
"Ibu, menurut ibu Rian harus gimana?, apa Rian harus izin dulu sama keluarga papa buat bawa papa berobat. Kan Ibu tahu sendiri, kalau papa itu mamak suku (kepala suku), Rian tidak mau nantinya di bilang Idak baiyo-iyo (tidak bermusyawarah) terlebih dahulu membawa papa berobat. Nanti terjadi hal yang di luar jangkauan Rian, Rian yang di salahkan. Rian jadi serba salah Bu", 'Tanya Rian kepada Eti kakak sepupu Ajis'.
"Rian bawa aja papa berobat, kemana yang bagus dan baik menurut Rian. Kami hanya menurut, nanti ke yang lainnya biar ibu yang ngasih tahu yang lain. Kalau sekarang kita nunggu yang lain dulu, takutnya papa tambah parah nak. Sekarang Rian pergi aja. bawa papa berobat dulu sama kakek Rian. Urusan di rumah, biar ibu yang ngerjain", 'Jawab Eti'.
"Yasudah Bu, Rian bawa papa berobat dulu, ke Klinik Bu Shelly tempat papa biasanya berobat. Rian mau minta tolong, nanti siapa gitu tolong jemput pak Nazar, dan tolong cariin obatnya terlebih dahulu kalau ada yang perlu di cari. Agar nanti pas papa pulang berobat, juga bisa minum obat itu", 'Ucap Rian kepada Kakak sepupu Ajis'.
"Iya nak, nanti di jemput. Kamu hati-hati bawa mobilnya, jangan terlalu terburu-buru", 'Ucap Eti'.
"Bang, Kia ikut ya", 'Ucap Adzkia yang sudah berurai air mata begitu juga dengan Rio'.
"Jangan dek, kalian di rumah saja. Abang cuman bentar kok, bawa papa berobatnya. Kalian di rumah saja ya", 'Ucap Rian'.
"Tapi Bang, kita juga mau ikut", 'Ucap Adzkia merengek minta ikut'.
"Sudah nak, Adzkia dan Rio di rumah aja dulu ya. Sama Ibu, biar Abang dan kakek yang bawa papa berobat. Sudah ya nak, jangan nangis lagi, inshaallah papa tidak apa-apa kok. Hanya sakit biasa saja", 'Ucap Eti menenangkan Adzkia dan Rio'.
"Kalau papa tidak apa-apa dan hanya sakit biasa saja, kenapa harus di jemput buat berobat, emang di sana tidak ada rumah sakit", 'Ucap Rio'.
"Papa kan biasanya berobat ke klinik Bu Shelly nak, jadi sudah cocok di sana berobatnya, sudah ya kalian di rumah saja sama Ibu. Kita tunggu di rumah", 'Ucap Eti'.
"Tidak mau, pokoknya kita harus pergi", 'Ucap Adzkia dan Rio dengan nada tinggi dan juga masih berurai air mata".
"Sudah yan, kamu pergi saja nak. Biar Ibu yang jagain Adzkia dan Rio", 'Ucap Eti memegang Adzkia dan Rio agar tidak berlari ke arah papanya'.
"Iya Bu, Rian titip Rio dan Adzkia ya", 'Ucap Rian kemudian bergegas ke arah mobil'.
"Iya nak, kamu hati-hati", 'Ucap Eti yang masih memegang Adzkia dan Rio'.
__ADS_1
Rian dan kakeknya Anwar pun, pergi membawa Ajis berobat ke klinik Bu Shelly tempat Ajis berobat biasanya. Sedangkan Eti berusaha menenangkan Adzkia dan Rio, dan membawa mereka ke dalam rumah.
*
"Eh Din, kamu tahu tidak kalau Ajis suaminya Wati lagi sakit?", 'Tanya Ema melalui sambungan telepon kepada Udin'.
"Tidak ma, saya tidak tahu", 'Jawab Udin'.
"Masa kamu tidak tahu sih Din, kan kamu keponakan nya", 'Tanya Ema lagi'.
"Iya beneran, belum ada yang ngabarin saya. Emang sejak kapan mak (paman) Ajis sakit?", 'Tanya Udin balik'.
"Sejak tadi katanya, di pasar tempat dia jualan. Terus di jemput oleh Rian ke sana, dan di bawa pulang", 'Jawab Ema'.
"Oooo.... mungkin belum ada yang ngabari, karena lagi sibuk bawa Mak (paman) Ajis berobat kali", 'Ucap Udin'.
"Hmmm.... Orang dia tidak di bawa ke rumah sakit Din, tu sekarang dia lagi di rumahnya. Dan lebih parah lagi ya Din, Wati dan anak-anaknya tidak mengurus Ajis din. Orang Wati tetap jualan, dan dia juga tidak ikut pulang bersama dengan Ajis", 'Ucap Ema'.
"Kalau kamu tidak percaya kamu lihat saja sendiri Din. Kalau tidak kamu pulang, dan bawa itu kakak kamu berobat", 'Ucap Ema dan tiba-tiba mematikan sambungan teleponnya dengan Udin'.
"Tidak mungkin rasanya, Wati dan anak-anaknya membiarkan Mak (paman) Ajis begitu saja. Apa aku telepon ke kampung saja ya, atau aku langsung pulang agar aku melihat kebenarannya sendiri", 'Ucap Udin sendirian, dia masih terpikir apa yang di ucapkan oleh Ema tadi'.
"Ah.... aku coba telepon dulu aja ke kampung, benar atau tidaknya Mak (paman) Ajis sakit, abis itu baru aku pertimbangkan lagi untuk pulang atau tidak", 'ucap Ajis sendiri lagi".
Udin adalah keponakan Ajis, dia merupakan anak dari Eti. Eti dan Ajis satu suku, dan juga Ibu Ajis dan Ibu Eti kakak beradik kandung. Udin dia merantau ke daerah Riau, jadi dia tidak melihat keadaan sebenarnya.
*
__ADS_1
Ajis sudah pulang berobat dan juga sudah di buatkan ramuan obat herbal oleh saudaranya yang bisa mengobati orang sakit di kampungnya (orang pintar/dukun kampung) yang bernama Nasar.
Banyak orang berkumpul di rumah Ajis, banyak kemenakan (keponakan), sanak saudara dan juga Nasar yang masih memantau kondisi Ajis, begitu pun anak-anak dan istrinya yang tetap setia berada di samping Ajis dari saat Ajis pulang berobat tadi.
"Hallo Bu, ibu di mana?", 'Tanya Udin kepada Eti melalui sambungan telepon'.
"Di rumah Mak (paman) Ajis kamu Din", 'Jawab Eti'.
"Emang iya mak (paman) Ajis sakit Bu?", 'tanya Udin'.
"Iya Din, kamu tahu dari mana?", 'Tanya Eti'.
"Iya Bu, tadi ada yang nelpon aku. Terus katanya Tidak ada yang ngurusin Mak (paman) Ajis ma. Katanya uni(kakak) Wati tetap pergi jualan, dan dia tidak membawa mak Ajis pergi berobat. Terus aku di suruh pulang, buat ngurusin Mak Udin", 'Jawab Udin'.
"Siapa yang nelpon kamu Din?", 'Tanya Wati yang mendengar pembicaraan Eti dan Udin'.
"Ada lah orangnya, ntar jadi besar masalahnya", 'Jawab Udin'.
"Sudah bilang aja orang nya da (kakak laki-laki), biar semuanya jelas. Orang sakit tapi masih saja di gosipin yang tidak-tidak. Biar saya samperin", 'Ucal Rian, yang geram mendengar semuanya'.
"Uni kamu itu tetap jualan, karena saya yang nyuruh Din, soalnya lapak sudah di buka. Lagian ada Rian juga yang lagi jemput saya, dan bawa saya berobat. Kamu jangan mudah kemakan apa yang di ucapkan oleh orang lain. Kamu cari atau atau dulu informasi yang benarnya bagaimana, orang kampung sini itu senang melihat kita terpecah belah, karena kesalahpahaman Din", 'Ucap Ajis yang sudah mulai membaik'.
""Iya mak, semoga mamak cepat sembuh", 'Ucap Udin'.
"Siapa orangnya yang bicara seperti itu da, biar aku semperin itu orang", 'Ucap Rian yang masih Emosi'.
"Sudah lah yan, biarkan saja, jangan memperbesar masalah", 'Ucap Ajis'.
__ADS_1
"Iya pa", 'Jawab Rian'.
Tidak abis pikir lagi dengan orang-orang di kampung ini, orang sakit saja masih di ghibahin. Tidak henti-hentinya mengurus kehidupan orang, dan itu lah yang di rasain oleh keluarga Ajis beberapa tahun saat lalu saat Ajis sakit.