Kebangkitan Sang Dokter Jenius

Kebangkitan Sang Dokter Jenius
Bab 51 murid terakhir


__ADS_3

Hanya karena Hua Fan bisa melarikan diri tanpa terluka tidak membuat Jiang Tianjun berpikir bahwa pemuda itu lebih kuat darinya.


Bagaimanapun juga, dia ingin menangkap ketiga penjahat itu hidup-hidup, sementara Hua Fan hanya ingin melarikan diri. Situasinya sangat berbeda.


"Tuan Jiang..." Zhang Shimo tidak menyangka tuannya akan mengatakan hal seperti itu di hadapannya. Kebencian yang dia rasakan terhadap Hua Fan semakin menguat.


"Diam kau!" Jiang Tianjun meneriakinya lagi sembari memandang Hua Fan dengan tatapan yang merendahkan, seolah-olah menerimanya sebagai murid merupakan bantuan yang besar baginya.


"Kau ingin menerimaku sebagai murid terakhirmu?" Hua Fan memandang Jiang Tianjun terkejut.


"Ya, selama kau berlutut di depanku dan melakukan semua yang aku perintahkan, kau akan menjadi muridku!" Melihat Hua Fan seakan tidak dapat mempercayainya, Jiang Tianjun dengan percaya diri melanjutkan, "Begitu kau menjadi muridku, kau tidak hanya akan mewarisi kemampuan bela diriku, tetapi kedudukanmu juga akan berubah total!"


"Belajar darimu? Beraninya kau memintaku untuk belajar darimu yang tidak memiliki banyak kemampuan! Belajar apa darimu? Belajar untuk mematahkan salah satu tanganku?" Hua Fan memandangi Jiang Tianjun dan mendengus.


Sudah sejak awal ia menahan amarahnya karena mengkhawatirkan keselamatan Hua Xue, namun ini tidak berarti bahwa dia tidak temperamental.


Dia juga sadar bahwa Jiang Tianjun tidak mempertimbangkan keselamatan Hua Xue saat dia menjalankan misi, jadi tidak ada alasan bagi Hua Fan untuk bersikap baik padanya.


Zhang Shimo sangat gembira melihat Hua Fan bertentangan dengan tuannya. Ia berteriak dengan penuh amarah, "Hua Fan, kau bersikap lancang!"


"Memangnya kenapa kalau aku lancang? Aku lancang karena aku memiliki kepercayaan diri untuk menjadi seperti ini! Bukannya karena aku rela lenganku patah dengan sia-sia! " Hua Fan terus menerus melampiaskan amarah dari dalam hatinya.


"Bajingan! Tuanku terluka karena ingin menangkap mereka hidup-hidup. Berbeda denganmu yang hanya ingin melarikan diri! Apa hak engkau untuk mengatakan itu kepada tuanku? Dia sudah bersedia menerimamu sebagai murid terakhirnya, ini bagaikan berkah dari leluhurmu. Jika kau tidak berlutut dan meminta maaf kepada tuanku, jangan kaget kalau aku bersikap kasar padamu! "


"Kau bersikap kasar padaku?" Hua Fan memandang dingin Zhang Shimo. "Ayo! Tunjukkan apa yang kau punya."


"Kau... "Zhang Shimo kehilangan kesabaran setelah diprovokasi oleh Hua Fan.


Kemampuan Hua Fan untuk melarikan diri dari pabrik tanpa luka dan cedera bukanlah sesuatu yang bisa dia lakukan. Namun, Zhang Shimo yang tidak mau kalah dengannya lalu berteriak, "Prioritas utamaku sekarang adalah untuk menangani ketiga pria yang ada di dalam pabrik itu. Aku akan berurusan denganmu setelah ini sudah selesai!"


"Apakah begitu? Kalau begitu biar kuberitahu, ketiganya sudah mati. Pekerjaanmu sudah selesai. Kau bisa berurusan denganku sekarang!" Hua Fan tidak memberinya kelonggaran.

__ADS_1


"Apa yang kau katakan? Ketiganya sudah mati?" Tang Qi memandang Hua Fan tercengang, matanya terlihat skeptis.


"Terus saja membual!" Zhang Shimo berkata sambil tertawa keras, "Aku mendengar suaranya dan aku tahu bahwa kau hanya sekali melakukan perlawanan, lalu kau melarikan diri dengan panik! Sekarang tanpa rasa malu kau mengatakan bahwa mereka bertiga sudah mati? Apakah kau mengatakan bahwa engkau sendiri membunuh tiga Pelaksana Seni Bela Diri hanya dengan satu gerakan perlawanan? Jika kau benar-benar memiliki kemampuan untuk melakukannya, maka tuanku tidak layak untuk menjadi gurumu! " Dia sama sekali tidak percaya pada apa yang dikatakan Hua Fan.


"Blar!"


Terlihat bangunan pabrik runtuh ketika dia baru saja berhenti berbicara.


Semua orang terkejut, dan di saat it pun raut wajah Jiang Tianjun tiba-tiba berubah. Mungkin orang sekitar tidak merasakannya, tetapi saat pabrik runtuh, Jiang Tianjun merasakan gejolak kekuatan spiritual yang hebat.


Rasa cemas di hatinya pun semakin besar saat ia melihat anggota tubuh ketiga orang di dalam pabrik tersebut hancur.


Para aparat kepolisian bersenjata bergegas masuk ke dalam pabrik ketika Chen Yongqiang dan Han Feng kembali sadar dan melambaikan tangan mereka.


Hua Fan memandang Jiang Tianjun yang masih terpukul akan kejadian tersebut.


"Ketika kau memasuki pabrik, salah satu lenganmu patah. Tapi ketika aku memasuki pabrik, aku berhasil membunuh mereka bertiga. Katakan padaku, dari mana kau mendapatkan kepercayaan diri untuk memintaku menjadi muridmu?"


Akan tetapi, dia baru saja menyombongkan dirinya di hadapannya.


Hua Fan menoleh ke Zhang Shimo. "Kurasa sekarang kau bisa percaya bahwa mereka bertiga sudah mati. Jadi bagaimana kalau kau berurusan denganku sekarang? Ayo ..."


"Aku... Aku ... " Memiliki kekuatan untuk melarikan diri dari pabrik seharusnya sudah cukup untuk membuat Zhang Shimo meringkuk. Sekarang, setelah dia mengetahui bahwa Hua Fan berhasil membunuh tiga penjahat itu hanya dengan sekali perlawanan, bagaimana dia berani berkelahi dengannya?


Ketika melihat Tang Qi yang tengah tercengang menatap Hua Fan, Zhang Shimo merasa malu untuk mengakui kekalahan, jadi dia hanya bisa diam saja.


"Kakak ..." Hua Xue tidak mengetahui keseluruhan ceritanya. Melihat Hua Fan bertengkar dengan aparat kepolisian, dia menarik lengan bajunya dengan cemas.


Hua Fan berbalik dan melihat wajahnya yang masih tampak sedikit pucat karena ketakutan. Dia langsung kehilangan minat untuk berdebat dengan Zhang Shimo.


"Aku akan pergi jika kau tidak mau berurusan denganku!" Dia memegang tangan Hua Xue sambil berjalan menuju pintu keluar.

__ADS_1


Zhang Shimo menghela nafas lega saat mendengar Hua Fan mengatakan bahwa ia akan pergi. Namun, dia menolak untuk mengakui kekalahan lalu berteriak, "Anggap dirimu beruntung hari ini. Masih ada hal lainnya yang harus kutangani. Lain kali aku melihatmu, kau tidak akan seberuntung itu!"


Saat ini, Hua Fan hanya peduli dengan situasi Hua Xue dan tidak mau repot beradu mulut dengan Zhang Shimo.


Sepanjang jalan setelah meninggalkan tempat kejadian, Hua Fan menghibur adiknya yang masih terkejut atas kejadiannya. Dia mengajaknya makan cemilan dan berbelanja sebentar. Setelah beberapa saat, dia akhirnya mulai merasa tenang lagi.


"Hua Fan, aku lelah. Antar saja aku kembali ke sekolah!" ucap Hua Xue setelah dia merasa tenang.


"Baik ... " Melihat keadaan Hua Xue yang tampak jauh lebih baik, Hua Fan tidak ingin studi adiknya tertunda, dia membawanya kembali ke sekolah. Tapi kali ini, Hua Fan mengantarnya sampai ke gedung asramanya.


Ketika mereka berpisah, Hua Fan memikirkan sesuatu dan mengambil kartu bank yang diberikan Lei Yunlong kepadanya kepada Hua Xue. "Oh iya, ada sejumlah uang di dalam kartu ini. Ambil saja dulu!"


"Oke, terima kasih, Hua Fan .... "Hua Xue menerimanya namun tidak bertanya berapa banyak uang yang ada di dalam kartu tersebut.


Meskipun dia bisa merasakan perubahan dalam dirinya setelah apa yang terjadi hari ini, dia tidak bertanya apa-apa karena Hua Fan tampak tidak ingin membahasnya.


Dia tahu bahwa kakaknya akan selalu baik padanya, dan itu sudah cukup baginya. Adapun hal lainnya, itu tidak penting.


Setelah melihat Hua Xue masuk ke dalam asrama, Hua Fan berbalik dan berjalan keluar dari sekolah.


"Hua Fan!" Terdengar seseorang memanggilnya begitu ia sampai di gerbang sekolah.


"Ternyata kau!" Hua Fan berbalik, terkejut melihat Tang Qi.


"Bagaimana kalau kita berbicara di dalam mobil?" Tang Qi menunjuk ke sebuah Land Rover yang terparkir di pinggir jalan.


"Oke!" Dia mengetahui kedudukannya dan sadar bahwa dia tidak akan datang kepadanya tanpa alasan.


Begitu Hua Fan masuk ke mobil, Tang Qi langsung pada intinya dan berkata, "Kami menemukan kotak brankas dari TKP dan berhasil memecahkan sandinya, tapi kami tidak menemukan flash drive di dalamnya!"


"Apa maksudmu?" Raut wajah Hua Fan berubah menjadi kesal. "Apa kau curiga aku mengambil flash drivenya?"

__ADS_1


__ADS_2