Kapan Nikah?

Kapan Nikah?
48# Fandy?


__ADS_3

Pagi itu Raline berangkat ke kampusnya dengan menggunakan bus. Dengan hati-hati ia melangkah menaiki tangga bus, lalu duduk di bangku prioritas.


Ting..ting...ting..!


Ponsel Raline berdering, dengan tergesa-gesa Raline mengangkat telepon dari Welas.


"Di mana?"


Tanya Welas melalui sambungan ponselnya.


"Di bus, baru saja naik. Tumben nelpon gue?"


Tanya Raline kepada Welas.


"Enggak ada, gue cuma ngecek doang lu ke kampus apa nggak hari ini"


Ucap welas dari ujung sana.


"Ke kampus kok, sampai jumpa di sana ya"


Ucap Raline.


"Ok"


Welas pun mengakhiri panggilan nya. Lalu ia mengetik pesan untuk Fandy.


"Raline ke kampus hari ini, lebih baik siang nanti jumpai dia di cafe tadi malam. Aku akan membawa Raline kesana"


Ketik Welas, lalu ia mengirimkan nya kepada Fandy.


Fandy baru saja selesai sarapan di hotelnya. Saat pesan masuk di ponselnya, Fandy pun langsung membaca pesan tersebut.


Fandy tersenyum saat mendapat pesan dari Welas. Ia pun membalas pesan dari welas dengan mengucapkan terimakasih kepada wanita yang telah membantu nya untuk bertemu dengan Raline.


Fandy sudah tidak sabar untuk bertemu dengan pujaan hatinya. Ia pun segera memilih baju yang terlihat menunjang penampilan agar Raline terpesona saat bertemu dengan nya nanti siang.


"Aku ingin bertemu"


Ucap Alex dari sambungan telepon kepada Carolina.


"Apalagi sih..!"


Tanya Carolina dengan ketus.


"Jangan pernah acuhkan aku atau aku akan buka suara"


Ancam Alex, lelaki itu tidak suka dengan sikap Carolina yang selalu ketus kepadanya. Carolina pun terdiam mendengar ancaman lelaki yang telah menghamilinya itu.


"Mau bertemu di mana? cepat katakan"


Ucap Carolina.


"Kamu datang ke apartemenku sekarang juga"


Perintah Alex.


"Ya"


Ucap Carolina, lalu ia mematikan ponselnya. Carolina terduduk di tepi ranjang, ia mengusap wajahnya dengan gusar dengan Kedua telapak tangannya.


"Arghhhhh...! kenapa jadi seperti ini sih..!"


Ucap nya dengan kesal. Lalu ia bersiap-siap untuk pergi meninggalkan rumahnya menuju apartemen Alex. Carolina mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia terus merasa khawatir bila seseorang mengikutinya dari belakang.


Carolina takut sekali bila rahasianya terbongkar. Tidak bisa ia bayangkan ia akan tercampak dari rumah bahkan ia akan diceraikan oleh Fandy.


Carolina menghentikan mobilnya tidak jauh dari apartemen Alex. Ia memperhatikan sekeliling jalan raya tersebut. Setelah keadaan ia anggap aman, Carolina pun kembali melajukan mobilnya untuk masuk ke dalam area apartemen Alex.


Carolina memarkirkan Mobilnya di dalam basement gedung apartemen tersebut. Lalu dengan santai ia keluar dari mobilnya dan menuju lift untuk membawanya naik ke atas unit apartemen Alex.

__ADS_1


"Carolina cintaku kesayanganku, akhirnya kamu datang juga"


Ucap Alex yang menyambut kedatangan Carolina saat ia membukakan pintu apartemen untuk wanita itu. Carolina menatap Alex dengan wajah yang kesal. Lalu ia masuk kedalam apartemen Alex.


"Ada perlu apa kamu menyuruh ku datang? cepat katakan aku tidak banyak waktu"


Ucap Carolina kepada Alex.


"Aku ingin tidur denganmu"


Ucap Alex dengan berterus terang. Carolina mencium aroma alkohol dari mulut lelaki itu.


"Kamu mabuk?"


Tanya Carolina dengan tatapan sinis nya. Lelaki itu tertawa terbahak-bahak, lalu memeluk Carolina dengan mesra.


"Sejak kapan aku absen minum alkohol?"


Ucap lelaki itu, lalu ia mengecup bibir Carolina dengan mesra. Carolina melepaskan pelukan Alex dengan kasar. Lalu ia menampar lelaki itu dengan keras.


PLAKKKKK..!


"Aku bukan pelampiasan nafsu mu..!"


Ucap Carolina dengan mata yang memerah menahan emosinya.


"Kamu berani menampar ku Carolina..!"


Lelaki itu mencengkram kedua lengan Carolina dengan kasar, lalu menyeret Carolina menuju kamarnya. Carolina meringis menahan sakit akibat cengkraman tangan Alex dan berusaha meronta untuk melepaskan dirinya dari cengkeraman lelaki itu.


"Kamu jangan gila Alex..!"


Ucap Carolina menahan tangis nya.


"Diam kamu..!"


"Alex...!!!!! apa-apaan sih..!!!! kasihan anak ini..!!"


Bentak Carolina.


PLAKKKKKK..!


Alex menampar pipi Carolina dengan keras yang membuat wanita itu jatuh tak berdaya di atas ranjang.


"Aku sudah bilang, aku tidak suka kamu perlakukan dengan kasar..! Paham...!"


Bentak Alex, lalu lelaki itu dengan bringas melucuti pakaian Carolina lalu ia pun memaksa Carolina untuk melayaninya. Carolina hanya menangis tak berdaya. Ia benar-benar sangat menyesal telah berurusan dengan lelaki ******** tersebut.


..


Fandy berangkat menuju cafe tempat yang Welas janjikan kepadanya. Sepanjang perjalanan ia terus merasa gundah dan tidak sabar akan bertemu dengan Raline. Setelah sekian lama, pertemuan dengan wanita yang ia cintai itu adalah salah satu impian nya.


Akhirnya Fandy sampai juga di cafe tersebut. Ia pun melihat kedalam cafe itu, tetapi tidak ada Welas dan Raline disana. Fandy melirik arloji di tangan nya, Fandy mencoba berpikir positif. Ia mengira Welas dan Raline baru akan menuju ke cafe tersebut.


Fandy pun memesan minuman untuk dirinya, ia pun duduk menunggu dengan gelisah.


"Tuhan, ku mohon pertemukan aku dengan Raline"


Gumam nya saat itu.


"Line, ikut gue yuk.."


Ucap Welas saat Raline baru saja keluar dari kelas nya.


"Kemana?"


Tanya Raline sambil menahan nyeri di perutnya.


"Eh lu kenapa?"

__ADS_1


Tanya Welas sambil memperhatikan Raline yang sedang meringis.


"Gak kenapa-kenapa kok, biasa kontraksi palsu"


Ucap Raline sambil tersenyum.


"Oh begitu, gue gak pernah hamil, jadi gue gak tau deh"


Ucap Welas sambil tertawa kecil.


"Lu tadi mau ngajak gue kemana?"


Tanya Raline sekali lagi.


"Gue mau traktir lu makan siang, kita ke cafe dekat sini yuk. Lu kuat jalan kan?"


Tanya Welas sambil menatap Raline dengan tatapan memohon. Raline menatap Welas sambil berpikir sejenak.


"Ya sudah ayo"


Ucap nya. Welas pun tertawa sumringah saat Raline bersedia ikut dengan nya.


Mereka berjalan menuju cafe di dekat kampus mereka. Jarak antara cafe dan kampus mereka hanya lima menit saja berjalan kaki. Tetapi, karena berjalan bersama Ibu hamil, Welas harus bersabar mengimbangi langkah kaki Raline yang terkadang berhenti sejenak untuk mengatur napas nya yang sesak.


"Are you ok?"


Tanya Welas dengan khawatir.


"Iya, gak apa-apa kok. Gue harus rajin jalan kaki biar lahiran nya lancar"


Ucap Raline sambil tersenyum dan mengusap keringat di dahi nya.


"Sabar ya, bulan depan lu sudah kempes kok"


Ucap Welas sambil tertawa. Raline pun tertawa mendengar ucapan Welas.


Lima belas menit kemudian mereka pun sampai di cafe dimana Welas dan Fandy janjian. Welas membuka kan pintu cafe untuk Raline dapat masuk terlebih dahulu.


Raline melangkahkan kaki nya masuk kedalam cafe tersebut. Lalu ia menyapukan pandangan nya untuk melihat bangku kosong yang akan ia dan Welas duduki.


"Gak ada bangku kosong Wel"


Ucap Raline kepada Welas. Welas yang baru saja masuk menyusul Raline langsung menyapukan pandangannya mencari sosok Fandy. Lalu Welas melihat seorang lelaki yang duduk sendirian, menggunakan topi berwarna hitam yang duduk di samping jendela.


Lelaki itu terlihat sedang mengetik pesan untuk seseorang dari ponselnya. Tak lama kemudian ponsel welas pun berdering. Ia pun menerima pesan dari Fandy. Welas membaca pesan yang baru saja ia terima.


Fandy


"Apa ada hambatan? mengapa begitu lama?"


Welas tersenyum saat membaca pesan dari Fandy.


"Dasar tidak sabaran"


Gumam Welas, lalu wanita itu menuntun tangan Raline menuju meja Fandy yang terlihat gelisah menatap keluar jendela.


"Gak ada bangku kosong, kita cari cafe yang lain ya"


Ucap Raline kepada Welas. Welas mengabaikan kata-kata Raline. Hingga mereka berdua berdiri di depan meja Fandy yang beberapa saat yang lalu sudah melihat Welas dan Raline tang berjalan menghampiri meja nya.


Fandy menatap wajah Raline lalu ia menatap perut Raline yang membuncit.


"Line"


Sapa nya. Raline pun terbelalak saat menyadari lelaki yang menyapanya itu adalah Fandy.


"Fa... Fandi?"


Ucap nya lirih.

__ADS_1


__ADS_2