Kapan Nikah?

Kapan Nikah?
43# Pengakuan


__ADS_3

Lima bulan telah berlalu, Fandy sudah banyak berubah demi anak yang di kandung oleh Carolina. Tetapi ia tetap tidak ingin menggauli Carolina sebagaimana layaknya seorang istri.


Fandy sudah rutin ke kantornya. Dirinya masih belum bisa move on dari Raline. Di kantor, ia selalu memandangi foto Raline yang ia simpan di laptopnya.


"Kamu dimana sayang? apakah kamu baik-baik saja disana?"


Ucap nya lirih.


Rasa rindu dan ingatannya tentang Raline tidak mau pergi dari otak dan hati nya. Justru semakin keras ia berusaha melupakan, semakin bertambah rasa rindu dan cinta nya kepada Raline.


Begitu dahsyat nya wanita itu menancapkan jejak dihatinya. Sehingga tidak sedetikpun ingatan nya tentang Raline beranjak dari benak nya.


Kandungan Carolina kini sudah memasuki usia enam bulan lebih. Tingkah Carolina yang sangat manja kepadanya membuat Fandy risih. Walaupun Carolina sedang mengandung anaknya, tetapi ia seperti tidak punya ikatan batin terhadap anak yang sedang Carolina kandung.


Mungkin karena ia tidak menginginkan anak dari Carolina. Tetapi mau bagaimana lagi? Mau tidak mau ia harus menjalankan hidup sebagai calon Ayah dari anak yang Carolina kandung.


Fandy sangat jarang pulang kerumahnya. Ia lebih sering tidur di kantor. Kantor bagaikan rumah kedua baginya. Lagi pula dikantor ia lebih tenang karena Carolina tidak akan mengganggunya dengan alasan anak yang sedang ia kandung.


Seringkali ia bertengkar dengan Carolina karena ia jarang pulang. Semakin Carolina mempermasalahkan sikapnya, semakin ia tidak respect kepada wanita itu.


..


Raline mengusap perut nya yang membuncit dengan lembut, bulan depan ia akan melahirkan. Tetapi orangtuanya belum juga mengetahui keadaan nya saat ini. Ia masih menyembunyikan kehamilannya dari orangtuanya.


Raline sangat takut bila mengatakan semua nya kepada orangtuanya. Ia takut sekali bila orangtuanya mengatakan kehamilannya kepada Fandy. Tetapi seorang teman nya, mengingatkan Raline jangan pernah menyembunyikan apa pun dari orangtua. Karena bila ada sesuatu yang terjadi, maka orangtua lah yang Raline butuhkan.


Hal itu membuat Raline, berpikir ia harus segera jujur kepada orangtuanya. Raline meraih ponselnya dan memberanikan diri untuk video call dengan orangtuanya.


"Raline...!"


Sapa Mamanya dengan antusias saat menerima video call dari Raline.


"Mama, Papa apa kabar?"


Tanya Raline. Selama ini ia sering video call dengan orangtuanya, tetapi tidak sekali pun ia menampakkan tubuh nya.


Walaupun orangtuanya mengatakan dirinya sedikit lebih berisi, Raline hanya mengatakan bahwa ia banyak makan di Negeri orang.


"Baik sayang... kamu apa kabar?"


Tanya Mama dan papa nya Raline.


"Baik"


Ucap Raline dengan suara yang tercekat.


"Apa kamu sedang ada masalah?"


Tanya Mamanya saat melihat mimik wajah Raline yang berubah menjadi murung.


"Ma, Pa, pertama, Raline ingin meminta maaf atas kebohongan Raline"

__ADS_1


Kedua orangtua Raline saling berpandangan, lalu kembali menatap Raline lewat layar ponsel mereka.


"Minta maaf? kebohongan? maksudnya apa Raline?"


Tanya Papanya kepada Raline. Raline terdiam sejenak. Ia mencoba mengumpulkan keberanian untuk berkata jujur kepada kedua orangtuanya.


"Line..."


Sapa Mamanya Raline dengan tak sabar menunggu apa yang ingin di sampaikan oleh anak nya itu.


"Ma, Pa, sebenarnya......


"Sebenarnya apa Line..?"


Potong Mamanya Raline dengan tak sabar.


"Raline hamil"


Ucap Raline.


"Apaaaa..!!!!!"


Kedua orangtuanya terkejut mendengar pengakuan Raline.


"Hamil dengan siapa?"


Tanya Mamanya Raline dengan panik.


Raline terdiam sejenak, lalu ia memberanikan diri memperlihatkan perutnya yang buncit.


Ucap Raline dengan ragu.


"Maksudnya?"


Ucap kedua orangtua Raline.


"Saat perceraian terjadi, Raline belum tahu bila Raline sedang mengandung. Raline mengetahui kehamilan Raline saat beberapa hari sebelum Raline berangkat ke Kanada"


Ucap Raline ia mulai menangis tersedu-sedu. Mamanya Raline pun ikut menangis, ia tidak percaya Raline menyimpan rahasia itu begitu lama. Ia langsung merasakan penderitaan anak satu-satunya itu.


"Pa.. bagaimana ini?"


Ucap Mamanya Raline sambil menangis tersedu-sedu. Papanya Raline tidak dapat berkata apa-apa, ia hanya memeluk erat istrinya yang terus menangis melihat penderitaan Raline.


"Kamu pulang ke Indonesia sekarang juga"


Ucap Papanya Raline.


"Tidak mungkin Pa, aku sedang mengandung. Bulan depan aku akan melahirkan"


Ucap Raline.

__ADS_1


"Bila begitu, biar Papa dan Mama yang ke sana"


Ucap Papanya Raline. Raline hanya terdiam, lalu ia mengangguk pelan.


"Kamu yang sabar ya nak"


Ucap Papanya Raline sambil menatap wajah anak nya lewat layar ponselnya.


Sebagai seorang ayah, sudah pasti hatinya sangat terluka melihat keadaan Raline saat ini.


"Tetapi Mama dan Papa berjanji ya, jangan pernah katakan ini kepada Fandy"


Ucap Raline.


"Kenapa?"


Tanya Mamanya Raline masih dengan air mata di pipinya.


"Dia sudah menikah dengan gadis pilihan orangtuanya, Raline tidak mau mengganggu kebahagiaannya"


Ucap Raline. Tangisan Mamanya Raline pun semakin meledak. Ia baru mengerti mengapa Raline menyembunyikan kehamilannya. Selama ini kedua orangtua Raline tidak lagi mengetahui tentang kabar Fandy. Baru saja mereka mengetahui dari Raline, bahwa Fandy sudah menikah lagi.


Hati kedua orangtua Raline pun merasa hancur. Mereka tidak menyangka nasib anak mereka akan seperti ini. Mereka pun berjanji kepada Raline untuk tidak mengatakan tentang kehamilan Raline kepada Fandy. Atau meminta pertanggungjawaban Fandy atas cucu mereka.


"Papa, masih sanggup menghidupi cucu . Papa tidak akan mengatakan apa-apa dan tidak akan memintanya bertanggung jawab"


Janji Papanya Raline.


"Papa akan segera mengurus kedatangan kami ke sana. Kamu yang sabar, bertahan lah sampai Papa dan Mama datang"


Ucap Papanya Raline lagi.


"Terimakasih Pa, Ma.."


Ucap Raline dengan derai air mata haru nya.


Percakapan mereka pun hanya sampai disitu. Raline mengakhiri panggilan nya dan ia pun merebahkan dirinya di atas ranjang. Ia menahan dingin yang menusuk kulit nya dari balik selimut.


"Junior, bertahanlah sampai Oma dan Opa sampai disini ya"


Ucap Raline sambil membelai lembut perutnya. Tiba-tiba terasa tendangan Junior dari balik kulit tipis perut Raline.


"Hei.. kamu belum bobok?"


Tanya Raline kepada Junior. Junior kembali menendang perut Raline. Raline tertawa bahagia. Hampir setiap saat Junior menemani Raline dengan menendang perut Mamanya.


Junior seperti merasakan perasaan Raline sejak mereka hidup berdua di Kanada. Negeri yang asing, kultur yang berbeda, serta cuaca dan suasana yang butuh penyesuaian. Junior tetap bertahan menemani Raline dalam setiap tarikan nafas Raline.


Hidup Raline lebih bermakna saat hadir nya Junior, di tambah anak yang sedang ia kandung itu begitu aktif di dalam rahim nya. Raline tidak merasa kesepian, karena Junior selalu bergerak saat dirinya berbicara.


Raline juga merasa terhibur saat Junior bergerak aktif saat dirinya merasa bersedih, mengingat semua tentang Fandy lelaki yang sangat ia cintai.

__ADS_1


"Fan, anak kita bulan depan lahir, kamu pasti bahagia bila tahu ada Junior di antara kita, tetapi maafkan aku yang tidak bisa mengatakan nya kepada mu"


Ucap Raline sebelum ia memejamkan matanya.


__ADS_2