
"Ish.... tu orang ya ngak sopan bangat, orang ngomong malah di tinggal pergi", 'Gumam Rosma sendiri'.
"Ya salah kamu sendiri juga Ros", 'Ucap Peni'.
"Salah apanya saya, orang saya cuman nanya aja siapa yang waktu itu kerumahnya. Emang salah?", 'Ucap Rosma berbalik nanya kepada Peni'.
"Pertanyaan kamu itu tidak penting buat di jawab. Tujuan kamu nanya-nanya itu, buat mencari-cari informasi kan?, ntar buat jadi bahan gosipan kamu di kampung ini", 'Jawab Peni yang heran melihat Rosma'.
"Ngak kok, orang aku cuman nanya aja. Orang saya belum pernah lihat orang itu ke sini, makanya saya tanya", 'Jawab Rosma mengelak'.
"Sudah lah Ros, kamu jangan suka mengelak begitu. Satu kampung ini juga tahu kali, kalau kamu itu ratu gosip", 'Ucap Peni'.
"Heh Bu Peni, jangan adalah bicara ya. Saya itu cumannya, apa salahnya sih", 'Ucap Rosma tidak suka dengan apa yang di ucapkan oleh Peni'.
"Masalahnya itu, kamu tiap hari selalu bergosip di warung saya", 'Teriak Peni juga'.
"Kamu kenapa sih selalu aja belain si Wati itu sih?", 'tanya Rima yang juga masih di situ'.
"Heh Rima, Wati itu kakak kamu sendiri Lo. Saya bukan belain dia, tapi saya tahu dia itu orangnya bukan seperti yang selalu kalian bicaraka", 'jawab Wati'.
"Mendingan kalian cepetan pilih belanjaan kalian dan bayar, dari pada bergosip saja di sini. Laki sama anak-anak kalian sudah kelaparan noh di rumah, nunggu kalian ngak pulang-pulang belanja", 'Ucap Peni sembari mengusir mereka'.
"Udah nih, belanjaan saya", 'Ucap Rosma melempar ikat kangkung, dan 2 buah tempe'.
"Ya Allah, belanjaan cuman ini doang, milihnya 1 jam", 'sindir Peni'.
"Sayuran di sini banyak yang tidak segar, makanya saya cuman beli itu", 'Ucap Rosma'.
"Tidak segar mata mu, mendingan periksa mata sana, mana yang kelihatan segar dan mana yang tidak", 'Ucap Peni kesal mendengar Rosma menyebut sayurannya tidak segar'.
"Ini ni, totalnya 10rb", 'ucap Peni'.
__ADS_1
"Ni uangnya", 'Ucap Rosma sembari memberikan uang belanjaannya, dan berlalu pulang'.
*
"Yah, Tari boleh tidak pergi kerja juga seperti Adzkia?", 'Tanya Tari kepada ayah nya saat mereka sedang makan malam'.
"Kamu mau kerja dimana Tar?", 'Tanya Rima'.
"Batam ma", 'Jawab Tari'.
"Mamakan sudah pernah bilang kalau mama tidak setuju tari, itu jauh bangat. Mama tidak bisa jauh dari kamu, dan mama tetap tidak setuju kalau kamu bekerja di Batam", 'Ucap Rima'.
"Tari juga pengen kerja ma seperti Adzkia, Tari juga pengen bebas, bukan di Kekang terus sama mama", 'Ucap Tari membentak Rima'.
"Tari.... sejak kapan kamu bisa membentak mama", 'Ucap Rima marah'.
"Sudah cukup Rima tari, kalian ini selalu ribut", 'Ucap Herman dengan nada tinggi, yang membuat tari dan Rima terdiam'.
"Iya yah", 'Jawab Tari menunduk'.
"Kamu di Batam mau kerja apa?, dan sama siapa?", 'Tanya Herman lagi'.
"Kerja pabrik garmen yah, teman aku juga kerja di sana. Kemarin katanya ada lowongan pekerjaan, jadi tari coba mengirim lamaran lewat pos, dan Alhamdulillah keterima yah", 'Jawab Tari yang masih menunduk'.
"Terus kapan kamu mulai masuk kerjanya?", 'Tanya Herman'.
"Belum langsung masuk kerja yah, kemarin itu baru seleksi dokumen. Seleksi wawancaranya di sana yah, Minggu depan", 'Jawab Tari'.
"Berarti kamu, harus kesana dong?, Terus nanti kalau lulus seleksi wawancara gimana?", 'Tanya Herman lagi'.
"Iya yah, aku harus kesana. Kalau tidak lulus seleksi wawancara, ya berarti aku tidak bisa kerja di sana yah. Tapi aku di bantu sama teman aku kok yah, dia kenal dekat sama HRD di sana. Dan nanti aku di sana tinggal tempat dia dulu sementara", 'Jawab Tari'.
__ADS_1
"Tapi kamu kenapa tidak bilang dulu sama ayah atau mama buat masukkin lamaran kerja di sana?, tau-tau udah lulus aja", ',Tanya Herman'.
"Awalnya Tari hanya coba-coba aja yah, siapa tahu keterima. Eh Alhamdulillah keterima, dan tari juga sudah pernah bilang sama mama", 'jawab Tari yang masih menunduk'.
"Kan saya sudah bilang sama kamu Tar, mama tidak setuju kamu bekerja di sana. Tetapi kamu tetap memasukkan lamaran pekerjaan ke sana, Aku ini mau jadi anak durhaka, yang tidak nuruti keinginan orang tuanya", 'Ucap Rima yang tidak terima di salahkan oleh Tari'.
"Tapi ma.... tari mau ngapain di rumah?, tari juga ingin bekerja ma seperti teman-teman tari", 'Ucap Tari'.
"Kan mama sudah nyuruh kamu buat kuliah tari..... tapi kamu nya aja yang tidak mau", 'Ucap Rima'.
"Kepala tari itu mau pecah ma.... kalau di suruh belajar terus. Tari tetap mau kerja titik", 'Ucap Tari membanting sendok makannya dan berlari ke kamarnya'.
"He, Tari.... balik lagi kamu sini. Siapa yang ngajarin kamu kurang ajar begini, pasti Adzkia ya, yang menghasung kamu buat bekerja", 'Teriak Rima'.
Tetapi Tari tetap tidak menghiraukan teriakkan Rima, tari tetap masuk ke dalam kamarnya.
"Ma, kamu itu tidak boleh terlalu memaksakan ke hendak mu kepada Tari, dan juga selalu menuruti keinginan nya. Lihat sekarang keinginan dia tidak di turuti, membangkang kan dia", 'Ucap Herman'.
"Tapi yang aku lakukan itu untuk yang terbaik buat dia yah. Aku nyuruh dia kuliah itu, supaya nantinya dia lebih mudah mendapatkan pekerjaan yang layak, mungkin seperti PNS. Dan juga di kampung kita ini, jarang sekali anak-anak yang sarjana, itu jadi kebanggaan juga bagi kita sebagai orang tua anak kita sarjana", ' jawab Rima'.
"Iya saya tahu, maksud kamu itu baik. Tapi anaknya sendiri yang tidak mau, kamu jangan memaksakan kehendak kamu kepada dia. Tari itu sudah benar Ma, dia tahu mana yang terbaik buat dirinya. Kamu tahu sendiri kan, tari itu anaknya se nekat apa, apabila keinginan tidak di wujudkan. Dia anak kita satu-satunya ma", 'Ucap Herman mencoba melunakkan hati istrinya yang sekeras batu'.
Sebenarnya Herman juga tidak mengizinkan Tari untuk pergi bekerja jauh, karena Tari adalah anak satu-satunya mereka. Dan tari juga adalah anak yang nekat, apabila keinginannya tidak terpenuhi, maka dia akan melakukan cara apapun untuk mendapatkannya.
"Kalau tidak, kamu coba bicara dengan Tari pelan-pelan, jangan marah-marah. Siapa tahu nanti, dia berubah pemikiran. Nanti saya juga coba tanya sama teman-teman saya, siapa tahu ada lowongan pekerjaan buat tari. Kamu juga tidak bisa terlalu mengekang tari Ma, dia itu sudah besar. Jadi kita masih ada waktu sekitar 1 Minggu ini, buat coba meluluhkan hatinya, agar dia tidak berangkat kesana", 'Ucap Herman kepada Rima'.
"Iya yah, tapi kalau dia kekeh untuk tetap pergi, gimana?", ',Tanya Rima'.
"Ya mau gimana lagi, kita terpaksa harus mengizinkan dia pergi, untuk sementara waktu, bukan untuk waktu yang lama. Mungkin sekitar 6 bulan sampai 1 tahun dia di sana. Dari pada nanti dia pergi dengan sendirinya, tanpa memberitahu kita. Lebih baik kita, beri dia izin", 'Jawab Herman'.
"Baik yah, nanti aku coba bicara sama tari lagi", 'Ucap Rima'.
__ADS_1