
"kita mau kemana?"
Tanya Raline saat mereka terjebak dengan macetnya jalanan Ibukota.
"Ada deh"
Ucap Fandy sambil tersenyum.
Melihat sikap Fandy, Raline mulai berpikir "Apakah benar hari ini lelaki ini akan mengatakan ingin menceraikannya?" sedangkan sikap Fandy tidak menunjukkan tanda-tanda ia akan mengatakan bahwa ingin menceraikan Raline.
"Ancol? kita mau ngapain ke Ancol?"
Tanya Raline dengan wajah yang bingung.
"Sudah.. ikut saja"
Sahut Fandy.
Lelaki itu memarkirkan kendaraannya di area Dufan. Lalu Fandi mengajak Raline untuk turun dari mobil, Gadis itu pun menurut saja. Fandi membeli tiket terusan untuk dirinya dan Raline lalu menggandeng tangan Raline untuk masuk ke dalam.
Raline terdiam saat Fandy menggandeng tangannya dengan erat. Jantungnya berdebar dengan kencang Ia tidak menyangka bila Fandy akan menggandeng tangannya.
Raline melirik lelaki itu lalu tersenyum tipis. Sedangkan Fandy terus berjalan sambil menuntun tangan Raline untuk mengikuti dirinya menuju ke salah satu wahana.
"Naik ini yuk"
Kata Fandy sambil menunjuk wahana roller coaster.
"Enggak ah, ngeri tahu"
Kata Raline.
"Ayolah temani aku, aku lagi stress ini"
Bujuk Fandy.
"stres kenapa?"
Tanya Raline.
Fandy menatap mata Raline dengan seksama, terukir jelas kerinduan diwajahnya.
"Stres karena pekerjaan"
Jawab Fandy.
Raline tidak ingin banyak bertanya, ia menghela nafasnya lalu mengangguk.
"Ayo"
Ucapnya.
Fandy begitu gembira saat Raline bersedia untuk naik roller coaster bersamanya. Jujur saja, ia merasa sangat nyaman dengan gadis itu. Ia pun merasa seperti menemukan dirinya sendiri bila berada di dekat dengan gadis itu.
Mereka berdua naik ke tubuh wahana itu, perlahan wahana itu pun mulai bergerak dengan pelan.
"Kalau takut, pegang tanganku saja"
__ADS_1
Kata Fandy kepada Raline. Raline pun melirik Fandy sambil tersenyum jahil.
"Ah paling kamu yang takut nanti.."
Ucap Raline.
"Oke, Kita lihat nanti..!"
Ujar Fandy. Fandi sengaja memilih wahana ini karena ia ingin sekali Raline menggenggam erat tangannya.
Roller coaster pun mulai bergerak dengan cepat, teriakan dari orang-orang yang menaiki roller coaster membuat suasana begitu riuh. Tidak terkecuali Raline, gadis itu berteriak dengan kencang.
Pandangan mata Fandy terus menatap Raline, ia merasa bahagia saat melihat gadis itu berteriak sambil tertawa rasanya sudah lama sekali ia tidak melihat Raline seperti itu.
Kecepatan semakin tinggi saat roller coaster meluncur turun. Raline pun berteriak dan menggenggam tangan Fandy dengan erat. Fandy tersenyum bahagia saat genggaman tangan Raline semakin erat di tangannya. Rasanya ia tidak ingin genggaman tangan Gadis itu melepaskan tangannya.
Laju roller coaster mulai melambat, saat tiba di stasiun, Mereka pun turun. Raline dengan lemas turun dari roller coaster, kakinya bergetar dengan hebat. Tangannya terus menggenggam tangan Fandy dengan erat, ia pun mulai merasa mual. Lalu Raline mencari tempat untuk memuntahkan isi perutnya.
"Hoekkkk...hoeeekkk..hoekkk"
Raline memuntahkan isi perutnya dan ia pun terduduk dengan lemas, sedangkan Fandy hanya mampu mengusap-usap punggung Raline sambil tersenyum.
"KO deh.."
Ucap Fandy sambil menahan tawanya.
"Aku tuh sebenarnya nggak pernah naik roller coaster Tapi demi kamu aku naik..!"
Ucap Raline sambil mengelap bibirnya dengan selembar tisu yang ia ambil dari tasnya.
"Pilih wahana itu yang wajar-wajar aja kenapa sih? ngikutin kamu aku bisa mati mendadak...!!"
Fandy tertawa terbahak-bahak, Ia tertawa melihat ekspresi Raline yang begitu lucu di matanya. Sudah lama ia tidak bertengkar dengan Raline, tetapi hari ini ia merasa puas karena ia dapat bertengkar lagi dengan Raline.
"Udah ah, aku mau pulang..!!"
Ucap Raline sambil cemberut.
"Dih ngambek.."
Goda fandy sambil mencubit pipi Raline pelan.
"Apaan sih..! sakit tahu..!!!"
Ucap Raline sambil menepis tangan Fandy.
Semakin Raline marah, semakin Fandy tertawa. Ia pun semakin gemas saat melihat Raline yang tidak berhenti mengomel. Dengan cepat Fandy mencium pipi Raline, lalu ia beranjak meninggalkan Raline.
Raline pun terpaku saat dirinya di cium oleh Fandy. Pipinya mulai merona merah, lalu ia meraba bekas ciuman Fandy di pipinya. Raline tidak mengerti mengapa Fandi menciumnya. Yang jelas, saat itu jantungnya berdetak tidak beraturan. Matanya pun terus menatap punggung Fandy yang mulai bergerak menjauhinya.
"Fandy jangan berikan aku harapan..! Aku bisa gila..!!!"
Gumamnya.
Fandy menoleh ke belakang, saat ia merasa Raline tak kunjung menghampirinya. Tatapan mata mereka pun saling bertemu, walaupun sesekali terhalangi oleh banyaknya orang yang lalu-lalang.
Mereka bertatapan begitu lama. Raline menggigit bibirnya, air matanya pun mulai menetes di pipinya Ia pun sangat merindukan Fandy. Ingin sekali ia berlari dan memeluk serta mencium lelaki itu. Tetapi perjanjian itu begitu kejam dan Fandy pun begitu kejam. Fandy memberikannya harapan, tetapi tidak mencintainya. Begitulah yang ada dipikiran Raline.
__ADS_1
Raline membalikkan badannya, lalu pergi berlawanan arah dari tempat dimana Fandy berdiri. Lelaki itu pun terkejut saat Raline pergi meninggalkannya lalu dengan cepat ia bergegas untullk menghampiri Raline.
"Raline tunggu!!"
Panggilnya, tetapi Raline tidak mempedulikan lelaki itu ia terus berjalan dengan cepat sambil mengusap air matanya.
"Raline..!!!!!!"
Panggil Fandy lagi. Lelaki itu pun setengah berlari mengejar Raline. Saat Fandy berhasil mengejar Raline, ia pun langsung menarik lengan Raline. Yang membuat gadis itu terjatuh di pelukannya.
"Lepasin...!!! aku mau pulang..!!!"
Ucap Raline.
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk melecehkan mu"
Ucap Fandy.
Fandy merasa bersalah karena ia mengira Raline menangis karena ia mencium pipi Raline di depan umum.
"Aku mau pulang, lepasin"
Tegas Raline.
"Oke,oke, Ya sudah kita pulang. Ayo..."
Fandy menggenggam tangan Raline, lalu mengajaknya untuk keluar area Dufan menuju ke parkiran. Tetapi lagi-lagi Raline menghempaskan tangan Fandy, gadis itu pun berjalan mendahului Fandy.
Di perjalanan menuju pulang, mereka pun saling diam. Tidak ada sepatah katapun yang terucap dari bibir mereka. Fandi terus-menerus menyesali perbuatannya, sedangkan Raline merasa sedih karena sebentar lagi dia akan berpisah dengan Fandy dan lelaki itu terus memberikannya harapan untuk tidak bisa melupakannya.
Carolina menyambut kedatangan mobil Fandi di depan teras rumah. Gadis itu bersiap-siap untuk memberikan senyuman termanisnya saat Fandy turun dari mobil. Tetapi di luar dugaannya, ternyata Raline pun turun dari mobil Fandy. Ia terkejut melihat Fandy dan Raline berada dalam satu mobil yang sama.
"Kalian? Kok bisa pulang bersama?
Tanya Carolina dengan wajah yang bingung bercampur dengan cemburu.
Tetapi saat Carolina melihat wajah Raline yang murung, ia pun tersenyum. Carolina merasa Fandy sudah mengatakan bahwa Fandy akan menikahi Carolina dan menceraikan Raline.
Raline tidak menghiraukan Carolina yang berdiri di ambang pintu. Ia pun melewati Carolina begitu saja dan langsung melangkahkan kakinya menuju kamar. Sedangkan Fandy hanya mampu terdiam saat melihat sikap Raline yang seperti itu.
Dengan gontai, Fandu berjalan menuju kamarnya. Ia membuka kemejanya dan menggantikannya dengan kaos lalu duduk termenung di pinggir ranjangnya.
Pikiran Fandy sangat kalut saat itu, ia pun mengerti bahwa Raline tidak punya sedikit hati pun untuknya. Fandy mengusap wajahnya dengan Kedua telapak tangannya, lalu menghela nafas dengan berat. Saat itu juga Carolina menyusulnya masuk ke dalam kamar.
"Bagaimana? kamu sudah mengatakan ingin menceraikannya?"
Tanya Carolina.
Fandy pun menatap Carolina dengan malas, lalu ia meninggalkan Carolina dan menuju ke ruang kerjanya. Lagi-lagi Carolina mengikutinya dari belakang, dan terus bertanya tentang perceraian. Fandy sudah tidak tahan lagi, lalu ia membentak Carolina dengan kasar.
"Kamu bisa diam gak..!!!!!! kamu membosankan!!!"
Ucap Fandy dengan tatapan sinis nya.
Carolina pun terdiam lalu hanya bisa memandang Fandy yang langsung meninggalkannya menuju ruang kerja.
Carolina merasa sakit hati, ia merasa Fandy dan Raline harus segera dipisahkan bagaimanapun caranya.
__ADS_1
Carolina pun mulai merencanakan sesuatu, ia pun tersenyum saat membayangkan drama yang menurutnya menarik. Ia tidak peduli bila harus mengorbankan siapapun, yang penting dirinya dapat memiliki Fandy seutuhnya.