
"Setelah dia memukuliku dan berhasil melukaiku, banyak Lipan Merah yang datang dan menyerangnya hingga membuat tubuhnya terkoyak seperti itu!" Setelah kematian Miao Haiyang, Hua Fan memikirkan bagaimana cara menjelaskan apa yang baru saja terjadi.
Bagaimanapun, pertarungannya dengan Miao Haiyang telah membuatnya sadar betapa menakutkan seorang Master Setengah Langkah. Jika dia berkata bahwa dia telah membunuh Miao Haiyang dengan kekuatannya sendiri, akan sulit baginya untuk membuktikannya. Apalagi, dengan luka gigitan di seluruh tubuh Miao Haiyang.
Setelah masalah ini diselidiki secara menyeluruh, rahasia Perintah Karma dalam tubuhnya akan terungkap, dan itu akan membawa masalah yang besar baginya.
"Mungkinkah itu serangan balik para lipan?" Tuan Qin mengerutkan dahinya. Meski masih memiliki keraguan, dia tidak dapat menemukan penjelasan lainnya tentang kematian Miao Haiyang.
"Mungkin..." Hua Fan menjawab, mengikuti asumsinya.
"Bajingan beruntung!" gumam Zhang Shimo. Dia mengira Hua Fan telah mati, tetapi pada akhirnya menemukan bahwa pemuda itu entah dengan cara apa lolos dari kematian.
Meskipun suaranya sangat kecil, Hua Fan mendengarnya. Namun, Hua Fan, yang terluka parah dan kesulitan berdiri, tidak dalam suasana hati yang baik untuk berdebat dengannya.
"Flash drive ini adalah apa yang kita cari!" Chen Yongqiang menutup laptop dan menyerahkan flash drivenya kepada Tuan Qin.
"Baiklah, bawanya turun. Kami akan pergi dulu!" kata Tuan Qin setelah mereka mendapatkan flash drive. Ia khawatir akan muncul lebih banyak masalah lagi jika lebih lama berada disana. Dia segera pergi bersama Pelaksana Seni Bela Diri Tingkat Tinggi lainnya.
Tuan Qin seperti merasakan ada sesuatu yang tidak beres di antara Zhang Shimo dan Hua Fan. Dia memanggil Zhang Shimo sebelum mereka pergi. "Shimo, ikut kami!"
Dia tidak tahu apakah itu kekuatan atau hanya keberuntungannya saja yang membuat Hua Fan bisa mengalahkan Miao Haiyang, tetapi yang ia tahu adalah bahwa Hua Fan adalah sosok yang berjasa dan Zhang Shimo pasti akan kalah jika berkelahi dengannya.
Di sisi lain, Tang Qi memanggil seseorang untuk membawa tandu dan menempatkan Hua Fan di atasnya untuk membawanya menuruni gunung. Sementara itu, ada anggota organisasi lain yang menangani mayat Miao Haiyang.
Senyum tak berdaya terlihat di wajah Hua Fan saat dia berbaring di tandu. Dia tidak menyangka bahwa dia akan terluka dengan parah seperti ini setelah dia memperoleh Perintah Karma.
Untungnya, sebelum dia ditempatkan di tandu, Tang Qi memberinya sebuah Batu Spiritual. Hua Fan dengan diam-diam mulai bertapa dan menyerap Aura Agung dari batu tersebut.
Namun, karena dia terluka, dia tidak berani menyerap Aura Agung dengan cepat. Dia hanya bisa menyerapnya sedikit demi sedikit. Meskipun begitu, saat memasuki distrik vila, dia sudah selesai menyerap semua Aura Agung yang ada di dalam Batu Spiritual.
Ketika Kekuatan Spiritualnya sudah terisi penuh, dia bisa bangun dari tempat tidur dan berjalan, serta melakukan gerakan-gerakan sederhana.
"Aku tidak perlu ke rumah sakit. Aku akan baik-baik saja setelah beberapa saat!" Dengan keterampilan medisnya, Hua Fan tidak perlu pergi ke rumah sakit.
__ADS_1
"Apa kau yakin akan baik-baik saja?" Meskipun Tang Qi mengetahui bahwa Pelaksana Seni Bela Diri yang telah mencapai Tingkat Tinggi dapat memulihkan tubuh mereka sendiri dengan menyerap Aura Agung selama bertapa, dia masih khawatir ketika melihat wajah pucat Hua Fan.
"Aku baik-baik saja!" kata Hua Fan sambil mengangguk.
"Baiklah kalau begitu, kau mau pergi kemana? Aku akan mengantarmu!" lanjut Tang Qi.
Hua Fan menunjuk ke arah vila yang tidak jauh dari mereka berada. Vila tersebut diberikan kepadanya oleh Hong Yafeng. Ia berkata, "Terima kasih, tapi tidak perlu repot. Aku tinggal di situ!"
"Oh, oke kalau begitu!" Pada awalnya, Tang Qi sedikit kaget melihat Hua Fan mampu membeli vila di usia yang begitu muda, tetapi ketika dia teringat akan kekuatannya, dia merasa itu wajar.
Tetapi, dia tetap bersikeras mengantar Hua Fan sampai ke depan pintu villanya sebelum dia pergi meninggalkannya.
Di dalam vila, Hua Fan mulai bertapa lagi. Meskipun dia terluka parah, dengan bantuan Batu Spiritual, dia sudah tidak selemah apa yang dia rasakan di puncak gunung.
Dia pun mulai memperoleh kembali Kekuatan Spiritual dari Dantiannya. Bersamaan dengan itu, luka-luka di tubuhnya sembuh secara otomatis. Tapi meskipun demikian, dia membutuhkan tiga hari dan tiga malam untuk sepenuhnya pulih.
Jumlah Kekuatan Spiritual di Dantiannya sedikit meningkat. Ini bukan hanya karena memperoleh Batu Spiritual yang baru, tetapi juga karena pertarungan dengan Miao Haiyang sebelumnya. Meskipun Hua Fan telah menghadapi situasi yang berbahaya, dia juga mendapatkan banyak manfaat darinya.
Dia menghela nafas dan merasakan tekanan batin yang kuat.
Lupakan saja. Sebelum membuat kesimpulan dari masalah ini, lebih baik aku tidak kembali ke keluarga Xia.Lagipula, aku belum yakin jika Master Lipan Api sudah mengetahui tentang kematian murid-muridnya. Aku pun tidak tahu kapan dia akan datang kepadaku setelah dia mendengar kabarnya.Aku tidak ingin Xia Waner terlibat dengan masalah ini. Jadi, untuk sementara waktu, aku tidak akan kembali.>Meskipun sudah sekitar pukul delapan malam, Hua Fan, yang hanya berdiam di rumah selama tiga hari dan tiga malam, masih merasa sedikit lelah. Ia pun memutuskan untuk keluar dari vila dan berjalan di luar.Dia tidak tahu ingin pergi kemana dan hanya ingin berjalan-jalan di luar untuk bersantai.Tidak ada taksi di distrik vila Gunung Repton pada malam hari. Hua Fan membutuhkan lebih dari setengah jam untuk memasuki area pusat kota.Sambil ia berjalan tanpa arah, ia memutar kembali semua yang telah terjadi selama ini di dalam pikirannya. Tanpa ia sadari, ia sudah tiba di Jalan Bar.Dia melihat Beiliff Bar.Melihat papan namanya, Hua Fan tersenyum. Itu adalah bar dimana Zhao Songyang menipunya untuk bertemu dengan Zhao Zhennan.Dilihat dari hari yang sudah malam, semua luka Zhao Zhennan seharusnya sudah hampir pulih sekarang.Hua Fan menghela nafas lembut dan berjalan ke arah Azure Bar di sebelah Beiliff Bar karena ia tidak memiliki agenda apa pun.Meskipun bar apa pun sama saja bagi Hua Fan yang hanya ingin bersantai, jika dia pergi ke Beiliff Bar dan bertemu Zhao Zhennan lagi, dia akan merasa sedikit malu.Saat malam tiba, meskipun tidak ada banyak pelanggan di bar, mereka menggerakan tubuh seirama dengan lagu metal yang ada.Begitu Hua Fan duduk di sebuah sudut, seorang pelayan segera datang melayaninya.Hua Fan dengan santai memesan bir dan hendak membayar ketika seorang pemuda dengan rambut yang di warnai datang dan berkata, "Minumannya gratis untukmu!"Dengan pencahayaan redup yang ada, Hua Fan berhasil mengenali pria itu dan dibuat terkejut olehnya."Lin Yu? Apakah itu kau?" Hua Fan menatapnya dan bertanya.Pria itu ternyata adalah teman sekelasnya yang memiliki hubungan baik dengannya saat bangku SMA. Namun, Hua Fan jarang berhubungan dengannya setelah studinya, karena sesuatu terjadi pada keluarganya sehingga harus mencari nafkah sendiri.Meskipun begitu, ketika Hua Xue baru saja diterima di universitas, Lin Yu pergi ke rumahnya dan memberinya empat juta rupiah sebagai hadiah ucapan selamat.Meskipun banyak keluarga mengadakan perjamuan ketika anak-anak mereka masuk ke universitas, pada saat itu Hua Fan tidak memiliki cukup uang untuk mengadakannya, apalagi memberi tahu siapa pun tentang pendaftaran adiknya ke suatu universitas.Lin Yu ingin menawarkan bantuan kepada Hua Fan saat itu, dan dia tidak pernah melupakan kebaikannya.Dalam ingatan Hua Fan, Lin Yu adalah murid yang baik dan anak yang patuh. Tetapi sekarang dia berpakaian compang-camping dan terlihat juga sebuah tato yang tertutup oleh bajunya.Jika Lin Yu tidak menghampirinya dan memberinya minuman secara gratis, Hua Fan tidak akan bisa mengenali pemuda itu sebagai teman lamanya.
Lupakan saja. Sebelum membuat kesimpulan dari masalah ini, lebih baik aku tidak kembali ke keluarga Xia.
Lagipula, aku belum yakin jika Master Lipan Api sudah mengetahui tentang kematian murid-muridnya. Aku pun tidak tahu kapan dia akan datang kepadaku setelah dia mendengar kabarnya.
Aku tidak ingin Xia Waner terlibat dengan masalah ini. Jadi, untuk sementara waktu, aku tidak akan kembali.>
Meskipun sudah sekitar pukul delapan malam, Hua Fan, yang hanya berdiam di rumah selama tiga hari dan tiga malam, masih merasa sedikit lelah. Ia pun memutuskan untuk keluar dari vila dan berjalan di luar.
Dia tidak tahu ingin pergi kemana dan hanya ingin berjalan-jalan di luar untuk bersantai.
Tidak ada taksi di distrik vila Gunung Repton pada malam hari. Hua Fan membutuhkan lebih dari setengah jam untuk memasuki area pusat kota.
__ADS_1
Sambil ia berjalan tanpa arah, ia memutar kembali semua yang telah terjadi selama ini di dalam pikirannya. Tanpa ia sadari, ia sudah tiba di Jalan Bar.
Dia melihat Beiliff Bar.
Melihat papan namanya, Hua Fan tersenyum. Itu adalah bar dimana Zhao Songyang menipunya untuk bertemu dengan Zhao Zhennan.
Dilihat dari hari yang sudah malam, semua luka Zhao Zhennan seharusnya sudah hampir pulih sekarang.
Hua Fan menghela nafas lembut dan berjalan ke arah Azure Bar di sebelah Beiliff Bar karena ia tidak memiliki agenda apa pun.
Meskipun bar apa pun sama saja bagi Hua Fan yang hanya ingin bersantai, jika dia pergi ke Beiliff Bar dan bertemu Zhao Zhennan lagi, dia akan merasa sedikit malu.
Saat malam tiba, meskipun tidak ada banyak pelanggan di bar, mereka menggerakan tubuh seirama dengan lagu metal yang ada.
Begitu Hua Fan duduk di sebuah sudut, seorang pelayan segera datang melayaninya.
Hua Fan dengan santai memesan bir dan hendak membayar ketika seorang pemuda dengan rambut yang di warnai datang dan berkata, "Minumannya gratis untukmu!"
Dengan pencahayaan redup yang ada, Hua Fan berhasil mengenali pria itu dan dibuat terkejut olehnya.
"Lin Yu? Apakah itu kau?" Hua Fan menatapnya dan bertanya.
Pria itu ternyata adalah teman sekelasnya yang memiliki hubungan baik dengannya saat bangku SMA. Namun, Hua Fan jarang berhubungan dengannya setelah studinya, karena sesuatu terjadi pada keluarganya sehingga harus mencari nafkah sendiri.
Meskipun begitu, ketika Hua Xue baru saja diterima di universitas, Lin Yu pergi ke rumahnya dan memberinya empat juta rupiah sebagai hadiah ucapan selamat.
Meskipun banyak keluarga mengadakan perjamuan ketika anak-anak mereka masuk ke universitas, pada saat itu Hua Fan tidak memiliki cukup uang untuk mengadakannya, apalagi memberi tahu siapa pun tentang pendaftaran adiknya ke suatu universitas.
Lin Yu ingin menawarkan bantuan kepada Hua Fan saat itu, dan dia tidak pernah melupakan kebaikannya.
Dalam ingatan Hua Fan, Lin Yu adalah murid yang baik dan anak yang patuh. Tetapi sekarang dia berpakaian compang-camping dan terlihat juga sebuah tato yang tertutup oleh bajunya.
Jika Lin Yu tidak menghampirinya dan memberinya minuman secara gratis, Hua Fan tidak akan bisa mengenali pemuda itu sebagai teman lamanya.
__ADS_1