
Fandy yang sedang di kantornya hanya termenung memikirkan Raline. Ia tidak bisa konsentrasi dengan apa yang ia kerjakan. Ia tidak mengerti mengapa dirinya merasa bersalah kepada Raline saat dirinya mencumbu Carolina. Ia pun tahu bahwa Carolina pasti tersinggung dengan sikapnya semalam.
Carolina yang baru saja pulang berbelanja, memutuskan untuk mampir ke kantor Fandy. Tadi pagi mereka belum sempat saling bicara karena Fandy buru-buru berangkat ke kantor.
Carolina membuka pintu ruangan Fandy dan menyapa lelaki itu.
"Hai sayang.. Maaf aku tidak mengabarimu sebelumnya, tetapi aku tidak mengganggu kan?"
Tanya Carolina, sambil berjalan menghampiri Fandy yang sedang duduk dibalik mejanya. Gadis itu mencium kedua pipi Fandy, lalu memeluk Fandy dengan hangat.
"Tidak mengganggu kok"
Jawab Fandy.
"Aku membelikanmu jam tangan baru loh.. Apakah kamu suka?"
Carolina memamerkan sebuah jam tangan yang masih di dalam kotaknya. Carolina membuka jam tangan Fandy, lalu ia mengambil jam tangan yang baru saja ia beli dan memakaikannya di pergelangan tangan Fandy.
"Bagus nggak"
Tanya Carolina.
"Bagus, terima kasih ya"
Jawab Fandi, dan ia pun tersenyum kepada Carolina.
"sama-sama"
Sahut Carolina, lalu Gadis itu duduk di pangkuan Fandy. Fandy pun mulai risih dengan sikap Carolina yang selalu duduk di pangkuannya.
"Hmmmm...Sayang aku gerah"
Ucap Fandy, lalu membantu Carolina untuk bangun dari pangkuannya.
Carolina tidak menyangka dengan sikap Fandi yang dingin. Lalu ia menatap lelaki itu dengan tidak percaya.
"Sebenarnya sikapmu berubah kepada ku, alasannya apa?"
Ucap Carolina, to the point.
"Aku tidak berubah Sayang, aku hanya sedang pusing memikirkan banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan"
Ucap Fandy mencoba untuk memberikan pengertian kepada Carolina.
"Aku rasa tidak, pasti ada sesuatu yang ada di pikiranmu saat ini. Apa karena gadis itu?"
Tanya Carolina, menahan kesal.
"Gadis itu lagi.., memangnya kenapa sih? kamu curiga dengan dia? aku tidak punya hubungan apa-apa dengannya..!"
"Tapi kamu berubah Fandy..! kamu berubah setelah kamu menikah dengannya. Ingat Fandy, dia hanya istri pura-puramu saja aku yang menyuruhmu menikahi dirinya..!"
Tegas Carolina.
Fandy menghela napasnya panjang lalu menatap Carolina dengan putus asa.
"Apalagi yang harus aku katakan padamu? Aku sudah jujur, aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Raline..!"
Ucap Fandy dengan kesal.
"Apa Kamu pikir aku tidak bisa menilai tatapan kalian berdua? Ada sesuatu diantara Kalian berdua, yang kalian tidak mau mengakuinya kepadaku..!"
Fandy mulai merasa muak, lalu ia menutup laptopnya dan menyambar kunci mobilnya.
"Mau ke mana?" Tanya Carolina
__ADS_1
"Pulang...!"
Sahut Fandy dengan acuh lalu pergi meninggalkan ruangannya.
"Fandy tunggu..!!!"
Panggil Carolina, tetapi Fandi tidak memperdulikan Carolina. iya terus berjalan menuju lift, dan menekan tombol untuk menuju ke lantai dasar kantornya.
Saat pintu lift terbuka, ia langsung masuk kedalam lift tersebut, disusul oleh Carolina yang mengejarnya dari belakang.
"Kamu jatuh cinta kepadanya kan..? jawab Fandy..!"
Carolina berteriak dari luar pintu lift.
Karena merasa malu dengan karyawannya, Fandy pun menarik tangan Carolina untuk ikut masuk ke dalam lift bersamanya, lalu ia buru-buru menutup pintu lift.
"Kamu itu apa apaan sih..! Kamu ingin membuat aku malu?"
Fandy berteriak kesal kepada Carolina di dalam lift. Gadis itu tidak menyangka Fandy berteriak kepadanya.
"Kamu tega membentak aku?"
Carolina menatap Fandy dengan genangan air mata di pelupuk matanya. Fandy mulai menyesali sikapnya kepada Carolina lalu ia memeluk Gadis itu dengan erat.
"Maaf....maafkan aku"
Ucapnya.
Selama ini Fandy tidak pernah kasar kepada Carolina. Tetapi, entah mengapa emosinya akan naik apabila Carolina terus membahas tentang Raline. Dan ia pun tidak nyaman dengan tuduhan-tuduhan Carolina tentang dirinya dan Raline. Karena ia tidak ingin Carolina berpikir bahwa Raline telah merebut dirinya dari Carolina.
Fandy memang mencintai Raline, tetapi ia tidak punya hubungan apa-apa dengan Raline. Dan ia yakin bahwa Raline pun tidak mempunyai perasaan apa-apa kepada dirinya. Hal itulah yang membuat ia marah kepada Carolina bila Gadis itu selalu mengungkit tentang dirinya dan Raline.
Carolina menangis tersedu-sedu di pelukan Fandy. Dan Fandy pun berusaha untuk menenangkan kekasihnya itu. Akhirnya mereka pun pulang ke rumah bersama-sama.
Raline yang baru saja pulang dari kantor memarkirkan Mobilnya di garasi rumah Fandy. Setelah itu ia mengunci mobilnya dan beranjak masuk ke dalam rumah.
Dirinya disambut oleh Fatma, seperti biasa Fatma melayaninya saat ia baru saja pulang dari kantor.
"Tuan mana?"
Tanya Raline kepada Fatma.
"Sedang di kamar nyonya"
Jawab Fatma dengan ragu.
"Oh"
Sahut Raline sambil berusaha tersenyum kepada Fatma.
"Fatma, Aku ingin Malam ini kamu mengantarkan makan malam ku ke kamarku saja"
"Baik nyonya"
Fatma mengangguk, lalu ia menaruh tas ke dalam lemari.
Fatma merasa Raline sedang kecewa kepada Fandy. Tetapi ia tidak mungkin mencampuri urusan pribadi majikannya.
Setelah selesai melayani Raline, Ia pun pergi meninggalkan kamar Raline.
Saat Fandy dan Carolina sedang makan malam, Fandy melihat Fatma yang sedang membawa baki berisi makanan menuju ke kamar Raline.
"Mengapa ia tidak makan di sini saja? apakah ia sedang sakit?"
Gumam Fandy.
__ADS_1
"Raline Kenapa..? kok dia tidak bergabung bersama kita?"
Ucap Carolina.
"Aku nggak tahu Mungkin dia lagi nggak enak badan"
Jawab Fandy. Sedangkan Carolina hanya mengangkat kedua alisnya, lalu kembali menyantap makan malamnya.
Setelah makan malam, Carolina dan Fandy pun masuk ke dalam kamar. Carolina berusaha menggoda Fandy untuk tidur bersamanya, tetapi lagi-lagi Fandy bersikap dingin kepada dirinya.
Hal itu membuat Carolina yakin bahwa Fandy kini sudah menganggap dirinya sebagai pria menikah. Sehingga Fandi tidak lagi mau tidur bersama dirinya, Hati Carolina pun mulai terbakar Cemburu.
"Aku ingin kamu menceraikan Raline"
Pinta Carolina. Fandy pun terkejut dengan ucapan Carolina.
"Maksudmu?"
Tanya Fandy.
"Iya bercerai lah dari Raline, dan menikahlah denganku"
Ucap Carolina lagi.
"Kamu jangan konyol Carolina, tidak semudah itu untuk bercerai. Apalagi menyangkut orangtuaku"
Fandy pun duduk di ranjangnya dan menatap Carolina dengan tajam.
"Lagi pula kamu yang menyuruhku untuk menikah dengan orang lain, karena kamu tidak ingin terjebak dalam pernikahan..!"
Carolina pun duduk disamping Fandy di atas ranjang. Wanita itu menggenggam tangan Fandy dengan erat.
"Aku menyesal dan kini aku menyadarinya. Aku ingin menjadi istrimu maka sekarang ceraikanlah dia dan menikahlah denganku"
Ucap Carolina.
"Mengapa baru sekarang? Setelah semuanya sudah terjadi?"
Tanya Fandy.
"karena aku baru menyadarinya"
Ucap Carolina sambil tersenyum.
"Tidak semudah itu Carolina, aku sudah membuat perjanjian dengan Raline. perceraian hanya terjadi bila Daddy meninggal dunia"
Ucap Fandy, Carolina pun terdiam.
"Tetapi, aku ingin menjadi istrimu..!"
Carolina mulai menangis.
"Kamu egois..! Kamu membuatku terjebak dalam pernikahan ini, lalu seenaknya kamu memintaku Untuk mengakhiri pernikahan ini..? Tidak semudah itu Carolina..! Aku memikirkan orangtuaku makanya aku menikahi Gadis itu. Sekarang apabila aku bercerai dengan dengan Raline, apa kata orang tuaku..!"
Ucap Fandy. Dirinya pun sudah terbawa emosi Karena ia merasa dipermainkan oleh Carolina.
Mereka pun saling diam. Hingga akhirnya Fandy sudah tidak tahan lagi, ia keluar dari kamar dan menuju ke ruang kerjanya.
Fandy mengunci pintu ruang kerjanya lalu ia terduduk di sofa.
Kepalanya mulai pusing memikirkan hal ini. Ia tidak habis pikir, mengapa Carolina tiba-tiba berubah pikiran ingin menikah dengannya. Padahal dulu Sudah berkali-kali Fandy mengajak Carolina untuk menikah. Tetapi Gadis itu menolaknya dengan alasan, Carolina lebih mementingkan karirnya dan tidak ingin terjebak dalam pernikahan.
Kini dia sudah terlanjur menikah dengan Raline, dan orang tuanya pun sangat menyukai Raline. Fandy tidak tahu akan berbuat apa. Yang jelas, secara pribadi pun Fandy tidak ingin menceraikan Raline. Karena, kini Fandy menyadari bahwa ia mulai mencintai gadis itu.
Masalah yang rumit bagi Fandy, ia memijat kepalanya lalu merebahkan dirinya di atas sofa. Malam itu ia tertidur di ruang kerjanya.
__ADS_1