
"Gimana Ki, masalah sama Tari udah selesai?", 'Tanya Revan'.
Sebelumnya Adzkia cerita ke Revan tentang Tari, setelah Wati memberitahu Adzkia.
"Entah lah, tadi aku sudah bicara sama Tari. Katanya iya nanti dia izin baik-baik sama orang tuanya, Tapi aku ngak tahu juga Tari bakalan Izin beneran baik-baik. Gimana kalau beneran Tari tidak di izinin sama orang tuanya, terlebih mamanya?. Gimana kalau dia beneran kabur?, aku juga ntar kena imbasnya, padahal aku tidak pernah menghasut dia buat pergi merantau, dia sendiri yang sering nanya-nanya sama aku, dan dia juga kekeh yang ingin pergi, lagian tujuan dia bukan ke sini", 'Keluh Adzkia'.
"Sudah lah Ki, kamu jangan kepikiran terus. Semoga saja lah Tari tidak nekat kabur, kalau seandainya orang tuanya tidak mengizinkan", 'Ucap Revan menanggapi keluhan Adzkia'.
"Gimana aku tidak kepikiran coba, karena dia bawa-bawa nama aku. Kalau dia tidak bawa-bawa nama aku mah, terserah dia mau kemana juga aku tidak peduli", 'Ucap Adzkia'.
"Dan kamu juga tahu sendiri kan kalau dia itu orangnya gimana?. Kamu ingat ngak dulu saat kita lulus SMP?, dia nekat pergi daftar sekolah sendirian ke kota karena mamanya juga tidak mengizinkan. dia melakukan itu karena dia iri sama aku yang juga sekolah di kota. Meskipun aku sama dia daftar di sekolah yang berbeda, tetap saja kan aku yang di salahin sama mamanya. Katanya aku lah yang manas-manasin Tari buat sekolah di kota juga, padahal aku aja tidak pernah cerita sama dia kalau aku daftar sekolah SMK di kota", 'Ucap Adzkia lagi'.
"Iya aku ingat Ki, udah kamu jangan kepikiran ini terus, nanti kamu sakit", 'Ucap Revan'.
"Iya", 'Jawab Adzkia'.
"Yasudah, kamu udah makan belum?", 'Tanya Revan'.
"Belum, ngak nafsu makan aku", ' Jawab Adzkia'.
"Kamu jangan begitu Ki, gara-gara hal seperti ini kamu sampai tidak makan, nanti kamu sakit Ki", 'Ucap Revan'.
"Iya nanti makan", 'Jawab Adzkia'.
"Yasudah kamu istirahat ya,", 'Ucap Revan'.
"Iya", 'Jawab Adzkia'.
Adzkia dan Revan pun memutuskan sambungan telepon mereka, karena Revan mau membiarkan Adzkia untuk istirahat terlebih dahulu, karena Revan tidak ingin Adzkia nantinya sakit, karena terlalu memikirkan urusan Tari ditambah kerjaan Adzkia lebih sering lembur juga akhir-akhir ini.
"Kasian kamu Ki, sudah jauh dari kampung masih ada aja orang yang tidak suka dan memfitnah kamu", 'Ucap Revan berbicara sendiri'.
"Maaf Ki, Aku tidak bisa berbuat banyak Ki, aku ini hanya sebatas pacar kamu, bukan suami kamu. Nanti malah jadi nambah-nambah masalah dan fitnah dari warga kampung", 'Keluh Revan Lagi sendiri'.
*
"Adzkia....Adzkia.....", 'Ucap Feni' sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Adzkia'.
"Iya.....", 'Jawab Adzkia dari dalam'.
"Berangkat Yuk..... sekalian kita beli sarapan dulu", 'Ajak Feni'.
__ADS_1
"Emangnya kita beli sarapannya ngak ntar aja di kantin pabrik?", 'Tanya Adzkia'.
"Kita beli di sini aja yuk, ntar nyampe kita ngak turun jemputan lagi. Takutnya juga udah ngak ada ntar, kamu tahu sendiri lah kalau di sana udah lah rame cepat bangat lagi abisnya", 'Ucap Feni'.
"Yasudah yuk, aku pakai sepatu bentar ya", 'Ucap Adzkia'.
"Oke.... aku juga mau ambil tas dulu", 'Ucap Feni dan berjalan kearah kamarnya untuk ambil tas'.
"Leni Ayuk", 'Ucap Adzkia memanggil Leni'.
Kamar Adzkia dan Leni berdampingan, sementara kamar Feni pisah sendiri tapi masih satu lantai.
"Iya....", 'Ucap Leni yang lagi buru-buru pakai sepatu'.
"Aku tunggu di kamar Feni ya", 'Ucap Adzkia'.
"Iya....", 'jawab Leni'.
Adzkia, Leni, dan Feni pun turun kelantai bawah dan keluar rumah kos-kosan tersebut, karena kamar mereka berada di lantai atas.
"Kita beli nasi uduk yang di mana?, yang di sini atau yang di sana?", 'Tanya Feni'.
"Yang di sini aja gimana", 'Jawab Adzkia'.
"Yasudah yuk buru, nanti kita ketinggalan jemputan'', 'Ajak Feni'.
"Buk..... beli nasi uduknya 3 ya Bu", 'ucap Feni memesan nasi uduk'.
"Bungkus apa makan sini neng?", 'Tanya Ibu yang jual balik'.
"Bungkus buk", 'Jawab Leni'.
"Bentar ya, di bungkusin dulu", 'Ucap Ibu-ibu yang jualan nasi uduk tersebut'.
"Iya buk.....", 'Jawab Feni'.
Adzkia, Leni, dan Feni juga membeli beberapa gorengan untuk di makan berbarengan dengan nasi uduk mereka nanti.
Setelah membeli dan membayar nasi uduk tersebut, mereka bertiga berjalan keluar gang dengan terburu-buru agar tidak ketinggalan jemputan karena jam sudah menunjukkan hampir pukul 6 pagi, karena biasanya juga jemputan lewat sekitar pukul 6 atau bisa lewat jam 6 sedikit.
"Eh, itu jemputan tu baru datang, ayo lari....", 'Ucap Adzkia melihat jemputan yang baru mau berhenti'.
__ADS_1
Adzkia, Leni, dan Feni pun berlarian keluar gang, dan buru-buru menyebrang jalan, agar tidak ketinggalan jemputan. Untung Saja babe jemputannya melihat mereka, jadi mereka di tungguin.
Babe jemputan adalah sebutan bagi para sopir bus jemputan karyawan. Saya tidak tahu juga kenapa bisa di panggil babe jemputan.
Butuh Waktu sekitar 20 menitan, untuk sampai di pabrik tempat Adzkia dan teman-temannya bekerja kalau tidak macet. Karena untuk menghindari macet itu lah, bus jemputan karyawan ini lewatnya pagi-pagi sekali.
Saat sedang memakan nasi uduknya tadi, handphone Adzkia berdering.
"Hallo....", 'Ucap Adzkia mengangkat telepon tersebut'.
"Hallo Ki, kamu udah berangkat kerja?", 'Tanya seseorang di sambungan telepon tersebut'.
"Udah Rev, ini aku udah sampai di pabrik. Tapi masih di jemputan", ' Jawab Adzkia'.
"Kamu baru bangun?, soalnya dari tadi aku telepon ngak kamu angkat. Katanya kemarin minta bangunin", 'ucap Adzkia dengan kesal'.
"Iya maaf, tadi aku tu lagi mandi, jadi ngak tahu kalau kamu nelpon. Soalnya aku ada rapat pagi ini, jadinya aku nyalain alarm deh", 'Ucap Revan'.
"Yasudah, kamu udah berangkat kerja belum?", 'Tanya Adzkia'.
"Belum, ini mau berangkat", 'jawab Revan'.
"Kamu udah Sarapan belum?", 'Tanya Revan lagi'.
"Udah ini lagi sarapan, kamu udah Sarapan?", 'Tanya Adzkia balik'.
"Belum, ntar aja aku sarapannya di kantor", 'Jawab Revan'.
"Oh iya.... nanti kamu pulang kerja jam berapa?", 'Tanya Revan'.
"Jam 7 malam Van", 'Jawab Adzkia'.
"Yasudah, aku berangkat kerja dulu ya. Kamu hati-hati kerjanya, nanti kalau sudah pulang kabarin aku", 'Ucap Revan'.
"Iya Rev, kamu juga hati-hati berangkatnya ya, Aku bentar lagi juga mau masuk", 'Ucap Adzkia juga'.
"Siap ibu negara, kamu hati-hati ya kerja nya", 'Ucap Revan'.
"Iya kamu juga hati-hati berangkat kerjanya, hati-hati bawa motornya", 'Ucap Adzkia'.
"Iya tuan putri", 'Ucap Revan yang kemudian menutup teleponnya'.
__ADS_1
Setelah mematikan telepon dari Revan, Adzkia pun masuk ke dalam pabrik untuk ambil loker dan menaruh tas terlebih dahulu, dan kemudian masuk ke dalam area produksi pabrik.