Kapan Nikah?

Kapan Nikah?
24# Bercerailah..!


__ADS_3

Tok tok tok...!


Raline melangkahkan kakinya ke arah pintu, saat mendengar ketukan yang berkali-kali dari luar pintu kamarnya.


Perlahan Ia membuka pintu kamarnya, dan melihat siapa yang sudah mengetuk pintu kamarnya.


"Hai.."


Sapa Carolina dari balik pintu kamar Aline.


"Ha... hai.."


Sahut Raline dan tersenyum kepada Carolina.


"boleh aku masuk?"


Tanya Carolina.


"Silahkan"


Lalu Raline membuka pintu kamarnya lebar-lebar dan Carolina pun melangkah masuk kedalam kamar Raline.


"kamu sedang tidak enak badan?"


Tanya Carolina.


"Hmmmm... i.. iya"


Sahut Raline, terbata.


"Oh begitu, aku mengganggu tidak?"


Ucap Carolina.


"Tidak"


Sahut Raline, dan ia pun duduk di ranjangnya. Carolina pun mengikuti Raline dan duduk di sebelah Raline.


"Aku mau bicara"


"Oke mau bicara apa?"


Tanya Raline.


"To the point saja ya.., Aku tidak suka berbasa-basi"


Ucap Carolina sambil menatap Raline dengan wajah yang serius.


"I..iya"


Raline mengangguk dan mencoba untuk tersenyum kepada Carolina.


"Aku ingin kau bercerai dengan Fandy"


Ucapan Carolina membuat Raline terhenyak, dadanya pun mulai terasa sesak.


"maksudnya?"


Tanya Raline dengan wajah yang serius.


"Bercerai, apa harus aku jelaskan?"


Ucap Carolina sambil tersenyum kecil, ia merasa Raline pura-pura bodoh hingga membuat dirinya sedikit merasa kesal.

__ADS_1


Raline pun hanya bisa terdiam, iya tidak mengerti mengapa Carolina menyuruhnya bercerai dengan Fandy. Padahal, pernikahan dirinya dan Fandy karena rekayasa dari Carolina sendiri.


Lalu mengapa dengan mendadak Carolina menyuruhnya dan Fandy bercerai.


"Hmmm... begini, maksudku mengapa terlalu mendadak?"


Tanya Raline lagi.


"Aku ingin menikahinya. Jadi, aku ingin kamu menyingkir dari hidupnya, apakah kamu bersedia?"


Tanya Carolina tanpa banyak berbasa-basi. Raline hanya terdiam tanpa sepatah kata pun. Pernikahannya dengan Fandy baru berjalan tiga bulan. Pikirannya mulai kalut, apa kata kedua orangtua dan keluarganya? serta Bagaimana dengan ayah dan ibu Fandy?". Ia tidak bisa membayangkan kekacauan yang akan terjadi apabila dalam waktu dekat ini ia bercerai dari Fandy.


"Kamu tidak mau?


Tanya Carolina.


"Bu...bukan begitu. Hanya saja, Bagaimana dengan keluargaku dan Fandy?"


Ucap Raline khawatir.


"Itu bukan urusanku Raline. Ingat, kamu dan Fandy hanya menikah pura-pura. Jadi, apabila kalian bercerai, itu tidak ada beban sama sekali dan tidak ada urusannya denganku"


Ucap Carolina dengan entengnya. Mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Carolina, Raline pun menatap gadis itu dengan tak percaya.


"Carolina Apakah kamu tidak tahu ayahnya Fandy sedang sakit aku rasa itu tidak mungkin..!"


Ucap Raline.


"Hmmm... Apakah kamu tidak rela bercerai dari Fandy? Apa jangan-jangan kamu sudah mulai mencintai Fandy ya?"


Kata Carolina berterus terang. Raline terkejut saat mendengar pertanyaan Carolina. Air mukanya pun langsung berubah, pucat pasi.


"Mengapa tidak dijawab? Apakah benar yang aku katakan Raline?"


"Aku dan Fandy hanya saling membantu. Apabila bantuan ku sudah tidak diperlukan lagi, Aku siap melepaskannya ucap Raline"


Carolina pun tersenyum puas, lalu mengangguk pelan.


"Good girl"


Ucapnya, sambil membelai rambut Raline.


"Kalau bisa secepatnya kamu bercerai dengan Fandy dan kamu secepatnya pergi dari sini. Terima kasih atas bantuan mu selama ini"


Carolina pun beranjak dari duduknya. lalu ia melangkahkan kakinya menuju pintu kamar Raline.


"Carolina.."


Panggil Raline, Carolina pun menoleh dan menatap Raline.


"Ya..?"


Tanyanya.


"Kalau boleh aku tahu, apa yang membuatmu berubah pikiran untuk menikah dengan Fandy?"


Raline memberanikan diri untuk bertanya tentang hal yang membuatnya penasaran.


Carolina pun tersenyum sinis, lalu kembali menghampiri Raline dan dan membungkuk mendekatkan bibirnya ke telinga Raline yang masih duduk di ranjang.


"Karena Aku pantas untuknya, dan kamu tidak"


Ucap Carolina, lalu ia kembali berdiri tegak dan meninggalkan kamar Raline.

__ADS_1


Tubuh Raline gemetar menahan emosi, tetapi ia tidak punya hak untuk marah.


Raline menuju pintu kamarnya lalu kembali menguncinya. Ia pun kembali termenung mengingat apa saja yang telah Carolina ucapkan kepadanya.


Raline pun mulai menangis. Ia tidak tahu bagaimana caranya untuk mengekspresikan rasa amarahnya.


Raline pun mengambil kesimpulan bahwa Carolina berkata seperti itu kepadanya atas persetujuan Fandy.


Raline mulai merasa dirinya hanya sebuah alat bagi Carolina dan Fandy. Walaupun hal yang sama ia lakukan kepada Fandy, tetapi sekarang berbeda halnya, karena Raline sudah jatuh cinta kepada Fandy. Walaupun ia tidak tahu bagaimana perasaan Fandy kepadanya. Tetapi, malam ini ia sangat merasa kecewa terhadap Fandy.


....


Fandy tersenyum melihat foto-foto dirinya dan Raline saat berbulan madu di Korea dari ponselnya saat. Sebenarnya, diam-diam ia sangat merindukan Raline. Karena, saat adanya Carolina di rumahnya, Fandy sudah tidak bisa lagi bercanda atau hanya sekedar keluar bersama Raline.


Ia menatap senyuman yang terukir diwajah Raline dalam foto yang berada di dalam ponselnya. Ia merasakan kedamaian saat melihat senyum gadis itu. Fandy tidak bisa membendung perasaan rindunya, ia pun pergi meninggalkan kantornya dan menuju ke kantor Raline.


...


"Haizzzzz..... termenung lagi termenung lagi..."


Ucap Sinta, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Apaan sih lu..!"


Ucap Raline sambil mengerutkan dagunya.


"Sumpah. Semenjak lu nikah, lu tuh kayak orang punya tekanan batin gitu mbak..!"


komentar Sinta. Raline melipat tangannya di atas meja lalu menenggelamkan wajahnya di atas kedua tangannya.


"Gua lagi stress...!"


Ucapnya tercekat.


Sinta mulai memandangi Raline dengan wajah yang serius, lalu menghampiri Raline di mejanya.


"Punya masalah apa lagi lu mbak?"


Tanya Sinta sambil mengusap lembut punggung Raline.


"Pacarnya laki gue, nyuruh gue cerai dengan laki gue..!"


Ucap Raline.


"Hah..! Kayak judul sinetron aja. Serius lo Mbak?"


Tanya Sinta, tak percaya.


Raline pun mengangkat wajahnya lalu menatap Sinta dengan wajah yang kuyu, lalu ia pun mengangguk pelan.


"Wah edan..! isi perjanjiannya gimana sih? Masa itu perempuan seenaknya begitu sih?"


Tanya Sinta, penasaran.


"Entahlah"


Jawab Raline, lalu ia beranjak dari duduknya dan pergi ke toilet. sedangkan Sinta hanya bisa memandang Raline dengan wajah simpatinya.


Raline mulai menangis didalam bilik toilet di kantornya. Ia mulai teringat kenangan nya bersama Fandy, mulai dari pernikahan, bulan madu sampai kehidupan yang telah ia jalani bersama Fandy selama tiga bulan ini.


Raline pun mulai merasa berat untuk meninggalkan Fandy, apalagi harus melupakan lelaki itu. Meninggalkan seseorang yang kita cintai itu tidak mudah, apalagi harus terpaksa melupakannya.


"Andaikan Fandy mempunyai perasaan yang sama denganku, Mungkin aku akan berjuang untuk mempertahankan nya. Tetapi Apa daya, cintaku bertepuk sebelah tangan. Lagi pula, jauh sebelum ada diriku di dalam kehidupannya, ia sudah mempunyai Carolina yang mengisi hatinya. Dan aku sudah pasti tidak akan pernah punya tempat di dalam hati Fandy. Mau tidak mau, aku akan merelakan dan bercerai dengan Fandy. Dan kembali menjalani hidupku sendiri"

__ADS_1


Batin Raline berbisik lirih.


__ADS_2