
Di kantor kepala sekolah SMA Merpen.
Pada saat Hua Fan masuk, dia melihat bahwa ruangan itu dipenuhi orang, dan mereka semua menilai dia.
Hua Fan sedikit terkejut saat dia melihat Zhou Heng, tetapi dia hanya tersenyum.
Meskipun sudah kurang dari sebulan sejak terakhir kali mereka bertemu, mentalitas Hua Fan sudah berubah karena semua yang terjadi selama periode ini, dan sosok kecil seperti Zhou Hen tidak layak lagi diperhatikannya.
Zhou Heng melirik Hua Fan dan memalingkan wajahnya ke samping.
Hua Fan merasa reaksinya wajar, karena Zhou Heng sudah banyak dipermalukan di depannya. Sangatlah wajar jika dia bertingkah seperti orang asing.
"Ini adalah guru baru kami, Hua Fan. Mulai sekarang, dia adalah orang yang akan bertanggung jawab atas kelas 12A. Semuanya, tolong beri dia sambutan hangat," kata kepala sekolah sambil memimpin dalam bertepuk tangan.
Secara alami yang lain ikut tepuk tangan.
Namun, saat Zhou Heng bertepuk tangan, dia pun mengedipkan matanya pada seorang guru di sebelahnya.
Setelah tepuk tangan mereda, seorang pria berusia awal empat puluhan melangkah maju dan bertanya, "Halo, Pak Hua. Aku ingin tahu kamu lulusan sekolah mana? Apa latar belakang akademismu, dan berapa tahun pengalaman mengajar yang kamu miliki?"
Dia menyadari gerakan kecil Zhou Heng dan segera bertanya kembali, "Boleh aku tahu siapa kamu?"
"Nama aku Lin Yongwen, dan aku sudah mengajar hampir dua puluh tahun. Aku telah mengajar ribuan siswa di seluruh negeri, dan juga telah memelihara banyak dari mereka yang tumbuh menjadi elit masyarakat!" Lin Yongwen menyatakan dengan bangga.
"Oh, Pak Lin, Kamu salah paham dengan pertanyaanku. Aku bertanya di sekolah ini apa posisimu?" tanya Hua Fan.
"Aku wali kelas dari kelas 12G," kata Lin Yongwen.
Meskipun metode pengajaran Lin Yongwen masuk akal, hanya bisa menjadi guru biasa karena dia telah mengajar selama dua puluh tahun terakhir dan dia tidak memiliki latar belakang yang luar biasa. Pada saat Zhou Heng datang, dengan samar dia menyatakan bahwa dia bisa mempromosikannya, jadi dia melihat kesempatan itu dan menyuarakan pendapatnya untuk Zhou Heng.
"Oh, aku mengerti. Kalau aku, aku lulusan SMA, dan sebelumnya belum pernah mengajar," ucap Hua Fan.
__ADS_1
Disebabkan dia sekarang berada di perahu yang sama dengan Zhou Heng, latar belakang Hua Fan diketahui Lin Yongwen. Ketika dia melihat bahwa orang-orang lain di ruangan itu berbisik satu sama lain, dia sangat gembira dan berkata, "Pak Hua, dengan dasar yang buruk bagaimana mungkin kamu menjadi guru di sekolah kami? Terus terang, beberapa siswa dengan nilai bagus bahkan mungkin lebih pintar darimu."
"Aku tidak menyangkal kemungkinan itu." Hua Fan mengangguk setuju dan berbicara.
Walaupun dia baru lulus selama beberapa tahun, dalam beberapa tahun terakhir buku pelajaran selalu berubah, jauh lebih kuat daripada ketika dia belajar.
"Lalu siapa yang memberimu kepercayaan untuk menjadi guru? Apakah kamu tidak takut bahwa kamu tidak akan dapat menjawab pertanyaan siswamu?" Lin Yongwen tidak menyangka Hua Fan begitu terus terang, bahkan memandang rendah Zhou Heng di dalam hatinya.
Dia tidak paham mengapa Zhou Heng anggap serius orang yang tidak berguna itu.
"Aku sadar dengan kekuranganku, tapi aku kekurangan uang. Karena sekolah memikatku dengan gaji yang tinggi, aku tidak punya alasan untuk menolak. Jika kamu tidak puas dengan aku, mengapa kamu tidak pecat aku? Ngomong-ngomong, aku belum bertemu dengan salah satu siswa, jadi mungkin tidak akan berdampak pada sekolah, benar kan?" Hua Fan berkata sambil tersenyum.
Mendengar kata-katanya, Lin Yogwen pun kebingungan. Bukannya dia tidak pernah melihat orang main-main seperti ini, tapi melihat seseorang melakukan ini di hadapan guru-guru disekolah, ini merupakan pertama kali baginya.
Namun, dalam menghadapi kata-kata Ilua Fan, dia tidak bisa menemukan alasan untuk membalasnya. Lagi pula, dia hanya seorang guru biasa. Dia hanya bisa mengalihkan pandangan pada kepala sekolah. "Baiklah, Pak Zheng. Bagaimana dengan ...
Dengan tegas kepala sekolah menatap Lin Yongwen dan mencoba menengahi situasi, "Pak IIua adalah guru olahraga. Tidak apa-apa selama dia melakukan bagiannya dengan baik."
"Di mana sopan santunnya, dan ada apa dengan sikapnya itu? Tanpa diungkitkan pengetahuannya, bagaimana dia akan menjadi guru yang baik dengan sikap seperti itu?" Saat Hua Fan keluar dari kantor kepala sekolah, Lin Yongwen masih berteriak di belakang punggung Hua Fan. Namun, Hua Fan tidak mengambil hati dan hanya mengabaikannya.
Jika dia dipecat, itu akan lebih baik baginya, sehingga tanpa melakukan apa-apa dia bisa mendapatkan lima Batu Spiritual. Sangat disayangkan bahwa Lin Yongwen dan Zhou Heng tidak memiliki wewenang seperti itu untuk melakukannya.
Melihat bahwa rencananya yang disiapkan dengan hati-hati diselesaikan oleh Hua Fan dengan cara yang tidak tahu malu, Zhou Heng secara diam diam mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan.
Pada saat yang sama, siswa kelas 12A sedang mengadakan sesi belajar mandiri.
Ketua kelas, Su Ruiyu, tiba-tiba menerima pesan. Dia menunduk, dan wajahnya berubah murung. Lalu dia membanting ponselnya ke meja.
"Su Ruiyu, ada apa?" Pada saat ini, beberapa teman sekelasnya langsung berkumpul.
"Aku tidak tahu ada apa dengan kepala sekolah. Bagaimana bisa dia mengatur seseorang seperti menantu numpang mertua keluarga Xia untuk menjadi guru kita?" Su Ruiyu berkata.
__ADS_1
"Apa yang kamu maksud? Apakah itu pria yang hidup dari seorang wanita? Apakah mereka meminta kita untuk mempelajari darinya cara untuk hidup dari seorang wanita?"
"Apakah mereka berencana ingin menyerah dengan kelas kita? Beraninya mereka menempatkan orang seperti itu untuk bertanggung jawab atas kita!"
"Tidak, guru ini harus segera kita singkirkan. Jika tidak, orang lain akan menyebut kita murid dari seorang brondong kelaknya." Ketika mendengar ini, murid di sekitar segera menyampaikan kekhawatiran mereka.
"Aku mendengar bahwa Hua Fan adalah nama dari menantu yang numpang mertua, marganya yang sama dengan Tuan Hua. Tapi mengapa Tuan Hua begitu kuat, dan Hua Fan ini adalah sampah yang tidak berguna?" Saat ini, Qin Yun yang duduk di sudut juga berbicara.
"Ngomong-ngomong, Qin Yun. Aku pernah mendengar bahwa karena campur tangan Tuan Hua adalah alasan ayahmu bisa mempertahankan posisinya sebagai pemimpin sepenuhnya. Apa kamu pernah melihatnya sebelumnya?" Perhatian semua orang kembali ke bintang yang sedang naik daun dari Yorkston. Mereka semua mengetahui nama dari orang itu adalah Tuan Hua, tetapi mereka belum pernah melihatnya sebelumnya.
Keluarga siswa di kelas semuanya memiliki kekuatan yang bukan milik mereka di Yorkston, jadi secara alami mereka mendengar tentang kompetisi tinju bawah tanah. Namun, mereka hanya tahu permukaannya dan tidak tahu detailnya.
Putri Qin Jianqiang adalah Qin Yun, jadi semua orang menatapnya untuk mendapatkan jawabannya.
"Ngomong-ngomong, aku pernah bertemu dengannya sekali. Bahkan beberapa hari lalu dia menyelamatkanku." Saat Qin Yun berbicara, dia tidak bisa tidak mengingat kejadian di malam itu.
Namun, pada saat dia memikirkan kata-kata Hua Fan bahwa belum tentu mereka akan bertemu lagi, dia tidak bisa menahan rasa sedikit kecewa.
"Wah? Apakah dia tampan? Berapa umur dia? Apakah dia sudah punya pacar?" Chen Xueqing tiba-tiba menjadi energik dan membombardir Qin Yun dengan pertanyaan.
Melihat Chen Xueqing yang sangat tertarik, Qin Yun langsung melihatnya seolah olah dia adalah saingan cintanya dan bertanya, "Apa yang kamu coba lakukan?"
"Su Ruiyu, keluargamu berkoneksi baik di Yorkston. Kenapa kamu tidak meminta bantuan ayahmu untuk mencari tahu tentang latar belakang Tuan Hua? Bahkan akan sangat bagus jika kamu mendapatkan fotonya."
"Apa kamu gila? Apakah kamu ingin selidiki seseorang seperti Tuan Hua? Maaf, aku tidak punya nyali untuk melakukannya, kurasa ayahku juga begitu."
"Lupakan saja. Pertama-tama kita harus singkirkan guru baru kita. Jika tidak, ketika siswa lain mulai menyebarkan rumor tentang kita, kita tidak akan bisa mengangkat kepala kita di masa depan."
Ketika mereka membicarakan Tuan Hua dengan kagum, mereka juga sibuk mempersiapkan upacara penyambutan untuk guru baru itu. Ini adalah tradisi kelas mereka.
Hua Fan tidak tahu bahwa muridnya sedang mendiskusikan identitasnya. Dia keluar dari kantor kepala sekolah dan dalam hitungan menit sudah tiba di depan kelas. Lalu dia menyeringai ketika melihat pintu yang terbuka.
__ADS_1