Kapan Nikah?

Kapan Nikah?
44# Lelaki yang mencurigakan


__ADS_3

"Fan, kamu kemana saja? aku kangen sama kamu"


Ucap Carolina saat Fandy baru saja pulang kerumah nya.


"Fan anak kita bergerak aktif, kamu gak kangen sama Fandy junior?"


Tanya Carolina lagi. Fandy menatap Carolina dengan malas lalu ia menatap perut Carolina yang sudah membuncit. Lalu ia tertegun membayangkan Raline yang sedang berdiri di hadapannya dengan perut yang membuncit. Lalu ia tertawa kecil dan mengigit sudut bibirnya.


"Kok malah tertawa?"


Tanya Carolina dengan wajah yang cemberut.


"Apa kabar kamu?"


Tanya Fandy kepada Carolina.


"Baik"


Jawab Carolina dengan mata yang berbinar. Bagaimana keadaan nya? sudah kontrol ke dokter?"


Tanya Fandy lagi.


"Kamu anterin ya? kamu tidak ingin melihat dia?"


Tanya Carolina dengan bersemangat.


"Besok aku tidak bisa, aku mau keluar Negeri. Aku ada seminar di sana"


Ucap Fandy, sambil membuka kemejanya.


"Bagaimana hari ini?"


Ucap Carolina dengan antusias.


"Boleh"


Ucap Fandy lalu ia masuk kedalam kamar mandi untuk membilas tubuhnya. Carolina tersenyum puas saat melihat sikap Fandy yang sedikit melunak kepadanya hari ini.


Ia pun bersiap-siap berdandan untuk pergi ke dokter kandungan bersama Fandy.


Setelah beberapa menit kemudian, mereka pun pergi ke dokter kandungan. Disana Fandy melihat calon anak nya di layar monitor USG.


"Selamat Pak, anak nya laki-laki"


Ucap dokter sambil menunjukkan letak jenis kelamin calon bayi mereka. Fandy hanya mengangguk sambil memperhatikan calon bayinya di monitor itu.


"Kamu bahagia?"


Tanya Carolina kepada Fandy. Fandy hanya tersenyum kecil lalu kembali duduk di kursinya.


Setelah dari dokter kandungan, Fandy dan Carolina pun mampir di sebuah restoran untuk makan malam. Fandy merasa ada seseorang yang terus memperhatikan mereka.


Fandy mulai tidak nyaman dan mencoba menatap lelaki yang duduk tidak jauh dari mejanya. Tetapi ia tidak ingin mengatakan nya dengan Carolina. Melihat istri nya sedang makan dengan lahap di depan nya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian lelaki itu pun pergi, Fandy tidak mengenal lelaki itu. Tetapi, ia cukup merasa aneh dengan gelagat lelaki itu. Ia pun beranjak dari duduk nya dan mencoba mengikuti lelaki itu yang sudah keluar dari restoran.


"Permisi apa saya mengenal anda?"


Tanya Fandy kepada lelaki yang berusi sekitar tiga puluh tahun, dengan perawakan tinggi dan wajah yang tampan.


"Tidak"


Ucap lelaki itu dengan ragu.


"Maaf mengapa anda dari tadi memperhatikan saya dan istri saya?"


Tanya Fandy lagi.


"Tidak"


Ucap lelaki itu, lalu dengan terburu-buru lelaki itu masuk kedalam mobil nya dan pergi begitu saja meninggalkan Fandy. Fandy pun kembali ke meja nya dan duduk di hadapan Carolina.


"Dari mana?"


Tanya Carolina sambil menatap Fandy dengan seksama.


"Aku menghampiri lelaki yang dari tadi duduk di pojok sana, ia selalu melihat ke arah kita. Aku tidak tahu maksud nya apa. Tetapi aku merasa aneh dengan nya"


Ucap Fandy. Carolina menghentikan makan nya, lalu menaruh sendok nya di atas piring dan menatap Fandy dengan seksama.


"Lelaki aneh?"


Tanya nya sambil mengernyitkan dahinya.


Ucap Fandy. Carolina pun terdiam, ia mulai merasa gelisah.


"Sudah diamkan saja, lain kali bila ada yang seperti itu kita pindah saja, jangan di tanggapi"


Ucap Carolina.


"Kenapa? kamu sedang ada masalah dengan laki-laki yang ciri-ciri nya sama dengan yang aku katakan?"


Tanya Fandy dengan tatapan yang menyelidik.


"Tidak ada, maksud ku dari pada kamu tidak nyaman"


Ucap Carolina, ia pun membersihkan bibirnya dari sisa makanan lalu ia beranjak dari duduk nya.


"Ayo pulang"


Ucap Carolina.


"Kenapa begitu terburu-buru?"


Tanya Fandy, sambil mengernyitkan dahinya.


"Aku tidak nyaman"

__ADS_1


Ucap Carolina, lalu wanita itu pun pergi meninggalkan meja nya. Fandy sedikit kebingungan melihat sikap Carolina. Tetapi mau tidak mau ia mengikuti kemauan Carolina.


Mereka pun pulang, Fandy dapat menangkap kegelisahan di wajah Carolina. Entah mengapa ia mulai merasa Carolina menyembunyikan sesuatu dari dirinya.


"Sepulang aku dari Tokyo aku akan mencari tahu, mengapa kamu gelisah"


Ucap nya di dalam hati.


....


Fandy sudah bersiap-siap untuk berangkat ke Tokyo pada hari ini. Pagi-pagi sekali ia pergi meninggalkan rumahnya menuju kantornya lalu ke bandara. Carolina melepas kepergian Fandy dengan melambaikan tangannya dan tersenyum manis kepada Fandy.


Fandy berusaha mencoba tersenyum kepada Carolina. Semua itu ia lakukan hanya membuat Carolina merasa senang. Karena belakangan ini ia membaca artikel tentang kehamilan dan pentingnya menjaga perasaan Ibu hamil. Sejak itu ia mulai mencoba untuk bersikap manis kepada Carolina demi bayi nya yang sedang tumbuh di rahim Carolina.


"Halo, awasi dia. Berikan semua informasi kepada saya. Semuanya tanpa terkecuali"


Ucap Fandy kepada seseorang lewat sambungan telepon nya. Lalu Fandy mengakhiri panggilannya dan kembali konsentrasi mengemudi. Entah mengapa sejak kejadian kemarin, ia menaruh curiga kepada Carolina.


Fandy pun menyuruh seseorang untuk terus mengawasi Carolina. Fandy sangat penasaran dengan gelagat yang di tunjukan Carolina saat Fandy menceritakan ada seseorang yang mengawasi mereka di restoran itu.


Fandy sudah cukup lama mengenal Carolina. Dia adalah wanita yang pandai bersandiwara, selain itu Carolina adalah orang yang menghalalkan segala cara demi tujuan nya.


Fandy merasa ia harus mengetahui sesuatu. Ia akan mulai menerima Carolina bila memang wanita itu bersikap baik selama ia pergi ke luar Negeri. Bila tidak, ia akan segera menceraikan Carolina setelah wanita itu melahirkan anak nya, bila ternyata memang ada suatu rencana yang di susun oleh Carolina untuk ia dan keluarganya.


Setelah tiba di kantor, Fandy menyiapkan berkas-berkas yang akan ia bawa untuk seminar di Tokyo. Di bantu oleh sekretaris dan asistennya. Setelah selesai, Fandy melirik arlojinya dan mengangguk kepada asistennya.


Mereka pun pergi meninggalkan kantor menuju bandara. Fandy pergi bersama Asisten dan sekretaris pribadinya. Saat tiba di bandara, mereka langsung menuju terminal keberangkatan dan melakukan chek in terlebih dahulu. Setelah itu, sambil menunggu jam keberangkatan, Fandy memilih untuk duduk di longue sambil menikmati segelas kopi espresso.


Saat itu juga ia melihat kedua orang tua Raline sedang jalan melintas di depan longue. Ia pun mulai bertanya-tanya, hendak kemana mantan mertuanya itu pergi.


Fandy pun mulai berpikir, bila mantan mertuanya akan pergi untuk menemui Raline. Ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, ia pun beranjak dari duduk nya dan mencoba untuk mengejar orangtua Raline.


Tetapi langkah kaki nya tertahan, ia sadar bila orang tua Raline tidak akan berkata jujur kepadanya. Maka dari itu, ia memerintahkan asisten nya untuk pura-pura mendekati kedua orang tua itu, lalu bertanya kemana tujuan mereka. Asisten Fandy pun bergerak mengikuti orangtua Raline.


....


Setelah Fandy pergi, Carolina pun masuk kedalam kamarnya. Lalu ia meraih ponselnya dan menelpon seseorang.


"Halo, kamu yang kemarin di restoran?"


Tanya Carolina kepada seseorang di ujung sana.


"Aku sudah bilang, jangan pernah muncul di hadapan ku atau suami ku..! Kamu ingat perjanjian kita?"


Ucap Carolina lagi.


"Kamu jangan main-main dengan ku..!"


Ucap Carolina, lalu ia mematikan sambungan telepon nya dan membanting ponselnya di atas ranjang.


"Sialan...! berani-beraninya dia mengancam ku..!"


"Lihat saja Alex, aku akan membungkam mulut mu selamanya bila kamu macam-macam dengan ku"

__ADS_1


Ucap Carolina dengan emosinya.


__ADS_2