agar wanita itu segera memberikan ia duit seperti yang ia minta.
Rencana Fandy pun berubah. Ia meminta bodyguard dan mata-matanya untuk membawa Alex kehadapan nya.
Ia ingin mendengar sendiri dari mulut Alex tentang hubungannya dengan Carolina.
Seperti biasa, malam ini Alex baru keluar dari club malam. Lelaki itu sedang menggandeng seorang wanita malam menuju ke parkiran. Tanpa Alex sadari, ada sebuah mobil yang mendekatinya yang sedang menuju mobilnya. Tiba-tiba saja seorang lelaki berbadan tegap menarik Alex masuk ke dalam mobil nya.
Alex yang sempoyongan karena pengaruh minuman beralkohol, tidak dapat melawan tenaga pria bertubuh kekar tersebut. Saat dirinya berada di dalam mobil Ia pun merasa bingung dan panik.
"Kalian siapa? Apa salah saya? mengapa saya di bawah?"
Tanya Alex.
"Kamu diam saja, kamu tidak akan diapa-apakan. Boss saya hanya ingin bertemu denganmu."
Ucap lelaki bertubuh kekar yang telah menarik tubuh Alex masuk ke dalam mobilnya.
"Siapa Boss kalian? apa urusannya dengan saya? saya tidak mempunyai musuh..!"
Ucap Alex dengan panik.
"Anda akan segera mengetahuinya. Jadi sekarang anda diam saja, sebelum kesabaran saya habis."
Ucap lelaki bertubuh kekar tersebut. Alex pun terdiam, ia mulai merasa takut saat melihat beberapa orang bertubuh kekar lainnya ada di dalam mobil tersebut.
__ADS_1
"Langsung bawa ke markas..!"
Perintah lelaki bertubuh kekar tersebut kepada supirnya.
"Baik Boss."
Ucap sopir itu.
Alex pun di bawa pergi menuju markas mereka. Di sana sudah ada Fandy yang sedang menunggu kedatangan Alex.
Empat puluh menit kemudian mereka pun tiba di markas. Alex diseret masuk kedalam markas tersebut. Fandy yang melihat kedatangan Alex tersenyum dengan sinis.
"Duduk..!"
Perintah bodyguard kepada Alex. Mau tidak mau Alex menuruti perintah bodyguard itu. Lalu ia duduk di depan Fandy. Kini Fandy sudah duduk berhadapan dengan pria selingkuhan istrinya.
"Siapa namamu?"
Tanya Fandy kepada Alex.
"Kamu yang menyuruh mereka untuk membawa saya?"
Alex balik bertanya. Fandy hanya tersenyum kecil saat Alex tidak menjawab pertanyaannya.
Bugggggg..!
Satu bogem mentah dari bodyguard Fandy mendarat di pipi Alex. Alex terjatuh dari kursinya, lalu ia menatap bodyguard tersebut dan juga Fandy.
"Jawab saja pertanyaan Boss kami."
"Na.. na..nama sa..saya Alex."
Ucap Alex dengan terbata-bata. Fandy pun tersenyum, lalu iya meraih ponselnya dan mencari foto-foto Alex dengan Carolina.
"Bisa dijelaskan ini?"
Tanya Fandy sambil memperlihatkan foto Alex dan Carolina yang sedang bersama. Alex pun terkejut melihat foto-foto tersebut. Lalu ia menatap lelaki yang sedang duduk di hadapannya itu.
"Kamu siapa? kamu suaminya Carolina?"
Tanya Alex kepada Fandy. Alex yang sedang mabuk, tidak dapat melihat wajah Fandy dengan jelas di remang cahaya lampu di ruangan tersebut. Sehingga ia tidak menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan suami wanita yang telah ia hamili, yaitu Carolina.
Bugggggg..!
Satu lagi bogem mentah diterima oleh Alex. Karena ia tidak segera menjawab pertanyaan dari Fandy. Darah segar keluar dari sudut bibir Alex, perlahan ia bangkit dari lantai ruangan itu. Lalu mengusap darah segar yang membasahi dagunya.
"Duduk..!"
Perintah bodyguard Fandy. Dengan badan yang gemetar dan perasaan takut, akhirnya nya Alex menuruti perintah bodyguard tersebut. Ia pun kembali duduk di atas kursi tersebut. Lalu ia mencoba menatap wajah Fandy di remang nya cahaya.
"Jawab pertanyaan saya, jangan pernah melontarkan pertanyaan kepada saya."
Ucap Fandy dengan suaranya yang terdengar sangat dingin. Alex mengangguk ketakutan lalu ia menundukkan kepalanya.
"Apa hubunganmu dengan Carolina? Jawab dengan jujur, atau kau tahu sendiri akibatnya."
__ADS_1
Ucap Fandy.
"Saya tidak punya hubungan apa-apa dengan Carolina."
Ucap Alex, berbohong.
Bugggggg.!
Kali ini pukulan keras mendarat di perut Alex, lelaki itu mengeluh saat baru saja menerima pukulan tersebut.
"Sekali lagi kamu berbohong, akan saya kubur kamu hidup-hidup."
Ucap bodyguard Fandy. Sekujur tubuh Alex gemetar saat mendengar ancaman dari bodyguard Fandy.
"Iya, dia kekasih saya."
Ucap Alex. Fandy tersenyum puas mendengar pengakuan Alex.
"Katakan kepadaku anak siapa yang telah Ia kandung?"
Tanya Fandy to the point.
"Carolina sedang mengandung anakku. Tetapi, itu semua atas permintaan dirinya. Aku tidak pernah memaksa ia untuk berselingkuh dengan ku. Aku menerima bayaran sebesar dua ratus juta untuk menghamilinya."
Ucap Alex. Fandy tersenyum sinis, ia sudah menduga anak yang Carolina kandung bukanlah anaknya.
"Kamu bilang tadi dia adalah kekasihmu. Bagaimana seorang kekasih meminta bayaran kepada wanita yang dihamilinya?"
Tanya Fandy.
"Awalnya aku hanya membutuhkan uang. Tetapi setelah berhubungan dengannya, aku pun jatuh cinta dengan Carolina. Lalu aku memaksanya untuk menjadi kekasihku, karena aku juga merasa ingin memiliki anaknya sudah ya kandung saat ini."
Ujar Alex.
"Kamu ingin memiliki anakmu?"
Tanya Fandy. Alex mengangguk dengan ragu.
"Good, kamu bebas memiliki Carolina dan bayinya. Asal kamu mau bekerja sama denganku."
Ucap Fandy.
"kerjasama?"
Tanya Alex tak mengerti dengan maksud dari ucapan Fandy.
"Aku akan menceraikannya, karena aku sudah kembali Dengan istriku sebelumnya. Aku ingin kamu mengakui perbuatan mu di depan orang tuaku dan juga Carolina bagaimana?"
Ucap Fandy. Alex hanya terdiam mendengar kata-kata Fandy.
"Tidak usah khawatir, aku akan memberikanmu sejumlah uang. syaratnya gampang bila kamu mau mendapatkan uang dariku, asal kamu berkata sejujurnya dihadapan orangtuaku dan juga Carolina"
Sambung Fandy. Mendengar akan diberikan uang, Alex pun mengangguk dengan bersemangat.
"Baik, saya akan lakukan apapun perintah anda."
__ADS_1
Ucap Alex. Fandy pun tersenyum muak menatap lelaki itu.