
Lei Shua mengeryitkan dahinya melihat Hua Fan menatap *********** dengan penuh nafsu. Demi sang kakek, dia akhirnya mengambil keputusan sambil menggertakkan giginya "Bilang saja, apa permintaanmu?" tanyanya.
Hua Fan menjawab sambil tersenyum tipis, "Oke, kalau begitu bayar aku Dua Puluh Miliar. Aku akan sembuhkan kakekmu!"
Lei Shuya diam dan menunggu, kalau-kalau Hua Fan punya permintaan lain. Tapi melihat Hua Fan tidak lagi meminta hal yang lain, dia bertanya keheranan. "Itu saja?"
Hua Fan pun kembali bertanya sembari tersenyum, "Atau yang lain? Memangnya apa lagi yang bisa kau berikan?"
Melihat Hua Fan menantangnya seperti itu, Lei Shuya merasa dia sengaja menggodanya, "Oke kalau begitu, Dua Puluh Miliar!" ucapnya.
Tatapan mata Hua Fan jelas minta sesuatu yang lain darinya. Kalaupun dia mengatakan apa yang benar-benar diinginkannya, itu hanya membuatnya bingung. Justru karena dia tidak mengatakan apapun, itu membuatnya merasa Hua Fan merendahkannya.
Betapa pun tidak mengenakkannya yang sedang dia rasakan, dia sama sekali tidak menunjukkannya ke orang lain.
Tanpa sepatah kata apapun, Hua Fan bergegas ke tempat tidur Lei Yunlong, dia lalu mengambil jarum perak yang sebelumnya ditinggalkan oleh Kong Xinghai, dan melakukan Teknik Lima Elemen Detoksifikasi
Dia memasukkan kelima jarum itu secara bersamaan ke titik yang sama seperti yang dilakukan Kong Xinghai. Hua Fan tidak melakukan teknik akupunktur dengan flamboyan seperti yang dilakukan Kong Xinghai. Tapi itu tetap membuat orang-orang yang ada di sana mengira bahwa dia adalah seorang yang hebat.
Dengan bantuan Qi Asli, Hua Fan mulai melakukan akupuntur. Dia memasukkan jarum di banyak titik secara perlahan. Setelah sepuluh menit, dia kemudian mengambil jarumnya.
Kali ini, tampaknya dia tak merasa kelelahan seperti saat terakhir kali mengobati Lan Yuxuan. Akhir-akhir ini dia begitu banyak berlatih dan terlihat ada beberapa kemajuan.
Saat menghela napas, Perintah Karma kembali muncul sepintas di benaknya.
"Apa yang kau tabur, itulah yang akan kau tuai."
Sisi baik dari Perintah Karma itu menjadi lebih terang. Saat itu juga, dia terlihat lebih bersemangat.
Lei Shuya kaget dan berteriak, "Kakek ... bibir kakek..." Semua yang ada di sana mendekat dan melihat Lei Yunlong, bibirnya tampak tidak lagi berwarna ungu.
Di saat bersamaan, para dokter melihat detak yang ada di layar sembari berseru, "Ya ampun! Bagaimana mungkin?"
Hanya dalam sekejap mata, kondisi tubuh Lei Yunlong kembali normal.
__ADS_1
Di saat itu juga, Lei Yunlong tiba-tiba terbangun dan batuk terus-menerus.
Lei Shuya mendekat ke kakeknya dan bertanya, "Kek ...apa yang kau rasakan?"
Lei Yunlong menghela nafas lega, seraya menjawab, "Aku merasa enakan. Sudah puluhan tahun sejak aku merasa sangat..." Kemudian dia melihat sekeliling seperti sedang mencari seseorang. "Shuya, di mana Kong Xinghai? Aku harus berterima kasih padanya secara langsung!" ucapnya.
Lei Yunlong sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia pikir Kong Xinghai-lah yang menyelamatkannya.
Lei Shuya yang berada di sampingnya merasa tidak enak. Dia langsung menghampiri kakeknya dan berbisik menjelaskan tentang apa yang terjadi sebenarnya.
Setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, Lei Yunlong juga merasa tidak enak hati. Dia segera beranjak dari tempat tidur dan meminta maaf kepada Hua Fan, "Tuan Hua, maafkan aku. Aku baru tahu...
Tiba-tiba Lei Shuya memotong pembicaraan kakeknya sebelum dia selesai berbicara, "Kek, bisakah kau bangun dari tempat tidur?" ucapnya.
Beberapa tahun belakangan ini, Kong Sanzhen berhasil mengobati penyakit Lei Yunlong dengan akupuntur dan membuatnya kondisinya menjadi lebih baik. Namun, sampai sekarang dia tak kunjung bangun dari tempat tidurnya.
Lei Yunlong juga terkejut, sambil terbata-bata, "Aku ... Aku ... "Dia menatap Hua Fan dengan penuh rasa bersalah seraya berkata, "Tuan Hua, aku... Aku benar-benar tidak tahu apa-apa. Maafkan aku!"
"Kek, aku sudah janji dengannya akan membayar Dua Puluh Miliar kalau dia berhasil membuat kakek sembuh!" Kini melihat kakeknya sudah pulih dan bisa bangun dari tempat tidur, Lei Shuya sangat berterima kasih kepada Hua Fan, dia benar-benar tulus berterima kasih dari dalam lubuk hatinya.
"Ya. Tentu saja, kamu harus ... " Lei Yunlong lalu segera kartu bank miliknya dan berkata, "Tuan Hua, di dalam kartu ini ada uang senilai Dua Puluh Miliar. Kata sandinya adalah 888888. Ini, silahkan ambil!"
Hua Fan langsung mengambil kartu itu tanpa ragu seraya berkata, "Tuan Lei, karena kini kamu sudah sembuh, aku pamit pulang,"
Hong Yafeng dengan cepat beranjak. "Tuan Hua, aku akan mengantarmu pergi!" ucapnya.
"Tak perlu. Aku ingin berjalan kaki sambil menikmati lingkungan indah di sekitar sini," Dari perjalanan tadi, dia melihat pemandangan gunung yang terbalut awan, sangat indah dan membuatnya ingin berjalan-jalan melihat sekitar.
Hong Yafeng menuruti apa kata Hua Fan, "Baiklah kalau begitu." ucapnya.
Lei Yunlong ingat dia menyimpan sebuah undangan, dia kemudian memberikannya kepada Hua Fan, "Oh ya, Tuan Hua, ini ada kartu undangan acara lelang malam ini. Banyak barang bagus akan dilelang di sana. Jangan ragu untuk ikut, pilih yang kau suka dan aku akan memberikannya untukmu!" ucapnya.
Meski Hua Fan hanya meminta Dua Puluh Miliar darinya, namun dia merasa hutangnya lebih dari itu karena laki-laki itulah yang telah menyelamatkan nyawanya.
__ADS_1
Sayangnya Hua Fan tidak tertarik dengan acara lelang itu. Tapi, dia tetap menghargai dan menerima undangan itu sembari berkata, "Baik, terima kasih, Tuan Lei," Lagi pula, dia tak perlu datang ke acara lelang itu meski telah menerima kartu undangan.
Setelah keluar dari rumah Keluarga Lei, dia masih tak menyangka bisa menggenggam kartu bernilai Dua Puluh Miliar di sakunya, "Lusa kemarin, aku sibuk mencari Empat Ratus Juta untuk biaya pengobatan Adikku. Tapi hari ini, aku punya Dua Puluh Miliar di kantongku," ungkapnya penuh haru.
"Yah, memang hidup seperti ini. Ada kalanya di atas, ada kalanya di bawah. Ada kalanya susah, dan ada kalanya bahagia,"
Saat itu juga ada telepon masuk. Dia melihat itu adalah panggilan dari nomor asing, dia kemudian mengangkat telepon itu sambil berjalan.
"Halo, apa benar dengan Pak Hua Fan?" Suara itu sangat asing baginya.
"Ya benar, dengan siapa ini?" tanyanya.
"Tuan Hua, perkenalkan, saya pengacara Xia Waner. Dia memintaku untuk mendiskusikan perceraiannya denganmu."
"Tolong katakan ke Xia Waner. Aku tak mau bercerai dengannya."
"Baik, begini Tuan Hua. Jika kau tak menyetujui perjanjian perceraian ini, maka kami akan langsung mengajukan proses perceraian ini ke pengadilan."
"Silahkan, tapi aku tetap tidak akan menceraikannya meskipun sampai ke sidang pengadilan."
"Baik Tuan Hua, saya akan jelaskan sedikit. Biasanya, ketika perceraian sudah sampai ke tahap pengadilan, dan jika ada salah satu pihak yang tidak setuju untuk bercerai, pengadilan akan memutuskan untuk tetap mempertahankan pernikahan tersebut. Tapi setengah tahun lagi, ketika mengajukan proses untuk kedua kalinya, sekeras apapun kau ingin mempertahankan rumah tangga ini, pengadilan akan tetap memutuskan bahwa kau harus bercerai." ucap pengacara.
"Karena hasil akhirnya akan tetap seperti itu, kenapa kau tak memilih untuk berpisah secara baik-baik saja? Bu Xia sudah mempertimbangkan ini dengan sangat matang. Jadi, ku sarankan kau juga harus mempertimbangkan hal ini. Bukankah lebih baik jika kalian berdua berpisah secara kekeluargaan?" imbuhnya.
"Kalau begitu, bicarakan saja setengah tahun lagi!" Hua Fan langsung menutup telepon dan mengerutkan keningnya.
Dia paham, Xia Waner pasti akan marah karena kesalahpahaman yang terjadi semalam. Tapi dia juga tidak menyangka akan digugat cerai oleh istrinya.
Hua Fan membuka ponselnya dan menelepon Xia Waner. Tapi dia hanya mendengar pesan suara, telepon sedang sibuk. Setelah mencoba menghubunginya beberapa kali, dia akhirnya sadar kalau Xia Wanner memblokir nomornya.
"Untungnya, masih ada setengah tahun lagi untuk menyelesaikan kesalahpahaman ini." pikirnya dalam hati. Kemudian, dia berhenti menghubungi Xia Wanner.
Lagipula, saat ini kondisi Waner masih belum stabil, dia masih sangat emosi. Jika dia memaksanya untuk bertemu, itu sama sekali tak akan menyelesaikan masalah. Sebaiknya dia menunggu beberapa hari lagi sampai dia merasa lebih tenang dan emosinya terkontrol.
__ADS_1