
"oek....oek... oek....", 'suara tangis qila dari dalam kamar Adzkia'.
"Ki, qila bangun", 'ucap Wati'.
"Iya ma...", 'jawab Adzkia'.
Adzkia pun berlari kearah kamarnya, untuk menjemput qila yang sudah bangun dari tidurnya dan sedang menangis. Adzkia pun menenangkan Qila, dan membawanya keluar kamar untuk menonton televisi dan mengambil mainannya agar Qila cepat tenang.
"Anak gadis bunda lagi ngapain", 'tanya Ira yang baru pulang kerja'.
"Main bunda", 'jawab Adzkia'.
Sedangkan Qila masih sibuk dengan mainannya, dia tidak peduli siapa yang datang.
"Qila udah tidur Ki?", 'tanya Ira'.
"Udah kak, baru bangun", 'jawab Adzkia'.
"yasudah, kakak mau ganti baju dulu ya", 'ucap Ira'.
"Iya kak", 'jawab Adzkia'.
Ira pun masuk ke kamarnya yang ada di rumah Adzkia untuk ganti baju, baju Ira ada beberapa potong di sini. Karena Ira dan keluarganya, juga sering tidur di sini.
Pagi-pagi Ira dan keluarganya datang kerumah Adzkia, untuk nitip Qila. Karena Ira dan suaminya Rian, sama-sama bekerja. Ira bekerja sebagai guru TK dan Rian bekerja di kantor pemerintah desa.
Dulu sebelum Adzkia ada di rumah, Wati lah yang mengurus Qila jika Ira pergi sekolah. Itu pun jika Wati tidak pergi jualan, kalau Wati pergi jualan Qila di bawa oleh Ira ke sekolahnya.
Setelah Ira pulang mengajar, dia akan di rumah Adzkia terlebih dahulu sampai suaminya pulang kerja. Sorenya Ira mengajar mengaji di musholla milik papa Adzkia, setelah pulang mengaji baru lah mereka sekeluarga pulang kerumahnya. Kadang kalau hujan atau malas untuk pulang, mereka akan menginap di sini.
*
Ting...Ting...(bunyi cawan di pukul sendok, manandakan ada penjual bakso keliling).
"Bakso tuh Ki, panggil sana", 'ucap Rian'.
"Okeh, Abang yang bayar ya", 'jawab Adzkia'.
"Iya tenang aja, abis gajian nih", 'Ucap Rian'.
Adzkia pun berlari keluar rumah, untuk manggil penjual bakso yang lewat.
__ADS_1
"Bang bakso", 'teriak Adzkia'.
"Iya Kia", 'jawab Abang yang jual Bakso'.
Abang yang jual Bakso kenal dengan Adzkia makanya dia tahu nama Adzkia, karena Abang-abang itu bakso langganan Adzkia dan keluarganya. Namanya bang parno dia asli orang Jawa, tapi sudah lama tinggal disini.
"Bentar ya bg, ambil mangkok dulu. Supaya bang parno tidak lama nunggunya", 'ucap Adzkia'.
"Okeh Kia", 'Ucap parno sambil mengacungkan jempolnya'.
Adzkia pun masuk kembali kedalam rumah, untuk mengambil mangkok dan uang.
"Tuh udah Kia panggil tukang baksonya, pesan sendiri-sendiri aja ya", 'ucap Adzkia sembari berjalan ke dapur ambil mangkok'.
"Ki, mangkok Samo sendoknya sekalian ya", 'ucap Ira'.
"Iya kak", 'jawab Adzkia'.
Adzkia pun keluar dari dapur, dengan membawa mangkok dan sendok garpu di tangannya.
Semua anggota keluarga pun sudah keluar, untuk memesan bakso kecuali papa Adzkia karena dia masih sibuk menonton dan bermain dengan sang cucu Qila.
"Okeh ma", 'Jawab Adzkia'.
"Pa...papa mau bakso tidak?", 'tanya Adzkia'.
"Mau lah, apalagi kalau di beliin", 'jawab Ajis papa Adzkia'.
"Tenang pa, bang Rian yang bayarin", 'ucap Adzkia'.
"Papa kirain kamu yang bayarin", 'ucap Ajis lagi'.
"Kan Kia belum kerja pa, ntar deh kalau kita sudah kerja apa yang papa inginkan Kia beliin kalau kia sudah punya uang banyak, hehehe", 'jawab Adzkia cengengesan'.
"Aamiin Ya Allah", 'jawab Ajis dan mengusapkan kedua tangannya kemukanya'.
"Papa mau bakso atau tidak nih, ntar keburu bang parnonya pergi pa", 'tanya Adzkia lagi'.
"Iya mau, bilangin bang parno buat papa gitu, pasti dia tahu", 'jawab Ajis'.
"Okeh pa, Kia mau kedepan dulu", 'Ucap Adzkia dan dia pun berlalu kedepan rumah, tempat bang parno berdiri.
__ADS_1
"Ini bakso bang parno tidak berubah rasanya, dari dulu ya ma. Udah lama aku tidak makan bakso seenak ini", 'Ucap Adzkia'.
"Masa sih Ki?, emang di kota tidak ada yang jual bakso?", 'tanya Ira'.
"Ada kak tapi rasanya biasa aja, tidak seenak bakso bang parno ini. Tapi kalau mie ayam ada enak, di depan Sekolah aku malah mangkalnya. Tapi kalau bakso aku belum nemuin yang enak", 'jawab Adzkia'.
Adzkia dan keluarganya pun menikmati baksonya masing-masing, bahkan Qila juga makan bakso. Bakso kecil-kecil cuman di kasih kecap manis, dan sudah di potong kecil-kecil.
*
"Tari, kamu gimana mau kuliah atau cari kerja?", 'Tanya Herman kepada putri saat Meraka sedang makan malam'.
"Belum tahu yah", 'Jawab Tari ragu'.
"Belum tahu apanya Tar?", 'Tanya Herman lagi'.
"kalau aku kuliah udah malas belajar, kalau cari kerja mau kerja apa yah", 'jawab Tari'.
"Terus kamu mau jadi apa?", 'Tanya Herman dengan nada sedikit tinggi'.
"Sudah lah bang, biarin lah Tari berpikir dulu. Benar juga katanya, kalau kita paksa dia buat kuliah dianya tidak mau, nanti dia Stress kita juga yang repot. Kalau dia mau kerja, mau kerja apa bang tamat SMA. Biar lah dia istirahat dulu di rumah, sampai di menentukan pilihannya sendiri", 'Bela Rima'.
"Sudah cukup Rima, kamu selalu memanjakan Tari, meskipun dia anak kita satu-satunya. Tapi yang kamu lakukan itu sudah keterlaluan, mau sampai kapan dia kamu manjakan seperti ini. Dia itu sudah besar, dan harus menentukan jalan hidupnya sendiri. Okelah dulu dia masih Sekolah, tapi sekarang dia sudah lulus SMA Rima. Kamu itu jadi Ibu harus tegas sama anak", 'Ucap Herman dengan nada tinggi'.
"Tari, Ayah kasih kamu waktu buat berpikir satu sampai dua Minggu, kamu tentukan pilihanmu mau kuliah atau kerja. Dan juga kamu yang harus melakukan pekerjaan rumah semuanya, kecuali masak jika kamu tidak bisa. Jika ayah lihat mama kamu yang bantuin kamu, jangan harap kamu dapat uang jajan dari Ayah", 'Tegas Herman lagi'.
"Tapi Yah....", 'sangah Tari'.
"Tidak ada tapi-tapian Tari, ini juga untuk melatih kamu jadi lebih dewasa", 'jawab Herman'.
"Tapi sudah saya suruh dia mengerjakan semuanya, tapi yang ada malah berantakan. Dan ini pinggang saya masih sakit, gara-gara si Tari ngepel lantainya banjir", 'Ucap Rima dengan nada sedikit tinggi'.
"Itu makanya kamu ajarin, bagaimana cara mengerjakannya dengan benar. Jangan sesekali kali kamu bantuin dia Rima, cukup ajarkan saja gimana cara mengerjakannya dengan benar", 'Jawab Herman lagi dengan tegas'.
"Ayah sudah tidak sayang lagi sama Tari", 'Ucap Tari dengan nada tinggi kemudian berlari ke kamarnya dengan berurai air mata'.
"Ayah melakukan itu, bukan berarti ayah tidak sayang sama kamu Tari. Ayah melakukan itu, tanda ayah sayang sama kamu", 'teriak Herman kepada tadi yang sedang berlari'.
"Itu akibat kamu, yang selalu manjain dia terus. jadinya seperti ini kan, kamu urus itu anak kamu", 'ucap Herman sembari menunjuk tepat di muka Rima'.
Tari hanya diam tanpa menjawab apa yang di ucapkan oleh suaminya, dan dia lebih memilih pergi dari hadapan Herman. Herman orangnya memang pendiam dan tidak banyak bicara, tapi kalau marah dia sangat sulit untuk mengendalikan dirinya sendiri.
__ADS_1