
"Apa yang kamu masih kamu tunggu? Cepat simpan kembali, dasar idiot tidak berguna!" Xia Waner menghentakkan kakinya.
"Hei, santai! Kenapa kau terburu-buru menyimpannya? Barang ini terlihat mahal! Kita harus melihat apa yang ada di dalam bungkusan ini!" ucap Xia Feng sambil merampas kotak hadiah itu dari tangan Hua Fan saat dia masih linglung.
Dia membalik kotak hadiah Hua Fan dan
melihat ada nomer seri 001 di bawah kotak hadiah itu Xia Feng langsung mengacungkan jempol padanya lalu lanjut berkata, "Sepertinya sebelumnya aku sudah meremehkanmu. Bagaimana kamu tahu hal seperti itu? Kamu benar-benar berani membawa kado seperti ini. Dari mana kau bisa mendapatkan barang palsu seperti ini? Aku jadi mulai melihatmu dari sudut pandang yang berbeda!"
"Apa maksudmu ini barang palsu?" tanya Hua Fan bingung.
"Kamu harus berkaca. Ayolah, apa kamu benar-benar tidak tahu? Barangkali memang iya. Jika tidak, kamu tidak mungkin membawa barang seperti ini. Oke, biarkan aku memberikanmu pejelasan singkat untuk menambah beberapa pengetahuan umum bagi orang desa sepertimu!"
"Kotak hadiah ini adalah kotak khusus yang hanya bisa didapat dari Tempat Lelang Dralord, dan setiap kotaknya memiliki nomor seri yang berbeda-beda."
"Kotak yang memiliki nomor seri 001 itu berisi gelang giok yang disebut 'Gelang Lima Kebajikan'. Gelang ini dimenangkan oleh Lan Yuxin, CEO dari Trogon Group di pelelangan yang terjadi pada pagi hari ini dengan harga sepuluh milyar rupiah.
"Jadi, apakah kamu mau mengatakan jika kamu mendapatkan ini dari Lan Yuxin?"
"Oh." Hua Fan juga tercengang. Dia tidak mengira sebegitu berharganya hadiah yang diberikan Lan Yuxin padanya dengan santai, Huan Fan juga tidak pernah mengira bahwa Lan Yuxin adalah CEO Trogon Group.
Dengan status yang dimiliki Hua Fan, dia tidak akan pernah punya kesempatan untuk mendengar nama Lan Yuxin. Tetapi semua orang di Yorkston pasti tahu Trogon Group. Kekuatan Trogon Group jauh berada di atas bisnis keluarga seperti keluarga Xia.
Akan tetapi setelah dia memahami informasi tersebut, Hua Fan malah jadi lebih percaya diri dan berkata, "Bagaimana jika hadiah itu memang diberikan Lan Yuxin untukku?"
"Cukup dengan leluconmu, oke? Kami mungkin lebih percaya kalau kamu bilang kamu menang lotre dan membelinya dari Lan Yuxin."
"Tetapi kalau kamu masih bersikeras bilang dialah yang memberikanmu kado ini, jawabannya adalah kami tidak percaya. Tidak semua orang buta seperti istrimu." Kakak tertua ketiga Xia Waner, Xia Qianju jelas terhibur dengan perilaku Hua Fan yang membuat istrinya malu.
"Lihat apa yang sudah kamu perbuat!" jerit Xia Waner sambil memelototi Hua Fan. Dia jelas tidak akan percaya kalau seorang Lan Yuxin akan memberikan barang yang sangat berharga baginya.
Walaupun semua orang berpikir kalau gelang itu pasti palsu dan mungkin dia pasti mendapatkannya dari suatu tempat. Tapi hal seperti itu tidak pantas menjadi kado ulang tahun.
"Wow, kualitasnya bagus sekali." Xia Feng mendapati gelang giok itu saat dia membuka bungkusannya "Aku harus mengatakan, jika gelang ini bukan dibawa oleh si sampah itu, aku mungkin benar-benar percaya bahwa ini nyata."
__ADS_1
"Ya, Gak mudah buat membedakan mereka. Gelang giok atau kotak hadiahnya benar-benar dibuat dengan baik. "
"Hua Fan, bisakah kamu memberikanku alamat tempat kamu menemukan barang ini? Aku mau membeli beberapa barang di sana ke depannya. "
Hua Fan hanya duduk di samping karena dia sudah malas untuk memberikan penjelasan dan capek untuk ikut masuk ke dalam keributan.
"Jangan hanya megejek Hua Fan. Memang hadiah apa yang kamu siapkan untuk nenek? " karena tidak mau melibatkan dirinya lebih jauh ke dalam masalah ini jadi Xia Waner sengaja mengubah topik pembicaraan
"Pertanyaan yang sangat bagus. Kenapa kamu tidak melihatnya sendiri? "Xia Feng semakin menyombongkan diri saat dia mendengar pertanyaan itu. Saat dia berbicara dia juga dengan cepat mengambil lukisan kuno keluar. "Ini adalah Peta Pegunungan Selatan yang di gambar sendiri oleh Wu Daozi. Selama setengah tahun aku menabung supaya dapat membeli ini untuk Nenek!"
Langsung terjadi keributan di sekitar meja mereka.
"Lukisan ini adalah barang langka!"
"Luar biasa! Kamu tahu kalau nenek sangat menyukai barang antik. Kamu sudah berusaha keras untuk mendapatkannya. Nilai lukisan itu bagus, tapi menjadi berbakti itu luar biasa!"
Dari dulu Xia Feng sudah menjadi cucu kesayangan Bu Xia. Setelah dia mengeluarkan kado yang luar biasa, para tamu tidak berhenti memujinya.
Hua Fan adalah orang yang tidak mengerti tentang barang antik sebelumnya tapi pada saat Xia Feng mengeluarkan lukisan itu, metode membedakan jenis barang antik langsung diterapkan kedalam pikirannya saat Perintah Karma juga aktif di pikirannya. Dia dapat melihat kekurangan di lukisan itu dengan hanya sekali lihat.
Bahkan mereka yang hanya melukis untuk dijadikan kegemaran saja dapat membedakannya, apalagi mereka yang memiliki mata yang jeli. Jelas-jelas lukisan ini adalah adalah barang palsu yang dibeli Xia Feng dengan harga murah.
"Omong kosong! Siapa kamu berani berkata begitu? Apakah kamu mengerti tentang lukisan dan kaligrafi?"
"Cukup! Apa yang membuat kalian bertengkar? "Saat itu juga, Bu Xia, yang dipapah oleh cucunya yang lain, Xia Wu telah muncul dari balik layar.
"Nenek memiliki selera yang bagus tentang barang antik. Kita akan tahu apakah lukisanmu asli atau palsu saat kamu memberikan hadiahmu padanya," kata Hua Fan sambil tersenyum.
Mendengar ucapannya, ekspresi Xia Feng langsung berubah.
Dia tahu kalau lukisan itu memang palsu karena dia membelinya dengan harga enam puluh juta rupiah. Awalnya dia sudah menyusun rencana untuk pura-pura tidak tahu dan mengatakan bahwa dia ditipu oleh penjualnya jika Nenek sadar itu barang palsu. Jadi dia tetap dapat menunjukkan kesan kalau dia adalah anak berbakti. Tapi sekarang karena dia dipojokkan oleh Hua Fan, dia takut jika masalah ini tidak akan selesai hanya degan matanya yang tidak jeli.
Jadi Xia Feng hanya bisa memaksakan dirinya untuk berkata, "Oke, kalau begitu sekalian saja kita tunjukkan pada Nenek hadiah gelangmu itu."
__ADS_1
"Bagus! Biarkan aku menambah wawasan hari ini!" Meskipun Bu Xia memang berada di balik layar sekarang, dia tetap kedengaran pembicaraan yang terjadi di luar. Xia segera mengambil gelang itu dan meliriknya lalu dengan santai melemparkannya ke tanah.
Muncul retakan dari Gelang Lima Kebajikan yang dibeli pagi ini dengan harga sepuluh miliar oleh Lan Yuxin hancur di tempat.
"Apakah kamu berencana memberikanku barang kasaran seperti ini sebagai hadiah ulang tahunku? Apa kamu kira aku bisa dibohongi hanya karena aku sudah tua?" Wanita tua itu memelototi Xia Waner.
Setelah itu, Bu Xia mengambil lukisan itu, tetapi dengan cepat dia mengerutkan keningnya. Sekarang Xia feng jadi takut setelah memperhatikan ekspresi Jelas sekali kalau Bu Xia sudah tahu adanya kekurangan di lukisan teresebut.
Tetapi setelah melihatnya, Bu Xia hanya meletakkan lukisan itu di samping dan tertawa sambil berkata, "Bagus sekali! Ini memang lukisan asli Wu Daozi, cucu tersayangku memang sangat perhatian!"
"Dan untuk kamu Hua Fan, sepertinya kamu tambah tidak tahu malu setiap harinya! Untuk bergantung pada keluarga kami itu masih wajar, tapi aku tidak percaya kamu mau menggunakan gelang palsu ini untuk menipuku di pesta ulang tahunku sendiri. Meski begitu aku akan memaafkanmu untuk itu. Tapi tuduhanmu terhadap Xia Feng sudah sangat keterlaluan!
"Aku akan berhenti mengomel karena hari ini hari ulang tahunku. Aku akan memaafkanmu kalau kamu menuangkan teh ke cangkir Xia Feng dan meminta maaf padanya."
"Apa aku bilang. Sejak Xia Feng masih kecil, Nenek sudah sangat sayang padanya, aku sih yakin dia tidak mungkin menipu Nenek dengan memberikan lukisan palsu di hari ulang tahunnya!"
"Jelas Hua Fan salah di sini. Sudah cukup buruk menjadi orang yang tidak berguna dan dia masih saja menganggap semua orang sama dengannya. Sifatnya benar-benar jelek!" Semua kerabat ikut menimpali secara beruntun setelah mendengar kata-kata Bu Xia.
"Hua Fan, kemarilah dan minta maaf padaku!" Xia Feng kembali seperti semula dan berteriak dengan gembira.
"Cepat pergi dan minta maaflah!" bisik Xia Waner pada Hua Fan.
"Kenapa harus aku minta maaf? Kamu tidak lihat ekspresi Nenek barusan?" tanya Hua Fan.
"Jangan berlagak seakan kamu lebih tahu tentang barang antik daripada Nenek. Apa kamu lupa siapa kamu?"
Xia Waner yang tidak tahu apa-apa tentang barang antik juga tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Yang dia tahu hanyalah dia sangat malu sekarang jadi dia memelototi Hua Fan dan dengan emosi berkata, "Aku bilang cepat minta maaf ke Xia Feng sekarang!"
Bukannya balik marah, Hua Fan malah tersenyum dengan cerah. Sikap Xia Waner padanya menghapus sisa-sisa rasa bersalah yang dia punya untuk Xia Waner.
Kelemahan memang benar-benar dosa terbesar.
Pada saat itu juga, ponsel Hua Fan berdering. Dia mengambilnya dan melihat siapa yang meneleponnya. Panggilannya berasal dari nomor yang tidak di kenal, tetapi walaupun begitu dia tetap menerima panggilan itu.
__ADS_1