Kebangkitan Sang Dokter Jenius

Kebangkitan Sang Dokter Jenius
Bab 1 keadaan yang sangat menyedihkan


__ADS_3

"Aku tidak punya pilihan lain selain mengamputasi kedua kaki adikmu jika kamu masih tidak bisa melunasi biaya pengobatan sebesar empat ratus juta rupiah itu hari ini." Dokter itu melemparkan setumpuk kertas tagihan medis ke arah Hua Fan sebelum dia berbalik dan pergi.


"Tolong kami, Dokter Jiang..."


Dokter Jiang sudah cepat-cepat membuka pintu dan pergi dari ruangan sebelum Hua Fan dapat meminta keringanan.


Hua Fan keluar dari ruang pasien pelan-pelan sambil melihat adiknya yang tertidur setelah meminum obat. Lalu, ia mengambil ponselnya dan mulai mengecek daftar kontaknya.


"Kamu bilang apa? Kamu mau pinjam uang? Halo? Aku tidak dengar kamu ngomong apa, kayaknya sinyalku lagi tidak bagus di sini. Aku akan menghubungimu lagi nanti, oke?"


"Hei bro, kami benar-benar tidak punya uang buat bisa dipinjemin ke kamu. Oh, ayolah, kamu kan masih jadi menantu yang numpang dirumah mertua dari keluarga Xia Yorkston. Semestinya kamu punya banyak uang, kenapa kamu malah mencari kami buat pinjam uang?"


Dia melihat daftar kontaknya dengan seksama dan mencoba untuk menghubungi beberapa kerabatnya, tetapi tidak ada yang bersedia meminjamikannya uang.


Sambil menarik napas dalam-dalam, Hua Fan mengangkat ponselnya ke udara. Tetapi pada akhirnya, dia dapat mengkontrol emosinya dan tidak jadi melemparkannya ke lantai.


"Kok bisa mereka sebegitu teganya? Masih beraninya mereka menyebut dirinya sebagai kerabatku." gumamnya.


Hua Fan dan saudara perempuannya masih berusia di bawah umur ketika kedua tuanya meninggal. Jadi, kerabatnya menggunakan kesempatan ini untuk mengurus rumah dan warisan mereka. orang


Tetapi di saat sekarang adiknya sedang sangat membutuhkan uang untuk operasi, tidak ada kerabatnya yang mau mengeluarkan uang untuk membayar biaya pengobatannya.


Dia menggertakkan giginya sambil berpikir, "Lihat saja nanti, aku pasti akan mengambil kembali apa yang menjadi milikku, aku pasti akan melakukannya!"


Akhirnya, Hua Fan mengumpulkan keberanian dan membuat panggilan terakhirnya. Xia Waner, istri sahnya adalah panggilan terakhirnya.


Akan tetapi, begitu panggilannya tersambung, telepon darinya langsung masuk ke dalam pesan suara.


Dia berpikir, "Oh, iya. Benar juga. Aku lupa tentang hal ini." Sejak hari di mana adiknya mengalami kecelakaan, istrinya sudah memblokir nomornya.


Sekarang dia benar-benar berada di ujung tanduk. Dia melihat ulang daftar kontak teleponnya sambil berjongkok di koridor rumah sakit. Tiba-tiba, dia melihat sebuah nama di daftar kontaknya dan sekilas ada keraguan di wajahnya. Lalu dia mencoba menguatkan tekadnya dan bergegas keluar dari rumah sakit.


Tidak lama setelah itu, dia tiba di Kafe Bean.


Dulu dia sudah pernah bersumpah untuk tidak datang ke tempat ini lagi.


Tapi di sinilah dia sekarang.


"Selamat datang di ... Hua Fan? Kenapa kamu datang ke sini?" Pelayan yang berada di depan pintu itu baru saja mau menyapa tetapi malah kaget ketika ia malah meilhat sosok Hua Fan.


Dia mengabaikan pelayan itu dan berjalan masuk.


Semua orang yang berada di sana jelas tahu siapa dia dan dia sendiri juga sangat mengenal kafe ini.


Pada saat itu, Hua Fan harus mencari uang untuk membiayai biaya pendidikan adiknya yang masih bersekolah. Jadi, dia datang ke Yorkston untuk bekerja. Di sinilah dia dipertemukan dengan mantan pacarnya, Huang Linlin.

__ADS_1


Tidak lama setelah mereka mulai pacaran, Huang Linlin menduakannya dengan Zhao Songyang. Zhao Songyang adalah anak generasi kedua dari keluarga yang kaya raya dan pada akhirnya Huang Linlin meninggalkan Hua Fan untuk berpacaran dengan Zhao Songyang. Kemudian, Zhao Songyang membeli kafe itu dengan harga dua milyar rupiah dan menjadikan Huang Linlin sebagai pemilik kafe.


Setelah Hua Fan putus dengannya, Hua Fan bersumpah kalau dia tidak akan pernah mau menginjakkan kakinya ke kafe ini lagi. Tapi hari ini, dia malah melanggar sumpahnya untuk menyelamatkan adiknya.


Ketika dia masuk ke dalam toko, Zhao Songyang dan Huang Linlin ada di dalam toko dan keduanya juga kaget melihatnya datang.


Bagaimanapun juga tatapan mata Zhao Songyang dipenuhi dengan penghinaan sekaligus kegembiraan. Di sisi lain Huan Linlin malah cemberut, tatapan matanya terlihat dingin seolah-olah dia baru saja melihat orang asing yang hanya lewat.


Melihat Hua Fan masuk, Zhao Songyang langsung dengan cepat memulai percekcokan dan berkata, "Ngapain kamu di sini? Cepat keluar! Pecundang yang hidup dengan mengandalkan wanitanya sepertimu hanya akan memperburuk standar kafe kami. Aku tidak mau malu karenamu."


Nada suaranya yang dipenuhi dengan penghinaan jelas membuat semua perhatian para tamu tertuju pada mereka. Hua Fan yang memikirkan adiknya sedang berbaring di ranjang rumah sakit dan dia memaksakan diri untuk berkomunikasi, "Aku datang ke sini untuk bertemu Huang Linlin."


"Ayo kita bicara di luar." Hua Fan mencoba mempertahankan harga diri terakhir yang dia punya ketika dia berbicara dengan mereka, dia jelas tahu bahwa dia hanya memberi dirinya kenyamanan palsu.


Huang Linlin hanya merespon dengan memutar bola matanya untuk mengungkapkan kebenciannya yang kuat terhadap Hua Fan.


"Kamu pikir siapa kamu? Dia itu istriku. Kamu tidak bisa masuk ke sini seenakmu sendiri dan minta perhatiannya kapan pun kamu mau." ucap Zhao Songyang sambil tertawa.


Kemudian dia mencium pipi Huang Linlin sebagai tanda kepemilikannya terhadap Huang Linlin.


"Huang Linlin, aku benar-benar harus bicara denganmu mengenai suatu hal. Bisakah kita bicara di luar? " ucap Hua Fan sambil mengepalkan tinjunya.


Huang Linlin mengangkat kepalanya lalu menatapnya dengan tidak suka sambil berkata, "Tidak ada apapun yang ingin kukatakan padamu."


"Benar sekali, berhentilah merusak suasana hati kita," kata Zhao Songyang dengan kasar.


"Aku bersumpah kalau aku pasti akan mengembalikan uangmu. Aku juga mau menuliskan surat pinjaman."


Sebelum Huang Linlin sempat membalas permintaannya, Zhao Songyang langsung memotong dan berteriak, "Dasar Sialan! Aku memang sudah meremehkanmu. Enggak disangka kamu akan datang ke sini untuk meminta empat ratus juta rupiah. Di mana kamu mendapatkan keberanian untuk melakukan hal seperti ini?"


"Kamu akan mengembalikannya? Bagaimana cara kamu mengembalikannya? Apakah kamu bahkan punya uang empat ratus ribu di rekeningmu? Kamu tidak memiliki apapun! Apa kamu sudah berencana untuk menikahkan dirimu dengan keluarga wanita malang yang lainnya lagi?"


"Orang yang waras nggak akan mungkin mempertimbangkanmu sebagai calon! Lucu sekali!"


Hua Fan tidak memiliki banyak waktu untuk menanggapi olokan Zhao Songyang jadi dia melanjutkan perkataannya, "Adikku mengalami kecelakaan mobil, dan dia butuh uang itu untuk menyelamatkan hidupnya."


"Aku tahu ini permintaan yang sangat dadakan, tapi Xue sangat menghormatimu jadi tolonglah, selamatkan dia."


"Bukankah menurutmu ini konyol?" Huang Linlin mencibir dan berkata, "Apa aku ini Ibumu? Kamu hanya kembali datang ke sini di saat kamu membutuhkan uang. Apakah kamu lupa apa yang pernah kamu ucapkan dihari dimana kamu pergi?"


Hua Fan meneriakkan beberapa kata-kata kasar kepada mereka berdua ketika Hua Fan mengakhiri hubungannya dengan Huang Linlin. Walaupun dia beranggapan bahwa mereka memang pantas menerimanya, tapi sekarang dia sedang butuh bantuan mereka. Jadi, dia hanya bisa bersabar saat ini.


Dia berkata, "Benar, memang akulah yang salah. Jadi kumohon bermurah hatilah dan bantu aku sekali ini aja, oke?"


Huang Linlin tidak menyangka Hua Fan akan meminta maaf padanya.

__ADS_1


Dia tahu bahwa ada banyak gosip yang bermunculan di sekitarnya ketika dia mengakhiri hubungannya dengan Hua Fan dan berpacaran dengan Zhao Songyang. Kebanyakan dari mereka jelas diam-diam berbicara di belakangnya. Mereka berkata bahwa dia telah meninggalkan pacarnya yang miskin untuk berpacaran dengan anak generasi kedua dari keluarga yang kaya raya.


"Jika kamu mau minta maaf, kamu harus melakukannya dengan benar. Berlututlah di hadapanku!" Huang Linlin berteriak dengan dingin.


Mata Hua Fan bergetar karena emosi. Dia melirik ke arah tamu yang ada di sekelilingnya dan mereka semua sudah mengarahkan ponsel mereka kepadanya. Seakan mereka bersiap merekamnya saat berlutut.


Banyak pikiran yang terbesit di pikirannya, tetapi pada akhirnya dia menyerah dan berlutut saat memikirkan adiknya yang berada di ambang kesengsaraan.


Saat itu juga kamera mulai berkelebat seperti cahaya yang silau dan setiap kilatan yang terlihat terasa seperti pisau tajam datang menusuk jantungnya. Ia merasa seperti ditelanjangi dan dilempar ke jalanan.


"Huang Linlin, maafkan aku. Tolong maafkan aku." Hua Fan mengepalkan tangannya dan ia dapat merasakan kukunya seperti menusuk telapak tangannya.


Huang Linlin tertawa puas dan berkata, "Oke, bangunlah. Karena aku adalah orang yang murah hati jadi aku akan maafkan kamu kali ini."


"Terima kasih. Jadi ... Bisakah kamu berikan aku uangnya sekarang?" Hua Fan berdiri dan berkata dengan buru-buru.


Sejak dia membuat keputusan ini, dia tahu bahwa dia hanya bisa menukar harga dirinya dengan uang yang mampu untuk menyelamatkan hidup adiknya. Meski dia telah menderita lebih dari apa yang ia duga, tapi paling tidak adiknya bisa diselamatkan.


"Uang? Uang apa maksudmu? Kamu gila atau sinting? Aku kan hanya bilang kalau aku akan memaafkanmu. Aku enggak pernah bilang mau memberikanmu uang." Huang Linlin berkata dengan gembira.


Zhao Songyang tertawa dengan keras dan berkata, "Ya ampun Sayang, bagaimana bisa kamu pernah menyukai orang bodoh macam ini?"


Tawa gila Zhao Songyang terdengar sangat keras. Sekarang Hua Fan benar-benar putus asa. Ia sudah tidak tahan lagi dengan penindasan dan penghinaan yang mereka lakukan.


"Ya memang benar sih dia istrimu. Tapi apa kamu tahu berapa kali aku sudah tidur dengan perempuan ****** itu?"


"Tutup mulutmu!" Dengan penuh amarah, Zhao Songyang menggebrakkan tangannya ke meja bar. Lalu dia melonjak ke udara dan menendang dada Hua Fan.


Hua Fan langsung mengerang lemah dan terbang sampai terseret beberapa meter sebelum dia jatuh dengan keras ke lantai.


Hua Fan terbatuk dan mengeluarkan sedikit darah setelah dia merasakan sakit yang menusuk di dadanya.


Dia berusaha untuk berdiri dari lantai sambil dia melanjutkan untuk memancing amarah Zhao Songyang di dalam keputusasaannya.


"Aku pernah mendengar kalau kamu itu pemenang di salah satu pertandingan adu tinju. Apa hanya ini saja yang kamu punya? Apakah keahlianmu sama tidak bergunanya dengan saat kamu berada di tempat tidur? Itukah sebabnya makanya kamu menggunakan uang untuk membuat istrimu senang?"


"Sialan, akan kutunjukkan padamu seberapa kuatnya aku!" Zhao Songyang tidak menyangka bahwa pengecut yang tidak pernah memiliki keberanian untuk membela dirinya sendiri itu berani memancing amarahnya.


Bagaimanapun juga, kata-kata ejekan yang dilayangkan Hua Fan benar-benar tepat sasaran. Dengan raungan penuh amarah, Zhao Songyang menyerang Hua Fan sekali lagi.


Pukulan dan tendangannya yang dipenuhi oleh amarah mendarat di muka dan badan Hua Fan.


Hua Fan terus mengeluarkan darah dari mulutnya ketika dia tergeletak di lantai.


Tidak ada orang di sana yang sadar bahwa darah Hua Fan langsung mengering ketika darahnya sampai mengenai ke dadanya. Pada saat itu, kalung potongan batu giok yang tergantung di leher Hua Fan sejak dia masih kecil mulai berkelibat dan muncul cahaya berwarna merah cerah. Akan tetapi tidak ada orang yang melihatnya karena kalung itu tersembunyi di balik pakaiannya.

__ADS_1


Pandangan Hua Fan menjadi buram sebelum akhirnya dia jatuh pingsan. Tetapi sebelum dia pingsan, dia merasakan adanya sensasi bergetar dari kepalanya di saat itu juga sebuah batu giok muncul di pikirannya. Satu sisi giok itu berwarna hitam, sedangkan sisi lainnya berwarna putih.


__ADS_2