
hari terus berganti, tidak terasa sudah sebulan Adzkia bekerja di Tangerang. Hari ini, adalah hari di mana Adzkia menerima gaji.
"Gaes ATM antrinya panjang bangat tau, bisa-bisa kita telat masuk nih. Sekarang aja sudah jam 22.30,", 'Ucap Feni'.
"Iya juga ya, terus di mana dong kita ambil uangnya. Uang saku aku udah menipis nih, hehehe", 'Ucap Leni cengengesan'.
"Aku besok aja lah di gerai ATM bersama di supermarket tempat kita biasa belanja, sekalian belanja bulanan", 'Jawab Adzkia'.
"Tapi kan Ki, kenapa admin kita ambil di ATM bank lain", 'Ucap Feni'.
"Iya sih Fen, tapi di sini antrian panjang bangat. Ntar kita sudah capek-capek antri tiba-tiba sampai di kitanya Error, kalau tidak uangnya habis. Soalnya kata Diah kalau pas gajian kayak gini, ATM di sini sering error karena kebanyakan yang pakai", 'jelas Adzkia'.
"Sama lah kita besok Ki, panggil aku ya. Aku juga mau sekalian belanja bulanan, sabun-sabun aku sudah pada abis juga", 'Ucap Leni'.
"Iya Len, orang kamar kita sebelahan ini", 'Ucap Adzkia'.
"ntar kalau kalian pergi panggil aku juga", 'Ucap Feni'.
"Oke", 'Ucap Adzkia'.
*
__ADS_1
"Eh.... Bu Wati, katanya Adzkia sudah kerja ya?. Sekarang awal bulan Loh Bu?", 'Ucap Rosma saat melihat Bu Wati duduk di depan rumahnya'.
"Emangnya kenapa emang kalau awal bulan Bu Rosma?", 'Tanya Wati'.
"Ya di kirimi uang lah Bu, bulan ini kan gajian pertamanya Adzkia. Ngak mungkin lah kan dia tidak ngirimin uang", 'jawab Rima yang dari tadi sama Rosma'.
"mau anak saya sudah gajian atau belum. Mau anak saya ngirimin saya uang atau tidak, itu mah urusan saya bukan urusan kalian ya", 'Ucap Wati yang nada tinggi'.
"Dih, di tanya gitu aja marah", 'Ucap Rosma'.
"Kalau anaknya Sampai tidak ngirimi uang buat orang tuanya, padahal dia sudah kerja, keterlaluan itu anak namanya. Sudah di sekolahkan dari kecil, tapi tidak mau balas sedikit pun jerih payah orang tuanya selama ini", 'Ucap Rima ngelantur'.
"Kalian dengar ya, saya nuruti keinginan anak saya untuk bekerja itu agar dia mendapatkan pengalaman, bukan untuk hasil keringatnya saya poroti, saya minta uangnya. Saya mah tidak seperti kalian, kalau minta anak buat balas jerih payah kita selama ini membesarkan dia, itu berarti kita selama ini tidak ikhlas membesarkan dia", 'Ucap Wati lagi dengan Emosi'.
"Maksud kamu apa Ira, bilang kami stres?", 'Tanya Rima yang tidak terima'.
"Saya tidak bilang Tante stres kok, apa Tante merasa?", 'Tanya Ira balik'.
"Awas ya kamu, lihat saya nanti. Ayo Ros, kita pergi", 'Ucap Rima kepancing Emosi dan menarik tangan Rosma untuk pergi'.
"makasih ya Ra, kamu sudah bantu mama meladeni mereka itu", 'Ucap Wati'.
__ADS_1
"Iya ma, ini juga sudah merupakan kewajiban Ira kok ma, agar orang-orang seperti mereka itu tidak ganggu kita lagi. Sekali-kali mereka harus di gituin ma", 'Jawab Ira'.
"Iya Ra, sebenarnya mama sudah tidak mau tinggal di sini. Mama mau pindah saja dari kampung sini dan balik ke kampung mama di kampung sebelah. Tapi kamu tahu sendiri lah ra, papa kalian tidak bisa pergi jauh dari kampung sini karena dia adalah pangulu suku atau kepala suku adat", 'Ucap Wati'.
Wati bukan berasal dari kampung yang dia tempati sekarang, dia berasal dari kampung sebelah. Ini adalah kampung Ajis suami Wati, mereka dulu membeli tanah dan membangun rumah disini. Dan akhirnya Ajis pun menjadi kepala suku adat, di karenakan kepala suku yang dulunya meninggal dunia, dia adalah paman (mamak) nya Ajis. Jadi turun lah gelar tersebut kepada Ajis yang merupakan keponakan (kemenakan) beliau.
"Iya ma, Ira ngerti kok", 'Ucap Ira mengelus punggung mertuanya'.
"Itu lah Ra, mama juga tidak mau menambah beban pikiran papa kalian, takut sakitnya kambuh lagi", 'Ucap Ira'.
Emangnya papa sakit apa ma?", 'Tanya Ira penasaran'.
"Ginjal kata orang rumah sakit", 'Jawab Wati'.
"Kok bisa papa kena ginjal ma?, dari kapan ma?", 'Tanya Ira lagi, yang tidak tahu tentang kondisi papa mertuanya yang sebenarnya'.
"Dulu waktu papa masih kerja di PT batu bara, sekitar tahun 2003 kalau papa tidak salah, itu awalnya papa kena penyakit itu. Mama sama papa tidak tahu juga awalnya gimana, tiba-tiba saja pas pulang kerja papa mengeluh sakit pinggang dan muntah-muntah. Kebetulan waktu itu atasan mama ada di warung mama kan lagi makan, dulu itu mama buka warung nasi tempat makannya karyawan dan mandor-mandor PT tersebut. Di bawa lah papa kerumah sakit, dan kata orang rumah sakit itu ginjal. Atasan papa itu kekeh pengennya papa di operasi, tapi papa tetap tidak mau kata papa berobat di kampung aja. Terus kata atasan papa, apa yang kamu pikirin jis?, masalah kamu tidak perlu khawatir jis, semuanya di tanggung perusahaan, tapi papa tetap tidak mau. Akhirnya atasan papa pun nuruti keinginan papa, dengan papa di kasih cuti berobat di kampung sampai papa sembuh. Tetapi setelah papa berhenti kerja dan kita pulang ke kampung. Terus pada tahun 2013, kira-kira 10 th setelah itu sakit papa kambuh lagi, waktu Adzkia SMP dan ayah qila SMK kayanya, tetapi papa tetap tidak mau di operasi, yasudah akhirnya kita berobat herbal saja di kampung. Alhamdulillah setelah itu, sakitnya tidak pernah kambuh lagi, tetapi semenjak itu juga papa sudah tidak terlalu di bolehkan bekerja yang berat-berat", 'Jelas Wati'.
"Semoga saja lah ma, penyakit papa beneran di angkat sama Allah, dan tidak pernah kambuh lagi", 'Ucap Ira'.
"Aamiin ya rabbal ALAMIN", 'Ucap Ira dan Wati bersamaan dan mengusapkan kedua tangan mereka kemuka mereka masing-masing'.
__ADS_1
Kejadian kambuhnya penyakit Ajis, saat dia sedang pergi berjualan dengan Wati dan seorang anggotanya yang bernama Miki. Ajis mengeluh sakit pinggang kepada Wati, dan Wati pun menyuruhnya kemobil saja untuk istirahat dulu, biarlah dia dan Miki yang membuka lapak mereka. Setelah membuka lapak, Ajis tidak kunjung kembali ketempat lapak mereka. Wati pun menyuruh Miki untuk melihat Ajis kemobil, takut terjadi hal-hal yang tidak-tidak. Dan ternyata pinggangnya masih sakit dan keringatnya mengucur deras. Awalnya Miki dan Wati mau menutup lapak mereka saja, dan tidak jadi berjualan. Tetapi Ajis tidak mengizinkan, tetap lah berjualan. Dan akhirnya Miki pun menelpon Rian untuk menjemput papanya dan di bawa berobat terlebih dahulu atau menjemput saudaranya Ajis yang bisa mengobati orang (orang pintar), yang biasanya mengobati Ajis.