Kebangkitan Sang Dokter Jenius

Kebangkitan Sang Dokter Jenius
Bab 3 aku akan membantumu


__ADS_3

"Tidak masalah jika dia memamerkan taringnya. Aku hanya perlu mematahkan giginya satu per satu sehingga yang dapat dia lakukan di masa depan hanyalah mengibaskan ekornya!" ucap Zhao Songyang sambil memberikan tatapan dingin pada Hua Fan.


"Sudah selesai berbicara?" Keterampilan bela diri yang dia dapat dari Perintah Karma langsung melintas di pikirannya. Ketika dia mulai merasakan panas di perut bagian bawahnya, dia sudah tidak tahan untuk mencobanya.


Zhao Songyang tertawa keras lalu berkata, "Kenapa kalau belum selesai? Apakah kamu mau menghabisiku?"


"Aku tahu apa yang barusan terjadi memang mengecewakan. Tapi jangan khawatir, kali ini aku pasti akan memberikan yang terbaik untuk memberimu pelajaran!"


Hua Fan sudah melesat ke depannya ketika Zhao Songyang baru saja menyelesaikan ucapannya.


Hua Fan mendekatkan diri dan dalam dengan cepat dia sudah menendang perut Zhao Songyang. Kekuatan tendangannya begitu besar sehingga Zhao Songyang terbang ke belakang seperti busur. Kejadian ini sama persis seperti yang dialami Hua Fan sebelumnya.


Badan Zhao Songyang terbanting ke mobil mewah yang ada di belakangnya. Terdengar suara retak yang berasal dari kaca mobil yang pecah menjadi pecahan yang tak terhitung jumlahnya dan berjatuhan ke tanah.


"Songyang!"


"Tuan Zhao!"


Huang Linlin dan anak buah Zhao Songyang bergegas ke arahnya untuk membantunya berdiri.


Zhao Songyang mengangkat jarinya untuk menunjuk Hua Fan. Bibirnya berusaha untuk berbicara, tetapi dia tidak mampu untuk berbicara karena rasa sakit yang muncul dari perut bagian bawahnya.


"Kenapa kalian para idiot malah hanya melamun saja? Habisi dia!" Huang Linlin menunjuk Hua Fan sambil berteriak.


"Baik Nyonya!" Para brandalan itu akhirnya bereaksi dan sambil berteriak mereka bergegas menuju Hua Fan.


Hua Fan agak terkejut saat melihat pecahan kaca yang berserakan di tanah. Dia tidak menyangka hal ini akan sebegitu kuatnya meskipun dia juga sudah merasakan kehebatan dari Perintah Karma sebelumnya.


Hua Fan tidak melangkah mundur ketika dia melihat sekelompok berandalan itu mendatanginya. Sebaliknya, dia malah bergegas ke depan untuk menghadapi mereka secara langsung.


Dengan kekuatan dan kecepatannya sekarang, ketujuh berandalan itu dapat ditangani hanya dengan waktu satu menit. Mereka dipukuli saat mereka terbang dari segala arah sampai terdengar jeritan kesakitan. Mereka jatuh ke tanah satu per satu dengan kondisi badan kesakitan. Mereka bahkan tidak memiliki kekuatan untuk berdiri kembali.


Huang Linlin dan Zhao Songyang tercengang saat mereka melihat gerak gerik Hua Fan. Tatapan mata mereka dipenuhi dengan rasa keterkejutan dan ketidakpercayaan.

__ADS_1


Apakah dia adalah orang yang sama dengan orang yang dipukulinya sampai jatuh pingsan di kafe? Bagaimana bisa dia tiba-tiba menjadi begitu kuat?


"Beraninya kamu memukul suamiku? Apa kamu sudah gila? Apa kamu tahu siapa pamannya?" Huang Linlin buru-buru mengancam Hua Fan ketika dia melihat Hua Fan berjalan ke arahnya.


"Kamu ... Habislah kamu. Aku yakin pasti kamu akan mati kali ini!" Zhao Songyang yang telah mengatur kembali napasnya, berbicara sambil memelototi Hua Fan dengan tatapan membunuh.


"Sudah diamlah kamu!"


Hua Fan berkata sambil memukul dada Zhao Songyang untuk kedua kalinya.


Zhao Songyang memuntahkan darah sebelum dia menghantam mobil lagi lalu jatuh ke tanah.


"Sudah cukup dasar orang gila! Aku akan menghabisimu!" Huang Linlin bergegas ke arah Huan Fan dan meraih lengannya sebelum dia sempat menariknya kembali. Huang Linlin membuka mulutnya dan hendak menggigitnya.


Tepat sebelum giginya dapat menggigit lengan Hua Fan, dia sudah menampar wajah Huang Linlin terlebih dahulu dan membuatnya terlenting dengan suara jeritan yang menyedihkan.


"Aku biasanya tidak memukul wanita, tapi ketika aku melakukannya, aku melakukannya kepada pelacur yang pantas mendapatkannya!" Hua Fan memelototi Huang Linlin, yang meludahkan beberapa giginya yang patah dan bercampur darah. Kemudian Huan Fan berbalik untuk memegang leher Zhao Songyang dan mengangkatnya dari tanah sambil berkata, "Ayo, katakan padaku bagaimana aku akan mati."


Zhao Songyang, yang berada dalam posisi berjinjit berusaha untuk melepaskan diri dari cengkramannya. Pada saat itu juga dia baru menyadari bahwa tangan Hua Fan seperti penjepit besi dan dia tidak bisa bebas darinya. Dia akhirnya menyerah dan berbisik dengan samar, "Baiklah, Kuakui kekalahanku. Apa yang kamu mau?"


Zhao Songyang ragu sebentar sebelum dia mengingat permintaan Hua Fan saat dia pergi ke kafe hari ini. Dia segera berkata, "Kamu ingin uang berjumlah empat ratus juta rupiah, kan? Aku dengan senang hati akan mengulurkan tangan untuk memberikan uang itu padamu jika kamu mau melepaskanku. Bagaimana?"


"Setuju!" Mendengar usulannya, Hua Fan melepaskan cengkramannya dari leher Zhao Songyang dan mengambil tangannya lalu memutarnya dengan keras, Zhao Songyang langsung menjerit kesakitan diikuti oleh suara patah tulang.


"Kamu ... Kamu mengingkari janjimu! " Zhao Songyang memelototi Hua Fan dengan marah sambil berteriak.


"Kapan aku mengingkari janjiku? Bukannya kamu baru saja mengatakan akan memberikanku tanganmu dan sejumlah uang? Jadi, aku tetap bisa mematahkan tanganmu karena kamu memberikannya untukku kan? Tapi aku masih menunggu uang yang sudah kamu janjikan. Jadi, mana uangku?" Hua Fan menatap Zhao Songyang sambil bertanya.


Zhao Songyang ingin membantahnya dan mengatakan bahwaitu hanya omong kosong, tetapi ketika melihat sikap Hua Fan yang mendominasi dia tidak berani untuk membenarkan perkataannya lalu berkata, "A-aku akan segera mentransfer uangnya padamu...


Kemudian dia berteriak pada Huang Linlin yang berada di seberang, "Apalagi yang kamu tunggu? Cepat transfer uang itu padanya. Apa kamu sedang menunggunya untuk membunuhku?"


Huang Linlin memiliki lima sidik jari yang membekas jelas di pipinya dan matanya dipenuhi dengan amarah karena penghinaan yang dia terima. Akan tetapi dia hanya diam saja dan tidak berani bersuara.

__ADS_1


Hua Fan lalu memberikan nomor rekeningnya kepada Huang Lilin dan tidak lama kemudian dia sudah menerima teks pemberitahuan bahwa uang senilai empat ratus juta telah masuk ke dalam rekeningnya. Baru setelah dia menerima uang, Hua Fan tidak ingin repot-repot tinggal di sana bersama mereka lebih lama lagi dan pergi bersama adiknya.


Melihat Hua Fan sudah pergi, salah satu berandal menghampiri Zhao Songyang dengan ekspresi ketakutan di wajahnya sambil berkata, "Tuan Zhao, aku sudah menelepon polisi. Orang itu pasti belum pergi terlalu jauh."


"Untuk apa kamu melakukan hal seperti itu? Apakah aku butuh polisi untuk membereskan urusanku? Bagaimana aku akan menunjukkan mukaku di daerah sini kedepannya? " Zhao Songyang berteriak sambil mengusir orang yang melaporkan kejadian ini ke polisi. Dia berdecak dan berteriak, "Panggil ambulans sekarang juga!"


Pria itu dengan cepat bangkit dari tanah dan menjawab, "Emm... kita sudah ada di depan pintu masuk rumah sakit."


Zhao Song mengangkat kepalanya dan melihat papan nama rumah sakit. Sambil menahan rasa sakit di lengannya, dia datang mendekati pria itu dan menendangnya lagi.


"Kamu ... Kamu satu-satunya yang terlalu banyak bicara di sini!"


"Brengsek! Apa yang kalian tunggu? Cepat gendong aku masuk!"


Hua Fan dan adiknya belum pergi jauh ketika mereka mendengar suara ban yang melengking. Mereka menoleh dan mendapati sebuah mobil mewah berwarna merah mendadak berhenti di sebelah mereka.


Pintu mobil terbuka dan seorang perempuan muda yang memakai setelan baju formal berwarna gelap keluar.


"Ha, Halo kakak ipar." Hua Xue langsung menyapanya saat dia melihat siapa orang yang keluar.


"Xue, apa kamu tidak apa-apa? Aku kira kakimu... "Orang yang baru saja datang adalah istri Hua Fan, Xia Waner. Dia sangat terkejut saat melihat Hua Xue sudah bisa bangun dan berjalan.


Setelah merenung sejenak, Hua Xue menjawab, "Aku pikir rumah sakit mencoba menipu kita. Jadi, mereka membuatnya terdengar seperti benar-benar penyakit serius. Tak lama kemudian, aku berhasil berdiri sendiri, sehingga mereka tidak bisa menipuku lagi. Meskipun begitu, aku tetap harus berterima kasih atas bantuan uangnya kak."


"Oh begitu. Ini adalah kabar baik. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan kakakmu jadi bisakah kamu tunggu kami di dalam mobil?" Ekspresi Xia Waner berubah sedikit, tetapi tidak lama dia sudah kembali tenang.


"Oke." Hua Xue mengangguk dan masuk ke dalam mobil Xia Waner.


"Jadi aku ingat kamu mengatakan bahwa adikmu mengalami kecelakaan mobil dan keadaannya sangat parah sehingga kamu membutuhkan empat ratus juta rupiah untuk biaya pengobatannya, ya kan?" Xia Waner menatap Hua Fan dengan ekspresi dingin di wajahnya.


"Awalnya ibuku mengatakan bahwa kamu telah mengarang cerita supaya kamu bisa menipuku tapi aku tidak percaya padanya."


"Dia bahkan memblokir kontakmu di ponselku secara diam-diam. Sampai aku baru tahu hari ini ini dan ketika melihat kamu meninggalkan banyak pesan dan panggilan, aku jadi merasa cukup bersalah, jadi aku segera mentransfer uang ke rumah sakit. Aku bahkan datang ke sini untuk melihat apakah ada hal lain yang bisa kubantu untuk adikmu.

__ADS_1


"Tapi begitu uang itu ditransfer, aku baru tahu bahwa adikmu yang katanya sangat membutuhkan uang itu langsung sembuh."


"Hua Fan, kamu boleh bersikap tidak tahu malu tapi juga ada batasannya. Oke! Bahkan jika kamu tidak tahu malu pun, kamu tidak boleh melibatkan adikmu. Dia masih kecil dan juga memiliki masa depan yang cerah di depannya. Cara kotormu ini dapat mempengaruhi caranya berkembang dan lebih buruknya bahkan merusak cara pandangnya tentang hidup!"


__ADS_2