Kehidupan Di Kampung Dan Tetangga Yang Julid

Kehidupan Di Kampung Dan Tetangga Yang Julid
POV Rima


__ADS_3

"Itu, si Peni apa-apaan sih ganggu rencana saya saja", 'ucap Rima kesal di perjalanan pulang ke rumahnya'.


"kemana lagi ini si Tari, halaman masih berserakan sampah. Apa jangan-jangan dia masih molor, ini anak emang tidak bisa di andalkan sedikit pun", 'ucap Rima tambah Kesal'.


Rima pun bergegas masuk kedalam rumah, mencari keberadaan Tari.


"Tari.....", 'Teriak Rima melihat Tari masih molor di sofa tamu dengan memegang sapu'.


"Apaan sih ma, teriak-teriak ngak jelas", 'ucap Tari sambil mengucek-ngucek mata'.


"Kamu ya di suruh bersih-bersih rumah, malah tidur lagi. Mau jadi apa kamu ha?, jadi anak tidak bisa di andalkan sedikit pun", 'cerocos Rima'.


"Aku masih ngantuk ma", 'renggek Tari'.


"Tadi sudah mama bilangin cuci muka kamu dulu, ntar ngantuk nya hilang", 'ucap Rima lagi'.


"Tadi aku sudah cuci muka mama, tapi masih ngantuk. Yasudah de aku tidur lagi di Sofa tamu, mama juga sih lama bener belanjanya", 'ucap Tari'.


"Kok kamu jadi nyalahin mama, kamu kerjakan dulu sana apa yang mama perintahkan tadi. Mama mau kedapur dulu masak", 'ucap Rima'.


"Tapi ma.... Aku lapar", 'ucap tapi dengan menjeda ucapannya'.


"Tidak ada tapi-tapian, kalau kamu tidak mengerjakan semua pekerjaan rumah yang mama perintahkan, jangan harapan kamu bisa dapat jatah makan hari ini", 'Tegas Rima'.


"Iya....iya, nih aku kerjain", 'Jawab Tari kesal, dan menyapu dengan asal'.


Rima pun berlalu kearah dapur, untuk masak.


"Aku harus buru-buru masak nih, udah jam setengah 10. Nanti keburu ayahnya Tari pulang lagi dari pasar, yang ada aku di omelin. Nih gara-gara si Adzkia ni, aku jadi telat masak", 'Rima ngedumel sendiri'.


Padahal Rima telat masak karena ulahnya sendiri, dia menceritakan hal yang jelek tentang Adzkia kepada warga yang belanja tempat Bu Peni tadi. Kalau tadi tidak di usir Bu Peni, mungkin Rima belum pulang dan memasak.


*


"Ki, kamu tolong anterin ikan ini ya ke rumah nenek. Ini hasil pancingan papa tadi, dan juga kamu ambilin gula, kopi, minyak, dan roti dan juga rokok nenek di warung buat nenek ya", 'ucap Wati'.


Biasa lah ya teman-teman, nenek-nenek zaman dulu memang banyak yang merokok, termasuk nenek Adzkia.

__ADS_1


"Siap ma, Adzkia ke warung dulu", 'jawab Adzkia'.


Adzkia pun berlalu ke warung milik mamanya, warung tepat berada di sebelah rumah Adzkia dan masih menyatu dengan rumah. Adzkia mengambil barang yang di perintahkan oleh mamanya, buat di antar kerumah nenek dari pihak papanya.


"Ma, Adzkia pergi dulu ya", 'ucap Adzkia yang sudah berada di atas motor'.


"Iya, tapi jangan lama-lama ya. Nanti qila bangun, dia nyariin kamu lagi", 'jawab Wati'.


"Iya ma", 'jawab Adzkia'.


Adzkia pun melajukan motornya kearah rumah neneknya, jarak rumah Adzkia ke rumah neneknya hanya sekitar 5 menitan menggunakan motor.


Tok...tok...


"Assalamualaikum", 'ucap Adzkia'.


"Waalaikumusalam", 'ucap Vira membukakan pintu'.


Vira adalah anak dari adiknya papa Adzkia, jadi Vira juga sepupu Adzkia dari pihak papanya.


"Ada kak, di belakang lagi makan", 'jawab Vira'.


Adzkia dan Vira pun langsing masuk kedalam, dan berjalan kebelakang menuju ruang makan tempat nenek berada.


"Nek, ini ada ikan. Sama gula, kopi, rokok nenek", 'ucap Adzkia sembari memberikan kantong berisi ikan kepada Vira untuk di masukkan kedalam kulkas, dan kantong plastik berisi gula, kopi, dan lainnya kepada nenek Adzkia'.


"Ikan apa Ki?", 'tanya Minah neneknya Adzkia'.


"Ikan kolam nenek, Papa mancing pagi tadi", 'jawab Adzkia'.


"Ibu mana Nek?", 'tanya Adzkia'


Ibu yang di maksud Adzkia, adalah adik papa Adzkia dan ibunya Vira.


"Pergi ke sawah kak", 'jawab Vira'.


"Kamu tidak makan dulu Ki?", 'tanya Minah'.

__ADS_1


"tidak nek, Kia baru juga siap makan", 'jawab Adzkia'.


"Nek, Kia pulang dulu ya. Soalnya tadi qila tidur, takut kebangun nangis nyariin", 'ucap Adzkia lagi'.


"iya Ki, hati-hati bawa motor", 'ucap Minah'.


"Iya nek, Vir kakak pulang dulu ya", 'ucap Adzkia'.


setelah pamit, Adzkia pun melajukan motornya pulang kerumahnya.


*


Bugh... "Astaghfirullah Tari..... Kamu gimana sih ngepel lantainya, kenapa bisa sampai banjir begini", 'Ucap Rima dengan nada tinggi'.


"Ya Allah mama.... mama kenapa bisa jatuh begini sih, sini tadi bantuin", 'ucap tari dan menolong mamanya berdiri'.


"Ini gara-gara kamu mama jatuh", 'jawab Rima'.


"Kok gara-gara aku?", 'tanya Tari dengan polos atau pura-pura tidak melihat'.


"Ih.... kamu ya, bikin darah tinggi mama kumat lama-lama kamu seperti ini. Tuh.... kamu lihat sendiri, kamu ngepel lantai sampai banjir begini", 'ucap Rima semakin kesal dengan tingkah anak satu-satunya itu'.


"Salah mama sendiri lah, jalan tidak melihat. Hanya lenggak-lenggok Doang", 'Ucap Tari tidak mau di salahkan'.


"Terserah kamu lah Tar, capek ngomong sama kamu itu. Yang ada nanti, darah tinggi saya juga naik bicara sama kamu. Punya anak satu-satunya tapi tidak bisa di andalkan", 'Ucap Rima'. Rima pun berjalan kearah kamarnya untuk istirahat, sambil memegang pinggangnya yang sakit karena jatuh tadi.


"Ini badan sakit-sakit semua lagi, gara-gara Mama ini suruh-suruh aku mengerjakan semua pekerjaan rumah. Tumben-tumbennya dia nyuruh-nyuruh aku, kesambet apa ya mama aku semalam", 'ucap tari meregangkan otot-ototnya'.


"Hmmmm, mana bau asem lagi", 'ucap tari mencium bau keringatnya sendiri'.


"Mendingan aku mandi dulu, terus makan dan istirahat deh. Ini badan pada sakit semua", 'ucap Tari sendiri'.


Tari pun masuk ke dalam kamarnya, untuk bersih-bersih dan mandi.


Tari adalah anak satu-satunya Rima dan Herman, Jadi Tari selama ini di manja oleh Rima. Tari tidak di perbolehkan melakukan pekerjaan rumah sama sekali, dan apa yang Tari inginkan selalu di berikan oleh Rima. Herman dulu sering mengingatkan Rima, untuk tidak terlalu memanjakan Tari. Meskipun Tari adalah anak satu-satunya mereka, tetapi tadi adalah seorang gadis. Melakukan pekerjaan rumah itu sudah jadi kewajibannya kelak dia sudah dewasa, dan juga akan jadi bumerang bagi Rima sendiri, kelak dia sedang sakit atau sudah tua.


Tetapi Rima tidak mau mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Herman suaminya sendiri, dan malah marah pada Herman di bilang Herman tidak sayang kepada anaknya. Semenjak kejadian itu, Herman dia tidak bicara apalagi saat Rima mengeluh dengan sikap Tari yang tidak memikirkan keadaannya. Apabila keinginan tari di berikan oleh Rima, maka tari akan marah-marah dan mengancam Rima bahwa dia akan pergi dari rumah ini. Oleh karena itu, Rima selalu memberikan apa yang di minta oleh Tari meskipun keadaan ekonomi sedang tidak baik.

__ADS_1


__ADS_2