
"Kita kabur aja yuk berdua"
Ucap Fandy saat dirinya baru saja menerima telepon dari Mommy nya.
"Loh, kenapa memangnya?"
Tanya Raline penasaran. Fandy pun hanya terdiam dan menatap Raline dengan seksama.
"Kamu istri ku kan? Kamu mau kan ikut dengan ku. Kita pindah kemana saja, asal kita bersama"
Pinta Fandy kepada Raline.
"Iya, terus kenapa? masalahnya apa sih? Mommy ya?"
Tanya Raline. Fandy hanya mengangguk dengan perlahan.
"Mommy meminta ku untuk menikahi Carolina"
Ucap Fandy. Raline pun hanya bisa terdiam.
"Please aku gak mau menikah dengan Carolina, aku sudah mempunyai kamu Line..!"
Fandy menggenggam erat tangan Raline. Air mata Raline pun mulai mengembang di pelupuk matanya.
"Menikahlah, dan ceraikan aku Fan"
Fandy terkejut mendengar kata-kata Raline.
"Kenapa begitu?"
Tanya Fandy.
"Aku hanya ingin Mommy dan Daddy bahagia"
Ucap Raline, sambil mengusap air matanya.
Fandy pun memeluk Raline dengan erat. Ia bingung harus bersikap bagaimana.
"Tidak, aku tidak mau menikahi wanita lain"
Ucap Fandy dengan tegas.
"Aku tidak apa-apa, menikahlah dengan nya"
"Aku bilang aku tidak mau..!"
Ucap Fandy lagi sambil melepaskan pelukannya dari tubuh Raline.
"Kamu ini kenapa sih? harus nya kamu sebagai istri mencegah..!"
Ucap Fandy, kesal.
"Aku bisa apa Fan?"
Raline menatap mata Fandy yang mulai memerah. Dan ia pun memegang kedua pipi Fandy dengan kedua telapak tangannya.
"Percayalah kepada ku. Bila kita berjodoh, kita pasti akan bersatu kembali. Tetapi, aku mohon saat ini. Buanglah ego mu, turuti apa mau orangtua mu. Aku takut kamu akan menyesali apa bila terjadi sesuatu kepada Daddy dan Mommy"
Ucap Raline.
Fandy menyingkirkan kedua tangan Raline dari pipinya. Ia pun beranjak dari duduknya dan mengambil kunci mobilnya.
"Mau kemana?"
Tanya Raline kepada Fandy.
__ADS_1
"Aku mau temui Mommy di rumah sakit dan memberikan pengertian kepada Mommy bahwa aku tidak mau menikah dengan Carolina"
Fandy pun beranjak pergi meninggalkan kamar Raline. Raline hanya terdiam di atas ranjangnya.
..
Fandy mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tidak sampai satu jam kemudian, ia pun sudah tiba di rumah sakit untuk menemui Mommy nya.
Mommy sedang terduduk lesu di atas sofa ruang rawat inap Daddy. Daddy sudah di pindahkan ke ruang rawat inap sejak kemarin sore. Keadaan nya sudah mulai stabil dan terus membaik.
Daddy dan Mommy melihat Fandy yang terlihat marah masuk kedalam kamar rawat inap. Mereka berdua mengeryitkan dahi saat melihat sikap anak nya itu.
"Kamu ini kenapa sih Fan..?"
Tanya Mommy kepada Fandy.
"Mommy dan Daddy yang apa-apaan..! Bagaimana bisa mommy dan daddy memaksa ku menikahi gadis yang tidak aku cintai..? aku sudah mempunyai istri..!"
Ucap Fandy dengan emosi.
"Bagaimana bisa kamu membohongi mommy dan daddy lagi?"
Tanya Daddy dengan wajah sinis nya.
"Aku tidak berbohong, aku benar-benar mencintai Raline saat ini Mom..Dad..!"
"Sudah, jangan berbohong lagi, sekarang nikahi Carolina..! Mommy juga sudah tidak respect kepada Raline..!"
Ucap Mommy tak kalah emosi.
"Aku tidak mau..! kenapa Mommy tidak respect kepada Raline? ini semua salah ku..! aku yang meminta Raline menikahi ku..!"
Ucap Fandy, kesal.
"Tidak ada tapi tapi..! Nikahi...! atau....
Daddy memegangi dadanya. Mommy pun menjerit khawatir saat melihat suaminya menahan sakit.
"Tega kamu Fandy..! kamu memperlakukan orangtua mu seperti ini..!"
Fandy pun terdiam terpaku.
Mommy memencet tombol untuk memanggil perawat dan dokter. Mommy terlihat sangat panik. Ia terus memanggil Daddy sambil menangis, sedangkan Daddy terlihat sungguh menderita karena rasa sakit nya.
Dokter dan perawat pun datang, dengan sigap mereka memeriksa keadaan Daddy. Mommy dan Fandy pun di minta untuk menunggu di luar saja. Mereka pun menuruti permintaan dokter.
Fandy terlihat semakin pusing dengan keadaan ini. Ia pun hanya bisa terdiam di bangku tunggu di depan kamar rawat inap Daddy. Sedangkan Mommy masih terus menangis tersedu-sedu.
Beberapa saat kemudian, dokter keluar dari ruangan Daddy. Dengan Cepat, Mommy langsung menghampiri dokter dan menanyakan keadaan Daddy.
"Bu, kalau bisa Bapak jangan pernah mendengar hal-hal yang membuat Bapak menjadi anfal. Kalau bisa di jaga berita-berita yang Bapak dengar. Dan kalau bisa turuti saja kemauan Bapak asal Bapak bahagia"
Ucap dokter itu kepada Mommy.
"I..i...iya dok"
Jawab Mommy, masih menangis tersedu-sedu.
Setelah dokter pergi, Mommy menatap Fandy dengan kesal.
"Kamu memang anak yang tidak tahu balas budi kepada orang tua mu sendiri..!"
Fandy hanya terdiam membisu.
Mommy masuk kedalam kamar rawat inap Daddy, di susul oleh Fandy. Dengan perlahan ia menuju keranjang Daddy, ia pun duduk di samping ranjang tersebut.
__ADS_1
Ia melihat raut wajah Daddy yang begitu lelah dan menua. Fandy pun mulai merasa sedih. Ia menggenggam tangan tua Daddy yang keriput.
Lelaki tua itu melirik Fandy dengan air mata di sudut matanya. Napas nya tersengal-sengal mencoba menghirup udara yang di hembuskan dari selang oxygen.
"Ok, Fandy akan menceraikan Raline, dan menikah dengan Carolina"
Ucapnya.
Daddy memandang Fandy dengan mata yang berbinar.
"Benarkah itu Fandy?"
Tanya Daddy dengan suaranya yang bergetar.
"Iya"
Jawab Fandy dengan suara yang tercekat. Daddy dan Mommy pun tersenyum lega saat mendengar keputusan Fandy kali ini.
...
Fandy pulang kerumahnya, ia di sambut oleh Carolina yang sejak kemarin menunggunya pulang.
"Kemana saja kamu..!"
Tanya Carolina dengan kesal.
"Bukan urusan mu..!"
Jawab Fandy sambil berlalu begitu saja dari hadapan Carolina.
"Fan...! kamu benar-benar tidak mencintai aku lagi..? sikap mu berubah sekali...!"
Tanya Carolina, Gadis itu mengikuti Fandy yang sedang berjalan menuju le kamarnya. Fandy tidak menghiraukan pertanyaan Carolina. Ia membuka pintu kamarnya dan membanting pintu itu lalu menguncinya.
Carolina terkejut saat dirinya hampir saja tertabrak daun pintu kamar Fandy. Ia pun langsung mencoba membuka pintu tersebut, tetapi pintu itu sudah di kunci oleh Fandy.
Carolina memukul pintu kamar Fandy dengan kesal, lalu ia pergi menuju dapur untuk membuat segelas cokelat hangat untuk menenangkan dirinya.
...
Fandy mengambil ponselnya dari saku celananya. Lalu ia mencari nomor Raline, dan menghubungi nya.
"Line..."
"Ya"
"Line...aku mau bertemu, aku kerumah mu sekarang ya"
Ucap Fandy dengan menahan tangisnya.
"Iya"
Jawab Raline, singkat. Suaranya tercekat, ia terus menghapus air matanya dan menghela napasnya dengan perlahan.
"Kali ini aku tahu, kamu akan menceraikan aku kan Fandy?"
Gumam Raline, lirih.
Ia kembali tenggelam dalam sedihnya. Walaupun ia tidak rela melepaskan Fandy, tetapi ia juga tidak akan tega melihat orang tua Fandy menderita karena dirinya.
Raline menenggelamkan tangis nya di atas bantal. Ia membuka ponselnya, dan memandangi Foto-foto dirinya dengan Fandy saat berbulan madu di Korea.
Raline pun menangis tersedu-sedu. Hati nya terasa begitu hancur. Kali ini cinta nya memang bersambut, tetapi ia tetap tidak bisa bahagia bersama orang yang ia cintai.
"Tuhan.. aku salah apa?"
__ADS_1
Raline menatap langit-langit kamarnya.