
"Kembalikan saja anggur ini padanya. Kamu sudah mengganggu makan malam kami!" Raut wajah Xia Waner berubah menjadi sangat dingin seperti es.
Di saat yang sama, Xia Waner melirik Hua Fan, tetapi dia mendapati Hua Fan masih fokus memakan steiknya. Rasa kecewa langsung berkelebat di matanya.
Ketika pelayan itu melihat tatapan mata Xia Waner, dia pun tersenyum sinis. "Bu, seperti yang Anda lihat. Dalam situasi seperti ini, pasangan pria Anda bahkan nggak berani mengucapkan sepatah kata pun. Apakah dia layak membuat Anda melepaskan kesempatan untuk mengenal Tuan Cao? Jelas sekali dia lebih memahami keadaan dibandingkan dengan Anda!
"Pergi!" teriak Xia Waner.
Xia Waner dan Hua Fan tidak memiliki perasaan terhadap satu sama lain dan mereka akan segera bercerai. Namun, sikap Hua Fan saat ini sangat mengecewakannya.
Saat ini, Tuan Cao sudah beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan mendekat sembari memegang segelas anggur di tangannya. Dia terlihat sangat percaya diri.
"Tuan Cao masih suka melakukan hal-hal seperti ini. Dia baru merasa puas setelah merebut seorang gadis di depan pacarnya!"
"Benar. Sebelumnya Tuan Cao berhasil merusak hubungan gadis yang menarik perhatiannya, hanya dengan dua milyar rupiah."
"Di zaman sekarang ini, uang jauh lebih penting daripada cinta."
"Sepertinya hari ini akan ada tontonan yang bagus!" Beberapa pemuda dan gadis cantik terkekeh, lalu mengikuti Tuan Cao.
Ketika Xia Waner melihat Tuan Cao semakin dekat, dia menoleh untuk melihat Hua Fan. Saat dia melihat Hua Fan masih dengan tenang memasukkan potongan terakhir steik ke dalam mulutnya seolah-olah dirinya sama sekali tidak penting baginya, dia merasa sangat kecewa.
"Halo Nona. Namaku Cao Feng. Boleh aku mentraktirmu minum?" Ketika Cao Feng tiba di hadapan Xia Waner, raut wajahnya berubah menjadi sedikit lebih lembut. Dia sepenuhnya mengabaikan Hua Fan.
Xia Waner juga mengabaikan Cao Feng, lalu berkata kepada Hua Fan dengan sedikit tidak senang, "Apakah kamu sudah selesai makan? Kalau sudah, ayo pergi!"
Pelayan di samping berkata dengan marah, "Bu, Anda sungguh nggak tahu diri. Tuan Cao sangat menghormatimu sampai-sampai datang langsung ke sini. Kalau Anda nggak menerima anggur ini, Anda pasti akan mendapat masalah!"
"Jangan seperti ini ... jangan bersikap seperti ini ... Kamu harus bersikap lembut terhadap wanita." Cao Feng menyela perkataan pelayan itu, lalu menoleh untuk melihat Hua Fan. "Tapi kalau terhadap pria, lain lagi ceritanya. Aku menyukai pacarmu, kamu pergi saja. Tapi tentu saja, sebelum kamu pergi, jangan lupa membayar tagihanmu. Bagaimanapun juga, nggak sopan membiarkan wanita membayar tagihan makanan!"
"Kamu nggak layak bersanding dengan wanita secantik ini!" sindir si pelayan sembari menatap Hua Fan.
Para tamu lain yang berkerumun untuk menyaksikan keramaian, juga tampak senang di atas penderitaan Hua Fan.
__ADS_1
Hua Fan menyeka mulutnya dengan tisu, lalu berdiri sembari berkata kepada Xia Waner, "Ayo pergi."
"Kamu nggak paham maksud perkataanku? Aku menyuruhmu pergi sendirian!" Cao Feng menyipitkan matanya, lalu melayangkan tamparan ke arah Hua Fan.
Namun, sebelum tangan Tuan Cao mengenai wajah Hua Fan, tangannya sudah ditangkap oleh Hua Fan.
"Lepaskan tanganku! Kalau kamu nggak melepaskan tanganku, aku akan membunuhmu!" Tangan Cao Feng kesakitan akibat cengkraman Hua Fan, lalu dia menyiram Hua Fan dengan anggur di tangan kirinya.
Karena jarak mereka sangat dekat, Hua Fan tidak sempat menghindar. Pakaiannya langsung berubah menjadi berwarna merah anggur, lalu raut wajahnya berubah menjadi dingin. "Kamu benar-benar cari mati!"
Hua Fan mencekik leher Cao Feng, lalu menekan kepalanya di atas meja makan. Kemudian, dia mengambil asbak, lalu menghantamkannya ke kepala Cao Feng.
"Bam!" Asbak berbahan kaca itu pecah seiring dengan terdengarnya suara hantaman yang keras. Ketika Cao Feng berteriak, Hua Fan menendangnya hingga membuat tubuhnya terlempar cukup jauh. Dia menabrak teman-temannya dan membuat meja di sebelahnya terbalik, hingga barang-barang di atas meja berserakan di atas lantai.
Suasana di seluruh restoran langsung menjadi hening, lalu semua orang menatap Hua Fan dengan tatapan kaget.
Namun, Cao Feng bukanlah seseorang yang dianggap remeh. bisa
Xia Waner juga tercengang melihat aksi Hua Fan yang sangat cepat. Sedikit rasa kecewa yang dia rasakan sebelumnya, sudah sepenuhnya sirna, lalu digantikan dengan perasaan khawatir terhadap Hua Fan.
"Aku akan memberimu kesempatan. Berlutut dan minta maaf kepada istriku. Kalau nggak, kamu nggak perlu menuliskan margamu secara terbalik, kamu tuliskan saja langsung di batu nisanmu," kata Hua Fan dengan dingin.
"Ayo, maju! Akhirnya aku bisa bertemu seseorang yang jauh lebih hebat dariku. Aku ingin melihat apakah kamu bisa menulis namaku di batu nisan atau nggak! Kamu sungguh bernyali sampai-sampai berani mencari masalah dengan Trogon Group," kata Cao Feng sambil tersenyum puas di wajahnya.
"Aku rasa kamu nggak tahu Tuan Cao adalah kerabat Bu Lan. Dialah yang memberinya Restoran Beria ini!" kata si pelayan menimpali.
Menurut pelayan itu, orang biasa seperti Hua Fan pasti akan mati karena berani menyakiti Cao Feng.
Setelah para tamu mendengar latar belakang Cao Feng, tanpa sadar mereka pun mundur beberapa langkah ke belakang.
Mereka bahkan menatap Hua Fan dan Xia Waner dengan tatapan kasihan. Kalau seseorang telah menyinggung Grup Trogon, maka hidupnya di Yorkston sudah pasti akan berakhir.
"Sepertinya kamu nggak menginginkan kesempatan yang kuberikan!" kata Hua Fan sembari mendengus.
__ADS_1
"Kesempatan? Kamu memberiku kesempatan? Ayo maju, biar aku lihat dari mana kamu mendapatkan kepercayaan diri seperti ini!" Cao Feng mencibir, lalu lanjut berkata, "Aku rasa kamu hanyalah orang desa yang bahkan nggak tahu GrupTrogon itu apa, 'kan? Kalau nggak, bagaimana mungkin kamu berani berbicara sesombong ini?"
Hua Fan mengeluarkan sebuah kartu. "Kamu menyuruhku membayar tagihanku, 'kan? Ambil kartu ini!
"Kamu kira masalah ini akan tuntas setelah kamu membayar tagihanmu? Kamu boleh membayar tagihanmu, tapi tinggalkan tanganmu yang memukulku di sini ... " Cao Feng belum selesai berbicara, tapi saat dia melihat kartu yang Hua Fan letakkan di atas meja, dia tiba-tiba berhenti berbicara.
Cao Feng mengambil kartu itu dengan tidak percaya, lalu memeriksanya dengan saksama.
"Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin ini Kartu Trogon?" gumam Cao Feng di dalam hati. Keringat dingin terus mengucur dari dahinya.
Setahu Cao Feng, Trogon Group hanya pernah memberikan tiga buah kartu. Dua di antaranya dihadiahkan kepada dua orang yang sangat amat berkuasa di provinsi itu, sedangkan yang satu lagi diberikan kepada orang nomor satu di Yorkston.
Tentu saja, karena Hua Fan masih sangat muda, dia pasti bukan salah satu dari ketiga orang hebat itu. Namun, karena dia diberi satu Kartu Trogon di usia yang terbilang muda ini, itu berarti statusnya pasti tidak kalah dengan tiga orang hebat itu.
Benar, dia masih sangat muda. Bagaimana mungkin dia bisa memiliki Kartu Trogon?
Ketika Cao Feng terpikirkan akan hal ini, dia langsung menelepon Lan Yuxin.
Namun, ketika Cao Feng menutup telepon, sekujur tubuhnya sudah dibasahi oleh keringat.
Lan Yuxin hanya mengucapkan satu kalimat padanya. "Tidak peduli apa pun caranya, penuhi seluruh permintaan Tuan Hua.'
Tuan Hua? Di Yorkston, ada berapa banyak orang yang layak dipanggil oleh Lan Yuxin dengan sebutan yang sangat sopan ini? Cao Feng merasa dunia seakan berputar dan harapan terakhirnya pun telah pupus.
Kemudian, Cao Feng pun langsung berlutut di hadapan Hua Fan.
Orang-orang yang melihat keramaian pun langsung kaget.
"Tuan Hua, maafkan saya... Maafkan saya karena sudah tidak mengenali Anda. Anda orang yang baik hati, tolong beri saya satu kesempatan ... kata Cao Feng sembari menampar dirinya.
Tidak sampai satu menit, kedua pipinya sudah bengkak.
Cao Feng tahu betul, hanya dengan sepatah kata dari Hua Fan, dirinya mungkin akan mati karena kecelakaan atau langsung lenyap dari dunia ini.
__ADS_1
Para tamu yang berkerumun juga membelalakkan mata mereka saat melihat seluruh kejadian ini. Tidak ada yang menyangka akhirnya akan seperti ini.