Kapan Nikah?

Kapan Nikah?
28# Meninggalkan rumah


__ADS_3

Supir menghentikan laju mobil di depan IGD. Beberapa team medis menyambut kedatangan mereka. Daddy di bawa ke dalam ruang IGD dan di periksa oleh ahli medis.


Raline yang tadi tidak sempat untuk ikut kedalam mobil Fandy pun menyusul ke rumah sakit. Sesampainya ia disana, Daddy sudah di pindahkan ke ruang ICU.


Raline pun merasa bersalah dengan apa yang sudah ia katakan, sehingga membuat mertuanya itu shock dan membuat jantung Daddy anfal.


Raline berlari mencari ruang ICU di rumah sakit itu. Ia melihat Fandy, Carolina dan Mommy tertunduk sedih di ruang tunggu ruangan ICU.


Raline melangkah perlahan menghampiri mereka, Mommy yang sedang bersedih melihat kehadiran Raline. Wanita paruh baya itu pun berdiri dari duduk nya dan mulai menyalahkan Raline.


"Ini semua gara-gara kamu..!!! Kamu sudah mempermainkan perasaan saya dan suami saya, sekarang apakah kamu puas melihat suami saya terbaring sakit seperti itu..!"


Ucap Mommy, sambil menunjuk-nunjuk Raline. Raline hanya mampu terdiam, air matanya pun mulai membanjiri pipinya.


"Sudahlah Mom, jangan salahkan Raline..! ini semua salah Fandy"


Ucap Fandy.


"Kamu juga benar-benar kurang ajar Fandy..! Sekarang apabila kamu menyayangi Mommy dan Daddy tolong ceraikan dia dan menikahlah dengan pacarmu Carolina. Dan berikanlah kami keturunan secepatnya..!"


Ucap Mommy.


"Tapi Mom......


"Tidak ada tapi tapi..! Turuti atau lebih baik mau Mommy mati..!"


Ucap Mommy sambil menangis. Fandy pun tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia terduduk lemas dan mengusap wajahnya dengan kesal.


"Aku permisi dulu"


Ucap Raline. Gadis itupun melangkah pergi.


Fandy yang melihat Raline beranjak pergi pun langsung mengejar Raline.


"Line..Line.. tunggu dulu Line..!"


Seru Fandy.


Fandy meraih pergelangan tangan Raline, lalu menghadang Raline agar gadis itu menghentikan langkahnya.


"Aku tidak mau bercerai, entah mengapa aku ingin melanjutkan pernikahan ini dengan sungguh-sungguh. Aku rasa aku jatuh cinta kepadamu Line, jujur dari hatiku yang paling dalam. Aku cinta kamu, sangat mencintaimu. Jangan pernah tinggalkan aku, aku mohon"


Ucap Fandy.


Raline pun menatap Fandy dengan genangan air mata di pelupuk matanya. Ia melihat kesungguhan jauh di dalam mata lelaki itu, lalu Raline pun menangis.


Melihat Raline menangis, Fandy langsung memeluk Raline dengan erat. Kini Raline menangis tersedu-sedu di dada lelaki itu. Fandy pun juga tidak bisa membendung air matanya.


"Mengapa baru kamu katakan sekarang?"

__ADS_1


Ucap Raline.


"Karena aku tahu, kamu tidak memiliki rasa yang sama denganku Raline"


Ujar Fandy.


Raline pun hanya terdiam. Ingin sekali ia mengatakan bahwa dirinya pun sangat mencintai Fandy. Tetapi, tidak mungkin untuk saat ini. Keadaan begitu tidak berpihak kepadanya Ia tidak ingin membuat Fandy menjadi anak durhaka dan menentang kedua orangtuanya karena lebih memilih Raline.


Ia pun lebih memilih bungkam dan membiarkan perasaannya tersimpan di jauh di lubuk hatinya.


Raline melepaskan pelukan Fandy, gadis itu tersenyum kepada Fandy.


"Jaga dirimu baik-baik, berbahagia lah bersama Carolina. Karena itulah impian kalian sebelum hadirnya diriku"


Ucap Raline, lalu beranjak pergi dari hadapan Fandy.


"Line.., sebentar Line..!"


Fandy kembali menghadang langkah kaki Raline, lalu memegang kedua pundak Raline.


"Coba kamu jawab sejujurnya, Apakah tidak ada rasa cinta di hatimu kepada ku?"


Tanya Fandy, sambil menatap Raline lekat-lekat.


Raline pun menundukkan wajahnya, Ia tidak mampu menatap mata lelaki yang ia cintai itu.


Desak Fandy.


Raline menghela nafasnya, lalu ia memberanikan diri untuk menatap mata lelaki itu.


"Maaf aku tidak mencintai kamu"


Ucap Raline.


Fandy pun melepaskan tangannya dari pundak Raline. Ia merasakan sakit yang luar biasa jauh di dalam hatinya. Raline menepuk dada Fandy dengan pelan, lalu gadis itu melangkah pergi meninggalkan rumah sakit itu.


Fandy terduduk di kursi tunggu yang berada di sampingnya. Ia pun mulai menangis tersedu-sedu. Rasanya ia tidak pernah sesakit ini mencintai seseorang. Tetapi kali ini, rasanya hati Fandy ingin meledak karena terlalu mencintai Raline. Kini, Fandy hanya mampu menyesali mengapa ia tidak mengatakan lebih awal bahwa ia sangat mencintai Raline.


Raline mengemasi barang-barangnya, lalu ia beranjak pergi dari rumah Fandy. Memang tidak ada kenangan manis didalam rumah itu. Tetapi, kenangan manis terukir karena orang yang memiliki rumah itu. Yaitu, Fandy.


Dengan berderai air mata, Raline menuju mobilnya dan menaruh kopernya ke dalam bagasi. Lalu Ia mengendarai mobilnya menuju rumah orangtuanya.


"Pa, Mama tuh, sudah gak sabar deh punya cucu dari Raline. Udah kepengeeeeen banget main bersama cucu loh Mama. Kayak teman-teman arisan Mama, mereka kalau lagi arisan pasti ada yang membawa cucunya atau menceritakan tentang lucunya kelakuan cucunya. Mama kan iri Pa..!"


Ucap mama Raline sambil mengerik punggung Papa Raline yang sedang masuk angin.


"Sudah Ma, doakan saja Raline cepat mempunyai keturunan"


Ucap Papa Raline.

__ADS_1


"Eh, Pa.. Sepertinya itu suara mobil Raline deh"


Mama nya Raline mengangkat jari telunjuk nya dan mencoba mendengarkan suara mesin mobil yang baru saja memasuki pekarangan rumahnya.


"Sebentar ya Pa, Mama lihat dulu ke depan"


"hemmmm"


Dengan cepat, Mama nya Raline menuju pintu depan dan membuka pintu dengan bersemangat.


"Tuh kan benar, anakku pulang. Panjang umur si Raline, baru saja diomongin sudah datang saja"


Ucap Mama nya Raline sambil tersenyum menatap anak nya yang baru saja turun dari mobil.


"Raline... anak mama, tumben datang jam segini. Kamu pasti ingin memberikan kabar baik ya kepada Mama?"


Tanya mamanya Raline dengan antusias.


Raline menghampiri Mamanya dengan langkah yang gontai, lalu ia mencium kedua tangan mamanya dan ia pun langsung beranjak masuk ke dalam rumah.


Mamanya Raline mengangkat kedua alisnya dan menatap anaknya yang terlihat murung dengan seksama.


"Apa kamu sedang ada masalah dengan suamimu?"


Tanya mamanya Raline dengan khawatir.


Raline pun menatap wajah mamanya, ia tak bisa lagi membendung tangis nya. Lalu ia memeluk wanita yang telah melahirkannya lebih dari tiga puluh tahun yang lalu itu.


"Kamu kenapa?"


Tanya mamanya Raline sambil mengusap lembut punggung Raline.


"Raline mau istirahat dulu ya Ma"


Ucap Raline, lalu ia melepaskan pelukannya dari tubuh mamanya dan ia pun bergegas menuju kamarnya.


Mamanya pun hanya terdiam kebingungan, begitu juga Papanya Raline yang baru saja menyusul ke ruang tamu.


Mereka hanya mampu melihat anak tunggal mereka yang sedang terlihat bersedih itu, menaiki satu persatu anak tangga menuju kamar.


"Ada apa Ma? kok, Raline sepertinya sedang bersedih begitu ya?


Tanya Papanya Raline.


"Mama enggak tahu Pa, dia datang-datang sudah begitu. Kenapa ya kira-kira?"


Mamanya Raline balik bertanya. Kedua orangtua Raline hanya bisa saling pandang dan terdiam. Firasat mereka mengatakan sesuatu terjadi kepada Raline. Karena selama ini, mereka tidak pernah melihat wajah Raline yang begitu sedih seperti itu.


Akhirnya mereka memutuskan untuk membiarkan Raline terlebih dahulu, agar Raline bisa sedikit tenang dan mau membicarakan masalahnya dengan mereka.

__ADS_1


__ADS_2