
Melihat sikap Hua Fan, Xia Waner juga tidak bicara baik-baik dengannya. "Kamu menyuruh Lan Yuxin nyusahin keluargaku, bukankah seharusnya aku membiarkanmu melihat mahakaryamu? Sekarang perusahaan sudah terpuruk. Semua mitra sudah mengajukan pemutusan kerja sama dan bank juga mendesak kami untuk membayar pinjaman kami. Sekarang kamu sudah puas, 'kan?"
"Kapan aku menyuruh Lan Yuxin melakukan semua ini?" tanya Hua Fan dengan bingung.
Lan Yuxin bahkan tidak membahas hal ini ketika mereka bertemu hari ini.
"Teruslah berpura-pura. Terus saja berpura-pura ... kalau ini bukan ulahmu, kenapa hari ini kamu memblokir nomorku?" tanya Xia Waner dingin.
"Uhm... "Hua Fan tidak menyangka Xia Waner akan salah paham padanya. Namun, sepertinya masalah ini sulit untuk dijelaskan.
"Tunggu sebentar ... " Hua Fan menelepon Lan Yuxin, lalu menyalakan mode speaker.
"Ada apa, Hua Fan?" Suara Lan Yuxin langsung terdengar dari ujung telepon.
"Yuxin, kamu menyerang Keluarga Xia?" tanya
Hua Fan.
Lan Yuxin bertanya balik, "Nggak. Mana mungkin aku ngurusin orang-orang ini dan ngerendahin derajatku? Kenapa rupanya?"
"Oh, nggak apa-apa ucap Hua Fan, lalu mengakhiri panggilan telepon.
"Gimana, kamu sudah dengar, 'kan?" tanya Hua Fan pada Xia Waner.
"Bisa saja kamu bersandiwara," cibir Xia Feng yang berada di samping. "Tapi sekarang, semua itu sudah gak penting, karena Zhou Heng tetap menyukai Waner. Kami gak takut dengan Lan Yuxin."
"Hua Fan, aku mencintai Waner. Aku harap dia bahagia. Kalau kamu sanggup ngebahagiain dia, aku akan mundur! Tapi kamu selalu mengecewakannya! Selain meminta uang ke dia dan membuatnya dihina, apa lagi yang pernah kamu berikan ke dia? Karena kamu nggak bisa ngebahagiain dia, biar aku yang ngebahagiain dia!" Pada saat ini, Zhou Heng juga melangkah maju untuk angkat bicara.
Tadinya, ketika Zhou Heng melihat Hua Fan menelepon Lan Yuxin, dia merasa sangat khawatir. Namun, setelah dia mendengar jawabannya, dia langsung merasa lega.
__ADS_1
Zhou Heng menyadari tindak tanduk Chen Haifeng di antara para pebisnis tadi malam. Kalau bukan atas perintah Lan Yuxin, bagaimana mungkin Chen Haifeng berani mengambil keputusan dengan mengatasnamakan Grup Trogon?
Ucapan Lan Yuxin tadi menunjukkan dia tidak memiliki hubungan yang dekat dengan Hua Fan.
Zhou Heng juga sama sekali tidak peduli kalau Keluarga Xia menyinggung Lan Yuxin. Hari ini dia datang bukan untuk benar-benar ingin membantu Keluarga Xia. Asalkan dia bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk mendapatkan Xia Waner, Xia Group bangkrut atau tidak apa hubungannya dengan dirinya?
"Kamu mau merebut istriku di hadapanku?" Hua Fan menatap Zhou Heng dengan tatapan dingin.
"Istri?" Zhou Heng tertawa. "Kamu pernah pegang tangan Waner, nggak? Berani-beraninya kamu mengakui dia adalah istrimu?"
"Plak!" Begitu Zhou Heng selesai berbicara, Hua Fan langsung menamparnya.
"Hua Fan, kamu ... " Zhou Heng menutupi pipinya yang bengkak, lalu menunjuk Hua Fan dengan sorot mata tidak percaya.
Sebelumnya mereka pernah bertemu, tetapi pada saat itu, Hua Fan bahkan tidak berani menatap matanya. Hari ini, dia malah berani menamparnya.
"Hua Fan, kamu sedang apa?"
Saat ini, Keluarga Xia langsung heboh.
Jelas sekali dari percakapan Hua Fan dan Lan Yuxin tadi, mereka telah menarik kesimpulan yang sama seperti Zhou Heng, jadi mereka tidak lagi menghormatinya seperti di pesta ulang tahun kemarin.
Saat ini, Zhou Heng sudah tersadar dari kekagetannya, lalu berkata, "Bu Xia, seperti yang kamu lihat, bank menyuruhku datang untuk menagih hutang. Tapi ketika aku memikirkan tentang Waner, aku sudah berusaha mencari cara untuk berurusan dengan pihak bank. Tapi Hua Fan malah menamparku. Kalau dia nggak bisa memberiku pertanggungjawaban yang memuaskan, maka ..."
"Zhou Heng, tolong jangan marah. Aku akan menangani hal ini!" Bu Xia bisa mendengar nada bicara mengancam di balik perkataan Zhou Heng. Dengan situasi Keluarga Xia saat ini, mereka tidak boleh menyinggung Zhou Heng.
Kemudian, Bu Xia pun memelototi Hua Fan. "Hua Fan, kamu budek? Cepat berlutut, lalu tampar dirimu sendiri sepuluh kali sebagai tanda maafmu kepada Zhou Heng. Kalau dia nggak maafin kamu, kamu nggak boleh berdiri!"
Hua Fan menatap Bu Xia dengan sorot mata yang penuh makna. Dia hanya diam tanpa melakukan apapun.
__ADS_1
"Ini perintah! Kamu gak dengar?" teriak Bu Xia saat melihat Hua Fan tidak melaksanakan perintahnya.
"Perintah? Atas dasar apa kamu memerintahku? Atas dasar apa kamu mau istriku menceraikanku, lalu menikah dengan pria lain? Atas dasar apa kamu nggak pernah menatap langsung mataku? Atau atas dasar apa kamu dengan nggak tahu malunya membanggakan kesenioritasanmu?" Hua Fan sama sekali tidak segan-segan. Hinaan dan cacian dari Keluarga Xia yang telah dia pendam selama bertahun-tahun akhirnya meledak.
"Oke Aku nggak bisa memerintahmu. Tapi apakah kamu mendengarkan kata-kata Waner?" Bu Xia benar-benar marah. Dia menoleh untuk melihat Xia Waner. "Suruh dia minta maaf!"
Saat Xia Waner melihat tatapan mata Hua Fan yang sedang melihat dirinya, dia langsung mengertnyitkan keningnya.
Setelah berpikir sejenak, Xia Waner pun menghela napas. "Hua Fan, saat ini situasi kita sangat buruk. Kalau kita terus dipaksa membayar utang, perusahaan pasti akan bangkrut. Apa kamu mengerti?"
"Jadi?" Hua Fan tersenyum cerah sambil menatap Xia Waner, dan bertanya, "Jadi, kamu mau aku meminta maaf padanya? Terus kamu akan menceraikan aku, lalu bersamanya demi keluargamu?"
Xia Waner hanya diam. Meskipun dia tahu permintaan neneknya agak keterlaluan, dengan situasi keluarganya saat ini, dia benar-benar tidak boleh menyinggung Zhou Heng.
"Jangan bilang aku perhitungan. Cepat berlutut di hadapanku, lalu tampar dirimu sepuluh kali. Aku akan maafin perbuatanmu hari ini!" ucap Zhou Heng dengan bangga saat melihat seluruh anggota Keluarga Xia berpihak padanya.
Hua Fan tersenyum, lalu berjalan menghampiri Zhou Heng.
Melihat Hua Fan menghampirinya perlahan, Zhou Heng pun tertawa dengan bangga. "Hua Fan, kenapa kamu membuat dirimu seperti ini? Sebagai orang gak berguna, harusnya kamu sadar diri. Tapi kamu malah memilih akhir yang menyedihkan. Kamu takut orang-orang nggak tahu betapa nggak bergunanya dirimu ini?"
"Hua Fan, kamu cukup minta maaf saja ke Zhou Heng!" Saat ini, Xia Waner khawatir Hua Fan akan benar-benar berlutut, jadi dia pun berkata, "Zhou Heng, boleh, 'kan?"
Namun, Xia Waner tidak tahu, meskipun kata-katanya menghangatkan hati Hua Fan, kata-katanya juga menyulut api cemburu di hati Zhou Heng.
"Waner, dia menamparku. Aku nggak mempermasalahkan hal ini karena kamu. Tapi kalau aku mengurangi tanda maaf darinya, kelak mau ditaruh di mana mukaku?" Zhou Heng sama sekali tidak berniat mengampuni Hua Fan.
"Kalau kamu ngga tahu mau kamu taruh di mana wajahmu, kamu ngga usah bertemu siapa-siapa!" ucap Hua Fan lalu langsung menendang perut bagian bawah Zhou Heng.
"Aah..." Seiring dengan suara teriakan kesakitan, Zhou Heng langsung terhempas beberapa meter ke belakang. Dia berlutut di lantai, satu tangannya bertumpu di lantai dan tangan yang satu lagi mengenggam perut bagian bawahnya sembari bernapas dengan terengah-engah.
__ADS_1
"Apakah berlutut seperti ini?" Hua Fan menatap Zhou Heng, lalu tersenyum dan mendengus.