Kebangkitan Sang Dokter Jenius

Kebangkitan Sang Dokter Jenius
Bab 35 dua puluh miliar rupiah


__ADS_3

Sekarang ini, orang-orang yang ada di sekitar Wu Shaoyang memilih meninggalkannya.


Karena situasinya menjadi seperti ini, pergi dan tidak ikut campur adalah cara yang tepat dalam lingkungan ini.


"Ini ... ini... " Xia Waner ingin memberitahu Wu Shaoyang, bahwa dia harus memohon langsung pada Hua Fan, tetapi dia tidak bisa mengatakan itu di depan Hua Fan.


"Waner, jangan khawatir. Aku lihat ada kalung cantik dengan batu safir bernama Senja di lelang hari ini. Seberapa mahal apapun, aku akan membelikannya untukmu, asal kau mau membantuku menjelaskan ke Tuan Hong, oke?" Wu Shaoyang berpikir bahwa kali ini Xia Waner mengambil kesempatan untuk menaikkan harganya. Tapi dia tetap menundukkan kepalanya dan memohon, meskipun sebenarnya dia sangat marah.


"Tak ada gunanya memohon pada Waner. Kenapa kau tak memohon padaku saja?" Hua Fan mencibir sambil menatapnya.


"Kau? Tak salah? Meski Tuan Hong dekat dengan Keluarga Xia, tapi kau hanyalah seorang menantu yang tinggal menumpang di rumah Keluarga Xia. Sini ku beritahu, aku sama sekali tak ingin memohon padamu!" Wu Shaoyang tak sanggup lagi menahan amarahnya.


"Oke kalau begitu, aku sudah memberimu kesempatan. Kalau kau tak mau mengambilnya, maka itu bukan urusanku!" Hua Fan mendengus jijik.


"Waner, kemarin aku ... " Dia mengabaikan Wu Shaoyang dan mencoba menjelaskan tentang kejadian kemarin.


Sebelum dia selesai bicara, Waner langsung menyelanya "Semua yang kau katakan tetap tak bisa mengubah apa pun. Tak usah beralasan lagi! Kita sama-sama tahu sifatmu. Sudahlah, aku tak mau bicara lagi, paham?"


Hua Fan memilih diam setelah mendengar kata-kata Waner barusan yang menarik perhatian banyak orang.


Di saat yang sama, pemotongan pita selesai dilaksanakan.

__ADS_1


"Selanjutnya, mari kita sambut barang pertama di lelang malam ini!"


Saat Lei Shuya berbicara di atas podium, seorang gadis berjalan membawa nampan berisikan barang lelangan pertama. Dia lalu membuka kain hitam itu dan memperlihatkan sebuah lukisan gulungan. Dua orang lainnya membantu membuka lukisan yang di atasnya terdapat puisi.


"Seperti yang kita tahu, Tuan Hong ahli dalam membuat kaligrafi. Dia menyumbangkan kaligrafi yang dia buat untuk lelang amal ini. Kita buka dengan harga awal Satu Milliar Rupiah, dengan kelipatan minimum Dua Ratus Juta Rupiah." ucap Lei Shuya di atas podium.


"Dua Milliar!" Seseorang langsung mengajukan tawaran. "Tiga Milliar!" "Empat Milliar ... "


Meski Hong Yafeng sebenarnya tidak begitu pandai membuat kaligrafi, namun semua orang di Yorkston menghargainya dan mendukung itu dengan terus menaikkan penawaran.


Setelah penawaran cukup lama, akhirnya lukisan ini dimenangkan oleh Qin Mingde dari The Qwersen Group seharga Sepuluh Milliar Rupiah. Wanita yang bertugas langsung mengantar lukisan itu padanya, yang kemudian langsung dibayar oleh Qing Mingde dengan kartunya. Begitulah kegiatan di Tempat Lelang Dralord.


Kali ini, wanita lain masuk ke panggung membawa nampan berisi barang lelang lainnya. Saat kain hitam dibuka, terlihat kalung dengan batu safir di dalamnya. Kalung itu semakin bersinar karena pantulan lampu yang menyorotnya.


"Kalung ini bernama Senja. Dengan batu safir cantik yang secara alami berbentuk hati, kalung ini secara otomatis akan memancarkan cahaya biru redam dalam kegelapan. Hanya ada satu!" Disaat yang sama, lampu tiba-tiba redup. Kalung Senja itu memancarkan kilau yang sangat indah, membuat para tamu wanita yang hadir menjerit.


Saat itu juga, Hua Fan teringat tentang Perintah Karma dan liontin dari Kalung Senja tadi mucul di benaknya. Dia kebingungan. Meski tak terjadi apapun saat Karma Order diaktifkan, tapi mengetahui bahwa kalung Senja bisa beresonansi dengannya, itu cukup menarik perhatian Hua Fan.


Lampu kembali dinyalakan. "Kalung ini dibuka dengan harga Satu Milliar Rupiah, dengan kelipatan minimum Dua Ratus Juta Rupiah!" lanjut Lei Shuya.


Banyak orang langsung menawarnya, "1.5 Milliar!" "Dua Milliar!" "2.4 Milliar... "

__ADS_1


Meski tak ada nilai lain di kalung itu, namun itu tetap menarik. Terutama untuk para tamu wanita yang datang. Sementara Hua Fan berpikir, kini harganya sudah naik hampir Empat Miliar.


"Empat Miliar!" Tiba-tiba semuanya terdiam saat Wu Shaoyang memasukkan penawaran. Para petinggi senior tak mau ikut andil. Mereka memberi kesempatan untuk para pemuda memenangkan lelang. Meski mereka dermawan, tetap saja mereka enggan menghabiskan bermiliar-miiar hanya untuk membeli kalung. Banyak hal lain yang harus dibayar. Lagipula, mereka berpikir kalung itu tak setimpal dengan harga Dua Miliar.


"Waner, hanya kau yang pantas mendapatkan kalung cantik itu!" Wu Shaoyang berbisik pada Xia Waner. "Enam Miliar Rupiah!" ujar Hua Fan, yang mengejutkan para tamu yang datang.


"Siapa dia? Sepertinya aku belum pernah lihat orang itu" "Apa dia gila? Enam Miliar!" "Ssst... Aku lihat dia punya hubungan yang sangat dekat dengan Hong Yafeng" "Jangan konyol. Dia hanya Menantu Numpang Mertua di rumah Keluarga Xia. Aku tak tahu bagaimana caranya bisa masuk ke sini. Dasar tak tahu malu!"


Tamu-tamu yang hadir langsung memandang ke arah Hua Fan. Wu Shaoyang terlihat kesal, "Hua Fan, kau... Jangan main-main kau denganku! Keluarga Lei yang mengadakan acara ini. Setiap pemenang lelang harus membayarnya langsung. Apa kau tahu apa yang akan terjadi kalau kau tak sanggup membelinya?" Menurut Wu Shaoyang, Hua Fan mendengar apa yang baru saja dia katakan pada Xia Waner, jadi dia sengaja mengecohnya.


"Mau aku bisa membelinya atau tidak, itu urusanku. Apa hubungannya denganmu?" cibir Hua Fan.


Tawarannya disebutkan kedua kali oleh pembawa acara di podium. Wu Shaoyang dengan cepat langsung menawar kembali, "Tujuh Miliar!"


"Sepertinya kau diam-diam menyimpan uang Keluarga Xia selama bertahun-tahun. Tapi jangan harap kau bisa bersaing dalam hal uang denganku!" Wu Shaoyang sengaja meneriakinya penuh amarah. Menurutnya, ditawar oleh menantu yang hanya numpang di rumah mertuanya adalah hal yang sangat memalukan.


"Begitu, ya?" Hua Fan terkekeh dan mengangkat tangannya. "Oke, kalau begitu Dua Puluh Miliar!" Beberapa orang menatapnya penuh heran. Mendengar tawarannya,


konglomerat-konglomerat yang datang terkejut, terlebih lagi Wu Shaoyang. Melihat si menantu yang hanya numpang di rumah mertuanya mengajukan penawaran yang sangat tinggi, membuatnya sangat bingung. Bahkan milliarder sekalipun enggan mengeluarkan uangnya hanya untuk kalung seharga Dua Puluh Miliar yang nilainya kurang dari Dua Miliar.


"Sekarang, giliranmu" Hua Fan tersenyum. Dia tak berpikir kalau Dua Puluh Miliar itu berlebihan, karena menurutnya kekayaan duniawi tak bisa mengukur sesuatu yang beresonansi dengan Perintah Karma.

__ADS_1


__ADS_2