Kapan Nikah?

Kapan Nikah?
39# Selamat tinggal Indonesia


__ADS_3

"Kamu baik-baik disana ya"


Mamanya Raline mengusap lembut pipi Raline.


"Iya Ma"


Jawab Raline.


"Jangan sampai sakit, sebenarnya Papa tidak ingin kamu pergi. Tetapi demi mewujudkan keinginan kamu, Papa ikhlas"


Ujar Papanya Raline, lalu Raline memeluk kedua orangtuanya dengan erat.


"Maafkan Raline, doakan yang terbaik buat Raline ya Ma, Pa"


Ucap Raline, dengan menatap kedua orangtuanya siang itu di bandara.


"Hati-hati ya nak"


"Iya Ma, Raline masuk dulu ya"


Ucap Raline. Lalu ia mencium tangan ke dua orangtuanya dan memeluk mereka sekali lagi. Raline melambaikan tangannya dan masuk ke dalam untuk chek in.


.....


Fandy baru saja sampai di kantor Raline, ia menatap lahan parkir tempat yang biasanya mobil Raline terparkir. Ia melirik arlojinya dan menunggu kedatangan Raline. Tetapi, Raline tidak kunjung datang. Ia pun merasa penasaran, karena beberapa hari ini Raline tidak masuk kantor.


Fandy pun memutuskan untuk turun dan bertanya kepada resepsionis tentang Raline. Saat ia berada di lobby, resepsionis itu menandai Fandy. gadis resepsionis langsung memberikan senyuman nya kepada Fandy.


"Pagi Mas, ada yang bisa saya bantu?"


Sapa resepsionis itu.


"Iya, saya ingin bertanya tentang Ibu Raline. Apakah ia masih bekerja di perusahaan ini?"


Tanya Fandy dengan mimik wajah khawatir nya.


"Loh, Mas kalau tidak salah suami nya Ibu Raline ya?"


Resepsionis itu balik bertanya kepada Fandy.


"I...i..iya"


Jawab Fandy dengan ragu.


"Loh, masa Mas tidak tahu bila Ibu Raline nya sudah resign?"


Ucap resepsionis itu, Fandy pun terkejut.


"Mbak tidak bercanda kan?"


Tanya Fandy dengan wajah yang khawatir.


"Tidak Mas, masa Mas suami nya tidak tahu?"


resepsionis itu menatap Fandy dengan wajah yang bingung.


"Ok mbak terimakasih..!"


Ucap Fandy lalu ia pergi meninggalkan kantor Raline dan menuju ke rumah Raline. Sebenarnya ia merasa malu bila bertemu dengan kedua orang Raline. Karena ia sudah menceraikan Raline tanpa alasan. Dan semenjak perceraian itu, Fandy tidak sekalipun menemui kedua orang tua Raline.

__ADS_1


Fandy sadar bila sikap nya itu sudah mengecewakan orangtua Raline. Tetapi demi membunuh rasa penasarannya, ia nekat pergi ke rumah Raline.


Fandy melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tidak sampai setengah jam, ia pun sudah tiba di depan rumah Raline. Fandy membuka pagar rumah Raline dan berlari menuju pintu depan rumah Raline.


Fandy memencet bell beberapa kali, lalu ia menunggu pintu di buka dengan gelisah. Tak lama kemudian, asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Raline membukakan pintu untuk Fandy.


"Eh, Mas Fandy"


Sapa asisten rumah tangga Raline.


"Bik, Raline nya ada?"


Tanya Fandy dengan raut wajah yang gelisah.


"Hmm.. anu Mas Fandy, Mbak Raline nya sudah pergi"


"Pergi kemana Bik?"


Tanya Fandy penasaran.


"Ke luar Negeri Mas"


"Luar Negeri..?"


"Iya Mas"


Jawab Asisten rumah tangga itu dengan polos.


"Liburan? kapan berangkatnya?"


"Anu Mas, Mbak Raline pindah ke luar Negeri"


Fandy terkejut mendengar ucapan asisten rumah tangga Raline.


"Iya Mas, baru saja dua jam yang lalu Mbak Raline berangkat nya"


"Bibik tahu Raline pindah ke Negara apa?"


"Duh kalau masalah itu Bibik kurang ngerti Mas"


"Ibu sama Bapak ada di rumah?"


Tanya Fandy dengan panik.


"Mereka ikut mengantarkan Mbak Raline Mas"


"Ya sudah, terimakasih Bik..!"


Fandy bergegas pergi meninggalkan rumah Raline dan melajukan mobilnya menuju bandara secepat mungkin untuk mencari Raline.


Tetapi kondisi jalanan cukup padat merayap saat itu. Ia pun tidak putus asa, Fandy meninggalkan mobil nya di sebuah pom bensin dan memesan ojek online untuk mengantarkan dirinya ke bandara secepatnya.


Raline beranjak dari duduk nya saat nomor penerbangan nya di sebutkan oleh petugas melalui pengeras suara. Ia melangkah masuk menuju lorong yang mengantarkan dirinya untuk masuk ke badan pesawat yang akan ia tumpangi.


Setelah ia berada di tubuh burung besi itu, Raline pun mencari nomor kursi nya di bantu oleh seorang pramugari cantik. Setelah menemukan kursinya, Raline pun duduk dengan nyaman.


"Selamat tinggal Indonesia"


Gumam nya. Lalu ia mengusap-usap lembut perut nya.

__ADS_1


"Kita hidup baru ya Fandy junior"


Ucap Raline sambil tersenyum menatap perut nya yang terlihat masih rata.


Beberapa menit kemudian pesawat mulai bergerak dengan lambat, mencari ancang-ancang untuk take off. Raline mulai berdo'a dan mensugesti dirinya dengan hal-hal yang positif. Semua ini adalah pilihan hidup nya, maka ia pun harus siap dengan apa yang akan ia hadapi.


Burung besi itu pun mulai melaju dengan kecepatan tinggi. Setelah beberapa detik kemudian Burung besi itu pun terbang dan meninggalkan langit Jakarta menuju Kanada.


Cuaca begitu cerah pada pagi hari itu, tetapi tidak dengan dua hati yang begitu berat untuk berpisah. Dua do'a yang berbeda, kini sedang mengadu kekuatannya di langit. Do'a Raline, ia akan hidup bahagia hanya berdua dengan buah hatinya kelak. Sedangkan do'a Fandy, ia ingin Raline kembali dan hidup bahagia bersama sampai akhir hayat nya.


Fandy baru saja sampai di bandara. Ia turun dari ojek online dan meminta drivernya untuk menunggu dirinya. Fandy berlari menuju pintu masuk terminal keberangkatan. Ia menghampiri petugas yang berjaga disana. Ia berusaha meyakinkan petugas bahwa ia hanya ingin masuk untuk menemui seseorang, sambil ia memperlihatkan foto Raline kepada petugas itu.


Sangat disayangkan, alasan Fandy tidak bisa di terima. Ia tidak bisa menyebutkan ia mencari orang dengan nomor penerbangan nya. Fandy mulai emosi, ia menerobos masuk melewati para penjaga.


Aksi kejar-kejaran pun terjadi, ia mencoba mencari Raline kesana kemari. Tetapi ia tidak dapat menemui Raline di bandara yang se luas itu. Aksinya pun berakhir saat petugas keamanan bandara berhasil meringkus Fandy. Fandy pun pasrah saat petugas membawanya ke pos keamanan bandara.


Plakkkkkk..!


"Bikin malu..!!"


Mommy menampar pipi Fandy dengan keras saat mommy berhasil meyakinkan petugas dan membawa Fandy pulang dari Bandara.


"Anak tidak tahu di untung..!!!!"


Fandy hanya terdiam menerima apa pun ucapan dan perlakuan Mommy kepada dirinya. Sedangkan Carolina hanya tertunduk lesu saat mengetahui suami nya membuat keributan di bandara hanya untuk mengejar Raline.


"Mommy kecewa dengan kamu..!!!"


Ucap Mommy lagi. Lalu wanita paruh baya itu terduduk lemas di atas sofa di ruang keluarga.


"Dimana pikiran mu Fandy? apa kamu tidak menghargai sedikitpun perasaan Mommy, Daddy dan istri mu ini..!!!"


Ucap Mommy dengan suara yang bergetar menahan emosinya. Fandy menatap wajah Mommy dengan sinis.


"Apakah kalian mau tahu dengan perasaan ku?"


Ucapan Fandy Membuat Mommy dan Carolina terperanjat. Mereka menatap Fandy dengan sikap yang serba salah.


"Apakah ada seorang pun yang mengerti aku tidak main-main dengan Raline..!"


Bentak Fandy, semuanya pun terdiam.


"Kamu...!"


Fandy mencengkram lengan Carolina dengan kasar.


"Kamu yang menyuruhku menikahi Raline..! apakah aku salah bila aku akhirnya jatuh cinta kepada dia..!!"


Carolina tidak mampu berkata apa-apa lagi. ia menahan rasa sakit di lengan nya akibat cengkraman tangan Fandy.


"Sudahi kisah kamu dan Raline..!! jangan berlaku kasar dengan istrimu..!!"


Ucapan Mommy membuat Fandy semakin bringas. Ia memukul meja hingga kaca nya pecah berantakan berserakan di lantai.


"Ada apa ini?"


Daddy muncul dengan kursi rodanya yang di bantu oleh seorang asisten yang khusus merawat lelaki paruh baya itu.


Fandy hanya menatap Daddy dengan menahan emosi nya. Lalu ia pergi meninggalkan rumah tanpa sepatah katapun.

__ADS_1


__ADS_2