
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...... diberi tahu kan kepada Seluruh warga kampung Ujung pandan RT 001 RW 001, bahwasanya hari Minggu besok akan di adakan gotong royong membersihkan masjid Al-Ikhlas di kampung kita ini. Dalam rangka akan di laksanakan lomba MTQ tingkat kecamatan, dan kampung kita ini terpilih menjadi tuan rumah penyelenggaraan acara tesebut. Oleh karena itu, kami selaku pengurus mesjid dan panitia pelaksana memohon partisipasi dari masyarakat semua, baik itu bapak-bapak, ibu-ibu maupun anak-anak untuk kelancaran acara yang akan berlangsung di kampung kita ini. Sekian informasi ini saya sampaikan, lebih dan kurangnya saya mohon maaf, dan terima kasih", 'ucap Pak Ajis memberi pengumuman lewat toa mesjid'.
"Eh, ibu-ibu dengar tidak tadi pengumuman di mesjid, berarti benar ya apa yang di bilang Bu Wati kemarin. Benar-benar ya itu si Rima, selalu nyebar gosip yang tidak-tidak tentang Bu Wati dan keluarganya. Tapi saya jadi kasian juga sama Rima, setelah mendengar pertengkaran Rima dan Wati kemarin", 'ucap Rosma memancing ibu-ibu yang lain untuk membahas pertengkaran Rima dan Wati beberapa hari yang lalu, saat mereka sedang berbelanja di warung Bu Peni.
Warung Bu Peni adalah tempat ibu-ibu kampung itu bergosip, padahal mereka sudah sering di usir oleh Bu Peni sendiri, tetapi mereka masih tetap stay di sana dari pagi sampai agak siangan sekitar jam 9 atau 10 an.
"Iya yah, namanya juga dendam yang terselubung Ros. Kurang baik apa coba ya, keluarga Bu Wati itu sama si Rima, mereka selalu memberikan apa yang si Rima mau, padahal Rima tidak dapat jatah Warisan sebenarnya dari Kakek dan neneknya", 'Ucap Nani juga'.
"Iya sih, tapi itu kan tidak adil. Coba aja kalian bayangin Ibu Wati sama ibu Rima hanya 2 orang doang adik kakak, meskipun ibunya si Rima itu hanya anak angkat. Hanya karena, memilih laki-laki pilihannya saja dia di usir dari rumah dan tidak dapat warisan sepersen pun. Itu kan tidak adil, apa jangan-jangan hanya alasannya saja itu, memang mereka tidak niat memberikan warisan mereka sepersen pun kepada ibunya Rima. Kasian ya Rima, tenang bangat itu keluarganya si Wati", 'Ucap Rosma yang masih mengompor-ngompori'.
"Benar juga ya, apa yang kamu bilang Ros", 'Ucap Teni juga'.
Sedangkan Ibu-ibu lain yang ada di sana, hanya mendengar sambil mengangguk-angguk kan kepala.
"Iya tahu, semenjak kejadian itu saya tidak pernah tuh lihat Rima keluar rumah. Apa jangan-jangan dia sakit ya", 'Ucap Rosma mengompori lagi, agar ibu-ibu di sana juga tidak suka sama keluarga Wati.
"Kalau sampai Rima sakit, gara-gara kejadian kemarin. Kebangetan ya itu Bu Wati, dia masih santai-santai aja dan bisa tertawa, sedangkan Rima", 'Ucap Rosma lagi dengan ucapan terjeda'.
"Cukup Rosma, kamu ini sama aja dengan Rima. Selalu mengompori ibu-ibu di sini. Orang Rimanya tidak apa-apa, mondar-mandir naik motor. Saya yang lihat sendiri, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Mendingan sekarang kamu cepatan pilih apa yang mau kamu beli, saya juga mau masak ini. Kalau nungguin kalian bergosip, kapan saya mau tutup", 'Ucap Bu Peni yang mulai kesal dengan Rosma yang selalu mengompori warga di sana untuk bergibah'.
"Iya-iya Bu Peni, begitu aja sewot", 'Ucap Rosma kesal'.
"Siapa yang tidak sewot, dari tadi kamu itu mengubah sambil membolak-balik sayur-sayuran saya, sampai patah-patah tu", 'Ucap Peni menunjuk sayurannya yang patah-patah karena ulah Rosma'.
"Iya sudah ni belanjaan saya", 'Ucap Rosma sembari memberikan sayuran yang di beli'.
__ADS_1
"Yang di beli hanya tempe sama tahu doang, lamanya minta ampun", 'Ucap Peni ngedumel'.
"Totalnya 10rb", 'Ucap Peni'.
"Mahal amat cuma beli tahu sama tempe doang 10rb", 'ucap Rosma'.
"Tahu 3000, tempe 3000, sama itu sayuran kangkung saya patah sama kamu 2 ikat 4000, jadi totalnya 10.000 kan", 'Jelas Peni'.
"nggak-nggak mana bisa seperti itu, ini 6000. Enak aja itu patah gara-gara saya, emang sudah patah dari tadi kali. Saya yang berdiri disana, jadinya yang kena", 'Ucap Rosma sembari meletakkan uang 6000, kemudian berjalan pulang kerumahnya'.
"Eh Rosma, tunggu", 'Teriak Bu Peni, dan Rosma pun sudah menghilang dari pandangan Bu Peni'.
"Sudah lah Bu, biarin saja. Dia mah memang begitu orangnya, dia mah sebelas dua belas dengan Rima", 'Ucap Nani'.
Setelah Nani dan ibu-ibu yang lain berbelanja dan pulang ke rumahnya, Bu Peni pun juga menutup warungnya sementara, karena dia juga akan memasak buat suami dan anak-anaknya.
*
"Ita mana Ros?, Ita yang jualan nasi itu?", 'tanya Weni'.
"Bukan Itu Wen, tapi Ita kakak saya", 'Ucap Rosma'.
"Yang benar kamu Ros, masa sih Edi nikah lagi. Kamu tahu dari mana?", 'Tanya Rima tidak percaya'.
"Orang saya lihat sendiri, dia kerumah Eki yang perabotan itu Lo. Pasti dia minjam uang, untuk belanja istri mudanya, apalagi kalau bukan itu dia kesana", 'ucap Rosma menyakinkan'.
__ADS_1
"Kasian ya si Ita, kamu tidak bilang sama dia Ros. Kalau Edi nikah lagi?", 'tanya Weni'.
"Sudah Wen, tapi malah itanya sendiri yang marah-marah sama saya", 'Ucap Rosma'.
Suni, yang merupakan tetangga ita pun tidak sengaja mendengar percakapan antara Weni dan Rosma. Suni pun bergegas kerumah Ita, untuk menyampaikan apa yang dia dengarnya.
*
"Assalamualaikum", 'Ucap Suni di depan pintu rumah Ita'.
"Waalaikumusalam Suni, sini masuk", 'Jawab Ita mempersilahkan Suni masuk karena pintunya terbuka lebar'.
"Nah kebetulan nih bang Edi juga ada di rumah", 'Ucap Suni'.
"Kenapa emangnya Sun?, kok bawa-bawa saya", 'Ucap Edi'.
"Begini bang, tadi saya tidak sengaja mendengar percakapan Rosma dan Weni. Katanya Abang nikah lagi, dan sering minjam uang kepada Eki perabot yang di seberang itu loh", 'Jelas Suni'.
"Ini si Rosma sudah kebangetan ya, mungkin gara-gara ini Ta, bapak marah-marah sama kita kemarin", 'Ucap Edi kepada Ita'.
"Iya kali ya bang", 'Ucap Ita'. Sebenarnya dia sudah tahu kalau Rosma lah ya yang selalu mengompori bapak, agar membenci dan marah kepada keluarga Ita.
"Sekarang Itanya di mana Sun?", 'tanya Edi'.
"tadi masih di rumah Weni bang", 'Jawab Suni'.
__ADS_1
"Yasudah kalau begitu saya mau samperin dia dulu, dan sekalian saya panggil Eki. Saya mau hadap-hadapin, benar tidak saya pernah minjam uang sama si Eki. Kebangetan ini orang, maunya apa sih", 'Ucap Edi marah'.
Edi pun keluar rumah, menuju rumah Eki untuk membawanya ke hadapan Rosma. Supaya semua selesai, dan juga namanya tidak jelek di mata warga sini. Edi pun di susul oleh Ita dan Suni, mereka tidak berbicara sepatah kata pun. Takutnya Edi tambah marah.