
"Bolehkah aku ikut ke apartemen mu?"
Tanya Fandy, saat Raline bersiap-siap untuk pulang ke apartemennya.
"Tidak"
Ucap Raline.
"Ada papa kan di apartemen? Aku ingin menemuinya. Aku ingin memintamu untuk rujuk kepadaku"
Ucap Fandy. Raline tersenyum melihat wajah Fandy yang terlihat sangat konyol bila sedang berkata serius kepadanya.
"Aku tidak bisa, karena kamu adalah suami Carolina."
Ucap Raline. Fandy terdiam mendengar penolakan terhadap dirinya.
"Bagaimana bila aku benar-benar bisa membuktikan bila Carolina tidak sedang mengandung anak ku dan aku akan menceraikannya secepat mungkin?"
Raline terdiam mendengar ucapan Fandy.
"Mommy dan Daddy tidak akan menolak kamu, karena di rahim mu, ada anakku"
Ucap Fandy lagi.
"Bila begitu berusahalah."
Ucap Raline, sambil tersenyum. Fandy pun tersenyum dengan sumringah.
"Ayo aku antar"
Ucapnya.
"Tidak usah, aku naik bus saja"
"Tidak akan aku biarkan, Aku akan terus menempel kepadamu sampai kamu bosan."
Ujar Fandy. Raline pun tersenyum kecil lalu ia menggelengkan kepalanya.
"Kamu masih saja keras kepala."
Ucap Raline, lalu ia menggandeng lengan Fandy. Lalu mereka melangkah keluar cafe. sopir Fandy sudah menunggu mereka di depan cafe. Fandy dan Raline pun naik ke dalam mobil, lalu Fandy meminta sopir Untuk mengantarkan Raline ke apartemennya.
Sepanjang jalan menuju apartemen Raline, Fandy terus menggenggam tangan Raline. Sesekali ia menyapa Fandy Junior yang terlihat bergerak dengan lincah.
"Aku ingin menemanimu saat kamu melahirkan darah dagingku nanti"
Ucap Fandy. Raline hanya tersenyum tipis, lalu ia menatap manik mata lelaki yang masih sangat ia cintai itu.
"Apakah mungkin? Bukankah kamu akan kembali ke Jakarta?
Ucap Raline.
"Tidak, aku akan stay di sini sampai kamu melahirkan nanti"
Fandy mencoba meyakinkan Raline.
__ADS_1
"Aku ingin menebus semua waktu yang telah aku lewatkan, Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu lagi. Aku harus menemanimu, merawatmu dan menyayangimu mulai saat ini, hingga akhir nanti."
Raline menahan air matanya, tetapi pada akhirnya ia tidak mampu lagi membendung air matanya. ia menangis di dada Fandy. Selama hampir 9 bulan ia menahan rasa rindu kepada Fandy, menahan rasa ingin di manja oleh Fandy. Kini Fandy sudah berada di sampingnya. Rasanya Raline tidak ingin melepaskan pelukan nya dari tubuh Fandy.
"Aku sangat merindukanmu, aku sangat mencintaimu Fandy"
Gumamnya.
"Pa, kok tumben sih ya, Raline belum pulang."
Ucap Mama kepada Papanya Raline yang sedang menonton televisi.
"Iya ya Ma, ini sudah sore. Jangan-jangan terjadi sesuatu, apa Raline melahirkan di jalan? Bagaimana ini?"
Papanya Raline mulai merasa khawatir.
"Aduh pa... Jangan nakut-nakutin gitu dong..!"
Mama berjalan mondar-mandir di depan Papanya Raline.
"Apa kita hubungi polisi saja ya Pa?"
"Tunggu sampai malam, mana tahu Raline sedang ada tugas di kampusnya"
Papanya Raline mencoba menenangkan istrinya.
"Aduh Pa, ini Kanada lho, berbeda dengan Indonesia"
Ucap Mamanya Raline, menatap suaminya dengan kesal.
"Klik"
"Raline..! Alhamdulillah akhirnya kamu pulang nak"
Mamanya Raline menyambut kedatangan Raline di depan pintu apartemen. Saat pintu terbuka lebar, Mamanya Raline terbelalak melihat sosok Fandy di belakang Raline.
"Nak Fandy.!"
Mamanya Raline terlihat tidak percaya dengan apa yang sedang ia lihat.
"Fandy?"
Ucap Papanya Raline, lalu ia tergopoh-gopoh menuju pintu depan apartemen. Ia pun terkejut melihat Fandy yang tersenyum kepadanya.
"Sore Pa,Ma."
Sapa Fandy dengan salah tingkah. Mama dan Papanya Raline hanya bisa saling berpandangan. Lalu mereka sama-sama menatap Raline dengan seksama.
"Ayo masuk"
Raline mempersilahkan Fandy untuk masuk ke dalam apartemennya. Suasana kikuk pun tidak bisa dihindari. Layaknya baru pertama kali bertemu dengan calon mertua, Fandi duduk dengan sopan dan sesekali tersenyum dengan ramah. Fandy tidak tahu akan berkata apa, ia merasa dirinya telah bersalah di depan kedua orang tua Raline.
"Kok kamu bisa bertemu dengan Raline?"
Tanya Papanya Raline kepada Fandy.
__ADS_1
"Saya memang mencari Raline Pa. dan kebetulan saya berhasil menemukannya di kampus."
Terang Fandy. Mama dan Papanya Raline menghela nafas dengan berat. lalu mereka menatap Fandy dengan saksama. Karena merasa dirinya selalu ditatap oleh kedua orang tua Raline, Fandy pun merasa salah tingkah. Melihat wajah Fandy yang salah tingkah, Raline pun menahan tawanya.
"Saya ingin rujuk dengan Raline Pa."
Ucap Fandy dengan jantan. Mama dan Papanya Raline pun terkejut mendengar niat kedatangan Fandy ke apartemen Raline.
"Kabarnya kamu sudah mempunyai istri baru, bagaimana dengan istrimu?"
Tanya Papanya Raline.
"Saya akan menceraikannya secepat mungkin, yang hanya ingin saya lakukan saat ini adalah menembus waktu yang telah saya sia-siakan. Saya ingin menemani Raline melewati kehamilannya dan menunggu kelahiran anak saya."
"Terus apa gunanya kalian bercerai waktu itu, bila ingin bersama kembali?"
Tanya Papanya Raline.
"Saya tahu saya bersalah Pa. Saya tidak pernah berniat untuk menceraikan anak Papa, tetapi keegoisan orang tua saya membuat saya harus melepaskan Raline. Waktu itu saya tidak tahu Raline sedang mengandung anak saya. Bila sebelumnya saya mengetahui Raline sedang mengandung, sudah dipastikan Saya tidak akan pernah melepaskan Raline saat itu."
Ujar Fandy.
"Pa, Ma, Raline lah yang meminta perceraian itu terjadi. Saat perceraian sudah terjadi dan Fandy sudah menikahi Carolina, baru lah Raline menyadari bahwa Raline sedang mengandung anaknya Fandy. Intinya adalah Raline lah yang bersalah dalam perpisahan kami."
Ucap Raline. Kedua orang tua Raline menghela nafas dengan berat. Lalu mereka Melihat kesungguhan di mata Fandy. Mereka pun tidak tega melihat Raline melewati masa-masa sulit sendirian tanpa hadirnya seorang suami.
"Baiklah, apabila memang kalian ingin rujuk, Papa tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Yang penting kalian berdua bahagia dan ini semua demi cucu Papa."
Ucap Papanya Raline, sambil tersenyum menatap Raline dan Fandy. Fandy menatap Raline dengan sorot mata yang bahagia. Ia pun mengucapkan terima kasih atas kemurahan hati kedua orangtua Raline. Fandy juga meminta maaf atas semua yang telah terjadi selama 9 bulan ini.
Raline menatap kedua orangtuanya dengan haru. Raline memeluk erat Mama dan Papanya. Lalu Raline menangis menatap Fandy, ia tidak dapat membendung perasaan bahagianya. Raline memeluk Fandy dengan erat, lalu ia berbisik lirih di telinga Fandy.
"I love you"
Fandy menatap Raline dengan mata yang berbinar-binar. Lalu ia mengecup mesra kening wanita yang ia cintai itu.
"I love you too, kamu tidak tahu betapa hancurnya aku saat kamu tinggalkan"
Bisiknya lirih.
"Maafkan aku"
Ucap Raline.
"Ehemmmmm..!"
Papanya Raline, berdeham saat melihat adegan romantis Raline dan Fandy di depan matanya.
"Mendadak semua orang ngontrak di dunia ini"
Ucap Papanya Raline, lalu ia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ruang makan.
"Sudah, saat nya makan..! makan..! Besok saja adegan seperti itu nya, kalau sudah sah rujuk nya"
Ucap Papanya Raline. Raline dan Fandy hanya tersenyum malu-malu menatap Papanya Raline. Malam itu mereka makan malam bersama, suasana akrab seperti dahulu, kembali tercipta antara Fandy dan kedua orang tua Raline. Kebahagiaan malam itu bukan hanya dirasakan oleh Raline dan Fandy. Tetapi jauh dilubuk hati kedua orangtua Raline, mereka sangat bahagia melihat bersatunya Raline dan Fandy kembali.
__ADS_1
Orangtua mana yang tega melihat anaknya menjalani masa-masa sulit sendirian?
Jawabannya tidak ada satupun.