
"Gimana Ki, rasanya pertama kali kerja?", 'Tanya Wati kepada anaknya melalui sambungan telepon'.
"Senang ma, doain Adzkia terus ya ma. Semoga Adzkia betah di sini, dan di jauhkan dari marabahaya", 'Jawab Adzkia'.
"Pasti nak, mama pasti selalu doain kamu. Meskipun tidak kamu pinta", 'Ucap Adzkia'.
"Tidak ada ceritanya betah lama-lama ya Ki, papa kasih kamu waktu 1 th untuk bekerja", 'Ucap Ajis memotong pembicaraan Adzkia dan Wati'.
"Iya ma tidak lama-lama kok, paling lama 5 tahun lah", 'Ucap Adzkia'.
"no...no...no... Adzkia, kamu dengarkan kata papa barusan, papa kasih kamu waktu 1 th di sana", 'Ucap Ajis'.
"Kita lihat ntar aja pa, hehehehe", 'Ucap Adzkia tertawa'.
"Tidak ada cerita ya Ki", 'Ucap Ajis lagi'.
"Sudah-sudah, biar lah Adzkia mewujudkan keinginannya untuk bekerja terlebih dahulu pa. Selagi yang di kerjakan oleh dia itu positif, kita harusnya support", 'Ucap Wati yang menengahi anak dan suaminya'.
"Tuh, papa dengar apa yang di cukupkan mama", 'Ucap Adzkia'.
Ajis hanya diam, tanpa berbicara sedikit pun setelah Wati berbicara seperti itu.
"yasudah Ki mama tutup dulu ya, kamu hati-hati di sana ya. Jaga kesehatan kamu juga, makan yang teratur", 'Ucap Wati menyudahi percakapannya dengan Adzkia hari ini'.
"Iya ma, mama sama papa juga sehat-sehat ya", 'Ucap Adzkia kemudian menutup sambungan teleponnya dengan mamanya hari ini'.
Wati, seperti ibu-ibu pada umumnya, jika dia jauh dari anaknya. Wati selalu menelpon Adzkia, bahkan hampir setiap hari hanya sekedar untuk menanyakan kabar anaknya, sudah mendengar suara Adzkia saja, Wati sudah tenang.
*
"Tumben Bu Wati pagi-pagi sudah di sini, duluan lagi dari yang lain", 'Ucap Rosma yang baru datang'.
"Iya Ros", 'Ucap Wati singkat'.
__ADS_1
Karena Wati, tidak mau banyak bicara, apa yang di tanya itu lah yang di jawabnya.
"Bu Wati, gimana kabar Adzkia?, dan bagaimana pekerjaannya?", 'Sela Bu Peni'.
"Alhamdulillah baik Bu Peni, semalam saya abis telponan sama dia. Alhamdulillah Adzkia sudah mulai bekerja Bu", 'Jawab Wati'.
"Alhamdulillah ya Bu Wati, semoga dia betah ya kerja di sana", 'Ucap Peni lagi'.
"Ya Bu Peni, dianya betah di sana, saya nya di sini yang tidak tenang Bu", 'Ucap Wati'.
"Ya nama nya kita juga jauh dari anak Bu, pasti tidak tenang. Ntar juga lama-lama terbiasanya Bu, apalagi Bu Wati Adzkia sudah jauh dari ibu semenjak dia Masuk SMK di kota", 'Ucap Peni lagi'.
"Iya sih Bu, tapi masih saja saya khawatir. Apalagi ini tambah jauh Bu, beda pulau lagi", 'Ucap Wati yang sangat khawatir dengan anaknya'.
"Ya namanya juga kita seorang ibu Buk, jauh dari anak pasti itu sangat tidak membuat kita tenang, meskipun dia sudah dewasa", 'Ucap Peni'.
"Eh.... Bu Wati, gimana itu masalah Bu Wati dengan Rima itu, sudah selesai Bu?", 'tanya Rima menyela obralan Wati dengan Peni'.
"Di tanya baik-baik malah jawabnya ketus begitu", 'teriak Rosma karena Wati sudah pergi karena sudah selesai belanja'.
Wati pun tidak menghiraukan apa yang di ucapkan oleh Rosma, Wati lebih memilih mempercepat langkahnya pulang ke rumah, dari pada meladeni orang seperti Rosma.
*
"Kenapa sih itu Bu Wati, dia tanya baik-baik malah jawabnya ketus begitu", 'Ucap Rosma memancing ibu-ibu di sana untuk bergibah'.
"PMS kali", 'Celetuk Nani'.
"Wati seperti itu, karena apa yang kamu tanyakan itu tidak perlu di jawab. Karena apapun jawabannya tidak ada urusannya dengan kamu", 'Jawab Bu Peni dengan tegas'.
"Tapi kan karena saya kasian sama Rima, sampai sekarang dia masih belum berani keluar dari rumahnya, dan dengar kabar dia sedang sakit tau, kasian bangat kan", 'Ucap Rosma mengalihkan topik'.
"Sakit apaan dia, orang dia tiap hari lewat pake motor. dan kalau sakit mah, itu karena karma. Karma menyakiti saudara sendiri, jadi ya begitu. Hati-hati ya ibu-ibu, jangan punya penyakit iri hati, takutnya nanti kena karmanya", 'Ucap Peni ngerocos sendirian'.
__ADS_1
"Ini orang kenapa sih?, dia selalu menghalangi saya untuk merusak nama baik keluarga Wati di kampung ini", 'Ucap Rosma dalam hati, yang kesal dengan Bu Peni'.
"Maaf ya, warung saya ini bukan untuk tempat bergibah, ini tempat belanja. Kalau mau bergibah jauh-jauh dari warung saya, saya tidak mau kena batunya nanti, kalau ada yang kena karma karena punya penyakit iri hati", 'Ucap Peni yang masih nyerocos sendiri, sedangkan ibu-ibu yang lain hanya diam memilih sayuran yang akan mereka beli, tanpa bersuara sedikit pun'.
*
"Pa", 'Ucap Wati kepada suaminya'.
"Hmmm", 'Jawab Ajis'.
"Pa, apa kita pindah saja dari kampung ini", 'Ucap Wati to the point'.
"Maksud kamu?", 'Tanya Ajis kaget mendengar apa yang di ucapkan oleh Wati'.
"Iya kita pindah dari kampung ini, kita pindah ke mana gitu, atau kita kembali ke kampung ku, di kampung sebelah", 'Jawab Wati'.
"Kenapa harus pindah?", 'Tanya Ajis lagi yang masih binggung dengan ucap Istrinya'.
"Ya karena, aku sudah tidak tahan dengan tetangga dan warga di sini", 'jawab Wati'.
"Iya aku mengerti itu, tapi aku di sini terikat kepengurusan mesjid dan juga aku di sini seorang Datuak/penghulu yang tidak bisa jauh dari kampung ini. Kemana pun aku pergi, jika masyarakat di suku ku mencari, aku akan tetap kembali ke kampung ini", 'Jelas Ajis'.
seorang penghulu adalah seorang pimpinan adat dalam masyarakat Minangkabau. Yang bertanggung jawab memimpin, memelihara, dan melindungi anak, cucu dan kemenakannya serta kaumnya. penghulu juga bergelar "pangulu" atau "Datuak", yang di terima secara turun-temurun.
Penghulu atau yang lazim di panggil "pangulu" atau "Datuak" di Minangkabau merupakan seorang laki-laki yang sudah memenuhi syarat menurut kaumnya, di antaranya orang baik, sudah baliq dan berakal, dan lainnya.
"Pangulu" atau "Datuak", di resmikan dengan di adakannya upacara adat yang di sebut juga "Batagak gala" atau "Batagak pangulu".
Peresmian Batagak gala harus berpedoman kepada petitih adat "maangkek Rajo, Sakato alam, maangkek pangulu, Sakato kaum.", artinya "Mengangkat Raja, mufakat alam, mengangkat penghulu, mufakat kaum".
Acara Batagak gala ini di hadiri oleh semua pangulu suku, yang mendiami kampung tersebut, dan juga toko masyarakat. pangulu suku yang telah di resmikan di arak keliling kampung untuk memberitahu masyarakat, dan juga di pasangkan Deta pangulu (penutup kepala kebesaran pangulu) oleh pucuk adat.
Secara umum Batagak gala bukan agenda rutin yang memiliki waktu tertentu melainkan bersifat kondisional dan fleksibel. Batagak gala hanya di lakukan apabila pangulu adat sudah layak untuk di ganti, "Iduik bakarilaan, mati batungkek Budi" yang artinya adalah jika seorang pangulu sudah tidak mampu lagi menjalankan tugasnya karena kesibukkan lain atau karena kesehatan yang tidak mengizinkan lagi atau juga karena sudah meninggal jadi boleh di ganti.
__ADS_1