
Hua Fan mengangkat kakinya dan menendang pintu hingga terbuka. Pada waktu yang bersamaan, seember air jatuh ke arahnya. Hua Fan menyapu kakinya, dan ember air langsung terbang menuju tengah kelas.
"Sial!"
Ketika ember terbang melintasi ruangan, air mulai tumpah keluar darinya. Sambil berteriak kaget, para siswa berusaha menghindari tetesan itu.
Akhirnya ember itu mendarat di kepala seorang cewek yang sedang duduk di barisan terakhir kelas.
Melihat hal itu, tiba-tiba suasana kelas menjadi suram. Tetapi mereka tidak melihat Hua Fan. Tatapan mereka terfokus pada Qin Yun, yang basah kuyup dengan ember dikepalanya.
Dia adalah putri Qin Jianqiang. Sekarang ayahnya mendapat dukungan dari Tuan Hua, dia mendapat dukungan lebih di Yorkston. Sekarang bahkan keluarga Lei yang di Selatan dan keluarga Su yang di Utara harus memberinya penghormatan. Mereka tidak dapat membayangkan bahwa guru baru itu cukup berani untuk melakukan sesuatu padanya.
"Ketika aku masih remaja, aku pernah melihat hal kekanak-kanakan seperti ini dari film-film."
"Aku dengar kamu adalah kelas yang paling sulit diatur. Apakah kamu tidak punya cara lain untuk menindas guru baru?" Hua Fan berkata sambil mendekati podium.
"Tentu saja! Aku yakin aku bisa segera menemukan sesuatu!" Qin Yun yang duduk di baris terakhir kelas mulai berdiri dan melepaskan ember dari kepalanya. Namun, begitu dia melihat siapa guru baru itu, ekspresinya berubah.
Saat melihatnya, Hua Fan juga sedikit terkejut. Dia tidak menyangka bahwa gadis yang dia selamatkan malam itu adalah salah satu siswa di kelasnya. Dia juga mengenalinya sebagai putri Qin Jianqiang.
Melihat ekspresi keterkejutannya, segera Hua Fan sadari mungkin dia telah menyadari identitas aslinya melalui ayahnya, jadi dia menggelengkan kepalanya sedikit padanya.
Ketika Hua Fan menggelengkan kepalanya, Qin Yun langsung sadar.
Di saat yang sama, dia terpikir akan antusiasme yang ditunjukkan para gadis itu saat mereka menanyakan tentang informasinya. Hampir mustahil baginya untuk mengungkapkan identitas Hua Fan saat ini.
Melihat perubahan pada ekspresi Qin Yun, Hua Fan tahu kalau dia cukup pintar untuk memahami maksudnya. Kemudian dia bertanya, "Jadi, cara lain apa yang kamu punya?"
"Yah ... aku..." Baru setelah itulah Qin Yun teringat bahwa dia mengancamnya. Tapi dia ingat dengan peringatan ayahnya, dan Ayah sangat bersikeras menyuruhnya menjaga hubungan baik dengan Tuan Hua. Ayah juga memberinya izin untuk mengencaninya bahkan kalau dia mau. Tapi dia tidak boleh merusak hubungannya dengannya.
Setelah itu, Qin Yun membungkuk kepada Hua Fan dan berkata, "Pak Hua, maafkan aku. Aku yang salah."
Melihat adegan ini, semua siswa di kelas tercengang.
Kelas dibagi menjadi dua kubu. Mereka adalah kubu Su Ruiyu yang mewakili keluarga Su dari Utara dan Lei Kang yang mewakili keluarga Lei dari Selatan.Tidak ada yang cukup gila untuk menentang kepemimpinan mereka karena pengaruh keluarga mereka. Namun, semua orang juga tahu bahwa Qin Yun memiliki dukungan untuk menantang mereka. Jika bukan karena fakta bahwa Qin Yun tidak bisa diganggu tentang hal-hal seperti itu, sudah akan ada kubu ketiga di kelas.
__ADS_1
Namun sekarang, Hua Fan telah memercikkan seember air ke Qin Yun, dia malah mengakui kesalahannya kepada guru baru ini, mereka pun tidak percaya akan hal ini.
Walaupun ini adalah hasil dari keisengan mereka yang diatasi oleh guru baru, seharusnya masuk akal kalau mereka dihukum atas tindakan mereka. Tapi kelas 12A bukanlah kelas yang masuk akal.
Qin Yun juga bukan merupakan salah satu dari orang yang bisa diajak beralasan.
Hua Fan melihat warna rambutnya dan berkata, "Baiklah, pergi dan ganti pakaianmu, dan ketika kamu kembali aku ingin rambutmu diwarnai menjadi hitam."
"Baik, Pak," Di bawah tatapan kaget semua orang, Qin Yun, pengganggu wanita di kelas, menganggukan kepalanya dengan patuh dan berjalan keluar dari kelas.
Apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Semua orang saling bertukar pandang dengan kebingungan, karena mereka tidak mengerti situasinya sama sekali.
Qin Yun adalah satu-satunya siswa yang telah mewarnai rambutnya di seluruh sekolah, dan bahkan kepala sekolah pun tidak berani menyuarakan keluhannya. Tapi Tuan Hua hanya memberikannya komentar dan Qin Yun benar-benar mewarnai rambutnya kembali?
Mereka percaya bahwa Qin Yun pasti menahan niat buruk di dalam hatinya. Mungkin saja dia mencoba menurunkan kewaspadaan Tuan Hua sehingga dia bisa membalas dendam ketika dia tidak siap untuk itu.
Cerita yang sama mulai dipikirkan oleh semua orang. Jika tidak, kenyataan yang terjadi barusan tidak dapat mereka terima.
"Pak Hua, tadi kami hanya bercanda dengan kamu. Walaupun cara kami untuk menyambut guru baru kasar dan unik, tolong jangan menganggapnya serius. Aku sekarang akan melakukan pertunjukan untukmu, bagaimana menurutmu?" ucap Li Mingyi.
"Yah, hal seperti ini tidak kusangka. Apa yang kamu tunggu? Tunjukkan padaku," ucap Hua Fan.
Li Mingyi berkata sambil mengoper batu bata itu kepada Hua Fan sambil berkata, "Tolong periksa untuk melihat apakah ada yang salah dengan batu bata ini."
Hua Fan bekerja sama untuk mengambil batu bata itu dan menimbangnya di tangannya, lalu berkata, "Aku tidak melihat ada masalah dengan itu."
Pada saat ini, Li Mingyi mengambil batu bata sekali lagi dan berkata, "Oke, aku akan mengajukan pertanyaan. Menurutmu mana yang lebih keras? Apakah itu batu bata atau tinju manusia?"
"Seharusnya batu bata." hua Fan sengaja tertawa karena dia tahu kemana arah pembicaraan itu.
"Salah, ini jawabannya," Li Mingyi mencemooh saat tinjunya menabrak batu bata. Kemudian batu bata itu hancur menjadi potongan-potongan yang tak terhitung jumlahnya.
Seketika, tepuk tangan yang meriah diberikan seluruh kelas.
__ADS_1
"Pak Hua, apakah kamu menyukainya? Itu sangat asyik, bukan?"
"Tapi pak, kedepannya kamu harus memperhatikan kata-katamu. Temperamen Li Mingyi tidak terlalu baik. Jika tulang di tubuhmu tidak sekeras batu bata ini, maka kamu seharusnya tidak memprovokasi dia. Ada dua guru yang memprovokasi dia sebelumnya, dan mereka masih belum keluar dari rumah sakit."
Beberapa siswa lain juga bersorak karena mereka mencoba menakut-nakuti Hua Fan.
Hua Fan tersenyum dan menatap Li Mingyi sambil berkata, "Itu adalah pertunjukan yang luar biasa! Karena kamu melakukan dengan baik dalam pertunjukkan, mengapa aku tidak melakukan sesuatu untuk kalian semua juga? Apakah kamu memiliki sepotong batu bata lagi?"
"Ada, dan apa yang akan kamu lakukan dengan itu? Apakah kamu berencana untuk menghancurkannya untuk memeriksa apakah ada yang salah dengan batu bata?" Li Mingyi berkata sambil mengeluarkan batu bata
lain dan memberikannya kepada Hua Fan.
Saat menerima batu bata, Hua Fan pun tersenyum. Setelah itu, dia mengerahkan sedikit tenaga dengan jari-jarinya dan dalam sekejap batu bata itu hancur menjadi debu.
Saat tatapan mereka tertahan pada debu yang berjatuhan dari celah-celah di antara jemarinya, mulut semua orang terbuka lebar.
Semua orang tahu bahwa Li Mingyi terampil dalam seni bela diri dan batu bata yang dipegangnya bukanlah mainan. Namun, di tangan Hua Fan itu seperti sepotong tahu.
Pada saat yang sama, mereka memikirkan apa yang baru saja mereka katakan. "Apakah batu bata ini tidak lebih keras dari tulang mereka?"
"Aku tahu bahwa kalian semua berasal dari keluarga yang bisa memberi kalian alam semesta. Karena itu, untuk memecatku dari posisiku, kamu boleh mencoba menggunakan koneksi keluarga kalian."
"Jika keluargamu tidak bisa menyingkirkanku dari posisiku, maka tanyakan pada Li Mingyi apakah dia bisa mengalahkanku."
"Jika semuanya gagal, maka sebaiknya kalian menahan diri di masa depan. Aku tidak peduli kamu dulu seperti apa, tapi mulai hari ini, kepada siapa pun yang berani membuat masalah untukku, aku tidak akan menunjukkan belas kasihan."
"Kalian akan mengadakan sesi belajar mandiri pada jam pelajaran ini," kata Hua Fan sebelum dia berbalik dan pergi.
"Sial!!! Siapa orang ini? Bukankah dia itu menantu numpang mertua Keluarga Xia? Kenapa dia begitu kuat?"
"Li Mingyi, apakah benar-benar tidak ada yang salah dengan batu batamu?"
"Tidak bisa ku percaya masih ada guru yang bahkan lebih tidak waras dari kita. Dia merasa dia tak terkalahkan hanya karena dia memiliki beberapa kekuatan. Mari kita lihat bagaimana kita akan menghadapinya lain kali."
Setelah kepergian Hua Fan, semua orang tersadar. Saat ini, saat mereka mulai melampiaskan amarah mereka melalui kata-kata untuk mengatasi keterkejutan dan rasa malu mereka.
__ADS_1