Kehidupan Di Kampung Dan Tetangga Yang Julid

Kehidupan Di Kampung Dan Tetangga Yang Julid
Tetangga Julid


__ADS_3

"Sekarang gimana ya?, Apa aku coba cari lowongan pekerjaan lain. Atau aku nekat pergi ke pulau Jawa, untuk mencari kerja di sana sambil menunggu panggilan dari pihak sekolah. Tapi apa papa dan mama mengizinkan aku?, ntah lah. Kalau untuk tinggal di sini lama-lama, yang ada aku tambah stres karena warga sini yang julidnya minta ampun", 'ucap Adzkia sendiri sambil melamun'.


Tok....tok...tok....


"Ki....Ki..... Kamu sudah kelar mandinya belum, udah hampir jam 6 nih. mama lihat kamu belum turun-turun dari tadi", 'ucap Wati dari balik pintu kamar Adzkia, sambil mengetuk pintu'.


"Eh.... iya ma, ini mau mandi", 'jawab Adzkia sadar dari lamunannya, Adzkia pun menuju pintu untuk membukanya'.


"Kamu dari tadi ngapain aja Ki, kok belum mandi-mandi. Katanya tadi gerah mau mandi", 'cerocos Wati'.


"hehehe, iya mamaku sayang, ini mau mandi", 'ucap Adzkia cengengesan". Kemudian Adzkia turun ke lantai bawah menuju kamar mandi, karena Adzkia takut di omelin panjang lebar oleh mamanya, Oleh karena itu dia langsung menghilang dari hadapan mamanya.


"Ini anak Jin atau apa ya, kok dia bisa menghilang cepat kilat seperti itu. Ehh, tapi tunggu-tunggu, kalau dia Jin berarti saya jin juga dong, kan saya mamanya. Ah sudah lah", 'ucap mama Adzkia sendiri, dan berlalu dari depan kamar Adzkia'.


Rumah Adzkia terdiri dari 2 lantai, tetapi lantai bawahnya itu seperti ruangan di bawah tanah. Di lantai bawah hanya terdapat, kamar mandi, kamar cuci baju, dapur, meja makan, dan kamar Rio adik Adzkia. Kamar Rio berada di bawah itu adalah permintaan dia, karena teman-temannya sering nginap di sini. Mereka itu ramai dan berisik, jadi Rio tidak mau di marahin terus gara-gara itu. Jadi dia minta di buatkan kamar di bawah, dan itu adalah ruangan tambahan di lantai bawah rumah Adzkia.


Lantai atas rumah Adzkia barulah terdapat 3 kamar tidur, yaitu untuk Adzkia, orang tuanya, dan Abang Adzkia beserta keluarganya kalau mereka nginap disini. Adalagi, ruang tamu, dan ruang keluarga tempat menonton televisi.


*


"Tari... bangun kamu, udah jam berapa ini. Anak gadis macam apa kamu, matahari udah tinggi kamu belum bangun-bangun", 'teriak Rima dari balik pintu kamar Tari'.


"Kenapa sih ma, pagi-pagi buta begini sudah teriak-teriak", 'jawab Tari yang membuka pintu kamarnya, sambil mengucek-ngucek mata'.


"pagi buta matamu, kamu lihat tuh keluar udah terang-menerang. mau jadi apa kamu?", 'ucap Rima dengan nada tinggi'.


"Alah ma, baru juga jam 8 lewat", 'jawab Tari kesal, karena mamanya pagi-pagi sudah bikin heboh'.


"Baru jam 8 lewat kamu bilang, mana ada anak gadis bangun jam segini", 'ucap Rima'.

__ADS_1


"Sekarang kamu ke kamar mandi cuci muka, terus lanjut bersih-bersih. Sapu rumah, ngepel, sapu halaman cuci piring, cuci baju. mama mau ke warung Bu Peni dulu beli sayur", 'ucap Rima lagi'.


"Banyak Amat ma, capek tahu", 'renggek Tari'.


"perempuan macam apa kamu?, melakukan pekerjaan rumah saja malasnya minta ampun. Sudahlah bangun siang terus", 'marah Rima'.


"Tapi ma....", 'sangah Tari'.


"Tidak ada tapi-tapian, lihat saja nanti kalau kamu belum ngerjainnya. Mama tidak bolehin kamu makan seharian", 'ancam Rima'.


"Mama ini kenapa tega bangat sih", 'jawab Tari makin kesal'.


"Sudahlah mama mau ke warungnya Bu Peni dulu", 'ucap Rima berlalu dari depan kamar Adzkia'.


"is... mama ini lah, sudahlah ganggu aku tidur saja, main ancam lagi kalau aku tidak mengerjakan yang dia suruh. Mana masih ngantuk, gara-gara semalam tidur udah 4 gara-gara telponan sama Fino", 'ucap Tari kesal, sambil menghentakkan kakinya kelantai'.


Tari pun bergegas ke kamar mandi, buat cuci muka. Kemudian Tari, mengambil sapu untuk menyapu seluruh isi rumah dengan perasaan yang masih kesal dengan mamanya.


*


"Eh Bu Rima, baru keliatan. Dari mana saja Bu selama ini, kok baru keliatan lagi", 'tanya Rosma'.


"Tidak kemana-mana kok Bu Rosma, saya di rumah aja. Soalnya Tari kan udah lulus, jadi dia di rumah dulu, jadi saya cuman di suruh istirahat sama Tari tidak boleh mengerjakan apa-apa. Buat belanja pun saya tidak di bolehin sama dia, iyakan Bu Peni?", 'Ucap Rima memuji anaknya sendiri dan bertanya kepada Peni'.


"hhmmm.... Tari tidak pernah belanja disini Bu Rima", 'jawab Bu Peni ragu'.


"masa sih Bu?, ibu kali yang lupa", 'tanya Rima lagi ketakutan'.


Rima mulai takut ketahuan bohong, karena selama ini Rima selalu membangga-banggakan Tari di depan para warga bahwa Tari adalah anak yang rajin dan pintar. Tetapi kenyataan, Tari adalah anak yang pemalas.

__ADS_1


"Beneran Bu, yang belanja di tempat saya kan ini-ini saja orangnya, masa saya lupa Bu. mungkin Tari belanja di tempat lain kali", 'jelas Peni'.


"iya kali ya, soalnya di tiap keluar selalu naik motor. Mungkin dia belanja di tempatnya Bu Wisma itu Loh, kan di sana lengkap ada lauk dan ayam juga. Soalnya Tari sering masak banyak, jadi susah buat ngabisinnya. Soalnya kan kita di rumah hanya bertiga", 'ucap Rima sedikit sombong'.


"Kalau sudah ngabisinnya bagi-bagi kita saja Bu Rima, biar kita juga ngerasain masakan tari yang kata Bu Rima Enak itu. Ya ngak ibu-ibu", 'ucap Bu Heni'.


"Betul tu Bu Heni", 'di timpal ibu-ibu yang lain'.


"hmmmm.... eh ibu-ibu, kalian pada tahu tidak. Kemarin saya kerumahnya Wati tahu, terus saya lihat masa anaknya cuman tidur-tiduran nonton TV, sedangkan mamanya di suruh masak coba", 'ucap Rima mengalihkan pembicaraan'.


"Anaknya yang mana Bu?", 'tanya Bu Nani'.


"Ya anak perempuannya lah Bu Nani, si Adzkia itu loh, masak anak lakinya kan tidak mungkin masak", 'jawab Rima'.


"Masa sih Bu Rima, si Adzkia begitu, kayanya dia anaknya rajin deh", 'jawab Heni'.


"Beneran bu-ibu saya tidak bohong", 'jawab Rima menyakinkan'.


"ih, kalau anak saya yang seperti itu mah, sudah saya suruh dia pergi dari rumah. Masa iya, kita yang di jadiin babu sama anak sendiri", 'Ucap Rima lagi, karena ucapnya yang tadi tidak di tanggapi oleh yang lain'.


"Kasian ya Bu Wati di perbudak Sama anak sendiri, anak tidak tahu terimakasih itu mah. Kita sudah mendidik dan membesarkan dia dari kecil, masa sudah besar kita yang di perbudak", 'ucap Bu Nani'.


"Itu lah yang kemarin saya bilang sama kakak saya itu, kalau anak itu jangan di manja-manja nanti malah tambah ngelunjak. Sebenarnya saya sedih melihat kakak saya di perlakukan seperti itu oleh anaknya sendiri, tapi Saya sudah berulang kali menasehati Kakak saya itu", 'ucap Rima pura-pura sedih'.


"Sudah Bu Rima, Bu Rima sudah benar kok. Kita sebagai saudara dan keluarga itu saling mengingatkan, Bu Rima jangan pernah capek buat menasehati Bu Wati agar tidak memanjakan anaknya. Agar tidak di perlakukan seperti babu lagi oleh anaknya sendiri", 'ucap Nani'.


"Eh Bu-ibu, udah belum ini belanjanya. Saya juga mau masak ni, emang kalian tidak mau masak, udah jam berapa ini. Dari tadi dagangan saya hanya di bolak-balik", 'Ucap Bu Peni'.


"Eh, iya Bu", 'jawab Ibu-ibu yang belanja di sana'.

__ADS_1


Mereka pun memilih belanjaan mereka, kemudian membayarnya dan pulang ke rumah mereka masing-masing.


__ADS_2